Rahasia Ruh

Angin sore yang melintas di lorong sekolah seakan mengambil alih percakapan mereka, menerjemahkan...

Rahasia Ruh

26 Jun 2026
509 x Dilihat
Share :

Rahasia Ruh

Angin sore yang melintas di lorong sekolah seakan mengambil alih percakapan mereka, menerjemahkan segala hal yang gagal diucapkan oleh lidah manusia. Daun-daun bergetar pelan di luar jendela, sementara cahaya matahari senja jatuh memanjang di lantai semen yang retak, seperti jemari emas yang ingin menyentuh dan mendengarkan kata-kata yang bahkan belum sempat terucapkan oleh bibir mereka. 

Sanjaya sering berkata kepada dirinya sendiri, seolah sedang berbicara kepada seseorang yang berdiam di tempat yang teramat jauh. Tempat di sebuah koordinat yang sebenarnya dekat, namun terhalang oleh selat hijab masa lalu yang berkabut. Meski demikian, acap kali sekat pemisah itu tersingkap, mengizinkannya kembali bercengkerama dengan seorang anak kecil yang terjebak di kamar ruang waktu. Di sanalah ia memanggil pulang sebuah pengalaman yang telah lama tenggelam di dasar ingatan. Sesuatu yang tak pernah benar-benar mati, melainkan hanya mengendap seperti jangkar tua yang mengikat kapal masa lalunya di pelabuhan yang sama.

Pengalaman itu lahir ketika sebuah rasa untuk pertama kalinya mengetuk pintu batinnya yang paling sunyi. Sebuah rasa yang oleh orang-orang dewasa, dengan segala kepicikan logika mereka, kerap disebut sebagai cinta. Mereka menyederhanakannya menjadi kata, padahal bagi Sanjaya, itu adalah sejenis getaran purba yang tak memiliki penawar.

Saat itu usianya baru dua belas tahun, usia kekanak-kanakan ketika langit masih terasa begitu rendah untuk disentuh oleh jemari angan-angan. Sementara itu, Riana, gadis yang tiga tahun lebih muda darinya, bahkan belum mengetahui bahwa ada sebuah hati yang diam-diam sedang belajar berdenyut sekaligus patah secara bersamaan hanya karena kehadirannya. Jarak usia dan kepolosan menjadikannya fana sekaligus abadi dalam waktu yang bersamaan.

Begitulah cinta pertama datang yang ingatannya bertamu seperti embun yang turun tanpa suara di atas bilah belati, yang datang tanpa meminta izin kepada bumi untuk membasahi, tetapi kehadirannya yang mendadak sanggup membuat setiap helai rumput sadar bahwa pagi telah tiba dengan dingin yang merajam batin. 

Di sudut berdebu dalam kepalanya, Sanjaya akhirnya hanya bisa berbisik lirih, menjemput tanyanya sendiri, "Mengapa waktu baru meloloskannya dari ingatanku, justru ketika segalanya telah terlambat untuk diulang?”

Rasa itu muncul begitu saja, tanpa pernah mengajarkan terlebih dahulu apa arti cantik. Ia tumbuh layaknya sebatang pohon yang membelah sela batu, tumbuh begitu saja tanpa pernah bertanya dari mana datangnya hujan, atau mengapa bumi menjepit akarnya dengan begitu keras. Saat itu, Sanjaya tidak mengenal teori tentang kesempurnaan wajah. Ia tidak memahami ukuran simetris tulang pipi, lekuk lengkung bibir, atau proporsi mata yang sering diperdebatkan dalam dewasanya dunia yang penuh kepalsuan.

Yang ia tahu hanyalah sepotong kepastian saat pertama kali menatap wajah Riana, ada sesuatu yang bergerak perlahan di dalam dirinya. Itu seperti riak kecil di permukaan danau purba yang tenang, yang mendadak koyak karena sebutir daun jatuh tanpa sengaja, merusak keheningan yang telah dijaga berabad-abad. 

Wajah itu mungkin biasa saja bagi orang lain yang hadir secara samar di tengah riuh kerumunan. Namun, bagi seorang anak yang baru belajar mengenal getaran jiwa, wajah itu menjelma menjadi matahari kecil yang diam-diam menghangatkan seluruh musim dingin di dalam dirinya.

Dari sana ia belajar bahwa keindahan memang bukan perkara apa yang mampu ditangkap oleh kornea mata. Keindahan adalah tentang sebuah ruang gelap di dalam dada yang mendadak benderang hanya oleh satu tatapan. Sebuah kepatuhan sukarela hati untuk menyerahkan dirinya dijajah sepenuhnya oleh bayangan yang asing.

Dan ia tidak pernah mengerti mengapa rasa tersebut bisa tumbuh begitu subur di tanah batinnya yang gersang. Tidak ada pelajaran sekolah yang mampu menjelaskan bagaimana sebuah hati tiba-tiba memilih satu nama untuk disimpan lebih lama, bahkan mengalahkan nama-nama para pahlawan di dalam buku sejarah. Pun, tidak ada rumus matematika yang bisa menghitung mengapa ketukan langkah kaki seseorang terdengar jauh lebih dekat dan bergemuruh di dada, melebihi derap langkah siapa pun di dunia ini.

Semuanya berlangsung begitu alami sekaligus begitu lirih. Seolah-olah Tuhan sengaja menitipkan sebutir benih tak kasat mata di dalam dadanya, tanpa memberi tahu kapan benih itu akan membelah tanah, mematahkan rusuk, dan menuntut ruangnya sendiri.

Logika Sanjaya belum sempat menyusun alasan untuk menolak, tetapi batinnya telah lebih dahulu dipenuhi oleh cahaya yang tak memiliki bentuk, tapi sanggup membakar seluruh keraguan hingga menjadi abu. Karena mungkin memang begitulah cara cinta pertama bekerja. Ia hanyalah sebuah bentuk kepasrahan yang absolut. Sebuah misteri yang datang mendahului pengetahuan, mendahului keberanian, bahkan mendahului bahasa. Ia selalu meninggalkan manusia dalam keadaan gagap dan tak berdaya di hadapan perasaannya sendiri.

Sering kali Sanjaya bertanya kepada keheningan malam, mengapa sebuah pertemuan yang begitu singkat mampu meninggalkan jejak luka yang memanjang hingga ke ujung usianya. Ia terperangkap dalam rupa-rupa pertanyan. Mengapa wajah yang hanya beberapa detik singgah di matanya, masih mampu menetap bertahun-tahun. Menolak diusir oleh sapuan waktu dan ribuan wajah perempuan baru yang datang silih berganti memenuhi hidupnya.

Barangkali, memang ada perjumpaan yang tidak benar-benar lahir pada hari itu. Perjumpaan itu melainkan hanyalah sebuah kelanjutan dari bab kisah yang telah ditulis dengan tinta tak terlihat, jauh sebelum manusia mengenal konsep waktu, angka, dan takdir. Sebab, ada kedekatan yang tidak pernah dibangun oleh bisingnya percakapan, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih sunyi daripada kematian, dan lebih senyap daripada jarak mahaluas di antara kerlip bintang. Bagi Sanjaya, jarak di antara mereka bukanlah perkara ruang geografis, melainkan seutas jembatan gaib seperti selembar benang yang tampak rapuh namun tak pernah runtuh, meski dihantam badai sedahsyat apa pun.

Hingga akhirnya, ingatan itu menuntunnya lumpuh pada suatu pagi yang temaram. Sebuah pagi yang sebenarnya telah mati, tapi tetap hidup dan berdenyut di dalam ruang isolasi ingatannya. Sanjaya membayangkan dirinya kembali berdiri di koridor sekolah yang masih sepi, mencoba mengumpulkan serpihan keberanian yang tersisa untuk menyapa Riana. Ia ingin berbisik dengan suara yang nyaris menyerupai desau angin buritan yang menyisir sepi.

Tetapi, di koridor masa lalu itu, tidak ada suara yang sanggup keluar. Kerongkongannya terkunci oleh ketakutan masa kanak-kanak. Kata-kata itu membeku, menjadi hantu yang bergentayangan di udara kosong.

Suara yang sejati baru benar-benar lahir kemudian. Setelah mereka mengarungi rentang jarak tiga puluh tahun yang melelahkan. Jarak tiga dekade itulah yang memaksa mereka kembali berdiri berhadapan, bukan lagi sebagai anak-anak, melainkan sebagai dua manusia asing yang mencoba mengeja ulang setiap jengkal kejadian demi kejadian yang pernah mereka alami dalam diam.

"Riana," tulis Sanjaya melalui sebuah pesan digital. Jika kata itu disuarakan lewat bibir, ia tahu suaranya akan pecah dan tersendat di tenggorokan, seperti seseorang yang dipaksa menelan sebongkah batu kali. Di atas layar yang dingin, jemarinya melanjutkan, “Kau dan aku sebenarnya sudah saling mengenal jauh sebelum hari itu mempertemukan kita di dunia yang bising ini. Pertautan pertama kita di koridor itu... hanyalah sebuah pintu kuno yang dibuka kembali oleh jemari waktu.”

Lama Riana tidak menjawab. Di seberang sana, dalam jarak tiga puluh tahun yang memisahkan mereka, Sanjaya bisa merasakan keheningan yang membuat bahunya mendadak tegang, seolah sedang menunggu vonis mati dari takdir. Setelah penantian yang menyiksa, baris kalimat akhirnya merayap muncul di layar ponsel Sanjaya: “Lalu, apa arti semua ingatan itu bagimu, Sanjaya? Kita bahkan tidak pernah saling bicara waktu itu.” Pertanyaan Riana mendarat menyerupai goresan silet pada permukaan cermin yang berdebu.

Sanjaya menarik nafas dalam-dalam, mengetikkan jawaban dengan debar yang sama seperti tiga dekade lalu. “Aku masih ingat betul lorong sekolah itu, Riana. Saat aku melihatmu berjalan menuju bangku kelasmu, kau selalu menundukkan wajah dan berlalu begitu saja. Kau berjalan seolah-olah sedang menghindari tatapanku yang terlampau jujur. Mungkin bagimu aku hanyalah sesosok anak asing yang kebetulan berdiri membeku di sana. Tetapi bagiku, saat menatapmu, ada sesuatu di dalam dada ini yang merasa akhirnya pulang... setelah sebuah perjalanan purba yang sangat melelahkan.”

Riana tidak langsung membalas. Layar kembali mati. Wanita itu mungkin sedang mematung di antara bayang-bayang kamarnya, membiarkan kalimat Sanjaya mengendap dalam batinnya. Sunyi di antara mereka berdua seketika menjelma menjadi sebuah ruang tunggu yang mahaluas, menjadi sebuah ruang hampa di mana sang waktu seolah berhenti berputar hanya untuk memberi penghormatan terakhir pada sebuah rasa yang tak pernah sampai ke tujuan.

Sanjaya kembali mengetik, tergesa namun lirih, seolah ia sedang membisikkan mantra penghidup kepada jasadnya sendiri yang mulai mendingin oleh penolakan waktu.

“Aku percaya, sebelum kita dipertemukan di dunia yang dipenuhi jebakan nama dan topeng wajah ini, barangkali kita pernah saling menggenggam erat di alam ruh. Sebab, rasanya tidak mungkin sebuah tatapan yang baru pertama kali terjadi di dunia fana sanggup membangunkan seluruh taman bunga yang telah lama mati di dalam dadaku. Saat melihatmu hari itu, hatiku berbunga tanpa sebab yang dapat dijelaskan oleh ilmu alam mana pun. Jiwaku seperti pohon meranggas yang lama mengutuk musim dingin, lalu tiba-tiba mekar di seluruh rantingnya hanya karena mendengarkan langkah kakimu.”

Layar berkedip, memberi tanda Sanjaya belum selesai menumpahkan isi kepalanya. “Pesonamu belum sempat disusun oleh logikaku, Riana, bahkan belum sempat diberi nama oleh pikiranku yang terbatas. Ia lebih dahulu memilih tinggal di dalam batin, di tempat yang paling gelap dan paling sunyi, di tempat yang tak dapat dijangkau oleh ketajaman akal, tetapi selalu diimani oleh kesetiaan hati.”

Setelah jeda yang panjang dan meremukkan, sebuah balasan masuk. Kalimat Riana muncul, datar namun menggedam ego Sanjaya hingga luluh lantak. “Kau terlalu banyak berharap pada sebuah rasa yang tumbuh di kepala seorang anak kecil, Sanjaya. Dunia ini sudah bergerak terlalu jauh maju, dan kita tidak bisa tinggal di koridor sekolah itu selamanya.”

Namun Sanjaya tahu, ucapan yang dingin dan diam yang panjang dari seorang wanita bukanlah sebuah tanda ketiadaan jawaban. Diam adalah bahasa tertinggi yang sengaja dipakai oleh takdir ketika manusia belum cukup dewasa untuk mengerti betapa agungnya makna dari sebuah perjumpaan yang sia-sia. Dan di hadapan layar ponsel yang meredup itu, Sanjaya pun akhirnya memahami, dengan sebilah keikhlasan yang mengiris dada, bahwa tidak semua kisah cinta pertama harus berakhir dengan upacara saling memiliki atau sepasang pelukan yang menua bersama.

Ada rasa yang memang hanya ditakdirkan menjadi cahaya lilin kecil di masa kanak-kanak. Cahaya yang tampak redup, bergoyang, dan terancam padam seiring bertambahnya usia serta pekatnya jelaga kehidupan, tetapi nyatanya tak pernah benar-benar mampu ditiup mati oleh angin badai sedahsyat apa pun. 

Sebab cinta pertama, laksana hujan pertama yang menyentuh tanah gersang setelah kemarau yang membakar berbulan-bulan, mungkin telah lama menguap dan berlalu dari pandangan. Namun, aroma tanah basah yang ditinggalkannya, aroma magis, purba, sekaligus menyakitkan itu akan selalu menemukan celah untuk pulang dan mengetuk kembali pintu ingatan, memaksa penghuninya untuk bersedia kembali terluka dengan cara yang paling indah.

Sanjaya meletakkan ponselnya di atas meja, membiarkan layarnya meredup lalu padam sepenuhnya, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang kini telah digaris oleh waktu. Di luar jendela, malam telah mencapai puncaknya, menyisakan sepi yang pekat dan desau angin yang mengetuk kaca jendela kamarnya. 

Ia tidak lagi berniat membalas pesan Riana. Baginya, kalimat terakhir dari wanita itu bukanlah sebuah palu hakim yang memutus harapan, melainkan sebuah selimut realistis yang membungkus rapi sebuah elegi panjang. Mereka telah sama-sama kalah oleh waktu, lalu dalam kekalahan itu, ada sejenis kemenangan sunyi yang berhasil mereka pertahankan bahwa mereka tidak ingin merusak kesucian masa lalu dengan paksaan masa kini.

Ia menyandarkan punggungnya, menarik napas dalam-dalam seolah ingin menghirup kembali sisa-sisa aroma tanah basah dari hujan pertama di masa kecilnya dulu. Sanjaya kini mengerti, mencintai Riana di usia dua belas tahun tidak pernah menjadi sebuah kekeliruan, pun mengharapkannya kembali di usia empat puluh bukanlah sebuah kegilaan. Itu adalah sebuah ritual batin yang menyelamatkannya dari kekosongan dunia dewasa yang kering. Riana adalah sauh yang membuatnya tetap mengingat bagaimana rasanya menjadi manusia yang utuh, manusia yang bisa bergetar hanya karena sepasang langkah kaki, manusia yang bisa menangis tanpa perlu tahu alasannya.

Malam itu, di kamar yang terkunci oleh waktu, Sanjaya melepaskan koridor sekolah itu pergi dari kepalanya, membiarkannya larut bersama kabut fajar yang mulai mengintip di ufuk timur. Ia tidak benar-benar kehilangan Riana, sebab seseorang yang telah berakar di dalam batin tidak akan pernah bisa dicabut oleh jarak, pernikahan, ataupun kematian. Riana akan tetap ada di sana, di ruang tunggu mahaluas dalam jiwanya, sebagai seorang gadis kecil dengan rambut yang dikuncir dua, berjalan menunduk, menolak menatap mata Sanjaya yang selamanya menetap sebagai pemilik detak pertama di palung jiwanya. (Sal)

Perspektif

Scroll