Berbau Logika Mistika dalam Logikanya Meiji Juwita

Sebenarnya saya ingin menghindari perdebatan setiap kali ada sesuatu, atau seseorang, yang...

Berbau Logika Mistika dalam Logikanya Meiji Juwita

17 Des 2025
370 x Dilihat
Share :

Berbau Logika Mistika dalam Logikanya Meiji Juwita

Sebenarnya saya ingin menghindari perdebatan setiap kali ada sesuatu, atau seseorang, yang pendapatnya tidak saya setujui. Namun, jika pendapat itu berpotensi menimbulkan bahaya bagi kebaikan bersama—bahkan ketika niat si penyampainya juga mengharap kebaikan, maka saya merasa perlu menyanggahnya.

Jika ingin tahu konteksnya, tengoklah akun Instagram bernama Meiji Juwita, yang menulis dirinya sebagai Spiritual Awakening dan Kundalini Awakening. Ia berkomentar tentang banjir Sumatera dan keberatannya terhadap penetapan status Bencana Nasional.

Ia menulis: “Kenapa tsunami dulu bisa jadi bencana nasional, tapi banjir kali ini tidak? Jawabannya bukan teknis semata. Ini terkait kedaulatan Indonesia. Status bencana nasional bukan sekadar istilah: itu pintu masuk bagi kekuatan global untuk masuk, mengambil alih sistem, dan mengatur arah bangsa kembali seperti masa lalu.”

Pada dasarnya wajar saja pendapat seperti itu. Ini tipikal pola pikir konspiratif yang kerap mencampurkan logika dengan magis ketakutan. Pola yang mirip ketika agama dan politik dikawinkan sehingga melahirkan semacam teologi kebencian: memunculkan ancaman, menciptakan lawan imajiner, dan memakai istilah “liyan” yang kali ini disebut sebagai elit global.

Pandangannya serupa dengan Ahmad Dhani, yang percaya dunia telah dikuasai kekuatan global: ada Godfather, ada Bung Besar (meminjam term George Orwell), ada tangan yang mengatur siapa presiden tiap negara bahkan sebelum rakyat masuk bilik suara. Demokrasi, katanya, hanyalah seremoni.

Sebagian orang menyebut Godfather itu sebagai Freemasonry, Persaudaraan Abadi yang dianggap sebagai mastermind dunia, Sang Lucifer, antagonis utama yang mirip Dr. Sienna Brooks dalam novel Inferno karya Dan Brown, tokoh yang tampak hendak membantu, padahal menjerumuskan.

Padahal, “asing” yang ditakutkan itu, apakah benar elit global yang katanya hendak mengambil alih Indonesia itu, justru terdiri dari negara-negara sahabat Indonesia dari bermacam titik peta dan berbeda haluan politiknya. Mereka yang sudah menyatakan kesiapan membantu korban banjir Sumatera: Malaysia, Uni Emirat Arab, China, Liga Muslim Dunia, PBB, hingga Elon Musk secara pribadi.

Niat kebaikan global itu justru dicurigai sebagai pintu masuk kekuatan gelap yang akan “menentukan arah bangsa”. Dalam logika Meiji Juwita, penetapan Bencana Nasional tidak lebih dari membuka gerbang bagi elit global untuk menguasai Indonesia. Pendukungnya pun menambahkan bumbu: mereka—katanya, bisa memasang radar di titik-titik strategis Sumatera.

Argumen seperti ini tidak lahir dari data, melainkan dari ketakutan yang diciptakan. Ia bekerja seperti “agama adalah candu”—mengutip Karl Marx. Meski dalam konteks berbeda. Jika pada Marx menganggap agama sering dijadikan pelarian dari realitas, maka pada Meiji Juwita membuat narasi ketakutan dijadikan siasat logika yang dibalut teori kesadaran, chakra, aura bumi, dan industri spiritual yang kini memang marak.

Meiji Juwita sering berbicara tentang kesadaran, tentang terbukanya dimensi-dimensi batin. Saya pun mengakui, ada hal-hal darinya yang saya setujui, dan ada yang tidak. Namun kali ini, saya jelas tidak sependapat mengenai penolakannya atas status Bencana Nasional, sebagaimana telah saya tuliskan dalam komentar saya di unggahan Instagram-nya.

Banyak yang mengikuti keyakinannya tentang hadirnya elit global, tentang kebangkitan Nusantara, bahkan menghubungkannya dengan keputusan Presiden Prabowo yang dianggap menjaga martabat bangsa dengan tidak menetapkan status Bencana Nasional.

Orang mungkin percaya karena Meiji Juwita dianggap pakar kesadaran: seseorang yang konon memahami dimensi-dimensi energi, aura bumi, bahkan tahu siapa sebenarnya Annunaki. Kepercayaan seperti itu mudah tumbuh di tengah masyarakat yang tidak bisa membedakan antara sains dan pseudosains.

Perlu hati-hati jika seseorang dianggap memiliki kaweruh atau pengetahuan sakral yang tidak dapat dibantah. Di sinilah pintu perbudakan spiritual terbuka—meminjam istilah Buya Syafii Maarif. Inilah yang disebut Logika Mistika oleh Tan Malaka: memberi wibawa pada seseorang hanya karena ia dianggap memiliki “pengetahuan khusus”, padahal di ujungnya bisa menjadi bentuk hipnosis sosial demi kepentingan ekonomi maupun politik.

Saya tidak bermaksud merendahkannya. Sanggahan saya semata-mata tertuju pada argumennya mengenai ancaman elit global jika banjir Sumatera ditetapkan sebagai Bencana Nasional. Seolah-olah pihak yang hendak membantu adalah pihak jahat, sementara kitalah pemegang satu-satunya kebenaran dan wibawa.

Secara pribadi, saya tetap menghormati Meiji Juwita. Tulisan ini hanyalah sebentuk percakapan mata: upaya saling menasihati agar kita tetap berada dalam koridor kebenaran dan kebaikan. Salam.

 

Perspektif

Scroll