Dalam Mimpi

Tidur seharusnya menjadi dermaga bagi jiwa yang lelah, tempat di mana logika beristirahat dan...

Dalam Mimpi

08 Jul 2026
392 x Dilihat
Share :

Dalam Mimpi

Tidur seharusnya menjadi dermaga bagi jiwa yang lelah, tempat di mana logika beristirahat dan kenyataan memudar. Namun terkadang ia justru menjadi jembatan rapuh yang menghubungkan masa kini dengan masa yang telah lama pergi. Kita menganggap diri kita sebagai penentu arah, padahal dalam hening malam, pikiran kita hanyalah seorang pelaut yang terjebak di tengah samudera memori, terombang-ambing oleh arus yang tidak pernah kita rencanakan.

Pada suatu malam yang nyaris habis ditelan sunyi, Sanjaya tersentak bangun. Napasnya memburu pelan, sementara dadanya berdenyut ritmis, seolah ada seseorang yang baru saja mengetuk pintu ingatannya dari tempat yang bahkan waktu tak lagi mampu menjangkaunya. Bukan deru hujan yang memaksanya membuka mata, bukan pula desir angin yang membelah keheningan, melainkan sebuah mimpi yang menyusup begitu intim, begitu nyata, hingga sensasinya seakan masih tertinggal di ujung jemarinya.

Sanjaya memandangi langit-langit kamar yang temaram. Gelap malam di matanya menjelma danau yang tenang, namun di kedalamannya, bayang-bayang masa lalu berpendar, seperti menolak untuk benar-benar tenggelam. 

Kenangan, pikirnya, barangkali seperti akar pohon tua. Meski batangnya telah lama ditebang oleh realitas, akarnya tetap mencengkeram jauh di dalam tanah, menunggu tetes hujan sekecil apa pun untuk kembali mengirimkan tunas-tunas rindu yang tak diundang.

Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan. Yang membuatnya heran bukanlah mimpi itu sendiri, melainkan sosok yang hadir di dalamnya.

Perempuan itu kembali. Riana yang telah lama menghilang dari garis hidupnya, sosok yang namanya perlahan memudar seiring pergantian musim, justru datang kembali saat Sanjaya tidak sedang mencarinya.

Mengapa hati masih begitu mahir menyusun detail wajah yang telah lama ia kunci rapat-rapat? Mengapa dari sekian banyak nama yang pernah singgah dan menetap, ingatan justru memilih untuk memanggil kembali Riana dari lorong waktu yang gelap?

Sanjaya memejamkan mata, mencoba menahan serpihan memori yang mulai menyeruak. Ada keanehan yang perih. Ada rasa hangat yang tiba-tiba berbenturan dengan kenyataan pahit bahwa jarak di antara mereka kini bukan lagi sekadar kilometer, melainkan bentang masa yang tak mungkin diseberangi.

Barangkali memang begitulah cara mimpi bekerja. Ia tidak mengenal jarak, tidak tunduk pada logika, dan tidak pernah meminta izin kepada kenyataan. Ketika dunia nyata menutup semua pintu dan membentengi diri dengan batasan-batasan, mimpi justru menjadi pelarian, membuka jalan-jalan rahasia yang tak pernah berani dibayangkan manusia saat terjaga. 

Di sana, di balik kelopak mata yang tertutup, Sanjaya menyadari bahwa setua apa pun waktu berjalan, beberapa hati memang diciptakan untuk tetap terikat oleh benang halus yang tak kasat mata.

Di dalam mimpi itu, semesta seperti sedang bernostalgia. Riana berdiri di sana, dengan senyum yang masih sama. Dengan lengkung bibir yang dulu sanggup membuat langkah Sanjaya kehilangan arah. Wajahnya seolah menolak untuk menua, terawat oleh kenangan yang tak pernah pudar. Matanya menatap Sanjaya cukup lama, tajam namun teduh, seolah sedang memindai sisa-sisa jawaban yang pernah tertinggal di masa lalu.

"Kenapa tidak sejak saat itu, Jaya?" tanyanya lirih.

Suara itu menyusup halus, persis embun yang jatuh membelai dedaunan. Tidak ada nada menuntut, pun tidak ada jejak amarah. Tapi mungkin karena ada kelembutannya yang ekstrem, pertanyaan itu terasa jauh lebih tajam daripada sebilah pisau. Ia adalah sebuah kunci yang membuka kembali pintu luka yang selama ini Sanjaya sangka telah terkunci.

Sanjaya terdiam. Ada ribuan kalimat yang mendesak ingin keluar. Semuanya tersangkut, saling bertabrakan di tenggorokan. Ia baru menyadari, penyesalan memang sering datang sebagai tamu yang terlambat. Saat kata-kata akhirnya menemukan jalan untuk terucap, orang yang seharusnya mendengar telah berjalan terlalu jauh ke dalam kabut masa depan.

Alih-alih menyusun pembelaan diri yang rumit, Sanjaya justru membiarkan sebuah melodi lawas mengalir dari bibirnya, suaranya parau, dipenuhi kerinduan yang jujur.

“Kita masih muda dalam mencari keputusan. Maafkan daku ingin kembali, seumpama ada jalan...”

Riana tertegun sejenak sebelum tawanya pecah. Tawanya ringan, jernih, dan seketika mencairkan kekakuan yang sejak tadi membelenggu mereka.

"Itu lagu Melly Goeslaw, dasar aneh," sahutnya sambil menggeleng pelan, tawanya menyisakan binar jenaka di sudut matanya.

Sanjaya ikut tertawa, sebuah tawa yang terasa asing sekaligus familiar. Sesaat, waktu benar-benar berhenti berputar. Tidak ada beban pekerjaan, tidak ada ego yang terluka, tidak ada jarak sejauh tahun-tahun yang memisahkan mereka. Yang ada hanyalah dua jiwa yang pernah saling mengenal, duduk di sebuah ruang imajiner yang hanya mungkin tercipta saat akal sadar sedang beristirahat.

Mimpi itu kemudian membawa mereka berpindah. Kini, mereka berpijak di sebuah pantai yang belum pernah Sanjaya jamah, sebuah tempat yang seolah disembunyikan semesta dari riuh dunia. Tampak pasirnya putih membentang, bersih seolah lembaran kertas yang belum ditulisi nasib buruk. Lautnya biru pucat, tenang, memantulkan langit yang tak berawan. Ombak datang silih berganti, merayap lembut memeluk bibir pantai, seperti seseorang yang berkali-kali mencoba menghibur hati yang telah lama belajar menyembunyikan sepi.

Mereka berjalan berdampingan dalam ritme yang selaras. Angin laut memainkan helaian rambut Riana, sementara langkah Sanjaya terasa seringan kapas, seakan semua beban yang selama ini ia pikul perlahan luruh, larut bersama aroma asin yang dibawa angin. Kadang mereka saling menatap, membiarkan keheningan mengambil alih tugas kata-kata yang kerap kali justru menyesatkan.

"Kalau saja hidup sesederhana pantai ini," ujar Riana, suaranya tersapu angin.

Sanjaya menatap cakrawala, membiarkan matanya meresap biru yang tak berujung. “Mungkin kita tidak akan terlalu sering tersesat, Riana.”

"Tapi laut juga menyimpan badai yang tak terduga," sambung Riana, memecah ketenangan dengan sebuah pengingat getir.

"Iya," jawab Sanjaya pelan, pandangannya meredup. “Dan manusia baru menyadari betapa kuatnya ombak, setelah kita benar-benar kehilangan daratan untuk tempat berpijak.”

Riana tidak menjawab. Ia hanya tersenyum dengan gerak bibir yang tipis, meninggalkan gema yang panjang sekaligus nyeri di dalam dada Sanjaya.

Sanjaya dan Riana terus berjalan di sepanjang tepian pantai. Perjalanan mereka terus berlanjut hingga senja mulai menumpahkan warna jingganya ke permukaan laut. Langit berubah rupa, tampak seperti luka yang perlahan sembuh, memerah hebat sebelum akhirnya pasrah tenggelam ke dalam kelam. 

Membawa renungan bagi Sanjaya tentang keindahan senja. Baginya itu mengajarkan satu hal yang sangat pahit tetapi jujur bahwa untuk menjadi indah, bahkan cahaya pun harus rela mengalah dan menghilang agar malam memperoleh bagiannya.

Selepas menyisir tepian pantai, langkah mereka terhenti di sebuah warung bakso sederhana yang entah bagaimana muncul di persimpangan jalan mimpi itu. Asap hangat mengepul dari mangkuk-mangkuk porselen, menari-nari di udara sebelum lenyap ditelan angin petang. 

Aroma kuah gurih perpaduan kaldu sapi dan rempah yang pekat tiba-tiba menyeret Sanjaya kembali ke masa-masa saat kebahagiaan hanyalah urusan sederhana. Baginya, semangkuk bakso dan obrolan tanpa ujung di pinggir jalan kala itu sudah lebih dari cukup untuk memaknai hidup.

Sanjaya dan Riana menikmati hidangan itu dengan ritme yang tenang. Sembari menyendok kuah yang mulai mendingin, mereka mulai membedah arah hidup yang ternyata telah memisahkan keduanya ke kutub yang berbeda. Mereka bercerita tentang kehilangan yang sempat meremukkan tulang, tentang harapan-harapan yang pernah tumbuh subur lalu gugur layaknya daun tua di musim kemarau. Mereka pun berbagi kisah tentang mimpi-mimpi yang diam-diam berubah bentuk menjadi lebih realistis, lebih keras, namun mungkin sedikit lebih bijak seiring usia yang kian menua.

Di meja kayu yang mulai terkelupas itu, tidak ada saling menyalahkan. Tidak ada pula interogasi pahit mengenai mengapa segalanya harus berakhir dengan perpisahan. Yang tersisa hanyalah penerimaan yang memang datang terlambat, tetapi justru di sanalah ia terasa paling menenangkan, seperti luka yang akhirnya berhenti berdenyut, berangsur pulih.

Menjelang azan magrib berkumandang, membelah senja dengan nada yang teduh, Riana memanggil penjual dengan isyarat tangan.

"Pak, satu lagi ya. Dibungkus. Buat Ibu," ucapnya lembut.

Kalimat sederhana itu membuat Sanjaya tertegun. Ia menatap Riana, menangkap secercah kasih sayang yang tetap bertahan murni di tengah segala perubahan zaman. Sanjaya tersenyum kecil. Bukan karena lelucon yang baru saja mereka bahas, melainkan karena rasa kagum yang tiba-tiba menyesak di dada.

Rupanya, Riana telah tumbuh menjadi pribadi yang semakin indah. Kebaikan yang ia pancarkan tak lagi membutuhkan panggung untuk diakui. Ia tumbuh merambat tenang, seperti akar pohon yang memberi kehidupan tanpa perlu meminta perhatian.

Setelah membayar, mereka berjalan menuju sebuah masjid kayu yang berdiri tak jauh dari sana. Langkah kaki mereka selaras, diiringi gema azan yang mengalun dari kejauhan. Suara itu melayang di udara, merayap masuk ke celah-celah jiwa, seolah menjadi tangan lembut yang memanggil setiap hati yang letih untuk pulang ke tempat paling sunyi dan tenang.

Sanjaya mengambil air wudu. Saat air dingin menyentuh wajahnya, ia merasa seolah sedang membilas sesuatu yang lebih berat dari sekadar debu perjalanan. Ia membilas sisa-sisa penyesalan yang selama ini mengerak di hatinya. Ia memejamkan mata, membiarkan dingin itu meresap hingga ke lubuk terdalam, mencoba memeluk kedamaian yang baru saja ia temukan.

Namun, saat ia membuka mata kembali, dunia itu retak.

Cahaya masjid, suara azan, dan jemari yang basah oleh air wudu semuanya menguap. Langit-langit kamarnya yang gelap menyambut dengan ketidakhadiran yang kejam.

Sanjaya terbangun.

Kamar itu kembali membisu. Tidak ada lagi pantai yang menyimpan rahasia, tidak ada warung bakso, dan tidak ada sosok Riana yang berjalan di sampingnya. Yang tersisa hanyalah napas Sanjaya yang memburu tak beraturan, serta detak jantung yang masih bergemuruh hebat, seolah ia baru saja berlari mengejar bayang-bayang yang memang ditakdirkan untuk tetap tinggal di masa lalu.

Ia menatap tangannya sendiri yang masih kering, lalu perlahan meremas jemarinya. Mimpi itu telah usai, tetapi gema suaranya, terutama pesan tentang "daratan yang hilang" terasa lebih nyata dari kenyataan yang kini sedang ia jalani.

Sanjaya terduduk lama di tepi ranjang. Mimpi itu terasa terlalu utuh untuk sekadar disebut bunga tidur. Ia bertanya-tanya, mengapa wajah itu kembali datang setelah sekian lama hilang dari peredaran? Apakah seseorang benar-benar bisa meninggalkan hati orang lain sepenuhnya? Ataukah ada bagian-bagian kecil yang tetap tinggal, bersembunyi di ruang paling sunyi, lalu muncul justru ketika kesadaran sedang lengah?

Barangkali, bukan perempuan itu yang datang kembali. Barangkali yang mengetuk mimpinya hanyalah proyeksi dirinya sendiri—versi dirinya yang dulu, yang belum sempat menuntaskan semua yang ingin diucapkan.

Dahulu, mereka tumbuh di kampung yang sama. Sanjaya mengenal Riana melalui pertemuan-pertemuan rutin di lorong sekolah. Sejak pertama kali melihatnya, Sanjaya telah dibuat terpana. Bukan sekadar terpukau pada kecantikan yang kerap diperbincangkan orang-orang, melainkan pada ketenangan yang dipancarkan Riana. Sejak saat itu, Sanjaya menjadi seseorang yang diam-diam menunggu kesempatan. Menanti di gerbang sekolah, mengamati bangku di depan kelas, atau sengaja melambat di jalan pulang. Mengumpulkan harap di sudut-sudut tempat yang dapat dipenuhi oleh kebetulan kecil.

Ia pernah percaya bahwa kebetulan adalah bahasa rahasia semesta bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Karena itulah, ia tidak pernah bosan berharap. Setiap pagi, siang, dan sepanjang perjalanan pulang, ia selalu menyisakan ruang di dalam hatinya untuk kemungkinan-kemungkinan pertemuan. Dan ketika pertemuan itu benar-benar terjadi, bahkan sekadar tatapan sekilas selama beberapa detik, hari itu terasa cukup untuk ia bawa pulang dan dikenang hingga malam.

Kini, semua itu telah menjadi masa lalu. Tahun-tahun berganti, kota-kota bertumbuh, dan kehidupan membawa Sanjaya menuju perjalanan yang sama sekali berbeda. Tetapi waktu ternyata tidak selalu mampu menghapus bekas wajah seseorang yang pernah melintas di dalam hati. Ada kenangan yang tidak lagi menyakitkan, tetapi juga tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berubah menjadi gema yang sesekali terdengar ketika hidup sedang terlalu sunyi.

Mungkin karena itulah, jauh di dalam dirinya, masih tersisa keyakinan rapuh bahwa ia belum pernah benar-benar dicintai oleh seorang perempuan. Perasaan itu sering datang tanpa alasan, tumbuh seperti bayangan yang mengikuti langkahnya ke mana pun ia pergi. Padahal ia tahu, bisa jadi bukan dunia yang pelit memberinya cinta, melainkan dirinya sendiri yang terlalu lama memelihara kehilangan, sehingga lupa cara membuka pintu bagi kemungkinan-kemungkinan baru.

Mimpi itu akhirnya mengajarkan sesuatu yang tidak pernah mampu diajarkan oleh kenyataan. Sanjaya jatuh pada satu kesadaran bahwa tidak semua pertemuan diciptakan untuk berakhir dalam satu ruang yang sama. Sebagian hanya datang agar manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Dirinya sadar cinta yang baru benar-benar selesai bukan saat dua orang saling meninggalkan, melainkan saat hati akhirnya sanggup mengucapkan selamat tinggal tanpa lagi membenci waktu yang telah melarikannya pergi.

Mungkin selama ini, Sanjaya tidak sedang menunggu kepulangan Riana. Barangkali yang ia nantikan adalah keberanian diri untuk berdamai dengan masa lalu. Sebab, tidak semua penantian harus berakhir pada sebuah perjumpaan. Ada penantian yang justru tuntas ketika hati tidak lagi memaksa semesta untuk mengembalikan apa yang telah dipilih waktu untuk menjadi sekadar kenangan.

Jika suatu hari takdir benar-benar mempertemukan mereka. Entah di stasiun yang sibuk, di serambi masjid yang teduh, atau di tengah pasar yang riuh, atau di mana pun yang momennya seperti kebetulan, Sanjaya berharap ia tak lagi membawa beban yang dulu menyesakkan dada. Ia ingin menyapa Riana sebagaimana seseorang menyapa musim yang pernah mengajarinya cara bertumbuh. Ia akan menyambutnya dengan senyum yang tenang, dengan hati yang lapang, tanpa lagi menuntut hidup untuk mengulang cerita yang telah lama selesai ditulis.

“Bagaimana kabarmu, Riana?”

Barangkali hanya kalimat sesederhana itu yang akan keluar dari bibirnya. Lalu, mereka mungkin akan berbincang sejenak, tentang usia yang diam-diam telah mengukir jejak di wajah, tentang mimpi yang berubah bentuk, atau tentang kampung halaman yang perlahan memudar dimakan zaman. Tak ada lagi kegugupan yang membuat kata-kata tersangkut di tenggorokan. Yang tersisa hanyalah dua manusia yang pernah saling menjadi titik temu dalam perjalanan hidup masing-masing.

Dan apabila setelah percakapan itu mereka kembali berpisah menuju arah yang berbeda, Sanjaya berharap langkahnya tak lagi terasa berat. Ia kini memahami bahwa pertemuan tidak selalu diciptakan untuk menyatukan. Kadang, ia hanya diperlukan agar dua hati yang lama membawa tanda tanya akhirnya dapat pulang dengan sebuah titik.

Sanjaya mulai percaya bahwa bentuk cinta yang paling dewasa bukanlah cinta yang memaksakan kepemilikan. Ia adalah cinta yang tetap mampu mendoakan, meskipun namanya tidak lagi disebut dalam keseharian. Demikianlah cinta yang tetap memelihara hormat meski jarak tak lagi bisa dipersingkat. Cinta yang tidak berubah menjadi dendam hanya karena takdir memilih jalan yang berbeda.

Malam itu, setelah semua kenangan selesai berbaris rapi di dalam kepalanya, Sanjaya memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang mengejar bayangan. Ia membiarkan masa lalu beristirahat di tempat yang semestinya, sebagaimana matahari yang setiap petang rela tenggelam tanpa pernah takut kehilangan fajar esok hari.

Di luar jendela, angin terus bergerak, membawa dedaunan menari pelan di bawah langit yang luas. Kehidupan tetap berjalan dengan iramanya sendiri. Dan di dalam hati Sanjaya, nama Riana tidak lagi terdengar sebagai luka yang meminta untuk disembuhkan. Nama itu telah berubah menjadi doa yang diam-diam menyala dalam menemani setiap langkahnya menuju hari-hari yang masih disediakan Tuhan untuknya.

Sebab ia akhirnya mengerti bahwa tidak ada satu pun kisah yang benar-benar sia-sia. Bahkan cinta yang gagal sekalipun, apabila dijalani dengan hati yang jujur, akan selalu meninggalkan kita dalam keadaan yang jauh lebih bijaksana daripada saat pertama kali mengenal apa itu jatuh cinta. 

Suatu hari, Sanjaya sering membayangkan, jika takdir masih menyimpan satu kesempatan untuk mempertemukannya kembali dengan Riana, hanya ada satu hal yang benar-benar ingin ia sampaikan. Bukan tentang sisa-sisa cinta yang telah lama luruh, bukan pula tentang penyesalan yang telah dikubur dalam-dalam oleh waktu. Ia hanya ingin menyampaikan sebuah kebenaran yang baru ia pahami setelah bertahun-tahun menyusuri jalan hidup yang terjal. Sebuah kebenaran yang tumbuh perlahan, sebagaimana pohon yang mengakar dalam diam, semakin kokoh justru karena berkali-kali diterpa musim yang keras.

"Aku ingin kau tahu," demikian ia akan berkata, suaranya tenang dan jernih, “kau tidak pernah bersalah.”

Kalimat itu sederhana, namun bagi Sanjaya, ia menyimpan kristalisasi perjalanan hidup yang panjang. Dahulu, ketika luka masih terasa basah, ia sempat menyalahkan nasib atas segala kehilangan yang ia alami. Ia mengira hidupnya menjadi sedemikian rupa karena kepergian perempuan itu. Namun, waktu adalah guru yang tidak pernah tergesa-gesa. Ia mengajarkan pelajaran melalui kesunyian, kegagalan, dan jarak yang memisahkan. Perlahan, Sanjaya memahami bahwa bukan Riana yang menentukan arah hidupnya, bukan pula perpisahan itu yang mengunci takdirnya. Manusialah yang sepenuhnya bertanggung jawab atas setiap langkah yang dipilih, sekalipun langkah itu lahir dari keraguan, ketakutan, atau keberanian yang terlambat datang.

"Aku tidak ingin menemuimu untuk menagih penjelasan atau melimpahkan kesalahan," lanjutnya dalam monolog yang hanya bergema di dalam benaknya. “Aku hanya ingin mengucapkan bahwa aku telah berdamai. Aku telah mengerti bahwa jalan hidup yang kupilih adalah tanggung jawabku sendiri.”

Kalimat-kalimat itu berkali-kali ia lafalkan di hadapan kesunyian, meski ia tahu mungkin tidak akan pernah sampai kepada orang yang dituju. Namun terkadang, pengampunan tidak membutuhkan pendengar. Ia hanya membutuhkan keberanian untuk lahir dari hati yang telah selesai bertengkar dengan masa lalunya. (Sal)

Perspektif

Scroll