Musuh yang Diwariskan, Kebencian yang Disiarkan

Benar kata teman-teman saya: lebih baik menonton Persib. Sepak bola, setidaknya, menawarkan ilusi...

Musuh yang Diwariskan, Kebencian yang Disiarkan

16 Des 2025
139 x Dilihat
Share :

Musuh yang Diwariskan, Kebencian yang Disiarkan

Benar kata teman-teman saya: lebih baik menonton Persib. Sepak bola, setidaknya, menawarkan ilusi kebersamaan. Tapi Persib, seperti klub mana pun, tak pernah sungguh-sungguh menyatukan kita semua. Ia diterima sebagai milik Oerang Soenda, dan di situlah batas mulai bekerja: identitas selalu datang bersama pagar-pagarnya sendiri.

Baru saja melintas di layar gawai seorang anak muda yang tampak limbung oleh amarah. Ia menyebut dirinya Viking, lalu memaki: “Soenda anjing.” Umpatan itu disiarkan langsung, tanpa jeda, tanpa malu. 

Katanya, ia tinggal di Cawang, Jalan MT Haryono—dekat kos saya dulu. Barangkali ia hanya pewaris dari sesuatu yang tak pernah ia pilih: permusuhan yang diwariskan, kebencian yang diteruskan dari mulut ke mulut, dari layar ke layar antara pendukung Persib dan Persija.

Permusuhan yang diwariskan itulah inti dari kehendak menebar ketakutan—dan, belakangan, kehendak untuk viral. Teori konspirasi bekerja dengan cara yang sama: menciptakan musuh abadi, musuh imajiner, agar kemarahan punya alamat. 

Padahal musuh yang paling nyata justru berdiam di dalam diri kita sendiri: sebagai pribadi, sebagai bangsa, sebagai negara, bahkan sebagai penganut agama.

Maka disebutlah nama-nama besar itu: Freemasonry, Israel, Rockefeller, Berkeley, Elon Musk, Mark Zuckerberg—para penguasa teknologi dan kapital global. Seolah mereka satu tubuh gelap yang mengatur segalanya dari kejauhan. Padahal, jika mereka datang ke sini, tak lebih dari menjalankan hukum bisnis. Dalam bisnis, setidaknya secara teori, semua setara.

Namun mengapa hubungan itu lalu berubah menjadi tuan dan budak? Karena, sering kali, kitalah yang bersedia menjadi budak. Kita menyerahkan kedaulatan berpikir kita sendiri karena malas, karena takut, karena enggan belajar, lalu menamainya nasib. Kebodohan yang dipelihara, menjelma takdir bagi pribadi, bagi bangsa, bagi negara, bagi iman.

Di tengah bencana di Sumatra, unggahan teori konspirasi beredar tanpa henti. Segalanya dicurigai, kecuali diri sendiri. Tapi aneh juga sebenarnya tak terdengar kabar terhadap tiga kegagalan tim nasional sepak bola adalah bagian dari strategi elit global untuk melemahkan Indonesia. Tidak pula muncul tudingan bahwa Erick Thohir adalah kaki tangan mereka. Padahal ia bermain di panggung global, dengan jaringan dan pengaruh yang tak kecil.

Barangkali karena di sini teori konspirasi bukanlah alat berpikir, melainkan pelarian. Ia tidak sungguh mencari kebenaran; ia hanya ingin memastikan bahwa kesalahan selalu milik orang lain. Dan selama itu berlangsung, kita akan terus sibuk memaki musuh imajiner. Sementara yang paling dekat, dan paling menentukan, tetap tak pernah kita sentuh: keberanian untuk bercermin.(sal)

 

Perspektif

Scroll