Kenapa menunda nikah? Ya, karena masih jomblo. Kenapa tidak mencari? Ya, karena belum dipilih. Kenapa tidak dipilih? Ya, karena terkalahkan. Kenapa terkalahkan? Karena belum jadi pemenang. Kenapa tidak jadi pemenang? Bukanlah hidup jika bukan permainan, dan bukanlah permainan kalau semuanya jadi pemenang.
Rangkaian tanya-jawab ini mungkin terdengar jenaka di telinga, namun ia menyimpan getir yang nyata. Kita sering terjebak dalam logika bahwa hidup adalah podium, di mana mereka yang bersanding di pelaminan adalah para pemenang, dan mereka yang masih melangkah sendiri adalah barisan yang kalah. Semua siap jadi pemenang, sementara tak siap menerima kekalahan.
Lalu katamu, “Kamu ini terus beralasan”..
Barangkali memang terdengar seperti alasan. Seolah-olah ada semacam logika yang diputar berulang, seperti kaset lama yang tak pernah diganti, padahal dunia di luar sana terus bergerak. Namun, di balik rangkaian kalimat sederhana itu, ada lapisan yang lebih dalam tentang bagaimana manusia modern memaknai relasi, tentang bagaimana cinta dan pernikahan tidak lagi berdiri di atas tanah yang sama seperti generasi sebelumnya.
Karena itu, mengapa seseorang memilih untuk menunda pernikahan? Jawaban paling jujur yang sering terdengar adalah karena ia masih melangkah dalam kesendirian sebagai seorang jomblo. Lantas, jika muncul pertanyaan berikutnya: mengapa ia tidak segera mencari? Faktanya, pencarian telah dilakukan, tapi ia merasa dirinya belum juga menjadi sosok yang terpilih.
Jika ditelusuri lebih jauh, mengapa ia tidak dipilih? Mungkin karena dalam kontestasi perasaan yang begitu riuh, ia merasa telah terkalahkan oleh keadaan atau oleh mereka yang dianggap lebih layak. Lalu, mengapa ia harus menerima kekalahan itu? Jawabannya karena ia belum berhasil menjadi pemenang di hati seseorang.
Lagi pula bukankah kita harus menyadari bahwa kehidupan ini tidak akan pernah menjadi hidup yang utuh jika tidak dipandang sebagai sebuah permainan besar? Dan dalam setiap permainan, sudah menjadi hukum alam bahwa tidak semua orang bisa berdiri di podium yang sama sebagai pemenang, sebab harus ada yang bersabar dalam kekalahan agar kemenangan itu sendiri memiliki arti.
Mungkin kita berkata bahwa hidup di zaman kini pilihan terasa tak terbatas, tetapi justru di situlah paradoksnya: semakin banyak pilihan, semakin sulit menentukan. Fenomena ini bukan sekadar perasaan subjektif. Data menunjukkan perubahan struktural yang masif. Dalam banyak studi sosiologi modern, termasuk yang dipublikasikan oleh lembaga seperti Badan Pusat Statistik (BPS) melalui laporan Statistik Pemuda Indonesia, usia rata-rata pernikahan di Indonesia terus mengalami kenaikan dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2023, angka pernikahan di Indonesia bahkan mencapai titik terendah dalam sepuluh tahun terakhir, menyusut hingga ratusan ribu angka dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Fenomena ini bukan sekadar soal “belum menemukan jodoh”, melainkan berkaitan erat dengan pendidikan, karier, stabilitas ekonomi, hingga perubahan nilai-nilai sosial. Di kota-kota besar, misalnya, tekanan untuk “siap secara finansial” sebelum menikah menjadi semakin kuat. Banyak orang merasa bahwa cinta saja tidak cukup. Rumah, pekerjaan tetap, bahkan gaya hidup tertentu, menjadi semacam prasyarat tak tertulis yang mencekik.
Akibatnya, relasi pun perlahan bergeser dari sekadar pertemuan dua hati, menjadi semacam kompetisi yang tak kasatmata tentang siapa yang lebih mapan, lebih stabil, makandialah yang lebih “layak”. Dengan itu, kalimat “karena belum jadi pemenang” menemukan relevansinya. Bukan karena cinta adalah perlombaan lari, tetapi karena realitas sosial sering memaksanya menjadi arena kontestasi kelas dan status.
Bahkan, di sela-sela hiruk-pikuk standar material itu, ada lapisan lain yang lebih sunyi, lebih personal. Tidak semua yang menunda menikah sedang kalah. Sebagian justru sedang belajar berdamai dengan diri sendiri. Dalam psikologi perkembangan dewasa, dikenal istilah emerging adulthood, sebuah fase di mana individu berusaha membangun identitas yang utuh sebelum masuk ke dalam komitmen jangka panjang. Sebab berpikir jika tanpa pondasi identitas yang kokoh, pernikahan sering hanya menjadi pelarian dari rasa sepi, bukan sebuah pertemuan dua pribadi yang selesai dengan dirinya sendiri.
Bahkan lagi, mungkin kita jarang membicarakan ini secara jujur. Kita malah lebih sering menertawakan status “jomblo” sebagai kekurangan, padahal bisa jadi itu adalah fase kontemplasi yang sakral. Kita lebih mudah menyebut seseorang “terkalahkan”, tanpa pernah tahu pertarungan apa yang sedang ia hadapi dalam diam. Entah itu upaya menyembuhkan trauma masa lalu, ketakutan akan kegagalan yang traumatis, atau sekadar kelelahan menghadapi ekspektasi sosial yang terlalu bising dan seringkali tidak realistis.
Dan mungkin benar, tidak semua orang siap menerima kekalahan. Tapi, barangkali masalahnya bukan pada kalah atau menang. Barangkali kita terlalu lama melihat hidup sebagai arena gladiator, bukan sebagai sebuah perjalanan yang ritmenya berbeda bagi setiap orang.
Di sisi lain, perkembangan teknologi, terutama aplikasi kencan digital juga mengubah cara manusia saling memilih. Platform seperti Tinder atau Bumble menawarkan kemungkinan pertemuan yang nyaris tak terbatas melalui fitur swipe. Namun, kemudahan ini sering kali menciptakan choice overload atau beban pilihan, yang memicu ilusi bahwa selalu ada pilihan yang "lebih baik", "lebih cantik", atau "lebih mapan" di luar sana.
Akibatnya, relasi menjadi rapuh dan transaksional. Orang datang dan pergi dengan cepat seperti mengganti saluran televisi. Keterikatan menjadi dangkal karena ketakutan akan kehilangan peluang pada pilihan lain yang belum digeser (Fear of Better Options). Dan pada akhirnya, banyak yang justru merasa semakin sendiri di tengah keramaian digital. Dalam konteks “belum dipilih” bukan lagi sekadar soal nasib atau takdir yang tertunda, tetapi juga soal bagaimana sistem sosial baru membentuk cara kita menilai dan dinilai secara superfisial.
Lalu, apakah semua ini hanya alasan? Mungkin sebagian iya. Tapi tidak seluruhnya. Ada yang benar-benar belum menemukan frekuensi yang sama. Ada yang memilih menunggu hingga badai di kepalanya reda. Ada yang sedang memperbaiki diri agar tidak melukai orang lain saat bersatu nanti. Ada pula yang diam-diam menyerah karena lelah dengan standar dunia, tetapi tak pernah berani mengakuinya.
Dan di antara semua dinamika itu, ada satu hal yang sering kita lupakan bahwa pernikahan bukan garis finish dari sebuah penderitaan, dan kesendirian bukanlah sebuah kekalahan telak dalam kehidupan. Maka ketika seseorang bertanya dengan nada menyelidik, “Kenapa menunda nikah?” barangkali jawabannya tidak sesederhana “karena belum dipilih.” Bisa jadi, ia sedang belajar memilih yang bukan sekadar memilih orang lain untuk mengisi kekosongan, tetapi belajar memilih dirinya sendiri. Belajar memahami bahwa hidup tidak selalu tentang menjadi pemenang dalam standar orang banyak, tetapi tentang menjadi cukup utuh untuk tidak merasa hancur saat sendirian.
Dan mungkin, di situlah kita perlu mengubah cara pandang secara radikal bahwa hidup bukan kompetisi yang menuntut semua orang menang secara seragam, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang meminta kita berani menerima, termasuk menerima bahwa tidak semua hal harus disegerakan sesuai kalender sosial, dan tidak semua yang tertunda adalah sebuah kegagalan.
Maka yang kita cari di ujung penantian ini bukan sekadar status "telah dipilih", melainkan kesadaran untuk saling memilih dengan sadar, dengan jiwa yang utuh, dan tanpa sedikit pun rasa tergesa. Karena di balik ketenangan mereka yang menunda, mungkin ada doa yang sedang dirapikan, dan ada diri yang sedang dipersiapkan untuk perjumpaan yang paling bermakna. (Sal)