Mungkin benar bahwa hidup selalu menyimpan keanehan-keanehan yang tidak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan. Keanehan itu tidak selalu hadir dalam bentuk peristiwa besar, tetapi sering muncul melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana yang tampak ganjil di mata orang lain. Saya teringat pada masa-masa duduk di bangku SMA. Teman sebangku, bahkan beberapa teman yang kemudian saya kenal di masa kuliah, sering menyebut saya sebagai orang yang "aneh". Julukan itu bukan karena saya melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan karena pilihan-pilihan kecil yang saya ambil dalam menjalani keseharian berbeda dari kebanyakan orang.
Salah satu kebiasaan yang mereka anggap aneh adalah menghabiskan beberapa malam berturut-turut di kamar kos hanya untuk menonton film. Bukan sekadar film hiburan, melainkan film-film yang mengangkat berbagai sisi kehidupan yang tidak selalu mudah diterima masyarakat. Film-film tersebut, dalam pandangan saya, memperlihatkan bahwa dunia tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Ada banyak realitas yang terasa ganjil, asing, bahkan bertentangan dengan cara pandang yang selama ini saya yakini. Lalu melalui film-film semacam itulah saya belajar bahwa kehidupan memiliki begitu banyak wajah yang sering luput dari perhatian.
Namun sisi lain keseharian saya sebagai kebiasaan itu barangkali juga mengandung paradoks. Menjelang ujian semester, ketika sebagian besar mahasiswa memilih menghabiskan waktu untuk belajar, saya justru tenggelam dalam layar komputer untuk menonton satu film demi film. Jika kebiasaan itu dilakukan pada awal semester, mungkin masih dapat dimaklumi sebagai bentuk hiburan. Lalu ketika masa ujian semakin dekat, pilihan tersebut tentu tampak tidak masuk akal.
Meski demikian, bagi saya, menonton bukanlah sekadar pelarian dari kewajiban akademik. Film menjadi ruang untuk beristirahat sejenak dari kepadatan pikiran sekaligus membuka perspektif baru mengenai kehidupan. Di tengah rutinitas perkuliahan yang menuntut pencapaian akademik, saya merasa perlu menjaga keseimbangan antara belajar dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berefleksi. Saya ingin mengatur waktu sedemikian rupa agar proses belajar tetap berjalan, tetapi rasa ingin tahu terhadap berbagai kisah kehidupan yang disampaikan melalui film juga tetap terpelihara.
Belakangan saya menyadari bahwa kebutuhan akan jeda semacam ini bukanlah sesuatu yang keliru. Berbagai penelitian dalam bidang psikologi pendidikan menunjukkan bahwa proses belajar yang efektif tidak hanya bergantung pada lamanya seseorang membaca buku, tetapi juga pada kemampuannya mengelola perhatian, emosi, dan kelelahan mental. Aktivitas rekreatif yang dilakukan secara proporsional dapat membantu memulihkan konsentrasi sehingga seseorang mampu kembali belajar dengan lebih optimal. Menonton film bukan semata hiburan, melainkan juga medium pembelajaran sosial yang memperkaya pengalaman batin seseorang.
Sayangnya dan tentu saja, kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Tidak sedikit waktu belajar saya akhirnya terpotong oleh berbagai agenda yang datang tanpa diduga. Orang-orang silih berganti datang ke kamar kos. Obrolan yang awalnya hanya berlangsung beberapa menit sering berubah menjadi percakapan panjang hingga larut malam. Rencana yang telah saya susun perlahan bergeser. Waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar atau menulis habis oleh berbagai aktivitas yang tidak pernah masuk dalam daftar pekerjaan hari itu.
Saya sebenarnya berusaha menjaga agar agenda pribadi tidak terlalu jauh melenceng dari rencana awal. Saya ingin memiliki disiplin untuk merealisasikan target-target yang telah saya buat. Namun, pada saat yang sama, saya juga sering diliputi perasaan tidak enak jika harus menolak ajakan atau kehadiran teman. Ada kekhawatiran dianggap tidak peduli terhadap pertemanan atau dicap sebagai pribadi yang terlalu mementingkan diri sendiri.
Perasaan itu semakin menguat ketika beberapa teman, seperti Neti dan Pipik, pernah menyebut saya sebagai orang yang egois. Mungkin mereka mengatakannya sebagai gurauan, mungkin pula sebagai bentuk penilaian yang sungguh-sungguh. Apa pun maksudnya, ucapan semacam itu sempat membuat saya berpikir ulang mengenai cara saya menjalani kehidupan sehari-hari.
Memang, penilaian orang lain tidak selalu mencerminkan siapa diri kita sebenarnya. Sebuah stigma dapat saja benar, tetapi dapat pula lahir dari kesalahpahaman atau keterbatasan seseorang dalam memahami orang lain. Menilai diri sendiri pun bukan perkara mudah. Sering kali kita terlalu keras terhadap diri sendiri atau, sebaliknya, terlalu mudah memaafkan kekurangan yang sebenarnya perlu diperbaiki.
Dalam banyak tradisi filsafat maupun psikologi modern, refleksi diri dipandang sebagai salah satu keterampilan penting dalam membangun kedewasaan. Socrates, misalnya, pernah mengingatkan bahwa kehidupan yang tidak pernah direfleksikan bukanlah kehidupan yang layak dijalani. Sementara itu, psikolog Daniel Goleman menempatkan kesadaran diri sebagai fondasi utama kecerdasan emosional. Tanpa kemampuan mengenali diri sendiri, seseorang akan lebih mudah dikuasai oleh penilaian orang lain maupun oleh emosinya sendiri.
Karena itulah saya semakin percaya bahwa musuh terbesar manusia barangkali bukanlah orang lain, melainkan dirinya sendiri. Rasa malas, keraguan, ketakutan akan penilaian sosial, hingga kecenderungan menunda pekerjaan merupakan tantangan yang jauh lebih sulit ditaklukkan dibandingkan berbagai hambatan dari luar. (Sal)