Keterbatasan, seperti halnya bayangan yang selalu datang bersama cahaya, kerap menjadi penghalang bagi optimalnya kreativitas seseorang untuk menghasilkan karya terbaiknya.
Pernyataan itu sulit dibantah. Dua belas tahun lalu, saya membeli sebuah notebook. Secuil mesin yang saya harapkan dapat menemani menulis di mana saja. Ia lebih hemat listrik daripada komputer desktop di kamar, bagi saya itu saja sudah cukup menjadi alasan berpindahnya berkegiatan.
Pada masa itu, saya hanya membutuhkan Microsoft Office: Word untuk merangkai kata, Excel untuk menghitung hal-hal sederhana. Selebihnya paling PowerPoint, Access, dan saudara-saudaranya jarang tersentuh.
Untuk desain grafis saya cukup bergantung pada Corel Draw dan Photoshop. Maka sebuah prosesor Core 2 Duo terasa memadai. Meski dunia sudah mulai berpindah ke Intel Core, mulai dari i3 sampai versi yang lebih tinggi.
Hidup mengajari saya bahwa membeli sesuatu kadang cukup untuk sekadar memenuhi peruntukannya. Namun kemudian saya tak pernah membayangkan bahwa kelak saya akan tertarik pada video editing. Sebuah dunia yang waktu itu terasa jauh dari jangkauan.
Kini lanskap kerja berubah. Manusia tak lagi hidup di zaman padat karya atau padat modal. Tapi kita memasuki era padat teknologi. Dan di dalamnya tumbuh suatu industri baru yang diam-diam menguasai hampir segala hal: industri "pengemasan".
Bukan pengemasan dalam arti menipu, melainkan cara bagaimana sebuah gagasan dipresentasikan, agar lebih mudah diindra, agar lebih cepat sampai kepada citra. Mudahnya, agar pesan yang hendak disampaikan lebih gampang dicerna oleh otak “bayi” meski mungkin dapat mendegradasi khazanah imajinasi.
Dalam dunia seperti ini, kemampuan mengedit video menjadi semacam keterampilan dasar. Core 2 Duo yang dulu setia menemani saya masih mampu memasang Adobe Premiere dan After Effects. Namun ada tapinya. Komputer saya itu ibarat seorang tua yang dipaksa berlari, ia sering terengah-engah. Editing berjalan, tapi tersendat-sendat; seperti waktu yang dipaksa menunggu.
Keinginan untuk memiliki notebook baru muncul. Keinginan yang perlahan datang, karena tentu saja ingin kemudahan. Namun pertanyaan lain ikut datang: bagaimana dengan yang lama ini? Dan satu lagi pertanyaan yang lebih nyata: uang itu belum ada.
Tapi barangkali, seperti kata seorang kawan yang percaya pada hal-hal sederhana, bahwa mimpi adalah awal dari kenyataan. Mimpi kecil tentang sebuah mesin baru, tentang ruang lebih lapang bagi kreativitas, dan tentang kemungkinan yang belum sepenuhnya disebut, kadang, itulah yang membuat seseorang tetap melangkah.