Sebuah pertemuan, terkadang, bukanlah tentang bagaimana dua garis hidup akhirnya bersinggungan di titik yang tepat. Ia lebih sering tentang bagaimana takdir membiarkan seseorang melintas begitu saja di sudut mata kita, sebagai sebuah kehadiran singkat yang membekas dan tak pernah benar-benar menetap. Kita kerap menyangka bahwa rindu adalah hak milik yang bisa kita tuntut penyelesaiannya, padahal semesta sering punya cara yang jauh lebih sunyi untuk menguji ketabahan manusia, seperti ketabahan yang sedang dijajal dari dalam diri seorang Sanjaya.
Demikian sebuah kenangan ada yang memang ditakdirkan untuk tetap menjadi bayang-bayang. Ia sengaja dibiarkan menggantung sebagai sebuah fragmen yang tak utuh, agar kita selalu memiliki alasan untuk terus mengingatnya. Meski hanya dalam bentuk sisa-sisa rasa yang tertinggal tipis di udara, serupa aroma parfum yang perlahan memudar setelah pemiliknya pergi.
Kehidupan sering menyimpan bab-bab akhir yang tak pernah bisa ditebak. Pada sebuah tikungan tajam yang sunyi, semesta akhirnya membelokkan alur harapan Sanjaya terhadap Riana tepat di saat perasaan itu sedang tumbuh mekar-mekarnya, tepat saat ia merasa bahwa pintu masa lalu akan segera terbuka demikian lebarnya.
Namun beberapa langkah sebelum jarak di antara mereka benar-benar runtuh, Riana tiba-tiba berbelok memasuki sebuah gang kecil yang gelap dan rimbun di sisi jalan. Gerakannya begitu luwes dan alami, seolah ia memang sedang mengejar janji yang tak kasat mata atau memburu waktu yang enggan menunggu.
Sanjaya tertegun sesaat, napasnya tercekat di tenggorokan. Tanpa sempat mempertimbangkan logika, ia mempercepat langkah, membiarkan ijazah dan rapor dalam dekapannya sedikit lecek karena diremas dengan jari-jari yang gemetar. Berharap masih bisa menangkap sekelebat bayang gadis itu, sekadar untuk memastikan bahwa sosok yang dilihatnya bukan sekadar fatamorgana akibat kerinduan yang terlalu lama dipendam.
Begitu sampai di mulut gang yang sempit, ia segera menoleh dengan napas yang memburu.
Kosong.
Gang itu lengang, sunyi, dan dingin. Sosok gadis itu telah lenyap, seolah ditelan oleh dinding-dinding bata tua dan rimbunnya tanaman liar yang menjalar di sisi gang. Tidak ada lagi gema langkah kaki, tidak ada siluet yang bergegas, bahkan angin pun mendadak diam seolah ikut bungkam menyimpan rahasia ke mana Riana pergi.
Sanjaya berdiri mematung. Sesaat, ia merasa seolah semesta sedang mempermainkan harapannya dengan begitu kejam. Sebentar memperlihatkan cahaya yang benderang dari kejauhan, lalu memadamkannya tepat di depan mata, persis ketika ia hampir saja menyentuhnya. Ia merasa seperti pengembara yang haus di tengah gurun, yang mengira telah menemukan mata air, namun mendapati kenyataan bahwa itu hanyalah bayang yang menipu indranya.
Namun ia memilih untuk tetap bertahan di sana. Barangkali Riana hanya bertamu ke salah satu rumah di gang ini, pikirnya mencoba mencari sisa-sisa kewarasan. Barangkali, jika ia menunggu beberapa menit lagi, gadis itu akan melangkah keluar kembali dengan senyum yang sama yang pernah membekas di ingatannya. Sanjaya menyandarkan bahunya pada dinding gang yang lembap, membiarkan waktu merayap lambat.
Di antara bayang-bayang pohon yang mulai memanjang akibat matahari yang perlahan turun, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam penantian yang tak pasti. Sebuah penantian yang ia sadari mungkin tak akan pernah terjawab, namun ia tetap memilih berdiri di sana, di tempat di mana jejak Riana terakhir kali hilang ditelan dari pandangannya.
Sanjaya masih terpaku di tepi jalan, matanya tak lepas dari mulut gang yang seolah telah menjadi pintu gerbang bagi rahasia yang tak terjangkau. Waktu merayap lambat. Matahari sore semakin condong ke ufuk, menyapu tanah dengan semburat warna jingga yang getir. Orang-orang silih berganti melintas, menatapnya dengan rasa ingin tahu yang samar, namun sosok yang ia nanti tetaplah hantu yang enggan menampakkan diri.
Dadanya mulai sesak oleh kegelisahan yang membiak. Hari itu adalah titik nadir. Hari terakhirnya menapakkan kaki di tanah kelahiran sebelum esok pagi ia harus melipat rindu dan berangkat merantau ke kota yang asing. Jika pertemuan itu gagal, entah kapan lagi semesta akan berbaik hati memberikan kesempatan yang sama. Pikiran itu berputar-putar di kepalanya, serupa burung yang terus mengitari cakrawala yang tak kunjung menemukan dahan untuk hinggap.
Semakin lama menunggu, harapan yang tadinya menyala terang perlahan meredup, tersapu angin sore yang mulai mendingin.
Akhirnya, Sanjaya menyerah.
Ia membalikkan badan dengan langkah yang terasa jauh lebih berat, seolah kakinya kini dibebani timah yang tak tampak. Jalanan yang tadi ia lalui dengan degup jantung penuh harapan, kini menjelma menjadi jalan pulang yang dipenuhi kehampaan. Rasanya persis seperti seseorang yang telah berdiri tepat di depan pintu kebahagiaan, lalu kemudian pintu itu terkunci rapat sebelum sempat ia ketuk. Kesempatan yang selama berbulan-bulan ia rajut dalam imajinasinya telah luruh begitu saja, tanpa menyisakan ruang bagi satu patah kata atau satu tatapan pamit yang layak.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, pikirannya dihujani oleh spekulasi yang melukai.
Barangkali Riana sebenarnya melihat kehadirannya, bisik batinnya. Atau, mungkinkah gadis itu sengaja melangkah cepat untuk menghindar?
Semakin lama dugaan itu beranak-pinak dalam benaknya, semakin dalam pula torehan luka yang ia rasakan. Hatinya serupa kaca tipis yang jatuh perlahan ke lantai batu. Retakannya tak menimbulkan dentuman yang keras, tetapi goresannya menjalar ke seluruh bagian yang tak mungkin lagi diperbaiki. Untuk pertama kalinya, Sanjaya mencicipi getirnya mencintai seseorang dalam kesunyian yang absolut. Mencintai tanpa pernah tahu apakah perasaan itu memiliki alamat untuk berlabuh. Ia merasa cintanya hanyalah gema yang memantul kembali ke dada sendiri tanpa pernah terjawab.
Kemudian tepat sebelum ia benar-benar karam dalam samudra kesedihan yang gelap, Sanjaya mencoba menarik napas panjang. Ia berupaya memungut sisa-sisa kewarasannya, menenangkan badai yang berkecamuk di dalam jiwa, sembari mencoba memahat sebuah pemahaman baru agar hatinya tak benar-benar hancur sebelum sempat melangkah keluar dari kampung halamannya.
Ia menarik napas panjang, lalu kembali mengingat wajah Riana yang sempat dilihatnya dari kejauhan. Bukankah setidaknya ia masih diberi kesempatan melihat gadis itu sekali lagi? Meskipun hanya beberapa saat. Meskipun tanpa sapaan dan tanpa percakapan. Tetapi pertemuan singkat itu tetap menjadi anugerah yang tak semua orang dapat miliki. Ia mulai percaya bahwa mungkin memang hanya sejauh itulah takdir mengizinkan mereka bertemu pada hari itu.
Sebuah takdir, layaknya matahari senja, selalu memiliki rahasia tentang kapan ia harus menyiramkan cahaya dan kapan ia harus menyisakan langit dalam temaram. Memaksakan sesuatu untuk menetap sebelum waktunya tiba hanya akan membuat harapan perlahan berkarat menjadi luka yang menahun.
Dengan kesadaran yang getir namun mulai menerima itu, Sanjaya meneruskan langkahnya pulang. Ia belum memahami, bahwa pertemuan yang gagal hari itu kemudian hanya menjadi kenangan yang paling awet menghuni relung ingatannya. Sebab, ada peristiwa dalam hidup yang menjadi abadi bukan karena durasi atau kebersamaan yang panjang, melainkan justru karena ia berhenti secara mendadak, tepat di saat hati belum selesai menaruh harap, tepat di saat segalanya terasa masih menyimpan begitu banyak kemungkinan.
Langkah kakinya kini beradu dengan kerikil jalanan yang mulai gelap. Di dalam dada Sanjaya, sesuatu telah berubah. Ia menyadari bahwa perpisahan yang tak terucapkan terkadang adalah bentuk pertemuan yang lain. Menjadi sebuah ruang kosong yang akan terus ia bawa ke kota, yang akan ia jaga tetap suci, sebagai pengingat tentang kampung halaman yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
Sampai kemudian hari berganti, minggu bersilih, tahun pun berputar tanpa henti, hingga tiga puluh tahun berlalu dalam sekejap mata. Waktu, yang dahulu begitu kejam memisahkan mereka di mulut gang kecil itu, akhirnya melunak. Semesta seolah telah memberikan restu bagi sebuah pertemuan yang sekian lama tertunda, membawa Sanjaya dan Riana duduk di sebuah meja percakapan yang sama, di bawah naungan takdir yang kini tak lagi asing.
Tiga puluh tahun adalah rentang usia yang cukup panjang bagi waktu untuk menghapus jejak apa pun. Lanskap kampung telah berubah drastis. Dengan jalan-jalan yang dulu berdebu kini telah beraspal mulus, rumah-rumah telah berganti rupa menjadi bangunan yang lebih megah, dan pepohonan mahoni yang dahulu kecil kini telah menjulang angkuh, menaungi jalanan dengan dahan yang kian kokoh.
Banyak orang telah datang dan pergi, membawa serta potongan-potongan cerita yang luruh ditelan usia. Namun di tengah segala perubahan yang fana itu, ada sesuatu yang anehnya menolak untuk menua. Ada sebuah kenangan yang tidak ikut memudar seperti kenangan Sanjaya saat melihat Riana yang terakhir kalinya. Kenangan yang tetap tinggal di tempat semula, utuh dan tak tersentuh, seolah waktu hanya berlalu di sekelilingnya tanpa pernah sanggup menyentuh esensi yang tersimpan di dalam hati Sanjaya.
Kenangan itu telah lama mendekam dalam sunyi. Sabar menanti saat yang tepat untuk ditanyakan langsung kepada sang pemilik kunci. Setelah hidup membawa mereka melintasi begitu banyak persimpangan tajam yang melelahkan. Setelah Sanjaya menyadari bahwa ada satu pertanyaan yang tak boleh lagi ia biarkan terkubur di bawah tumpukan waktu.
Ia tidak hendak menuntut penjelasan atau mencari kambing hitam atas luka-luka lama. Ia hanya ingin berdamai dengan masa lalu yang selama ini hanya ia pahami dari sudut pandang tunggalnya yang terbatas. Pada sebuah peristiwa atau sebuah fragmen yang selama tiga dasawarsa yang tak pernah benar-benar selesai diterjemahkan oleh akalnya, yang telah menjelma menjadi simpul kusut di dalam batinnya. Simpul itulah yang harus ia urai, demi membebaskan langkahnya agar lebih ringan menapaki sisa usia yang kian senja.
Sanjaya memandang Riana, bukan lagi sebagai sosok gadis yang ia kenal lewat bayang-bayang masa lalu, melainkan sebagai seorang wanita yang telah menapaki jalan hidupnya sendiri. Dengan tatapannya yang tenang, namun di balik kedalaman matanya, tersimpan getaran yang hanya dimiliki seseorang yang sedang membuka pintu kenangan yang telah terkunci rapat selama berpuluh tahun.
"Riana," suara Sanjaya memecah sunyi, rendah namun cukup untuk mengguncang meja di antara mereka.
“Mungkin ini sudah terlalu lama untuk ditanyakan. Tapi apakah kamu ingat hari itu? Hari saat aku berlari mengejarmu ke dalam gang, hanya untuk mendapati bahwa kamu telah lenyap tanpa jejak?”
Sanjaya menahan napas. Ia tidak lagi mencari jawaban atas apakah Riana sengaja menghindar atau apakah itu hanya kebetulan. Ia hanya ingin tahu apakah, setidaknya untuk satu detik saja di masa lalu itu, ia pernah ada, pernah hadir dalam benak gadis yang selama tiga puluh tahun terakhir telah membentuk cara pandangnya tentang rindu.
"Riana..." suara Sanjaya kembali terdengar, lebih lirih, seperti sebuah pengakuan yang tertahan puluhan tahun di kerongkongan. “Ada satu kejadian yang selama ini tak pernah benar-benar pergi dari ingatanku. Sebuah fragmen yang terus mengusik, bahkan ketika hidupku telah jauh berpindah dan berubah.”
Riana mengangkat wajahnya, perlahan namun pasti. Matanya yang kini mulai dihiasi garis-garis halus usia menatap Sanjaya dengan perhatian penuh, menunggu kelanjutan dari sebuah kalimat yang tampaknya telah lama disiapkan.
"Dulu, ada satu peristiwa yang sangat memengaruhi jalan hidupku," lanjut Sanjaya dengan nada yang kian berat. “Aku hampir saja berpapasan denganmu di jalan menuju Sampura. Saat itu, aku sengaja turun dari bus lebih awal hanya karena ingin menemuimu. Tapi, tepat saat jarak kita sudah begitu dekat, kamu tiba-tiba berbelok cepat masuk ke gang. Sejak hari itu, aku selalu mengira... bahwa kamu sengaja menghindariku.”
Riana tampak mengernyit pelan. Alisnya bertaut, seolah ia sedang berusaha menyisir lorong-lorong ingatannya yang kini telah diselimuti debu waktu.
"Dulu?" tanyanya pelan, suaranya terdengar ragu. “Kapan kejadiannya, A? Aku... aku benar-benar tidak ingat.”
"Waktu itu aku baru saja lulus SMP," jawab Sanjaya dengan detak jantung yang kembali berdegup kencang. “Dan kamu, saat itu baru duduk di kelas satu MTs.”
Riana terdiam cukup lama. Keheningan menyusup di antara mereka, memisahkan meja kayu itu dengan jarak yang mendadak terasa begitu luas. Matanya tidak lagi menatap Sanjaya. Ia sedang memandang jauh ke belakang, menerobos kabut masa lalu, ke sebuah waktu yang bahkan nyaris tak lagi memiliki bentuk, tempat di mana masa remaja mereka pernah bersinggungan tanpa pernah benar-benar saling menyentuh.
Sanjaya menahan napas. Ia melihat bagaimana jemari Riana sedikit gemetar saat menyentuh tepi cangkir tehnya, sebuah tanda bahwa ingatan itu, meskipun samar, perlahan mulai terbangun dari tidurnya yang panjang.
"Aku... benar-benar tidak ingat," ucap Riana akhirnya. Suaranya halus, namun terdengar jujur hingga ke akar-akarnya. “Kalau memang itu benar terjadi, sungguh, aku sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang ada di depanku waktu itu adalah A Sanjaya.”
Sanjaya mengangguk pelan. Ada sesuatu yang berderak di dalam dadanya, atas sebuah keyakinan yang ia bangun selama tiga puluh tahun seketika runtuh oleh sebuah pengakuan polos.
"Tapi bagiku, waktu itu rasanya kamu sengaja menghindar," sahut Sanjaya, suaranya nyaris seperti gumaman.
Riana menggeleng perlahan, matanya menatap Sanjaya dengan tatapan yang penuh empati. “Maaf, A Jaya.”
Nada suaranya lembut, tanpa sedikit pun nuansa pembelaan diri. “Sungguh, bukan begitu. Aku tidak pernah punya niat untuk menghindarimu. Bukan karena sombong, bukan karena tidak ingin bertemu. Aku benar-benar tidak sadar. Aku tidak tahu kalau itu A Sanjaya.”
Ia menyunggingkan senyum kecil. Dengan sebuah senyum yang lahir dari rasa kikuk sekaligus iba kepada kenangan yang ternyata selama ini dipikul oleh seorang pria sendirian di atas pundaknya.
"Lagian..." katanya sembari terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana yang mendadak beku. “Itu sudah lama sekali. Zaman breto atuh itu mah, A. Sudah kuno sekali.”
Mereka sama-sama tersenyum. Namun, senyum Sanjaya hanyalah sisa-sisa dari keterkejutan yang ia coba tutupi. Senyum yang hanya bertahan sebentar, lalu luruh kembali ke dalam raut wajah yang merenung.
"Meski sudah lama," sahut Sanjaya dengan nada yang sarat akan beban, “bagiku, kejadian itu tidak pernah benar-benar selesai.”
Ia menarik napas panjang, mencoba membiarkan udara sore masuk ke paru-parunya, mencoba mengeluarkan ganjalan yang sudah tiga puluh tahun bersarang di ulu hatinya. Ternyata, yang selama ini menjadi musuh terbesarnya bukanlah Riana, melainkan prasangkanya sendiri. Menjadi sebuah tembok yang ia bangun dari asumsi, yang ternyata begitu rapuh saat dihadapkan pada kebenaran yang tak terduga.
Di hadapannya, Riana tampak terdiam. Ia menyadari bahwa di balik kesederhanaan ceritanya, ada sejarah panjang tentang rasa sepi yang tak sengaja ia ciptakan bagi pria di depannya ini. Riana menyadari bahwa laki-laki yang sedang berada di depannya, bukan sekadar bertanya tentang sebuah gang kecil. Ia sedang meminta pertanggungjawaban kepada waktu atas masa muda yang hilang karena sebuah kesalahpahaman.
"Hari itu aku sengaja turun di Simpang Sampura. Aku bahkan berniat datang ke rumahmu," suara Sanjaya semakin pelan, hampir tenggelam dalam riuh rendah suasana di sekitar mereka. “Aku hanya ingin memastikan bahwa gelang benang yang pernah kuberikan benar-benar melingkar di pergelangan tanganmu. Sebelum berangkat merantau, aku hanya ingin melihatmu sekali lagi. Itu saja.”
Sanjaya menunduk, menatap cangkir kopinya yang telah mendingin. “Waktu aku melihatmu berbelok ke gang itu... sejujurnya, hatiku hancur.”
Riana tak lagi tersenyum. Sisa kekehan ringan di bibirnya lenyap, digantikan oleh gurat keseriusan yang tulus. Ia mendengarkan dengan seluruh keberadaannya, membiarkan setiap kata Sanjaya meresap ke dalam hatinya yang kini mulai tersentuh oleh beban yang selama ini tak pernah ia bayangkan.
"Aku terus bertanya-tanya selama bertahun-tahun," lanjut Sanjaya dengan nada yang bergetar tipis. “Apa aku begitu tidak berarti sampai harus dihindari? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang begitu besar dan menyesakkan. Aku merasa menjadi orang yang selalu datang terlambat. Selalu ditolak sebelum sempat menyampaikan isi hati. Dan tanpa kusadari, perasaan itu ikut membentuk caraku memandang dunia, caraku menjalani hidup.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka.
“Waktu itu, aku merasa seperti sedang meniti jalan setapak di lereng pegunungan. Setiap kali hampir sampai di puncak tujuan, jalan itu selalu membelok tajam ke arah yang tak kukenal. Aku kehilangan arah. Aku kehilangan harapan. Bahkan, ketika kemudian ada perempuan-perempuan lain yang datang dalam hidupku, aku selalu merasa ada sesuatu yang telah patah jauh sebelumnya. Hatiku seolah sudah hancur berkeping-keping, bahkan sebelum ia benar-benar sempat berdiri di hadapanmu.”
Riana memandang Sanjaya dengan sorot mata yang berubah. Di sana, ia tak lagi menemukan sosok lelaki yang tegar, melainkan seorang pria yang sedang menelanjangi lukanya sendiri. Muncul rasa iba, sekaligus rasa bersalah yang baru tumbuh setelah ia menyadari kenyataan yang selama tiga dekade ini tak pernah ia sentuh.
"Masa sampai begitu, A?" bisiknya, suaranya tercekat. “Aku benar-benar tidak percaya kalau satu kejadian kecil itu bisa membawa dampak sebesar itu bagi hidupmu.”
Riana terdiam sejenak, jemarinya meremas serbet di atas meja. Ia kemudian mendongak, mencoba mencairkan ketegangan dengan nada yang sedikit lebih ringan meski matanya masih berkaca-kaca.
"Jangan-jangan..." ia mencoba tersenyum tipis, meski senyum itu terasa pahit, “A Jaya belum menikah sampai sekarang... karena masih terbayang-bayang kejadian itu? Apa ada hubungannya denganku?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Sebagai sebuah tebakan yang ia harap hanya candaan, namun di saat yang sama, ia takut jika tebakan itu mendekati kebenaran yang pahit.
Sanjaya ikut tersenyum, meski ada semburat melankolis di sudut bibirnya.
"Mungkin," jawab Sanjaya singkat. "Tapi mungkin bukan sepenuhnya karena kamu," lanjutnya, sengaja melembutkan kalimat agar Riana tidak merasa dibebani oleh rasa bersalah yang tak perlu. Ia berhenti sejenak, membiarkan suasana yang melingkupi mereka sedikit lebih renggang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dalam, “Namun, kamu adalah awal dari banyak pertanyaan yang tak pernah selesai kujawab dalam hidupku.”
Riana menundukkan kepala. Ada jejak kesedihan yang tak tertahankan di sana, sebuah pengakuan bahwa ia telah menjadi sosok yang tak sengaja mengisi ruang batin seseorang tanpa ia ketahui. Sesaat kemudian, ia kembali mengangkat wajahnya. Senyum yang tersungging di bibirnya masih sama seperti tiga puluh tahun silam. Senyum yang dahulu pernah diam-diam diperhatikan Sanjaya dari balik batang pohon, dari sudut lorong sekolah, dari jarak yang aman saat ia takut mendekat. Ternyata, waktu memang bisa mengubah rupa, namun tak mampu meredupkan cahaya yang dipancarkan oleh satu senyum yang sama.
"Kalau dipikir sekarang," kata Sanjaya kembali, “kejadian di Sampura itu adalah kali terakhir aku melihatmu secara langsung. Setelah hari itu, hidup membawa kita ke arah yang benar-benar berbeda. Jalan kita bercabang, dan takdir seolah tak lagi memberi celah untuk bertemu.”
Riana mengangguk pelan, jemarinya perlahan tertaut di atas meja. “Tapi sekarang kita sudah bertemu lagi, kan?”
Ia menatap Sanjaya dengan tatapan hangat yang menenangkan badai di dalam dada sang pria. “Sekarang, A Jaya sudah tahu jawabannya. Aku sama sekali tidak tahu bahwa sosok yang kulalui waktu itu adalah A Sanjaya. Tidak ada niat menghindar, apalagi penolakan. Hanya kebetulan yang tidak berpihak pada kita saat itu.”
Sanjaya mengembuskan napas panjang. Dengan napas terberat yang ia lepas dalam tiga dasawarsa. Seiring embusan itu, ia merasa ada beban tak kasat mata yang perlahan luruh dari pundaknya. Prasangka yang selama ini ia pelihara seperti tanaman berduri, kini tampak layu dan kehilangan tajamnya.
Ia tidak lagi merasa seperti orang yang datang terlambat. Ia hanya merasa seperti seseorang yang akhirnya sampai di ujung sebuah jalan buntu, dan menemukan bahwa di balik dinding yang selama ini ia takuti, ternyata tidak ada apa-apa selain udara kosong dan masa lalu yang telah kehilangan kekuatannya untuk melukai.
Rasanya persis seperti seseorang yang selama tiga puluh tahun memikul sebongkah batu besar di pundaknya, lalu perlahan meletakkannya ke atas tanah. Beban itu jatuh, meninggalkan jejak rasa pegal yang perlahan memudar menjadi kelegaan yang murni.
"Kalau saja waktu itu kamu melihatku," ujar Sanjaya dengan senyum tipis yang tersirat ketenangan, “boleh jadi jalan hidup kita benar-benar berbeda.”
Riana menatapnya penuh tanda tanya, menunggu ke mana arah kalimat pria di depannya ini.
“Mungkin sekarang kita sudah menjadi suami istri.”
Kalimat itu meluncur tanpa bumbu penyesalan. Itu adalah pernyataan seorang pria yang telah berdamai dengan takdir, seseorang yang telah melihat seluruh rangkaian kejadian sebagai bagian dari mosaik kehidupan yang tak perlu lagi diubah.
"Mungkin kamu tidak akan menikah dengan orang lain," tambah Sanjaya lagi.
Riana tertawa kecil. "Hehe..." Tawanya ringan, namun dalam nada yang sama, tersimpan gema dari puluhan tahun yang tak lagi mungkin diputar balik.
Angin sore berembus pelan membelai wajah mereka. Dalam suasana tidak ada lagi kesunyian yang menyakitkan seperti tiga puluh tahun silam. Yang tertinggal di udara hanyalah penerimaan. Sanjaya menengadah, memandang langit yang perlahan berubah warna menjadi lembayung senja.
"Kalau sekarang kita bisa membicarakan semua ini dengan tenang," katanya lirih, “anggap saja ini adalah jalan pulang yang sunyi bagi sebuah hati yang selama puluhan tahun belum pernah benar-benar selesai.”
Riana mengangguk, matanya berkaca-kaca menatap pria yang dulu pernah diam-diam menaruh hati padanya. “Lalu... setelah hari itu, A Jaya ke mana?”
“Aku melanjutkan sekolah. Kemudian kuliah di Bandung.”
Riana memandangnya cukup lama, seolah sedang mencari jejak pria muda yang dulu ia abaikan bukan karena sengaja, melainkan karena takdir memang belum mengizinkannya tahu. “Lalu kenapa... kenapa tidak pernah mencariku lagi?”
Pertanyaan itu meluncur pelan, namun getarannya terasa jauh lebih berat daripada seluruh percakapan yang telah mereka lalui. Sanjaya tersenyum pahit.
"Aku jarang sekali pulang." Ia berhenti sejenak, menelan sisa-sisa sesak di tenggorokannya. “Lagipula, dari kabar yang kudengar saat itu... kamu sudah mulai didekati orang lain.”
Tatapannya jatuh entah ke mana, mungkin pada bayang-bayang masa lalu yang kini telah kehilangan tajamnya. “Sejak saat itu, aku merasa tidak lagi memiliki hak untuk datang dan mengganggu hidupmu.”
Kalimat itu mengambang di udara, meninggalkan jeda yang panjang. Dalam kesunyian di antara mereka yang tidak lagi terasa menyakitkan. Kesunyian itu justru menyerupai senja yang perlahan memeluk malam. Bukan karena kalah atau menyerah, melainkan karena akhirnya memahami bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk bermuara pada kepemilikan. Ada jenis cinta yang memang ditakdirkan hanya untuk dikenang, sebuah pengingat bagi manusia bahwa menerima kenyataan terkadang memerlukan keberanian yang jauh lebih besar daripada sekadar memperjuangkan.
Percakapan itu kemudian berhenti dengan sendirinya, seolah ada kesepakatan sunyi di antara mereka bahwa tak ada lagi kalimat yang perlu segera diucapkan. Di hadapan mereka, senja perlahan meluruhkan cahayanya, seolah langit pun memahami bahwa ada beberapa jawaban yang hanya pantas datang ketika usia telah cukup dewasa untuk memeluknya. Angin bergerak pelan, menyisir dedaunan dan membawa suara samar yang mengingatkan Sanjaya pada jalan menuju Sampura tiga puluh tahun silam. Jalan itu ternyata tidak pernah benar-benar hilang. Hanya berpindah tempat dari tanah yang dahulu dipijak menuju ruang paling sunyi di dalam ingatannya.
Sanjaya akhirnya menyadari bahwa selama puluhan tahun, ia hidup bersama sebuah kesimpulan yang keliru. Betapa mudahnya manusia membangun sebuah takdir hanya dari satu dugaan, lalu menjadikannya tembok tinggi yang membatasi seluruh langkah berikutnya. Ia mengira Riana telah menolaknya, padahal yang terjadi hanyalah dua remaja yang dipisahkan oleh hitungan detik, beberapa langkah, dan ketidaktahuan yang kemudian membesar menjadi kisah sepanjang hidup. Terkadang nasib memang tidak lahir dari peristiwa besar. Terkadang ia lahir dari hal-hal sepele yang diam-diam membelokkan arah perjalanan seseorang untuk selamanya.
Sementara Riana pun tenggelam dalam pikirannya sendiri. Baru hari itu ia mengetahui bahwa tanpa pernah disadarinya, dirinya pernah menjadi pusat dari begitu banyak pertanyaan yang dipikul Sanjaya seorang diri. Ia tak pernah tahu bahwa ada seorang anak laki-laki yang rela turun dari bus lebih awal, menyusuri jalan dengan jantung berdebar, hanya demi berharap dapat melihatnya sekali lagi sebelum berangkat merantau. Ia juga tak pernah tahu bahwa satu belokan kecil yang ia ambil menuju gang telah meninggalkan luka yang begitu panjang di hati seseorang. Waktu benar-benar pandai menyembunyikan cerita, membiarkan manusia berjalan puluhan tahun tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di belakang punggung mereka.
Barangkali begitulah cara cinta bekerja. Ia tidak selalu hadir untuk dipersatukan, pun tidak selalu datang agar dua orang akhirnya saling memiliki. Ada cinta yang datang sekadar untuk mengajarkan kesabaran. Ada yang hadir agar manusia mengenal kehilangan. Ada pula yang memilih tinggal sebagai kenangan, agar suatu hari nanti seseorang mengerti bahwa hidup tidak pernah seluruhnya berada dalam kuasa keinginan manusia. Sebab takdir bukan sekadar tentang siapa yang akhirnya berjalan bersama, melainkan tentang siapa yang diam-diam membentuk hati kita menjadi seperti sekarang.
Sanjaya tersenyum kecil. Bukan senyum kemenangan, bukan pula senyum seseorang yang telah mendapatkan kembali apa yang hilang. Senyum itu lebih menyerupai embun yang akhirnya jatuh dari ujung daun setelah sekian lama bertahan. Terhempas ringan, tenang, dan tanpa suara. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh tahun, ia merasa tidak lagi harus memusuhi masa lalunya. Peristiwa di Sampura akhirnya kembali ke tempat yang semestinya. Menjadi sebuah kenangan yang kini telah memperoleh penjelasannya.
Ia memandang Riana sekali lagi. Perempuan itu kini bukan lagi gadis yang dahulu diam-diam diikuti pandangannya sepulang sekolah. Waktu telah mengubah wajah mereka, mengubah usia, kehidupan, bahkan jalan yang mereka tempuh. Tetapi ada satu hal yang tidak pernah berubah tentang rasa hormat kepada kenangan yang pernah mempertemukan dua hati muda dalam diam. Kenangan itu tidak meminta untuk diulang. Hanya ingin diterima.
Matahari akhirnya tenggelam seluruhnya di balik perbukitan. Senja menutup langit dengan warna yang perlahan memudar, sebagaimana masa lalu menutup dirinya setelah lama menunggu untuk dipahami. Sanjaya sadar, ada perjalanan yang tidak ditakdirkan berakhir dengan saling menggenggam tangan. Ada perjalanan yang justru selesai ketika dua orang akhirnya saling memahami.
Dan mungkin, itulah hakikat arus balik. Bukan kembali untuk mengulang kehidupan yang telah lewat, melainkan kembali agar hati menemukan muara yang selama ini dicari. Sebab manusia tidak selalu pulang untuk memiliki kembali apa yang pernah hilang. Kadang-kadang, manusia pulang hanya untuk meletakkan beban yang terlalu lama dipanggulnya, lalu melanjutkan perjalanan dengan hati yang akhirnya menjadi lebih lapang. (Sal)