Sore itu, saat menapaki ambang pintu rumah, Sanjaya tak langsung menyambut rutinitasnya dengan membuka tas sekolah. Meski tubuhnya menanggung beban perjalanan panjang sejak fajar, ada percik semangat yang menjulang, menahan lelah agar tak sepenuhnya meruntuhkan pertahanan tubuhnya. Di kedalaman tas itu, gulungan-gulungan benang yang baru ia beli seolah berbisik dalam diam. Bagi dunia, benda itu hanyalah alat jahit biasa. Namun bagi Sanjaya, ia adalah sederet kemungkinan menuju sebuah bahasa rahasia untuk merangkai segala yang tak sanggup ia lukiskan lewat kata-kata.
Dari arah dapur, aroma nasi yang baru matang berpadu dengan suara lembut sang Nenek. “Jaya... cuci tangan dulu. Ayo makan.”
"Iya, Nek," sahutnya sigap, meski langkahnya terasa lebih ringan dari biasanya.
Sanjaya berusaha meresapi setiap suapan. Tetapi pikirannya telah lebih dulu melompat ke dalam kamar. Sesekali, matanya mencuri pandang ke arah tas yang bersandar di sudut pintu, memicu debar yang sama seperti seorang bocah yang tak sabar menyingkap pembungkus hadiah. Ia mengunyah dengan ritme yang terburu-buru, membuat sang Nenek tersenyum geli di seberang meja.
"Mengapa terburu-buru sekali? Biasanya kau lebih tenang saat makan," gurau sang Nenek.
Sanjaya membalas dengan senyum tipis yang sarat akan rahasia. “Sudah kenyang, Nek. Hanya sedang memikirkan sesuatu.”
Nenek mengangguk maklum tanpa menuntut jawaban. Beliau tentu mengira bahwa cucunya tengah berkutat dengan beban tugas sekolah. Namun, di balik tenang wajahnya, kepala Sanjaya justru dipenuhi bayang sesosok gadis yang hanya sempat ia tatap selama beberapa detik di tikungan jalan kampung tadi. Sebuah pertemuan singkat yang meninggalkan jejak panjang di benaknya.
Sanjaya kemudian mengurung diri di dalam kamar. Pintu ia tutup perlahan, memisahkan dunianya dengan realitas luar. Ia menarik tas sekolah ke hadapannya, lalu dengan jemari yang gemetar halus, ia mengeluarkan gulungan-gulungan benang satu per satu, menyusunnya di atas tikar pandan. Warna putih, kuning, dan hijau yang berserak itu tampak seperti potongan-potongan harapan yang baru saja menemukan wujudnya.
Ia mengusap permukaan benang itu dengan takzim, lalu terkekeh kecil pada dirinya sendiri. "Jadi," bisiknya lirih, “dari mana kita akan memulainya?”
Sanjaya adalah seorang pemula dalam seni merangkai benang. Ia hanya pernah menjadi pengamat, membiarkan matanya mencuri pandang pada gelang-gelang penuh warna yang melingkar di pergelangan tangan kawan-kawannya di sekolah. Ia tahu, kerajinan ini adalah ujian bagi ketenangan jiwa. Sebuah disiplin yang menuntut kesabaran jemari untuk menyilang, melilit, dan mengencangkan simpul demi simpul hingga membentuk untaian huruf yang jelas dibaca.
Ia membentangkan seutas karet elastis sebagai tulang gelangnya. Dengan saksama, Sanjaya mengukur panjangnya, menyandingkannya dengan pergelangan tangannya sendiri sebagai acuan. Ia berusaha mereka-reka ukuran yang pas untuk Riana. Berharap tidak terlalu longgar, pun tidak menyesakkan di pergelangan tangan Riana. Ia ingin benda ini hadir sebagai pelengkap yang nyaman, selaras dengan secercah harapannya agar Riana sudi menerimanya tanpa beban.
Lilitan pertama ia mulai dengan ragu. Jemarinya yang kaku membuat benang itu selicin belut, terlepas berkali-kali dari penguasaannya. Sanjaya menghela napas panjang, menatap ujung-ujung benang yang menjuntai pasrah. "Ternyata tidak semudah yang kubayangkan," gumamnya, suaranya teredam sunyi kamar.
Namun, ia tidak membiarkan rasa frustrasi memadamkan api semangatnya. Ia menarik napas dalam, memusatkan kembali seluruh atensi ke ujung jemarinya. Pada setiap lilitan ia tanam dengan kehati-hatian seorang pemuja. Ia memastikan setiap simpul terkunci rapat dan setiap tarikan memiliki tegangan yang seimbang. Perlahan, rangkaian benang itu mulai menurut, membentuk pola huruf yang merangkai kata di atas karet elastis.
Di tengah keheningan yang kian pekat, Sanjaya tiba-tiba tersadar akan sebuah kebenaran yang tak tertulis dalam buku panduan mana pun. Menganyam benang, baginya, tak ubahnya merawat perasaan. Jika lilitan dibiarkan terlalu longgar, ikatan itu akan renggang dan mudah terurai oleh waktu. Namun, jika ditarik terlalu kuat dengan ambisi yang berlebihan, benang itu justru akan putus menahan beban.
Ia memandangi jalinan kecil itu dengan tatapan teduh. Membuatnya mengerti bahwa untuk menjaga sesuatu agar tetap bertahan lama, tak cukup hanya mengandalkan ketangkasan tangan atau ketepatan hitungan. Semuanya memerlukan keseimbangan yang lahir dari ketulusan dan kesabaran untuk tidak memaksa, sekaligus keuletan untuk tidak melepaskan.
Hari-hari berikutnya, ritme hidup Sanjaya berubah. Jika biasanya waktu sepulang sekolah ia habiskan dengan menelaah buku pelajaran atau membantu pekerjaan nenek di halaman, menjadi hampir setiap sore ia akan duduk bersila di lantai kamar. Di hadapannya, gulungan benang yang semula utuh kini perlahan berkurang, menjadi saksi bisu dari ketekunan yang ia bangun.
Pekerjaan itu menuntut ketelitian yang ekstrem. Satu kesalahan kecil pada simpul saja bisa membuat seluruh pola huruf yang ia susun dengan susah payah harus dibongkar. Kadang Sanjaya menghela napas panjang karena kesal, namun sesaat kemudian ia tersenyum lebar melihat hasil anyaman yang mulai tampak rapi.
Hari berganti hari. Sore berganti senja, senja meluruh menjadi malam. Setiap pergantian waktu meninggalkan satu atau dua baris anyaman baru. Gelang itu tumbuh perlahan, selaras dengan perasaan yang diam-diam semakin memenuhi ruang dadanya. Agar tidak tergesa-gesa dan tidak pernah benar-benar berhenti.
Sanjaya mulai menyusun huruf demi huruf dengan benang hijau dan kuning sebagai latar, sementara benang putih ia pilih untuk membentuk tulisan. Proses ini jauh lebih rumit daripada membuat pola geometris biasa. Sedikit saja salah menghitung lilitan, bentuk huruf akan melenceng dan seluruh rangkaian harus dibongkar kembali.
Jemarinya pun mulai terasa pegal. Ujung kuku beberapa kali tersangkut benang, dan bahunya kerap kaku karena terlalu lama membungkuk. Namun setiap kali rasa lelah itu mendesak, Sanjaya kembali memanggil bayangan wajah Riana di kepalanya. Seolah-olah, setiap simpul yang ia buat sedang mendekatkannya sedikit demi sedikit kepada seseorang yang bahkan mungkin tidak menyadari keberadaannya.
Di tengah kesibukan itu, suara Kak Laela tiba-tiba memecah konsentrasi dari balik pintu. “Jaya...”
Sanjaya tidak lekas menjawab. Pandangannya masih terpaku pada benang yang sedang ia lilit.
“Jaya!”
"Iya, Kak?" sahutnya setelah tersadar.
Kak Laela muncul di ambang pintu, berkacak pinggang. Tatapannya langsung tertuju pada hamparan benang yang berserakan di lantai. “Lagi-lagi benda itu?”
Sanjaya tersenyum canggung. “Iya.”
“Sebenarnya apa yang sedang kau kerjakan?”
"Membuat gelang," jawab Sanjaya singkat.
Kak Laela mengambil gelang yang belum selesai itu, memperhatikannya beberapa saat, lalu mengangkat sebelah alisnya dengan penuh selidik. “Wah... rajin sekali.”
Sanjaya merasa wajahnya memanas. “Hasilnya masih jelek, Kak.”
“Kalau menurutmu jelek, mengapa dikerjakan terus?”
Sanjaya terdiam. Ia tidak menjawab. Bagaimana mungkin ia menjelaskan bahwa yang sedang ia kerjakan bukan sekadar untaian benang? Ia sedang merangkai keberanian. Ia sedang menenun harapan. Ia sedang mencari cara agar suatu saat nanti, ada seseorang yang tahu bahwa diam-diam ada hati yang tengah belajar menyebut namanya dengan penuh kehati-hatian. Namun, semua itu terlalu sulit untuk dijabarkan.
Akhirnya, ia hanya berkata pelan, “Ingin bisa saja.”
Kak Laela tersenyum tipis yang seolah mengisyaratkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya pada jawaban adiknya. Sebelum percakapan berakhir, kakaknya kembali bersuara, “Kalau begitu, lanjut nanti lagi.”
Sanjaya mengangguk senang. Tapi kalimat berikutnya segera menyusul, menghancurkan harapannya untuk segera merampungkan huruf selanjutnya.
“Sekarang, ambil air dulu ke dam. Air di dapur habis untuk masak nanti malam.”
Sanjaya menoleh ke gelang yang hampir selesai di bagian huruf berikutnya. “Tapi... tanggung, Kak.”
"Kau ini, kalau sudah pegang benang jadi lupa segalanya," sahut Kak Laela tegas.
“Sebentar saja, Kak.”
“Jaya.”
“Iya?”
"Rumah ini tidak bisa diurus dengan benang," ucap kakaknya dengan nada yang tak bisa dibantah.
Sanjaya akhirnya menyerah. Ia meletakkan gelangnya dengan hati-hati, lalu bangkit berdiri dengan senyum malu. “Iya, Kak...”
Setelah Kak Laela kembali ke dapur, Sanjaya masih menyempatkan diri untuk menyelesaikan beberapa lilitan terakhir.
"Habis ini, benar-benar mengambil air," bisiknya pada diri sendiri. Kadang, jatuh cinta memang membuat seseorang sedikit keras kepala. Bukan karena ingin membangkang pada aturan rumah, melainkan karena ia sedang belajar menjaga sesuatu yang dirasa sangat berharga.
Sanjaya meletakkan gelang itu, menyambar ember, lalu melangkah menuju dam. Di sepanjang perjalanan, pikirannya tak lepas dari lilitan-lilitan benang yang belum sempurna. Bahkan suara gemericik air dam yang tenang seolah berubah menjadi deret hitungan pola yang terus berulang di dalam benaknya.
Dua minggu berlalu tanpa benar-benar terasa. Setiap sore gelang itu bertambah panjang. Setiap hari bentuknya semakin rapi. Setiap malam, Sanjaya memeriksanya kembali, teliti mencari bagian yang kurang simetris. Hingga pada suatu senja, ia meletakkan gelang itu di atas telapak tangannya.
Sanjaya memandangi hasil karyanya cukup lama. Anyaman benangnya kini tersusun indah. Warna hijau dan kuning menjadi latar yang lembut, sementara di atasnya membentang tulisan berwarna putih yang ia buat dengan seluruh kesabarannya: HAERIANA FEBRIANTI.
Ia mengusap pelan tulisan itu dengan ujung jarinya. Ada rasa haru yang sulit dijabarkan. Selama dua minggu terakhir, nama itu bukan sekadar rangkaian huruf. Ia telah menjadi teman setiap sore, menjadi hitungan dalam setiap simpul, dan alasan utama mengapa ia tetap bertahan meski harus mengulang berkali-kali setiap kali benang itu tersangkut atau salah pola.
Kini gelang itu telah selesai. Sanjaya menarik napas panjang. "Alhamdulillah..." bisiknya. Untuk pertama kalinya, ia merasa berhasil menyelesaikan sesuatu yang ia kerjakan dengan seluruh ketulusan hatinya.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sesaat. Tak lama kemudian, muncul pertanyaan yang jauh lebih berat: Bagaimana cara memberikannya?
Sanjaya terdiam. Pertanyaan itu terasa lebih rumit daripada seluruh proses menganyam benang yang telah ia lalui selama dua minggu. Ia tidak tahu kapan akan bertemu Riana lagi. Ia tidak tahu apakah takdir akan kembali mempertemukan mereka seperti pagi itu, atau apakah ia memiliki keberanian untuk menyerahkan gelang tersebut secara langsung jika kesempatan itu benar-benar datang.
Harapan yang semula melayang ringan di benaknya kini mengendap, berubah menjadi gumpalan kegelisahan yang menyesaki dada. Sanjaya memandang sebuah benda mungil yang kini terbaring tenang di atas telapak tangannya. Ia terdiam, menatap ciptaannya yang sederhana, namun terasa begitu berat oleh beban rahasia yang ia titipkan di tiap helai benangnya.
Benda itu tak berdaya. Ia teronggok bisu, tak mampu melangkah sendiri menuju pemilik yang telah lama bertahta di angan Sanjaya. Seolah-olah gelang itu menunggu restu dari keberanian si empunya untuk benar-benar menjadi jembatan antar-jiwa.
Sanjaya memejamkan mata, membiarkan keheningan malam menyusup ke dalam kamar, membawanya pada lamunan tentang bagaimana esok hari harus ia lalui. Bagaimana ia akan menyapa Riana? Kalimat apa yang sanggup ia rangkai tanpa merusak ketulusan yang telah ia jalin dengan susah payah di ujung jemarinya tadi?
Gelang itu masih di sana, membiaskan cahaya lampu kamar yang temaram, seolah menantang Sanjaya untuk tidak hanya sekadar berharap, tetapi juga berani menanggung segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk penolakan yang mungkin saja datang menyambutnya.
Ia meletakkan gelang itu ke dalam kotak kecil beralaskan kain beledu, seolah menjaga napas sebuah harapan agar tidak padam sebelum sempat diantarkan. Malam kian larut, namun bagi Sanjaya, fajar esok justru terasa seperti sebuah cakrawala yang belum terpetakan, penuh dengan ketidakpastian yang mendebarkan.
Sanjaya mulai memahami sebuah kebenaran baru bahwa merajut gelang ternyata jauh lebih mudah daripada mengumpulkan keberanian untuk menyerahkannya. Dan di antara dua pekerjaan itu, justru keberanianlah yang paling sulit dianyam oleh seorang pemuda yang tengah belajar jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Malam setelah gelang itu rampung, Sanjaya hampir tidak bisa memejamkan mata. Gelang benang masih terbaring rapi di atas meja belajarnya. Sesekali ia ambil, ia pandangi, lalu ia letakkan kembali. Entah sudah berapa kali jemarinya mengusap anyaman yang selama dua minggu terakhir menyita seluruh waktu sorenya. Di bawah keremangan cahaya lampu minyak, warna-warna benang itu tampak lebih hangat, seolah menyimpan napas dari setiap simpul yang diikat dengan penuh kesabaran.
Sanjaya membalik gelang itu perlahan, menyentuh tulisan yang membentuk nama gadis itu. Nama itu kembali bergetar di dalam dadanya. Ia tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Sanjaya benar-benar sudah sejauh ini rupanya," gumamnya pada diri sendiri.
Perasaan manusia memang aneh. Pada mulanya, ia hanya ingin sekadar menyapa di jalan kampung. Namun ketika kesempatan itu menguap, ia justru menghabiskan dua minggu untuk merangkai seutas gelang yang bahkan belum tentu sampai ke tangan sang pemilik. Cinta pertama memang tidak pernah pandai berhitung. Ia selalu rela memberikan tenaga, waktu, bahkan keberanian, tanpa pernah bertanya lebih dahulu apakah semuanya akan berbalas atau tidak.
Keesokan harinya, ketika semburat matahari mulai menyapu hangat halaman rumah, persoalan pelik yang sejak semalam merayap di pikirannya kembali menuntut jawaban. Bagaimana, tepatnya, ia harus menyerahkan gelang itu?
Sanjaya memutar roda kemungkinan di dalam kepalanya, mencari celah di tengah ketidakpastian. Menunggu pertemuan tak terduga di jalanan kampung? Peluangnya terlalu tipis, nyaris mustahil. Datang langsung ke depan pintu rumah Riana? Ia belum memiliki keberanian sebesar itu. Masih belum siap menghadapi tatapan yang mungkin tak ia harapkan. Menitipkannya melalui seorang teman perempuan? Sanjaya bahkan tak tahu siapa saja yang mengisi lingkaran pergaulan gadis itu.
Ia mengembuskan napas panjang, membiarkan udara pagi yang segar gagal menenangkan debar jantungnya. Sanjaya akhirnya memahami satu kebenaran pahit bahwa menciptakan hadiah bukanlah bagian yang tersulit. Yang jauh lebih menantang adalah menemukan jalan agar persembahan itu sampai ke tangan Riana tanpa merusak benteng rasa malu yang selama ini ia jaga dengan rapat.
Saat itulah, di tengah kebuntuan yang mencekik, sebuah nama muncul bak secercah cahaya di benaknya: Ipul.
Saipul yang biasa dipanggil Ipul adalah adik kelas Sanjaya, terpaut dua tingkat di bawahnya. Ipul masih satu sekolah dengan Riana, ia yang mudah bergaul dan sering membantu siapa saja. Semakin dipikirkan, semakin terasa bahwa hanya Ipul sebagai jalan yang paling memungkinkan.
Bagi Sanjaya, Ipul adalah kawan yang dapat diandalkan. Ia adalah sosok perantara yang tahu kapan harus berhenti bertanya, meski ia akhirnya dapat memahami lebih dari yang seharusnya. Sanjaya mematung sejenak, membiarkan pikirannya menimbang-nimbang di antara jurang risiko dan puncak harapan.
Jika ia menyeret Ipul ke dalam urusannya, maka rahasia hatinya tak lagi menjadi milik pribadinya sepenuhnya. Akan ada saksi, akan ada celah bagi rahasia itu untuk bocor atau disalahartikan. Namun, jika ia tetap membeku dalam diam, gelang di dalam kotak itu tak akan pernah mampu melampaui batas pintu kamarnya sendiri. Hanya akan menjadi fosil dari sebuah perasaan yang tak pernah berani menyapa dunia.
Sanjaya menatap kotak beledu itu lekat-lekat. Keheningan kamar yang tadinya terasa mencekam, kini perlahan bergeser menjadi desakan untuk segera melangkah. Ia sadar, terkadang untuk sampai pada tujuan yang diidamkan, seseorang memang harus cukup rendah hati untuk meminjam tangan orang lain sebagai jembatan.
Ia pun beranjak, memantapkan hati bahwa hanya di tangan Ipul, sebuah cerita yang sejak semalam ia anyam akan menemukan takdirnya. Sanjaya segera membungkus gelang itu. Ia membentangkan selembar kertas kado sederhana. Lipatan demi lipatan ia buat serapi mungkin. Baginya, bukan kemewahan bungkus yang penting, melainkan perasaan yang ia simpan di dalamnya. Ia memandang bungkusan kecil itu beberapa saat.
"Semoga benar-benar sampai," bisiknya, hampir seperti sebuah doa.
Sepulang sekolah keesokan harinya, Sanjaya tidak langsung pulang ke rumah. Langkah kakinya berbelok menuju rumah Ipul yang berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya. Jalan menuju rumah Saipul membelah persawahan yang mulai menguning. Angin sore menggoyangkan bulir-bulir padi, menciptakan visualisasi seperti ombak kecil yang berkejaran. Burung-burung pipit beterbangan saat Sanjaya melintas, sementara matahari perlahan condong ke barat, menumpahkan cahaya keemasan di sepanjang pematang.
Perjalanan itu sebenarnya tidaklah jauh. Namun hari itu, setiap langkah terasa begitu panjang bagi Sanjaya. Bukan karena lelah, melainkan karena ia sedang memikul beban yang lebih berat daripada sekadar bungkusan kecil di dalam tasnya yang sedang membawa harapan, tapi belum memiliki kepastian.
Sesampainya di rumah Ipul, Sanjaya mendapati adik kelasnya itu tengah bergelut dengan sapu lidi, membersihkan dedaunan kering yang berserak di halaman.
"Pul!" panggil Sanjaya, suaranya sedikit tertahan oleh gemuruh di dadanya sendiri.
Ipul menoleh, lalu menyambutnya dengan senyum lebar yang tulus. “Lho, Mang Jaya! Tumben sekali ke sini.”
Sanjaya menghentikan langkah tepat di batas pagar, mencoba menata napas. “Kamu sedang sibuk?”
Ipul menyandarkan gagang sapunya ke batang pohon mangga, lalu mengusap peluh di kening dengan punggung tangan. “Tidak, Mang. Baru saja beres urusan sekolah. Ada apa? Sepertinya penting sekali.”
Sanjaya terdiam sejenak. Ia melihat sekeliling, memastikan suasana cukup tenang. Ada keraguan yang masih tersisa, namun melihat tatapan Ipul yang santai dan tidak menghakimi, ia merasa sedikit lebih lega. Ia melangkah masuk lebih dalam ke halaman, membawa beban rahasia yang sejak semalam menuntut untuk disuarakan.
"Ada sesuatu," ujar Sanjaya pelan, suaranya kini lebih rendah, sarat akan keseriusan yang membuat Ipul secara refleks memusatkan perhatian penuh. “Sesuatu yang... mungkin hanya kamu yang bisa membantuku menyampaikannya.”
Ipul tidak langsung membalas. Ia hanya mengangguk pelan, menunjukkan gestur yang seolah berkata bahwa ia siap menjadi pendengar tanpa perlu banyak bertanya.
Sanjaya duduk di bangku bambu di teras rumah Ipul. Tangannya sesekali meremas ujung tas dengan gelisah. Ada rasa canggung yang sulit dijabarkan. Ipul yang peka terhadap gelagat itu, memperhatikannya dengan saksama. “Kayaknya ada sesuatu yang penting, ya?”
Sanjaya tertawa kecil, meski ada nada gugup yang terselip di sana. “Ada sedikit bantuan yang ingin saya minta darimu.”
"Bantuan apa, Mang? Sepertinya rahasia besar," sahut Ipul, matanya berbinar jenaka.
Sanjaya merogoh tasnya perlahan, jemarinya menyentuh permukaan kotak beledu itu dengan penuh kehati-hatian, lalu mengeluarkannya. Ipul menatap bungkusan kecil itu dengan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan. “Itu apa, Mang?”
"Gelang," jawab Sanjaya singkat.
“Untuk siapa?”
Sanjaya terdiam beberapa detik, menelan ludah sebelum menjawab dengan suara rendah yang nyaris seperti bisikan, “Untuk... Riana.”
Mata Ipul seketika membesar. Detik berikutnya, ia tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat akan pengertian. “Oalah... pantesan mukanya serius sekali dari tadi. Ternyata ada niatan mulia di balik kunjungan sore ini.”
Sanjaya ikut tersenyum, meski pipinya terasa panas karena malu. “Pul, bisa tolong bantu sampaikan?”
Ipul mengambil bungkusan itu, membolak-baliknya dengan cermat seolah menimbang berat sebuah harapan. “Bisa saja, Mang. Gampang itu.”
"Tapi, tolong..." Sanjaya menjeda kalimatnya, nadanya berubah menjadi permohonan yang tulus, “jangan bilang dari siapa kalau menurutmu belum waktunya.”
Ipul mengernyitkan dahi, tampak heran. “Lho, memangnya kenapa harus dirahasiakan?”
Sanjaya menunduk, menatap ujung sepatunya yang berdebu. “Aku... malu.”
Ipul tergelak, tawa renyahnya memecah keheningan halaman rumah itu. “Ternyata seorang Sanjaya Medangkala bisa malu juga, ya? Saya pikir Mang Jaya ini hanya takut pada ujian sekolah.”
Sanjaya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kehabisan kata-kata untuk menepis godaan itu. “Sudah, jangan ditambah-tambah. Pokoknya titip, ya.”
"Iya, Mang, tenang saja," jawab Ipul, kini dengan nada yang lebih serius namun tetap menenangkan.
"Beneran, ya?" desak Sanjaya, memastikan kembali ikatan kepercayaan yang ia bangun.
"Iya, Mang, tenang saja. Saya paham," ujar Ipul mantap.
"Jangan sampai hilang," pungkas Sanjaya dengan tatapan yang seolah menitipkan sepotong nyawa di dalam bungkusan kecil itu.
Ipul mengangguk pasti, menyimpan bungkusan itu ke saku bajunya dengan gerakan yang begitu terjaga, seakan ia kini memegang amanah yang jauh lebih berharga daripada sekadar anyaman benang.
Sanjaya menatap bungkusan yang kini telah berpindah tangan ke Ipul. Kemudian sebuah perasaan aneh menyusup ke dalam batinnya. Baru beberapa detik berpindah tangan, ia merasa seolah baru saja melepaskan sebagian dari dirinya sendiri. Ia tidak lagi memiliki kendali atas ke mana gelang itu akan pergi. Segalanya kini bergantung pada seorang kawannya yang mungkin tidak sepenuhnya memahami betapa berharganya benda kecil itu bagi Sanjaya.
Ia pulang dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa lega karena gelang itu akhirnya menemukan jalannya, namun ada pula kecemasan karena jalan itu kini sepenuhnya berada di luar jangkauannya.
Malam harinya, Sanjaya kembali kesulitan memejamkan mata. Ia membayangkan berbagai kemungkinannya. Bagaimana jika Ipul lupa? Bagaimana jika gelang itu hilang? Bagaimana jika Riana menolak menerimanya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya seperti dedaunan kering yang dipermainkan angin. Semakin ingin dihentikan, semakin liar putarannya.
Sanjaya akhirnya menyadari bahwa menunggu ternyata jauh lebih melelahkan daripada bekerja. Jika membuat gelang membutuhkan kesabaran tangan, maka menunggu kabar membutuhkan ketabahan hati yang jauh lebih dalam.
Keesokan harinya, sepulang sekolah, Sanjaya tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Tanpa berpikir panjang, ia kembali melangkah menuju rumah Ipul. Begitu melihat Sanjaya datang, Ipul sudah menyambutnya dengan senyum maklum, seolah tahu persis apa alasan di balik kedatangannya itu.
"Mang Jaya..." sapa Ipul dengan nada yang terdengar begitu ringan, kontras dengan gemuruh yang tiba-tiba meledak di dada Sanjaya.
"Bagaimana, Pul?" tanya Sanjaya tanpa basa-basi, suaranya sedikit bergetar karena diburu rasa ingin tahu.
"Sudah saya bawa ke sekolah tadi," jawab Ipul tenang.
"Lalu?" Sanjaya refleks mendekat, sepasang matanya menuntut jawaban yang lebih dari sekadar laporan.
Ipul terdiam sejenak. Sangat singkat, namun bagi Sanjaya, jeda itu terasa seperti detik-detik yang merenggut napasnya. Detak jantung pemuda itu seolah tertahan di tenggorokan, mencekik dengan rasa waswas.
"Pas tadi mau kasih..." Ipul menjeda kalimatnya, “...guru keburu masuk ke kelas.”
Sanjaya mengernyit, dahi yang licin kini berkerut dalam. “Terus?”
"Ya sudah," Ipul mengangkat bahu dengan santai, seolah hal itu adalah perkara sepele. “Saya taruh saja di meja Riana.”
Sanjaya spontan membelalakkan mata, seolah dunianya baru saja terbalik. “Di atas meja?”
“Iya, Mang.”
"Lho... kenapa begitu?" Suara Sanjaya meninggi, sebuah perpaduan antara kaget dan rasa tak percaya.
"Soalnya Riana keburu dipanggil guru ke kantor. Saya juga takut telat masuk kelas," jelas Ipul membela diri, sedikit canggung melihat reaksi lawan bicaranya.
Sanjaya menghela napas panjang, sebuah embusan yang terasa membawa serta seluruh sisa harapannya. Ada kekecewaan yang kental merayap di dadanya, sulit untuk ia sembunyikan. “Lalu... kamu sempat melihat dia mengambilnya?”
Ipul menggeleng pelan. “Belum sempat. Saya langsung lari ke kelas supaya tidak kena hukum.”
Sanjaya memegang keningnya sendiri, membiarkan jemarinya memijat pelipis yang mulai berdenyut. “Waduh, Pul...”
"Kenapa, Mang? Bukankah itu yang Mang Jaya mau? Gelangnya sampai ke mejanya?" tanya Ipul dengan nada polos yang justru membuat dada Sanjaya terasa sesak.
Sanjaya menatap cakrawala di hadapannya, mencoba meredam kecemasan yang kini berkecamuk. Ia tidak tahu apakah gelang itu sudah ditemukan, atau mungkin justru tersapu tangan orang lain yang tak sengaja menyenggol meja. Harapan yang semalam ia rajut dengan ketulusan, kini seolah terombang-ambing di atas meja kayu yang dingin di ruang kelas yang riuh.
"Kalau begitu, kan belum jelas diterima atau tidak." Sanjaya mulai membayangkan berbagai skenario buruk. Bagaimana jika teman lain yang mengambilnya? Bagaimana jika gelang itu jatuh dari meja dan tersapu? Bagaimana jika gelang itu dibuang karena dianggap barang tak bertuan? Semakin dipikirkan, semakin gelisah hatinya.
Ipul mencoba menjelaskan, “Tadi waktu istirahat, saya sempat balik lagi ke kelasnya.”
"Terus?" Sanjaya lekas menyambar, matanya menyorot tajam, mencari secercah kepastian dalam jawaban Ipul.
"Barangnya sudah tidak ada di meja," jawab Ipul dengan nada datar yang justru membuat jantung Sanjaya berpacu semakin kencang.
Sanjaya menatap penuh harap, seolah menggantungkan seluruh napasnya pada kalimat berikutnya. “Riananya? Apa dia ada di sana?”
"Sudah duduk di bangkunya," jawab Ipul singkat.
Hati Sanjaya sedikit menghangat, seolah ada percik api yang tiba-tiba menyala di tengah kegelapan rasa cemas. “Terus, kamu sempat tanya dia?”
Ipul menggeleng pelan, ekspresinya menunjukkan penyesalan yang tertahan. “Bel masuk keburu bunyi. Saya tidak sempat bicara apa-apa.”
Sanjaya kembali mengembuskan napas panjang. Rasanya seperti melihat perahu kecil yang ia kayuh sekuat tenaga hampir mencapai seberang sungai, namun kabut tiba-tiba turun pekat, menelan seluruh pandangan. Tujuan itu terasa begitu dekat, sedekat hembusan napas, namun tetap tak bisa dipastikan wujudnya.
Ia mulai mondar-mandir kecil di halaman rumah Ipul, tak mampu lagi menyembunyikan kegugupan yang merayap di sekujur tubuhnya. "Jadi sekarang bagaimana?" tanyanya, suaranya sedikit parau karena beban penantian.
Ipul terkekeh melihat tingkah kakak kelasnya yang gelisah bak setrikaan panas. “Mang Jaya...”
"Apa?" sahutnya cepat.
“Kamu tidak sabaran sekali.”
Sanjaya tersenyum kecut, sebuah senyum yang getir oleh ketakutan akan kemungkinan terburuk. “Bagaimana bisa sabar? Itu... dua minggu aku membuatnya. Setiap lilitan benang itu rasanya seperti mencicil jantungku sendiri.”
Ipul tertawa renyah, menepuk bahu Sanjaya untuk menenangkannya. “Iya, iya. Besok saya tanyakan langsung. Saya akan pastikan apakah gelang itu sudah sampai ke pemiliknya atau hanya berakhir di tempat sampah.”
"Benar?" Sanjaya menatapnya lekat-lekat, menuntut janji.
“Iya. Kalau ketemu, pasti saya tanya. Lalu saya kabari Mamang secepatnya.”
Sanjaya akhirnya mengangguk pelan, meski gumpalan gelisah itu belum sepenuhnya sirna. Ia menatap jalanan kampung yang lengang, membiarkan pikirannya berlayar ke ruang kelas itu, mencoba menebak apa yang mungkin sedang dirasakan Riana saat menemukan gelang itu di mejanya.
“Baiklah, Pul. Aku tunggu kabarnya.”
Kalimat sederhana itu menjadi satu-satunya pegangan yang ia bawa pulang sore itu. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, langkah kakinya terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Senja kembali turun di atas pematang sawah, namun keindahan warnanya tak lagi sanggup mengalihkan pikiran Sanjaya. Di dalam kepalanya hanya ada satu bayangan. Sebuah gelang benang yang mungkin telah berpindah ke pergelangan tangan Riana, atau mungkin masih tergeletak di suatu sudut kelas, menanti untuk dipungut.
Sanjaya tidak tahu jawaban mana yang benar. Namun sejak menitipkan gelang itu kepada Ipul, ia sadar bahwa ia telah menitipkan pula sebagian dari keberaniannya kepada takdir. Dan sejak hari itu, ia mulai belajar bahwa penantian adalah bentuk lain dari cinta. Ia tidak bersuara, tidak bergerak, bahkan seringkali tidak terlihat oleh siapa pun. Lalu diam-diam, penantian itu mengikis kesabaran, menguji harapan, dan mengajarkan bahwa tidak semua ketulusan akan memperoleh jawaban secepat yang ia inginkan. (Bersambung)