Ketika Status Media Sosial Menjadi Cara Sederhana Memberi Kabar

Membuat pembaruan status di media sosial rupanya punya arti yang lebih dalam daripada sekadar...

Ketika Status Media Sosial Menjadi Cara Sederhana Memberi Kabar

29 Agu 2026
274 x Dilihat
Share :

Ketika Status Media Sosial Menjadi Cara Sederhana Memberi Kabar

Membuat pembaruan status di media sosial rupanya punya arti yang lebih dalam daripada sekadar membagikan kabar. Kehadiran digital itu bisa memberi arti sebagai penanda bagi orang-orang terdekat bahwa kita masih ada di dunia ini. Karena yang saya rasakan ketika seseorang tiba-tiba menghilang dalam waktu lama, membuat ingin tahu keberadaannya, saya bertanya-tanya ke manakah seseorang itu. Demikian seseorang bagi lingkaran terdekatnya, bahkan mereka yang hanya mengenal dan akrab di dunia maya kerap merasa rindu dan bertanya-tanya tentang kabar dan keadaannya.

Katanya itulah salah satu paradoks kehidupan digital. Kita hidup dalam zaman ketika seseorang bisa berada ribuan kilometer jauhnya, tetapi tetap terasa dekat hanya karena sebuah foto, tulisan pendek, atau pembaruan status muncul di layar ponsel. Sebaliknya, seseorang yang secara fisik pernah begitu dekat dapat terasa jauh ketika jejak digitalnya tiba-tiba menghilang atau tidak muncul karena tumpukan pembaruan status media sosial banyak orang.

Di Indonesia, ruang digital memang telah menjadi bagian besar dari kehidupan sehari-hari. Data APJII dalam Survei Profil Internet Indonesia 2025 mencatat 229,4 juta orang Indonesia telah menggunakan internet, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen. Ini menunjukkan sebagian besar penduduk Indonesia sudah hidup dalam ruang yang memungkinkan kabar tentang seseorang sampai kepada orang lain hampir tanpa jeda.

DataReportal juga mencatat sekitar 180 juta identitas pengguna media sosial di Indonesia pada Oktober 2025. Angka itu setara dengan 62,9 persen populasi. Data ini bukan berarti setiap identitas merupakan satu orang unik atau seluruhnya pengguna aktif secara harian, tetapi cukup menggambarkan betapa luasnya ruang sosial yang kini berpindah ke layar.

Karena itu, sebuah status yang tampaknya remeh bagi orang yang mengunggahnya bisa memiliki arti yang berbeda bagi orang yang membacanya. Sebuah foto sedang minum kopi, pemandangan perjalanan, potongan cerita tentang pekerjaan, bahkan kalimat pendek tentang hujan dan sore hari, bisa menjadi semacam pesan tidak langsung bahwa seseorang masih menjalani hari, masih bekerja, masih bepergian, masih tertawa, atau setidaknya masih berada di suatu tempat dan dalam keadaan baik-baik saja.

Meski unggahan tersebut hanya berlalu begitu saja tanpa tanda suka (like) atau komentar. Tetapi tulisan dan unggahannya itu tetap dibaca dan diperhatikan. Begitu di saat-saat waktu tertentu atau untuk menyikapi sebuah femomena sosial, adanya perbedaan sudut pandang kerap muncul begitu saja. Namun ketika ikatan batin sudah terjalin erat, perbedaan itu sama sekali bukan penghalang. Sebab energi persaudaraan yang tulus jauh lebih besar daripada sekadar adu argumen.

Pada intinya bahwa tidak semua bentuk perhatian membutuhkan percakapan panjang. Ada perhatian yang cukup memilih diam karena tidak ingin mengusik. Ada rindu yang tidak menemukan keberanian untuk mengubahnya menjadi pesan yang dikirim. Ada pula persahabatan yang tidak lagi membutuhkan pembuktian melalui intensitas percakapan setiap hari.

Kita mungkin pernah memiliki seorang teman yang bertahun-tahun tidak ditemui, bahkan tidak pernah lagi diajak berbicara. Namun, ketika namanya muncul di beranda, ada perasaan lega yang sulit dijelaskan. Kita tidak perlu memberikan tanda suka pada unggahannya. Tidak perlu menulis komentar setuju atau apresiatif atau bahkan sanggahan. Tidak perlu pula harus mengirim pesan pribadi. Cukup melihat wajahnya, membaca satu-dua kalimat yang ditulisnya, lalu mengetahui bahwa ia masih menjalani kehidupannya.

Dalam pengertian itu, adanya media sosial telah menjadi semacam ruang perjumpaan yang tidak selalu membutuhkan perjumpaan secara langsung. Sebagaimana data publikasi Pew Research Center dalam survei terhadap orang dewasa di Amerika Serikat yang memiliki teman dekat, menemukan bahwa 74 persen mengatakan mereka terhubung dengan setidaknya seorang teman beberapa kali dalam seminggu melalui berbagai cara. Melalui pesan teks, media sosial, telepon, video call, ataupun pertemuan langsung. Sebanyak 39 persen mengatakan mereka berinteraksi dengan teman dekat melalui media sosial beberapa kali dalam seminggu atau lebih.

Angka itu memang berasal dari konteks Amerika Serikat dan tidak bisa begitu saja digeneralisasi untuk masyarakat Indonesia. Namun itu cukup menunjukkan satu perubahan penting bahwa teknologi komunikasi tidak lagi sekadar menjadi alat untuk menyampaikan informasi, melainkan telah menjadi salah satu cara manusia memelihara hubungan.

Dunia digital sebenarnya merajut bentuk keakraban yang unik. Mengingat masa lalu sebelum era komunikasi tanpa batas, kita dan teman-teman setelah berpisah usai berjuang bersama di bangku sekolah, kampus atau teman sekampung, lalu dipertemukan kembali lewat media sosial, rasa canggung terkadang menghambat niat kita untuk sekadar menyapa duluan.

Dahulu, perpisahan selepas sekolah atau kuliah bisa berarti hilangnya seseorang dari kehidupan sehari-hari. Alamat rumah berubah. Nomor telepon berganti. Pekerjaan membawa seseorang ke kota lain. Kesibukan membuat kabar tentang teman lama semakin samar. Pertemanan pun perlahan menjadi kenangan.

Lalu keadaan itu berubah. Kita dapat menemukan kembali teman yang pernah duduk sebangku puluhan tahun lalu hanya dengan mengetik namanya pada kolom pencarian. Kita dapat mengetahui bahwa seseorang yang dahulu sering berbicara dengan kita kini tinggal di kota lain, bekerja di bidang yang berbeda, telah memiliki keluarga, atau sedang menjalani kehidupan yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.

Tetapi teknologi ternyata tidak serta-merta menghilangkan kecanggungan manusia. Mungkin karena jaraknya terasa begitu dekat, sering muncul pertanyaan apakah pantas menyapa? Apakah ia masih mengingat kita? Apakah pesan kita akan dianggap mengganggu? Apakah kehadiran kita masih memiliki tempat dalam hidupnya?

Kemudahan teknologi untuk mengirim pesan kapan saja justru sering memunculkan keraguan baru, yakni takut dianggap mengganggu privasi. Lalu pada akhirnya, bentuk perhatian yang dipilih menjadi lebih sederhana: cukup memerhatikan secara diam-diam tanpa pernah benar-benar melupakan.

Media sosial dalam hal ini memperlihatkan wajahnya yang paling manusiawi. Ia memungkinkan seseorang untuk tetap hadir tanpa harus benar-benar berbicara. Kita dapat mengetahui kabar seseorang tanpa memasuki ruang pribadinya terlalu jauh. Kita dapat menyimpan perhatian tanpa menuntut balasan. 

Tentu hubungan semacam itu tidak selalu berarti kedekatan yang sebenarnya. Media sosial juga dapat menciptakan ilusi keakraban. Kita mungkin merasa mengetahui kehidupan seseorang hanya karena melihat foto, membaca status, dan mengikuti aktivitasnya setiap hari. Padahal apa yang tampak di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan yang sesungguhnya.

Sebuah unggahan biasanya merupakan potongan kehidupan yang telah dipilih untuk ditampilkan. Kesedihan mungkin tidak dipublikasikan. Kegagalan mungkin disembunyikan. Konflik keluarga tidak selalu dibawa ke ruang publik. Bahkan kebahagiaan pun kadang hanya menjadi cara seseorang meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Membaca unggahan-unggahan tersebut sudah cukup menenangkan hati, meyakinkan bahwa ia berada dalam keadaan sehat walafiat. Walau kita tahu apa yang tampak di layar kerap kali sudah disaring atau sekadar bentuk sugesti diri untuk tampil baik. Bagi yang memerhatikan itu sudah lebih dari cukup. Karena kehadirannya masih terlihat menjadi pengingat bahwa ia masih bernyawa, melangkah di bumi yang sama, dan setiap kemunculannya senantiasa mengalirkan getaran doa dari ikatan jiwa yang pernah dipersatukan.

Mungkin ada sesuatu yang sangat sederhana sekaligus sangat dalam di balik kebiasaan itu bahwa manusia ingin memastikan bahwa orang-orang yang pernah berarti dalam hidup kita keberadaanya masih diketahui. Namun bukan berarti karena ingin memiliki kembali kedekatan seperti dahulu. Bukan pula karena ingin mencampuri kehidupannya lagi. Kadang kita hanya ingin tahu bahwa seseorang yang pernah berbagi cerita, perjuangan, tawa, atau kesedihan dengan kita masih diberi kesempatan untuk menjalani hari.

Seperti masing-masing kita kerap muncul rindu kebersamaan menjadi pertemuan di antara kita, demikianlah ada jenis rindu yang tidak meminta pertemuan. Cukup hanya membutuhkan kepastian bahwa seseorang masih berada di sana, di lingkup dunianya. Dan media sosial memberi kepuasan itu, sebagai bentuk baru untuk merawat rindu semacam itu.

Karenanya unggahan sebuah status menjadi semacam lampu kecil di kejauhan. Tidak memanggil kita untuk datang, tidak meminta kita mengetuk pintu, tetapi cahayanya cukup untuk memberi tahu bahwa seseorang masih berada di sana. Sebab jika pun kembali dekat di sebuah situasi yang sudah sepenuhnya berbeda, dan apalagi dalam kehidupan yang semakin cepat ini membuat kemampuan untuk tetap terhubung tidak selalu juga membuat manusia merasa lebih dekat. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan Commission on Social Connection 2025 justru mengingatkan bahwa sekitar satu dari enam orang di dunia mengalami kesepian. WHO mendefinisikan koneksi sosial bukan sekadar banyaknya hubungan, tetapi juga kualitas interaksi dan dukungan yang diterima seseorang. WHO juga memperkirakan kesepian berkaitan dengan sekitar 871 ribu kematian setiap tahun. Lembaga itu menekankan bahwa hubungan sosial yang kuat berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik, sementara isolasi sosial dan kesepian dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan.

Angka-angka tersebut membuat persoalan tentang sebuah status media sosial terasa sedikit berbeda. Kita tidak lagi sekadar berbicara tentang tombol suka, komentar, atau jumlah pengikut. Di balik aktivitas digital itu ada kebutuhan manusia yang jauh lebih prudential di atas batas dan sekat teknologi, akan adanya kebutuhan untuk merasa terhubung, diingat, diperhatikan, dan dianggap masih menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

Namun, bukan berarti media sosial dapat menggantikan hubungan manusia yang sesungguhnya. Sebuah tanda hadir di layar tidak sama dengan pelukan. Sebuah komentar tidak selalu mampu menggantikan percakapan. Emoji tidak selalu dapat menyampaikan kecemasan seorang sahabat. Dan sebuah foto bahagia tidak pernah cukup untuk memastikan bahwa seseorang benar-benar baik-baik saja.

Karena itu, mungkin kita perlu belajar membaca media sosial dengan lebih bijaksana. Jangan menganggap setiap unggahan sebagai gambaran utuh kehidupan seseorang. Jangan pula menganggap seseorang yang jarang muncul sebagai orang yang tidak membutuhkan perhatian.

Sesekali, mungkin tidak ada salahnya menyapa lebih dulu. Bukan dengan pertanyaan yang terlalu jauh. Tidak perlu pula percakapan panjang. Kalimat sederhana seperti, “Apa kabar?” atau “Semoga baik-baik saja,” barangkali sudah cukup untuk membuka pintu yang selama ini tertutup oleh jarak, kesibukan, dan kecanggungan.

Sebab teknologi hanyalah alat. Yang membuatnya berarti adalah manusia sebagai penggunanya. Kita boleh menikmati kemudahan dunia digital, tetapi jangan sampai lupa bahwa koneksi yang paling penting bukanlah koneksi internet. Yang paling penting adalah koneksi antarmanusia dalam kemampuannya untuk mengingat, peduli, mendengar, dan sennatiasa hadir ketika kehadiran itu benar-benar dibutuhkan.

Mungkin kelak, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kita akan kembali menemukan seseorang melalui sebuah status sederhana. Wajahnya mungkin telah berubah. Rambutnya mungkin telah memutih. Anak-anaknya telah tumbuh besar. Kota tempat tinggalnya telah berganti. Kehidupannya mungkin telah jauh berbeda dari masa ketika kita mengenalnya. Tetapi ada sesuatu yang tetap sama sejak dulu dalam pertemuan itu membawa rasa lega ketika mengetahui bahwa ia masih ada.

Mungkin kita jangan selalu menganggap status media sosial sebagai kebisingan. Di antara begitu banyak informasi yang berlomba memenuhi layar, kadang ada satu unggahan yang diam-diam sedang menjalankan fungsi yang sangat sederhana, yakni mengabarkan kepada orang-orang yang pernah mencintai persahabatan dengannya bahwa ia masih ada dengan keberadaannya, masih hidup dengan kehidupannya.

Dan bagi seseorang yang diam-diam masih menyimpan rindu, kabar sesederhana itu mungkin sudah cukup. Tidak perlu memberi tanda suka, atau komentar, atau sampai mengetik pesan panjang. Cukup tahu bahwa ia masih ada, masih berjalan di bumi yang sama, masih melihat matahari yang sama, dan masih diberi kesempatan untuk melanjutkan hidup. Selebihnya, biarlah perhatian itu tetap menjadi doa yang tidak banyak suara.

Sebab ada hubungan yang tidak membutuhkan percakapan setiap hari untuk tetap hidup. Ada persahabatan yang tidak mati hanya karena jarak. Bahkan ada kasih yang tidak harus dimiliki untuk tetap berarti. Dari manusia-manusia tertentu yang mungkin tidak lagi hadir di ruang hidup kita, tetapi setiap kali namanya muncul di layar, hati kita diam-diam berkata, “Oh syukurlah, ia masih ada. Dengan embusan nafasnya memberi nafas hidup kita." (Sal)

Perspektif

Scroll