Arus Balik (1)

Sampai akhirnya, semesta mengizinkan Sanjaya untuk pulang.Ia membiarkan tubuhnya bersandar lelah...

Arus Balik (1)

13 Jul 2026
383 x Dilihat
Share :

Arus Balik (1)

Sampai akhirnya, semesta mengizinkan Sanjaya untuk pulang.

Ia membiarkan tubuhnya bersandar lelah pada kursi bus yang berderit, menatap pemandangan di luar jendela yang berangsur-angsur berubah. Perlahan, beton-beton angkuh kota metropolitan yang sempat menindih pundaknya selama bertahun-tahun mulai menyusut, berganti dengan hamparan hijau yang terasa jauh lebih jujur, tenang, sekaligus menyimpan misteri masa silam. Bus yang ditumpanginya mulai membelah keheningan, meninggalkan hiruk-pikuk jalanan besar yang pongah, lalu menyelinap masuk ke jalur-jalur sempit yang memeluk erat arah menuju kampung halamannya.

Jalur itu seolah menjadi lorong waktu yang menariknya kembali ke masa lalu. Di sisi kiri dan kanan, pepohonan mahoni yang telah berusia puluhan tahun merunduk dalam, seolah memberi penghormatan kepada orang yang sempat lama hilang. Dedaunannya yang rimbun saling bertaut, menciptakan kanopi alami yang menyaring cahaya matahari sore, mengubah atmosfer di dalam bus menjadi temaram yang syahdu dan penuh nostalgia. Udara yang masuk melalui celah jendela membawa wangi tanah yang lembap, sebuah aroma yang mendadak menghidupkan kembali sel-sel ingatannya, seolah kampung itu sedang berbisik menyambut kepulangannya dengan bahasa yang hanya dipahami oleh jiwa yang lelah.

Dari balik jendela yang berdebu, seolah kaca itu sengaja menyimpan sisa-sisa waktu yang selama ini tertinggal. Sanjaya menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Bulir-bulir padinya tampak bergelombang ditiup angin, menari pelan dalam irama yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah hidup dari tanah. Sementara itu, langit di ufuk barat menggantung rendah, berwarna kelabu keunguan yang teduh, seolah sedang menanti, bersiap menyambut seseorang yang telah terlalu lama hilang ditelan perantauan. 

Di kejauhan, kepulan asap tipis mulai membumbung dari cerobong dapur rumah-rumah warga, sebuah isyarat sederhana bahwa kehidupan di sini masih berdetak dalam ritme yang sama. Lambat, tenang, dan bersahaja. Seperti detak jantung yang selama ini ia coba lupakan di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak pernah berhenti berlari.

Setiap tikungan jalan adalah gerbang yang terbuka, membiarkan kenangan tumpah ruah dari lipatan ingatan yang selama bertahun-tahun ia kunci rapat. Aroma tanah basah dan jerami yang terbawa masuk melalui celah jendela seakan menyapa indranya dengan keakraban yang menyakitkan. Sanjaya merasa dadanya sesak oleh sesuatu yang tak lagi bisa ia beri nama. Sebagai perpaduan ganjil antara rindu yang menggebu, haru yang menghangatkan, dan kegelisahan yang merayap pelan.

Ia seperti sungai yang lelah. Setelah sekian lama berkelana melewati bebatuan tajam, hutan rimba yang sunyi, dan lembah-lembah asing yang dingin, akhirnya menemukan kembali muara tempat ia bisa melepas segala penat. Rumah kampung halamannya menjadi bukan lagi sekadar titik koordinat di peta, melainkan dekap hangat yang telah lama ia rindukan, yang sebentar lagi akan membasuh seluruh lelah dalam jiwanya.

Ini adalah kepulangan yang berbeda. Selama bertahun-tahun, Sanjaya memang sesekali menapakkan kaki di tanah kelahirannya, namun perjalanan itu tak pernah benar-benar menjadi sebuah "pulang". Ia hanya singgah sejenak, melepas lelah beberapa jam, bersalaman dengan keluarga, lalu menghirup sekilas aroma tanah yang membesarkannya sebelum kembali berangkat. Meninggalkan semuanya sebelum kerinduan sempat menuntaskan dirinya. Kampung selalu menjadi persinggahan yang didatangi dengan ketergesaan, bukan tempat yang sempat ia peluk dengan ketenangan. Seolah-olah waktu terus menarik lengannya, menyeretnya kembali ke perantauan sebelum hatinya sempat duduk barang sejenak untuk bercakap-cakap dengan kenangan.

Pada kepulangan ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tinggal lebih lama. Bukan semata-mata karena ia ingin menepi dari hiruk-pikuk kota yang menguras napas, melainkan karena ada banyak hal yang ingin ia temui kembali. Ingin memeluk kampung itu sendiri, mengusap wajah-wajah yang pernah mewarnai masa kecilnya, dan memanggil kembali memori yang selama ini hanya hadir sebagai bayang-bayang samar di sela kesibukan. 

Di lubuk hatinya yang paling sunyi, ada satu nama yang diam-diam menjadi kompas bagi langkahnya. Sebuah nama yang hadir laksana embusan angin. Tak terlihat wujudnya, namun sanggup menggerakkan seluruh daun dalam ingatan. Ia tidak tahu apakah pertemuan itu akan benar-benar terjadi, namun ia mengerti bahwa harapan sering memiliki napas yang lebih panjang daripada kepastian.

Ia merindukan suasana kampung yang dahulu begitu lekat dengan denyut nadinya. Menjelang Mauludan, Rajaban, atau Lebaran, kampung itu selalu bertransformasi. Jalan-jalan kecil dipenuhi oleh mereka yang pulang dari rantau. Rumah-rumah yang biasanya lengang mendadak riuh oleh tawa anak-anak, aroma masakan yang mengepul dari dapur, dan salam yang bersahutan dari satu halaman ke halaman lainnya. Suasana itu selalu mengingatkannya bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, kampung akan tetap menunggu dengan kesabaran yang abadi, tanpa pernah belajar untuk melupakan.

Namun, justru pada hari-hari besar seperti itulah, Sanjaya sering kali menjadi orang yang absen. Tuntutan pekerjaan dan roda hidup yang tak pernah berhenti berputar membuatnya lebih sering merayakan hari-hari besar jauh dari pelukan tanah kelahirannya. Lalu seiring usia yang merambat naik dan langkah hidup yang kian panjang, ia mulai menyadari bahwa ada kehilangan-kehilangan yang tidak dapat ditebus oleh keberhasilan apa pun. Sebab waktu, layaknya air yang mengalir dari hulu ke hilir, tidak akan pernah bersedia berbalik arah hanya karena seseorang baru menyadari betapa berharganya masa yang telah ia lewati.

Dalam beberapa kali kepulangan sebelumnya, Sanjaya mulai peka terhadap pergeseran di kampung halamannya. Ada sesuatu yang dahulu luput dari perhatiannya. Meski secara fisik infrastruktur tak banyak berubah, dan angin masih setia membawa aroma tanah yang sama akrabnya dengan masa kecilnya, ia mulai menangkap bahwa detak kehidupan di dalamnya telah perlahan melambat.

Hamparan sawah memang masih terbentang luas, namun jumlah tangan yang bersedia menggarapnya kian menyusut. Tanah yang dahulu menjadi tumpuan harapan seolah telah kehilangan gairah sentuhan manusia. Padahal, bumi tak pernah ingkar janji. Ia selalu siap memberi kehidupan bagi siapa pun yang bersedia merawatnya dengan kesabaran, serupa seorang ibu yang tak lelah merentangkan pelukan, bahkan saat anak-anaknya memilih berpaling dan pergi jauh meninggalkannya.

Masyarakat yang tersisa pun tak lagi bertani dengan orientasi yang sama. Padi kini hanya ditanam sekadar untuk menyambung napas di dapur sendiri. Hasil panen tak lagi sanggup menjadi sandaran ekonomi yang tangguh, apalagi jika harus dilempar ke pasar luar kampung. Sebagian besar keluarga kini lebih bergantung pada komoditas musiman, seperti penjualan buah kelapa atau hasil kebun lainnya. Di sinilah jurang itu menganga. Tanah tetap memberi, namun biaya hidup tumbuh jauh lebih cepat daripada hasil yang sanggup dipersembahkannya. Banyak orang akhirnya merasa bahwa bekerja di kampung tak lagi mampu mengejar ritme kehidupan yang terus berakselerasi.

Barangkali karena alasan itulah, hampir seluruh pemuda memilih untuk angkat kaki. Kampung perlahan menjelma menjadi tempat yang ditinggalkan oleh tenaga-tenaga mudanya, sementara kota beralih menjadi magnet yang terus memanggil dengan janji tentang pekerjaan, penghasilan, dan masa depan yang tampak lebih bercahaya. Setiap keberangkatan selalu terbungkus rapi oleh harapan, namun di baliknya tersimpan gumpalan kerinduan yang diam-diam dipikul di sepanjang perjalanan. Sebab merantau, bagi mereka, bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan sebuah proses panjang untuk belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan.

Sebagian besar dari mereka mengadu nasib ke Jakarta. Dengan memanggul dagangan pakaian dari satu pasar ke pasar lainnya, dari satu kota ke kota berikutnya, mereka menjalani profesi yang oleh warga kampung disebut dengan istilah ngagemol. Sebuah sebutan yang terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan jejak perjalanan yang tak berujung, malam-malam dengan tidur yang tak menentu, kelelahan yang dipendam sendiri, serta keyakinan bahwa setiap lembar pakaian yang terjual adalah setitik harapan yang mereka kirimkan untuk keluarga di rumah.

Tak sedikit pula yang memilih perantauan ke arah timur, ke Malang, demi menjadi buruh di pabrik-pabrik kerupuk. Bahkan, ada yang nekat menyeberang hingga ke Kalimantan menjadi pendulang emas tradisional. Menekuni pekerjaan yang oleh warga kampung disebut ngadulang. Mereka bergelut dengan pasir dan lumpur di dasar sungai, atau menggali terowongan sedalam-dalamnya ke perut bumi di area pegunungan, hanya dengan berbekal harapan tipis untuk menemukan butiran emas yang tak pernah pasti.

Hidup mereka sejatinya hanyalah proses mengayak nasib. Berkali-kali menyaring lumpur, berkali-kali menggali tanah kehidupan, demi mengumpulkan secuil harapan yang cukup untuk dibawa pulang ke pelukan keluarga. Memang, tidak semua kembali dengan membawa keberuntungan, namun hampir semuanya pulang dengan raga yang semakin akrab dengan letih. Sebagai jejak nyata dari pertarungan panjang melawan nasib yang keras.

Di tengah pergeseran arus zaman itu, ada sesuatu yang hilang dari denyut kampung. Semakin sedikit anak muda yang memilih melabuhkan diri di pesantren. Pun mereka yang meneruskan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi, jumlahnya bisa dihitung dengan jemari. Padahal, pada masa yang belum terlalu jauh, para tetua di kampung memiliki keyakinan yang karib bahwa mereka percaya bahwa ilmu agama adalah kompas sekaligus bekal utama yang akan menerangi jalan hidup, laksana pelita kecil yang tetap mampu memancarkan cahaya meski malam turun begitu pekat menelan cakrawala. Namun keyakinan itu perlahan memudar, tergerus oleh desakan ekonomi yang memaksa banyak keluarga memilih jalan pintas yang dianggap lebih cepat mendatangkan pundi-pundi rupiah.

Di jantung kampung itu, berdiri sebuah pesantren yang dahulu pernah menjadi mahkota kebanggaan masyarakat. Dalam ingatan Sanjaya yang masih jernih, tempat itu adalah pusat semesta kehidupan. Halamannya selalu riuh oleh langkah kaki yang bergegas menuju masjid, ruang-ruang belajarnya senantiasa bergetar oleh suara barisan kitab yang dibaca bersahut-sahutan, dan malam-malamnya dihidupkan oleh lantunan ayat suci yang menggema melintasi dinding-dinding rumah warga, membawa keteduhan yang meresap hingga ke sanubari. Dahulu, jumlah santrinya mencapai ratusan, bahkan mungkin ribuan. Sebuah pemandangan yang terasa abadi, seolah pesantren itu akan terus menjadi mercusuar yang takkan pernah padam sepanjang zaman.

Namun, perlahan segalanya berubah.

Bangunan pesantren itu kini masih berdiri, tetapi hanya sebagai tubuh yang kehilangan denyut nadinya. Sebagian dindingnya mulai kusam dimakan usia, halamannya tampak lengang tanpa jejak langkah, dan asrama-asrama yang dahulu penuh sesak oleh suara santri kini lebih sering ditemani angin malam yang berembus pelan, menyapu lorong-lorong kosong yang sunyi. Menjadi sebuah monumen bisu atas tradisi yang perlahan luruh oleh roda zaman yang terus berputar tanpa kompromi.

Sanjaya bahkan tidak lagi yakin apakah masih ada satu-dua santri yang bertahan di sana. Yang tersisa hanyalah kerangka bangunan tua dan reruntuhan kenangan yang perlahan dikikis waktu. Kesunyian menyelimuti tempat itu laksana kabut yang turun perlahan di musim hujan. Tidak gaduh, namun sanggup mencekik batin siapa pun yang mengenangnya dengan rasa kehilangan yang begitu dalam.

Pemandangan ini bukan sekadar potret tunggal kampungnya. Di banyak tempat, pesantren-pesantren kecil mulai kehilangan denyutnya, ditinggalkan santri yang memilih merantau ke kota, mengejar pekerjaan yang dianggap sanggup menjawab tuntutan hidup yang kian mendesak. Sanjaya memahami pilihan itu, sebab ia sendiri pernah menempuh jalan yang sama. Namun, setiap kali memandang bangunan pesantren yang kian sunyi, ia selalu merasa ada sepotong sejarah yang pelan-pelan terkikis, menghilang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal.

Pesantren itu tetap berdiri dengan sabar, menyerupai pohon tua yang masih menghujamkan akar jauh ke dalam bumi, meskipun satu per satu burung telah memilih terbang ke langit yang lain. Ia tidak mengejar siapa pun. Ia hanya menunggu dengan kesetiaan yang barangkali hanya dimiliki oleh tempat-tempat yang dibangun dari ketulusan ilmu, doa, dan pengabdian.

Sanjaya akhirnya menyadari bahwa perubahan zaman tidak hanya mengubah cara manusia bekerja, tetapi juga merombak fundamental cara pandang mereka terhadap kehidupan. Tuntutan hidup kian membumbung. Setiap kepala keluarga kini dipaksa berhitung antara kebutuhan diri, istri, dan anak-anaknya. Mengandalkan hasil bumi tak lagi cukup untuk memikul beban yang kian berat. Kehidupan terus berakselerasi, sementara tanah kelahiran memiliki batas kemampuan yang tak bisa dipaksa untuk memberi lebih.

Di saat yang sama, definisi kesejahteraan pun turut bergeser. Rumah tak lagi sekadar dipandang sebagai tempat berteduh, melainkan menjelma menjadi panggung yang harus tampak megah, kokoh, dan mentereng. Kendaraan bukan lagi sekadar alat transportasi, melainkan simbol keberhasilan yang dipamerkan. Keinginan-keinginan baru tumbuh tanpa henti, menjalar dari satu rumah ke rumah lainnya layaknya akar liar yang mencari celah di balik fondasi kehidupan.

Di tengah arus perubahan yang terus menyeret itu, Sanjaya berdiri, menyaksikan kampung yang dicintainya perlahan berganti rupa. Ia terdiam, bertanya-tanya dalam sunyi. Apakah setiap kemajuan memang harus selalu dibayar dengan keterasingan manusia dari akar yang pernah membesarkannya?

Begitulah wajah kampung tempat Sanjaya dilahirkan yang terus berubah sedikit demi sedikit. Perubahannya tidak datang dengan ledakan yang gaduh, melainkan merambat pelan, persis seperti akar yang menjalar di bawah tanah, yang nyaris tak kasat mata, namun diam-diam telah mengubah bentuk dan arah kehidupan seluruh penghuninya.

Di kampung itu, definisi kehidupan yang layak telah bergeser. Bukan lagi sekadar perkara mengisi periuk nasi setiap hari, melainkan tentang memenuhi standar yang lahir dari tatapan orang lain. Agar dihormati, dianggap berhasil, dan menuai kekaguman, seseorang harus memiliki rumah yang pantas, kendaraan yang mentereng, bahkan jika perlu, bangunan yang menjulang lebih tinggi daripada milik tetangganya. Seolah-olah harga diri telah perlahan dipindahkan dari kedalaman hati manusia menuju benda-benda fana yang memanjakan mata.

Namun, hasrat itu tidak datang tanpa harga. Banyak orang akhirnya rela melucuti warisan yang telah dirawat leluhur selama berpuluh tahun. Sawah yang dahulu menjadi denyut kehidupan berpindah tangan, kebun-kebun yang ditanam dengan cucuran keringat dan kesabaran kini dilepas begitu saja. Bahkan pohon-pohon alba yang bertahun-tahun tumbuh menjulang, yang telah mengumpulkan usia bersama embusan angin dan guyuran hujan, satu per satu tumbang demi memenuhi kebutuhan yang dianggap lebih mendesak.

Tak sedikit pula yang menjual ternak peliharaan, harta yang dahulu hidup dan berkembang bersama alam, demi menebus sepeda motor. Kekayaan yang bernapas kini menjelma menjadi mesin-mesin yang menderu angkuh di jalanan kampung. Begitulah zaman bekerja. Ia tidak selalu merampas secara paksa, tetapi sering membuat manusia dengan sukarela melepas apa yang paling berharga demi mengejar sesuatu yang baru dianggap bernilai.

Kini, sepeda motor telah menjadi pemandangan lumrah di setiap halaman rumah. Ia bukan lagi barang mewah, melainkan kebutuhan primer yang tak terpisahkan. Hanya keluarga Sanjaya yang tampak ganjil dalam arus tersebut. Di antara sanak saudaranya, hanya Mang Uyep yang memiliki kendaraan roda dua. Bahkan adiknya berkali-kali merengek pada sang nenek agar dibelikan benda serupa. Bukan semata karena ingin bersolek, melainkan karena di kampung itu, tidak memiliki sepeda motor berarti merasa tertinggal dari laju zaman. Ada rasa terasing yang diam-diam tumbuh di dalam dada, meskipun tak seorang pun berani menyuarakannya.

Sanjaya menatap fenomena itu dengan perasaan yang berkecamuk. Di satu sisi, ia bersyukur melihat taraf hidup masyarakat kampungnya membaik dibandingkan masa kecilnya dahulu. Melihat jalanan lebih ramai, rumah kian layak, dan wajah-wajah orang tampak lebih tenang karena ekonomi yang meningkat. Namun di sisi lain, ia menyadari bahwa kemajuan selalu membawa beban yang tersembunyi. Orang-orang merasa harus hidup dalam bayang-bayang orang lain. Mereka ketakutan menjadi berbeda, cemas menjadi buah bibir. Dalam urusan materi, keseragaman perlahan menjelma menjadi aturan tak tertulis yang ditaati semua orang. Siapa pun yang berjalan di luar arus itu, akan dengan mudah menjadi percakapan hangat dari beranda ke beranda.

Pikiran itu membuat Sanjaya menunduk dalam. Setelah bertahun-tahun mengembara di kota, berkali-kali berpindah pekerjaan demi mengejar harapan yang selalu tampak berada beberapa langkah di depan, pada akhirnya tempat yang dituju tetaplah kampung kelahirannya. Sejauh apa pun kaki melangkah, tanah asal selalu menjadi muara terakhir ketika tenaga mulai surut dan hati tak lagi sanggup memikul beban perjalanan. Kampung adalah pelabuhan tua yang tak pernah menolak kapal yang pulang, baik dalam keadaan utuh maupun karam. Ia menerima segalanya dengan kesunyian yang penuh pengertian.

Namun di balik kepulangan itu, Sanjaya tidak merasakan kebanggaan yang utuh. Ia justru membawa segudang tanya yang memberati pundaknya.

Di balik langkahnya yang kini menapak kembali di tanah kelahiran, Sanjaya justru merasa sedang memanggul tumpukan kekalahan yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit sejak masa kanak-kanak. Ia mencoba menelusuri kembali labirin perjalanan hidupnya, yang semakin jauh ia menoleh ke belakang, semakin banyak retakan luka yang ia temukan, jauh melampaui segala torehan kemenangan. Ada cita-cita yang gugur sebelum sempat mekar, ada harapan yang patah di tengah jalan, dan ada impian-impian masa kecil yang perlahan memudar, tergerus oleh kenyataan hidup yang jauh lebih keras daripada bayangan seorang bocah yang dahulu menatap cakrawala dengan mata penuh cahaya. Semua pengalaman itu melekat pada jiwanya serupa debu perjalanan yang tak terelakkan. Meski tak selalu kasat mata, ia tak pernah benar-benar hilang dari pori-pori ingatannya.

Barangkali, akar dari segala perasaan ini telah tertanam jauh di masa kecilnya.

Ketika Sanjaya mulai mengenal dunia dan menyimpan memori pertama, ibunya sudah lebih dulu mengabdikan diri sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Pada tahun-tahun awal, perempuan itu masih menyempatkan diri pulang setiap Lebaran. Kepulangannya adalah perayaan paling suci bagi anak-anaknya. Rumah sederhana mendadak hangat, seolah kehadiran sang ibu mampu menambal kerinduan yang selama berbulan-bulan hanya bisa mereka peluk dalam doa. 

Tetapi kemudian, waktu adalah pencuri yang kejam. Ada masa ketika satu tahun berlalu, diikuti tahun berikutnya tanpa kepulangan. Sanjaya kemudian mendengar kabar bahwa ibunya telah mengikuti majikannya pindah ke Batam. Sejak saat itu, jarak terasa membentang tak bertepi, seolah lautan sengaja berdiri angkuh di antara seorang ibu dan anak-anak yang ditinggalkannya.

Ayahnya pun serupa, bahkan mungkin lebih asing.

Jauh sebelum Sanjaya memahami apa itu makna keluarga, ayahnya telah memilih membangun hidup baru dengan pernikahan lain di kota yang jauh. Sosok yang seharusnya menjadi tempat berteduh itu perlahan luruh menjadi sekadar nama yang sesekali terucap di bibir orang-orang. Sanjaya hampir tidak memiliki fragmen kenangan bersama lelaki yang ia panggil ayah. Terkadang, ia bahkan merasa janggal untuk mempercayai bahwa lelaki itu dan ibunya pernah saling mencintai, pernah berbagi atap yang sama, lalu melahirkan empat nyawa ke dunia. Baginya, semua itu terasa seperti hikayat orang lain yang didengar lewat sayup-sayup angin, bukan bagian dari darah hidupnya sendiri.

Satu-satunya tempat yang benar-benar tersimpan dalam relung ingatannya hanyalah rumah kakek dan neneknya. Di sanalah masa kecilnya tumbuh dan menemukan bentuk. Di rumah itulah ia lebih banyak mengecap kasih sayang daripada di tempat yang semestinya menjadi rumah bagi kedua orang tuanya. Ia sempat pula berpindah, tinggal setahun di rumah uwak dari pihak ayah, sebelum akhirnya kembali ke pangkuan sang nenek. Setelahnya, ibunya kembali berangkat mengadu nasib ke Jakarta, sementara ayahnya lenyap entah ke mana ditelan rimba kota. Kehadiran kedua orang tuanya perlahan mengabur, berubah menjadi bayang-bayang yang hanya bisa ia imajinasikan, bukan dirasakan.

Mereka semua pergi dengan alasan yang serupa: mencari nafkah demi masa depan anak-anaknya.

Sanjaya memahami logika itu dengan akal dewasanya. Namun ada satu hal yang senantiasa menolak untuk ia mengerti. Ayahnya seolah melepaskan seluruh tanggung jawab yang seharusnya tetap dipikul, seakan perjalanan mencari rezeki ikut membawa serta kepedulian yang seharusnya tertinggal di rumah. Bagi sang ayah, dunia mungkin terasa lebih luas setelah ia meninggalkan kewajibannya, namun bagi Sanjaya, dunia justru terasa semakin sempit, menyisakan sebuah lubang besar di hatinya yang hingga kini tak pernah benar-benar menutup.

Dari sanalah tumbuh jurang yang kian melebar di dalam relung batin Sanjaya. Ia tidak menyimpan benci kepada sang ayah, namun harapan yang pernah ada telah lama menguap, menyisakan sikap acuh yang sedingin es. Bukankah seorang anak, cepat atau lambat, akan belajar memaknai dunia melalui cermin perilaku orang-orang dewasa di sekitarnya?

Mungkin tanpa disadari, pengalaman-pengalaman pahit itulah yang membentuk karakternya. Sanjaya tumbuh menjadi sosok yang enggan menoleh ke kampung halaman, bukan karena ia kehilangan rasa cinta pada tanah kelahiran, melainkan karena setiap kunjungan selalu membangkitkan kenangan yang ingin ia kubur sedalam-dalamnya. 

Kampung itu memang menyimpan fragmen masa kecilnya, tetapi juga menyimpan kesunyian yang terlalu lama menemaninya beranjak dewasa. Selama bertahun-tahun, kesibukan hanyalah tameng yang ia gunakan untuk bersembunyi. Padahal jauh di lubuk hatinya, ada kepedihan yang membuat langkahnya selalu ragu untuk melangkah pulang.

Di balik semua itu, terselip sebuah prinsip yang diam-diam ia peluk erat: Jangan pulang sebelum sukses.

Prinsip itu menanamkan akar pertamanya melalui perjumpaan dengan seorang lelaki paruh baya asal Padang saat ia masih merantau di Bandung. Lelaki itu pernah berujar bahwa lebih baik hidup terlunta-lunta di negeri orang daripada harus pulang membawa kegagalan dan menjadi santapan lidah sanak saudara. Ucapan sederhana itu menancap tajam di benak Sanjaya. Kata-kata, bagaikan benih, sekali jatuh ke dalam tanah hati, ia akan tumbuh perlahan tanpa pernah diminta. Lambat laun, Sanjaya merasa terbebani oleh prinsip yang sama. Ia bertahan di kota bukan semata demi mencari sesuap nasi, melainkan demi membentengi diri dari rasa malu yang membayangi kepulangan.

Lelaki Padang itu adalah seorang pembuat stempel di kawasan Cikapundung. Di bawah jembatan penyeberangan, ia membuka lapak kecil yang setiap hari didatangi manusia dengan berbagai urusan. Hidupnya bersahaja, nyaris tak terlihat, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang tak mudah pudar. Dari dialah Sanjaya belajar bahwa setiap perantau sesungguhnya memanggul luka dan harga dirinya masing-masing. Tidak semua luka tampak di permukaan, sebagaimana tidak semua keberanian lahir dari deretan kemenangan.

Namun setelah sekian lama bergulat dengan kerasnya kehidupan, Sanjaya memilih jalur yang berbeda. Ia tak lagi sudi menjadikan rasa malu sebagai alasan untuk menjauh dari rumah. Kota telah memberinya banyak pelajaran sekaligus menyuguhkan serentetan kegagalan. Dan justru karena kegagalan itulah ia merasa harus pulang. Sebab ada kalanya seseorang kembali ke kampung halaman bukan untuk memamerkan keberhasilan, melainkan untuk berdamai dengan dirinya sendiri.

Bus yang membawanya pulang terus melaju, sementara ingatan mulai membuka satu demi satu pintu masa lalu. Tanpa diundang, kenangan itu membawanya kembali pada hari di mana segalanya bermula. Hari saat ia melangkah pulang dari sekolah, menggenggam rapor dan ijazah yang terasa ringan di tangan, namun memikul beban batin yang jauh lebih berat daripada bobot kertasnya. 

Hari itu adalah titik nadir sekaligus awal dari sebuah perjalanan panjang yang akan mengubah seluruh peta hidupnya. Bersamaan dengan berakhirnya masa sekolah, ia telah mengambil keputusan yang menggetarkan hatinya, untuk meninggalkan kampung dan mengadu nasib ke kota.

Sejak pagi di bangku kelas, pikirannya tak pernah benar-benar di sana. Berkali-kali matanya menerawang keluar jendela, sementara benaknya sibuk merangkai kemungkinan paling sederhana sekaligus paling rumit tentang bagaimana ia bisa bertemu Riana sebelum keberangkatannya.

Di tengah riuh teman-teman yang merayakan kelulusan, hanya satu wajah yang terus hadir sebagai pusat getaran dalam kepalanya. Nama Riana bergema pelan seperti desir angin yang menyentuh permukaan danau, yang nyaris tak terdengar, tapi sanggup membuat seluruh permukaan hatinya bergetar hebat.

Di dalam bus yang berguncang pelan menyusuri jalan menuju kampung dari sekolah itu, Sanjaya tidak benar-benar menikmati pemandangan di luar jendela. Pandangannya sibuk mengembara, melintasi waktu, mencoba mencari kembali kemungkinan-kemungkinan baru, mungkinkah ia bertemu Riana sekali lagi?

Ia merasa ada sesuatu yang belum tuntas, sebuah simpul di hatinya yang perlu diurai sebelum langkahnya benar-benar menjauh dari kampung. Ia ingin memastikan apakah gelang benang yang pernah ia titipkan benar-benar melingkar di pergelangan tangan gadis itu. 

Namun lebih dari sekadar pembuktian, ia hanya ingin menatap wajahnya sekali lagi. Meski hanya beberapa detik, meski tanpa sepatah kata pun yang terucap. Sebab, bagi seseorang yang tengah mencecap jatuh cinta untuk pertama kalinya, menatap wajah yang dirindukan adalah bekal paling suci untuk dibawa mengarungi perjalanan hidup yang tak tentu arah.

Semakin dekat bus melaju menuju terminal, semakin kuat pula magnet keinginan itu menarik batinnya. Sanjaya berpikir, mungkin satu-satunya jalan adalah menyambangi rumah Riana. Bahkan jika ia tidak sanggup mengetuk pintunya, sekadar melintasi halaman rumahnya atau menyusuri gerumbul pepohonan yang memagari kediamannya mungkin sudah cukup. Siapa tahu semesta sedang berbaik hati menyusun skenario pertemuan. Harapan memang sering kali lahir dari kemungkinan-kemungkinan kecil yang nyaris tak kasat mata, tetapi justru itulah yang memberi keberanian bagi seseorang untuk terus melangkah.

Ketika bus merambat mendekati Simpang Sampura, Sanjaya tiba-tiba bangkit dari kursinya.

"Turun di sini, Bang," suaranya tertahan, meski terdengar cukup tegas bagi sang kondektur.

Padahal, biasanya ia baru akan turun di terminal utama. Namun, keputusan itu melompat keluar lebih cepat dari akal sehatnya, seolah ada tangan tak kasatmata yang menarik langkahnya untuk turun lebih awal. Sambil menggenggam erat rapor dan ijazah yang lembap oleh keringat telapak tangannya, ia melompat turun dan menyusuri jalan setapak. Jantungnya berpacu dalam irama yang ganjil. Setiap langkah terasa seperti ujian keberanian yang paling berat. Bukan karena jalanan itu asing, melainkan karena tujuan yang ia tuju adalah seseorang yang selama ini hanya berani ia dekap dalam diam.

Langkah Sanjaya perlahan melambat saat memasuki jalur menuju Sampura. Ia memandang ke depan dengan hati-hati, ada takut yang merayap bahwa harapannya akan layu sebelum sempat menyapa. Namun tiba-tiba, di kejauhan, matanya menangkap siluet yang sangat ia kenal.

Riana.

Gadis itu berjalan sendirian dengan kepala sedikit tertunduk. Langkahnya tenang, helai rambutnya bergerak anggun dibelai angin siang, sementara jemarinya menggenggam sesuatu yang tak jelas bentuknya. Jarak mereka masih terentang cukup jauh, tapi Sanjaya sudah mengenalinya dari cara berjalan. Dengan naluri yang paling purba, ada hal-hal yang tak mungkin keliru dikenali oleh hati. Sebagaimana seseorang mampu mencium aroma tanah yang basah sebelum tetes hujan pertama menyentuh bumi. Begitulah Sanjaya mengenali Riana bahkan sebelum wajahnya tampak jelas di matanya.

Dadanya berdebar liar, nyaris menyesakkan.

Ia terus melangkah sambil menghitung jarak. Dalam benaknya, ia membayangkan momen saat mereka akan berpapasan. Barangkali Riana akan mengangkat wajahnya, lalu mata mereka akan bertemu. Sebagai sebuah pertautan pandang yang akan membekukan waktu. Barangkali mereka akan saling melempar senyum yang paling tulus, atau mungkin sekadar menyapa dengan kalimat sederhana yang justru akan abadi dalam ingatannya selamanya. 

Harapan-harapan itu tumbuh begitu cepat, memenuhi relung hatinya layaknya cahaya matahari yang menembus celah dedaunan di tengah hutan yang pekat.

Sanjaya menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya, bersiap menjemput satu-satunya kenangan yang akan ia bawa sebagai pelipur lara di perantauan nanti. (Bersambung)

Perspektif

Scroll