Angin malam merayap pelan melalui celah jendela yang terbuka sedikit, membawa serta aroma tanah yang basah oleh embun, berpadu dengan wangi sisa dedaunan yang baru saja melepaskan napas terakhir setelah seharian meresap hangatnya cahaya. Di kejauhan, orkestra serangga malam mulai mengambil alih keheningan, mengalun lirih sebagai melodi purba yang perlahan merambat, seolah menjadi doa-doa yang dibisikkan semesta kepada mereka yang tengah belajar berdamai dengan kehilangan.
“Jaya...”
Riana memanggil, suaranya halus, nyaris berupa belaian yang tertinggal di udara. Ia memiringkan kepala sedikit, membiarkan bias cahaya lampu menyapu sisi wajahnya yang tenang. Sorot matanya lembut, namun di baliknya tersimpan keteguhan yang tak terucap. Sebuah keberanian untuk bertanya tanpa berniat menyayat luka masa lalu Sanjaya.
“Apakah semua itu membuatmu membenci perpisahan?”
Pertanyaan itu melayang lambat di antara mereka, tidak terburu-buru menagih jawaban. Ia hadir begitu saja, serupa sehelai daun kering yang melayang turun hingga menyentuh permukaan telaga, tenang dan tanpa menciptakan riak yang berarti, membiarkan pantulan bulan di air tetap utuh.
Sanjaya terdiam. Ia menundukkan kepala, membiarkan bayang-bayang malam memahat guratan lelah di wajahnya. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Dengan senyum yang tidak utuh, menyerupai kilas cahaya terakhir senja yang bertahan sejenak sebelum benar-benar larut ditelan pekat malam. Di sudut matanya, memori berputar pelan, datang dan pergi seperti ombak kecil yang mencium bibir pantai, hanya menyisakan jejak buih yang segera lenyap ditelan gelombang.
"Aku tidak membenci perpisahan," ucap Sanjaya akhirnya. Suaranya rendah, beradu dengan gesekan daun di luar sana, memendam keletihan yang telah bertahun-tahun menetap di balik tulang dadanya. “Yang kubenci... hanyalah cara ia memilih untuk datang.”
Ia mengangkat wajah perlahan, menatap Riana tanpa sekat. “Dari semua jejak yang kutapak, aku memetik satu kebenaran yang pahit. Akhirnya aku mengerti bahwa cinta tidak selalu tentang arti memiliki. Ia tidak selalu tentang menyatukan jemari hingga terikat janji.”
Sanjaya mengembuskan napas panjang. Uap hangat tipis melayang dari bibirnya, menari sejenak sebelum lenyap ditelan udara malam yang kian dingin.
“Terkadang, cinta adalah guru yang kejam. Ia mengajar tanpa belas kasihan. Ia tidak memberiku pelajaran tentang kebersamaan, melainkan tentang bagaimana melepaskan sesuatu yang masih ingin kupeluk erat. Ia memaksaku tersenyum saat hati sedang ditikam perlahan dari balik tulang rusuk. Ia memintaku menerima, sementara setiap helai saraf dalam tubuhku masih memberontak untuk menolak.”
Senyumnya kembali, kali ini lebih rapuh, seperti retakan halus pada kaca kristal yang masih bersikeras memantulkan cahaya meski rapuh di tiap sisinya.
“Pada akhirnya, aku belajar hidup bersama retakan-retakan itu. Aku berhenti memaksakan diri untuk utuh. Sebab ada luka yang memang tidak ditakdirkan untuk sembuh. Luka permanen yang menjelma bagian dari caraku bernapas, caraku menatap dunia, dan caraku mencintai tanpa lagi menuntut keadilan dari hidup.”
Keheningan kembali turun, pekat dan berat, menyelimuti ruang itu. Di luar, dahan-dahan bergesekan, terdengar seperti ribuan telapak tangan yang saling bertepuk pelan dalam kegelapan. Embun mulai merayap membasahi kaca jendela, meninggalkan jejak-jejak bening yang berkilau tertimpa cahaya redup.
Sanjaya melangkah mendekat. Ia menjaga jarak, bukan untuk memisahkan, melainkan untuk menjaga ruang di antara mereka agar tetap sakral. Ia dapat melihat pantulan dirinya yang kecil di sepasang mata Riana, dan entah mengapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, pantulan itu tidak lagi terasa asing.
"Dan seperti musim yang kerap mengingkari janjinya sendiri," lanjutnya, suaranya kini lebih dalam, “sebagian orang memilih pergi justru saat aku sedang sibuk menanam harapan.”
Pandangannya perlahan jatuh ke lantai, seolah-olah di sana terbentang ladang yang hanya bisa dijangkau oleh ingatannya. “Mereka meninggalkan hatiku serupa sebidang tanah yang kutaburi benih dengan keyakinan penuh. Kusiram dengan kesabaran, kujaga dari terik kemarau, kutunggu tunasnya muncul dengan janji kebahagiaan.”
Ia menarik napas panjang, meresapi setiap katanya seolah sedang menimbang beban masa lalu.
“Namun, ketika musim panen tiba, yang kupetik justru kehilangan. Berulang kali. Seolah tanah jiwaku memang hanya ditakdirkan untuk menumbuhkan perpisahan.”
Suaranya nyaris berupa bisikan, larut bersama desir angin yang kembali masuk melalui jendela. “Mereka seperti hujan yang turun pada musim yang keliru. Airnya mungkin telah lama berhenti jatuh, tetapi tanah jiwaku... ia masih menyimpan kelembapan itu. Ia masih menyimpan dinginnya.”
“Sampai hari ini, bila aku menengok ke dalam diriku sendiri, aku masih dapat mencium aroma tanah yang pernah diguyur hujan itu. Aroma yang samar, namun tak pernah benar-benar hilang, seperti bau bumi setelah hujan pertama. Harum, tetapi menyimpan kesedihan karena ia terus mengingatkan bahwa awan telah lama berlalu.”
Sanjaya mengangkat wajah. Sorot matanya kini tidak lagi sekadar menampung pedih, melainkan membiarkan secercah harapan kecil berpijar di sana. Rapuh, mungkin, namun ia memilih untuk tetap bernapas layaknya nyala pelita yang berjuang melawan embusan angin malam. Ia menatap Riana dalam-dalam, membiarkan jeda di antara mereka meregang, namun tidak terasa canggung. Keheningan menjalar menjadi ruang lapang tempat keberanian baru mulai tumbuh.
"Dan di ladang yang masih lembap itu," bisiknya pelan, seolah setiap kata dipetik dari bagian paling sunyi dalam jiwanya, “aku masih berdiri.”
“Aku tidak lagi berdiri untuk menunggu musim kembali seperti dahulu. Aku berdiri karena masih percaya bahwa tanah yang pernah terluka tetap mampu menumbuhkan kehidupan selama ada seseorang yang bersedia menanam dengan ketulusan.”
Pandangannya terkunci pada mata Riana, teguh dan penuh permohonan yang hening. “Di hadapanmu, Riana, izinkan aku mengakui sesuatu yang selama ini hanya berani kubisikkan kepada kesunyian.”
Suaranya merendah, nyaris tersapu angin. “Aku berharap engkaulah benih itu.”
Ia tersenyum tipis. Tapi bukan sebuah senyum yang memaksakan keyakinan, melainkan kerendahan hati seorang pejalan yang telah terlalu sering tersesat. “Bukan benih yang menjanjikan panen tanpa gagal, bukan pula yang menjamin tak akan ada badai. Aku hanya berharap... Engkau bukan musim yang datang untuk mengajarkan kehilangan sekali lagi, melainkan seseorang yang bersedia bertahan, tumbuh perlahan bersamaku, hingga ladang yang selama ini hanya mengenal duka akhirnya belajar mengenal arti pulang.”
Sanjaya menghela napas panjang. Embusan hangat dari bibirnya lenyap ditelan udara malam yang kian dingin, seakan ia sedang membuang serpihan-serpihan masa lalu yang selama ini menyesaki dadanya. Ia membiarkan kenangan itu kehilangan wajahnya, membiarkan aroma dan nama-nama yang masih bergema di lorong ingatan memudar, hingga akhirnya benar-benar tak bersuara lagi.
Ia menoleh ke arah jendela. Langit di ufuk barat telah menanggalkan jingga terakhirnya. Warna-warna senja yang tadi memamerkan emas dan tembaga melebur menjadi ungu yang redup sebelum benar-benar ditelan biru kelam malam. Seekor burung melintas di kejauhan, hanya berupa siluet hitam yang membelah cakrawala sebelum lenyap ditelan gelap. Angin kembali membawa aroma tanah yang dibasahi embun, bercampur wangi dedaunan kayu yang melepaskan sisa hangat matahari.
Sanjaya memalingkan tatapan kembali kepada Riana. Kelelahan di matanya kini tampak berbeda. Bukan lelah fisik, melainkan sisa dari perjalanan batin yang terlalu panjang bagi dirinya.
"Waktu, Riana..." katanya berat, serupa bunyi langkah yang menginjak hamparan dedaunan kering di penghujung musim. “Waktu mengajarkan hal-hal yang ganjil dengan cara yang paling menyakitkan.”
Sanjaya menunduk sejenak, jemarinya menyentuh ujung telapak tangan yang lain, seperti seseorang yang sedang menghitung luka lama agar tidak ada satu pun yang terlewat untuk diterima.
“Ia membisikkan bahwa tidak semua yang datang ditakdirkan menetap. Ada perjumpaan yang hanya diberi umur sependek embusan angin. Ada janji yang lahir bukan untuk ditepati, melainkan untuk menguji seberapa lama seseorang sanggup mempercayai bunyi kata-kata.”
Matanya menerawang jauh, berkata kemudian seperti hampir bisikan. “Sebagian orang datang dengan mata yang penuh keyakinan. Bibir mereka mengucapkan kalimat-kalimat hangat, seolah masa depan telah selesai ditulis dan aku termasuk di dalamnya. Namun ternyata, janji pun memiliki kaki. Ia dapat berjalan pergi bersama empunya, meninggalkan mereka yang tinggal hanya dengan gema suaranya.”
Ia mengembuskan napas pendek, sebelum melanjutkan kalimatnya. “Mereka seperti embun yang bertahan hanya sampai matahari berani membuka kelopak paginya. Indah ketika disentuh cahaya pertama, bening ketika dipandang dari dekat, tetapi lenyap tanpa sempat berpamitan. Dan yang tersisa hanyalah daun-daun yang perlahan mengering, seakan embun itu tak pernah benar-benar hadir.”
Sanjaya memandang pepohonan di kejauhan yang ranting-rantingnya bergoyang pelan. Lalu berkata, “atau mungkin mereka seperti burung-burung musim. Datang saat udara terasa hangat, memenuhi langit dengan nyanyian yang membuat seseorang lupa bahwa sunyi pernah ada. Namun ketika musim berganti, mereka mengepakkan sayap tanpa menoleh ke belakang. Yang tertinggal hanyalah ranting-ranting yang kosong, tempat sarang pernah dibangun, tempat suara pernah pulang. Dan ranting-ranting itu... tetap menunggu, meski telah lama mengetahui bahwa langit yang sama tidak selalu membawa burung yang sama.”
Keheningan kembali turun, pekat dan jujur. Di sela sunyi, desir dedaunan yang bergesekan dan irama jangkrik yang berulang menjadi pengiring, seolah waktu tengah melangkah maju, tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun untuk terus berlalu.
Sanjaya kembali berbicara dengan suara merendah, nyaris seirama dengan detak jantung yang melambat.
"Di antara musim-musim yang telah gugur itu, aku masih berdiri." Bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu tipis hingga nyaris tak terlihat, sebuah gurat getir yang pasrah.
“Aku menjadi pengamat yang tertinggal di halaman terakhir sebuah kisah. Melihat daun-daun jatuh satu demi satu, menyaksikan ranting-ranting kehilangan warna, sambil perlahan memahami bahwa kehilangan bukanlah titik yang mengakhiri segalanya.”
Sanjaya mengangkat pandangannya kepada Riana, tatapannya tenang namun menghujam. "Kehilangan hanyalah sebuah koma," ucapnya.
Kalimat itu menggantung, mengendap di udara malam yang mendingin. “Sebuah jeda yang panjang dalam prosa kehidupan. Jeda yang memaksa kita menarik napas sebelum melanjutkan kalimat berikutnya. Menyakitkan, memang. Tetapi justru karena jeda itulah, kita akhirnya belajar membaca hidup dengan lebih perlahan.”
Ia tersenyum lirih. “Barangkali kehidupan memang licik. Ia tidak pernah bertanya apakah kita siap melepaskan sesuatu yang kita cintai. Ia hanya datang, mengubah musim, lalu memaksa kita menerima kenyataan bahwa tidak bijaksana menggantungkan seluruh harapan pada satu aroma saja.”
Tatapannya kembali meluncur menuju hamparan langit yang kini dipenuhi taburan bintang kecil yang jauh. Menguak tabir dalam dingin malam dan dingin dirinya yangulai hangat.
“Kita akhirnya belajar mencintai aroma tanah yang basah oleh hujan, meski jauh di dalam hati kita masih merindukan wangi bunga yang tak pernah sempat mekar. Kita belajar berdamai dengan lumpur yang melekat di telapak kaki, meskipun diam-diam kita masih menyimpan kenangan tentang taman yang pernah kita impikan.”
Riana mendengarkan tanpa berkedip. Dalam diamnya, ia memperhatikan Sanjaya dengan tatapan yang baru. Di mata Riana, Sanjaya tampak jauh lebih tua dari angka yang tercatat pada usianya. Bukan karena keriput atau tubuh yang mulai dimakan waktu, melainkan karena cara ia memikul beban ingatannya yang getir. Riana cukup memahami ada manusia yang menua karena pergantian kalender, namun ada pula yang menua karena menumpuknya kehilangan.
"Jaya..." panggilnya pelan, suaranya lembut menyimpan getaran yang sulit disembunyikan. “Tidakkah kau merasa lelah menjadi ladang yang selalu dipanen sebelum waktunya?”
Pertanyaan itu membuat Sanjaya tersenyum. Senyumnya tipis dan getir, bukan karena amarah, melainkan karena penerimaan yang akhirnya tiba. Ia tampak seperti seseorang yang telah selesai berperang dengan bayangannya sendiri.
"Tentu aku lelah," akunya dengan anggukan yang nyaris tak terlihat. “Lelah menjadi tempat orang-orang menanam harapan yang bahkan mereka sendiri tidak berniat merawatnya hingga musim panen.”
Sekejap ia tertawa kecil, tawa yang pendek dan kering, seperti gesekan daun gugur yang patah saat tersentuh angin malam.
"Ya, Riana..." ia menoleh, membiarkan matanya bertemu kembali dengan mata perempuan itu. "Aku masihlah seorang perjaka." Kalimat itu meluncur lagi tanpa beban. Tidak ada rasa malu, tidak pula kebanggaan. Hanya sebuah fakta, sebuah realitas yang telah lama menetap di nadinya.
“Penjelasannya sederhana. Hanya dua kata. Sesederhana selembar kertas putih yang tampak kosong bila dilihat sekilas.”
Ia mengangkat jemarinya, jemari yang sedikit gemetar seolah sedang memegang sehelai kertas tak kasatmata. “Padahal, bila seseorang cukup sabar mendekat, ia akan melihat ribuan kalimat yang tertulis di sana dengan tinta yang nyaris pudar. Ada harapan yang pernah tumbuh, doa yang pernah kupanjatkan pada sepertiga malam, penantian yang memanjang dari musim ke musim, serta nama-nama yang pernah kutulis dengan keyakinan, lalu kuhapus perlahan dengan air mata.”
Suaranya kini terdengar tenang, layaknya aliran sungai yang akhirnya menemukan muaranya.
“Barangkali bagi dunia yang selalu terburu-buru, statusku hanyalah label yang bisa dijelaskan dalam satu napas. Orang hanya melihat hasil akhirnya, tetapi jarang bertanya tentang jalan panjang menuju titik itu.”
Ia terdiam sejenak, memandang langit malam sebelum kembali menatap Riana.
“Padahal, menyebut seseorang masih sendiri sama mudahnya dengan menyebut nama sebuah musim. Yang sering terlupa adalah berapa panjang hujan yang harus dilalui sebelum musim itu tiba, berapa banyak angin yang harus dihadapi tanpa tempat berteduh, dan berapa dingin malam yang harus disimpan diam-diam di balik kulit agar esok pagi ia masih mampu tersenyum kepada dunia, dengan keadaan seolah tak pernah kehilangan apa pun.”
Sanjaya terdiam, dalam keadaan tidak ada lagi keinginan untuk menyembunyikan diri. Di balik sorot matanya yang tenang, Riana mendapati sebuah kedalaman yang tak terjangkau cahaya. Sebuah keberanian yang lahir bukan dari kemenangan, melainkan dari keberanian untuk berdamai dengan segala yang telah hancur.
Angin malam kembali berembus, membawa dingin yang menyelinap lembut ke kulit, membawa serta aroma tanah basah dan dedaunan yang melepaskan napas terakhirnya ke pelukan malam.
Di kejauhan, gesekan ranting pohon terdengar seperti bisikan orang-orang tua yang tengah mengenang masa muda mereka. Langit telah sepenuhnya menjadi milik malam, bintang-bintang bertaburan, kecil dan jauh, seolah sengaja menjaga jarak agar manusia tetap belajar berjalan dengan cahaya yang berasal dari dirinya sendiri.
"Namun, Riana..." suara Sanjaya pecah perlahan, “hidup tak pernah sesederhana kata-kata yang tampak tenang di permukaan bibir.”
Ia berhenti sejenak. Matanya tetap menatap Riana, memastikan setiap pengakuan itu benar-benar tersampaikan ke kedalaman hati perempuan itu.
“Manusia sering terkecoh oleh apa yang terlihat. Kita mengira laut selalu damai hanya karena permukaannya memantulkan biru langit. Padahal, jauh di bawah sana, arus saling bertabrakan, karang tajam menunggu tanpa suara, dan gelombang tengah menyiapkan diri untuk lahir.”
Sanjaya mengalihkan pandangan menuju kegelapan yang membentang, sebelum kembali jatuh pada wajah Riana yang sedang memandangnya, melanjutkan kembali apa yang tertuang dari pikirannya.
“Begitu pula manusia. Senyum bisa menjadi pantai yang menenangkan, sementara dadanya diam-diam adalah samudera yang sedang berperang melawan badai. Tidak semua gejolak memiliki bunyi. Tidak semua luka memilih berdarah.”
Jemarinya perlahan mengepal. Urat-urat halus di punggung tangannya menegang, lalu mengendur. Seolah ia tengah menahan sesuatu yang selama ini selalu berusaha lolos dari dalam dadanya.
"Karena itu," katanya lirih, “meski tubuh ini masih utuh, belum pernah dimiliki oleh siapa pun, hatiku adalah pengecualian yang tragis. Hatiku telah berkali-kali menjadi ladang yang dipanen sebelum waktunya.”
Ia menarik napas panjang. Udara malam yang dingin menyusup masuk ke paru-parunya, lalu keluar bersama gema kenangan yang tak pernah benar-benar tuntas.
“Aku pernah menanam harapan dengan tangan yang sabar. Kubersihkan tanahnya dari keraguan. Kusiram dengan doa-doa dalam sunyi. Kutunggu setiap tunas tumbuh dengan keyakinan seorang petani yang percaya bahwa musim tidak akan mengkhianati benih yang dirawat dengan kasih.”
Beralih dari tatapannya yang meredup. “Tetapi, bahkan sebelum batang-batang itu menguat, sebelum bulir impian menguning dan menunduk karena matang, waktu datang lebih dahulu sebagai tangan yang tak dapat kutolak. Ia memanen semuanya sebelum sempat menjadi kehidupan.”
Sanjaya memejamkan mata, lalu berkata, “Yang tertinggal hanyalah tanah retak, bekas akar yang tercerabut, dan kesunyian yang terlalu luas untuk ditanami kembali tanpa rasa gentar.”
Keheningan mengalir di antara mereka, bukan lagi sebagai jarak yang canggung, melainkan sungai yang membawa setiap pengakuan menuju muara penerimaan. Sanjaya menunduk, menatap telapak tangannya sendiri. Jemari yang selama ini menggenggam harapan itu kini tampak asing, garis-garisnya yang berpotongan seperti jalan-jalan kecil yang tak pernah ia pahami arahnya.
"Kadang aku bertanya," bisiknya, “apakah takdir memang telah lebih dahulu menulis semua kehilangan ini pada garis-garis yang sedang kupandangi?”
Ia mengusap telapak tangannya dengan ibu jari, seperti sedang membaca kitab tua yang hurufnya telah pudar dimakan usia. “Lihatlah... cinta yang pernah singgah dalam hidupku tumbuh seperti tunas yang memaksa keluar dari retakan beton. Tidak semestinya ia hidup di sana, namun ia tetap tumbuh. Tetap percaya bahwa cahaya akan datang, bahwa langit masih menyimpan hujan.”
Matanya berkaca, menampung cahaya bintang yang berpendar di sana. “Sayangnya, ia layu sebelum sempat mengenal hangat matahari. Ia mati ketika baru saja belajar menjadi hijau.”
Ia mengangkat wajah. “Harapan-harapan itu telah kusiram dengan kesabaran yang tak berbatas. Setiap hari kutunggu pertumbuhannya. Setiap malam kujaga agar angin tak mencabut akarnya. Namun kemudian... hujan berhenti.”
Kalimat itu sederhana, namun mengandung kehampaan yang panjang. “Berhenti tepat ketika akar-akarku mulai bergetar karena percaya bahwa kehidupan akhirnya sedang dimulai.”
Riana hendak membuka mulut, namun Sanjaya mengangkat tangan. Bukan untuk menghentikan, melainkan memohon ruang bagi hatinya untuk menyelesaikan perjalanan yang sedang ditempuh kata-katanya.
"Maka, Riana..." ia menatap perempuan itu dengan kejernihan yang menyakitkan, “jika suatu hari nanti seseorang bertanya mengapa aku masih seorang perjaka, jangan biarkan mereka mengira jawabannya sesederhana tubuh yang belum pernah disentuh.”
Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan sisa-sisa kedamaian. “Tubuh hanyalah halaman depan sebuah rumah. Yang tidak mereka lihat adalah ruang-ruang di dalamnya.”
Ia meletakkan telapak tangan di atas dada. “Di sini telah berkali-kali ada seseorang yang singgah. Ada yang menyalakan lampu, membuka jendela, membuat ruangan ini terasa hidup kembali.”
Ia berhenti, membiarkan sunyi mengambil alih.
“Lalu mereka pergi. Meninggalkan perabotan yang tertata rapi, jejak wewangian yang tertinggal di tirai, dan lampu yang kini harus kupadamkan sendiri agar malam tidak terasa terlalu menyakitkan.”
Keheningan kembali menjalar dan mengambil alih, mengisi celah-celah kosong di antara helaan napas mereka.
"Mereka meninggalkan rumah ini dengan pintu yang dibiarkan terbuka. Kursi-kursi yang masih menatap bisu ke arah meja. Cangkir yang perlahan-lahan kehilangan sisa kehangatannya. Dan aku..." Sanjaya terdiam sejenak, “...tetap tinggal di dalamnya, memunguti dan membereskan satu demi satu kenangan yang mereka tinggalkan berserakan.”
Pandangannya terangkat, menyusuri pekatnya langit malam yang tak berujung.
"Atau mungkin, aku lebih menyerupai sebuah pelabuhan." Mata Sanjaya bergerak pelan, mengikuti pergerakan bayangan ombak yang hanya berdebur di dalam kepalanya. “Setiap malam kunyalakan mercusuar agar kapal-kapal yang kehilangan arah dapat menemukan jalan pulang. Mereka berlabuh saat laut sedang meradang. Mereka singgah, merebahkan lelah, menjahit layar yang robek, dan mengisi kembali palka mereka dengan persediaan harapan.”
Angin berembus, menyapu lembut wajahnya yang menyimpan gurat pias.
"Namun, ketika fajar meretas ufuk dan ombak tak lagi ganas, mereka mengangkat sauh." Suaranya bergetar, nyaris pecah di ujung kalimat. "Mereka kembali berlayar, memburu cakrawala yang lain." Sanjaya menelan kegetiran yang menyumbat tenggorokannya perlahan. “Dan aku... tetap tinggal.”
Tatapannya kembali berlabuh pada sepasang mata Riana.
“Hanya ditemani pendar mercusuar yang bersikeras menyala untuk laut yang kian lengang. Ditemani kabut yang perlahan turun merampas pandangan, dan ritme ombak yang tak pernah lelah menghantam karang yang datang menampar, pecah berantakan, lalu kembali ditarik oleh sunyi.”
Jeda yang panjang membentang di antara mereka. Kali ini terasa jauh lebih lapang. Tak ada lagi dinding yang perlu dibangun, tak ada lagi luka yang harus susah payah disembunyikan.
"Jadi..." Sanjaya mengembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari dadanya menjadi terasa lebih ringan, seolah ia baru saja menanggalkan jubah besi yang membebaninya bertahun-tahun.
"Jika hari ini kau melihatku masih berdiri sendiri, barangkali bukan karena aku tak pernah mengenali rupa cinta." Berkata dengan sorot matanya yang bersih dari ketakutan, digantikan oleh ketulusan rapuh yang telah ditempa oleh seribu kehilangan.
"Aku mengenalnya," ucapnya diiringi sebuah senyum tipis. “Bahkan, mungkin aku terlalu mengenalnya.”
“Namun kehidupan mengajariku satu hal mutlak bahwa tidak setiap orang yang menepi memang ditakdirkan untuk menetap. Sebagian dari mereka hanyalah pengembara yang mencari teduh dari badai, sebelum akhirnya bersiap melanjutkan perjalanan.”
Ia menoleh pada siluet pepohonan yang merunduk pelan di bawah belaian angin malam.
"Dan aku..." suaranya luruh menjadi bisikan. “...barangkali hanyalah sebatang pohon yang dipilih takdir untuk tetap berdiri di tempat yang sama. Pohon yang berkali-kali dipaksa merelakan daunnya saat musim gugur tiba. Yang berkali-kali cabang-cabangnya patah dihajar badai. Namun, setiap kali semburat musim semi datang, ia bersikeras menumbuhkan tunas baru, meski ia tak pernah benar-benar tahu apakah daun-daun kecil itu akan diizinkan bertahan hingga musim berikutnya tiba.”
Ia kembali memandang Riana. Gurat wajahnya kini memancarkan ketenangan yang asing. Bukan ketenangan dari sebuah luka yang telah pulih tanpa bekas, melainkan kedamaian seorang manusia yang akhirnya berhenti berlari dari lukanya sendiri.
"Sebab pada akhirnya aku mengerti," bisik Sanjaya menembus udara dingin, “bahwa hal paling menyiksa dalam mencintai bukanlah mengumpulkan keberanian untuk memulai. Ketersiksaan yang sesungguhnya adalah ketika kita dipaksa mengikhlaskan sesuatu yang telah kita rawat dengan segenap jiwa, bahkan sebelum ia sempat mekar menjadi kehidupan yang penuh.”
Sanjaya tersenyum lembut, sebuah senyum tipis yang merangkum seluruh perjalanan batinnya yang panjang.
“Dan barangkali, justru di titik perih itulah cinta memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Ia tidak selalu menuntut kita untuk memiliki. Hampir di sepanjang waktu, ia justru meminta kita belajar melepaskan, sambil tetap menjaga sekuat tenaga agar hati tidak kehilangan kemampuannya untuk kembali berharap.”
Riana terpaku. Ia tidak langsung menjawab, membiarkan kalimat itu meresap ke dalam keheningan yang kini terasa lebih hangat. Ia menyadari bahwa di hadapannya bukan lagi seorang pria yang sedang meratapi nasib, melainkan seseorang yang telah berdamai dengan musim-musim yang keras.
Dengan gerakan perlahan, Riana melangkah maju, memperkecil jarak yang sedari tadi mereka jaga. Ia tidak memberikan pelukan, namun sentuhan jemarinya yang hangat pada lengan Sanjaya terasa lebih dari cukup. Sebuah isyarat bahwa di ladang yang kini gersang itu, kehadiran seseorang bisa menjadi awal dari musim semi yang baru. Sanjaya membiarkan sentuhan itu menetap, merasakan napasnya sendiri yang kini terasa lebih lapang.
Di luar, embun telah membasahi kaca sepenuhnya, mengubah cahaya lampu kota menjadi titik-titik buram yang berpendar indah. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Sanjaya tidak lagi merasa perlu memandang jauh ke cakrawala. Ia cukup hadir di sini, di bawah atap yang tenang, menyadari bahwa meski badai pernah meninggalkan jejak retak di hatinya, ia masih memiliki kemampuan untuk menerima kehangatan yang tiba tanpa diminta.
Malam itu, di antara desir angin dan sunyi yang jujur, mereka berdua terdiam, membiarkan waktu berhenti sejenak untuk membiarkan harapan mulai kembali bernapas. (Bersambung)