Mengukur Diri di Hadapan Chairil

Apakah benar seorang Chairil Anwar sangat gila perempuan? Pertanyaan ini sering kali muncul ke...

Mengukur Diri di Hadapan Chairil

17 Feb 2026
334 x Dilihat
Share :

Mengukur Diri di Hadapan Chairil

Apakah benar seorang Chairil Anwar sangat gila perempuan? Pertanyaan ini sering kali muncul ke permukaan setiap kali kita membicarakan sosok si "Binatang Jalang". Namun, tak perlu mengutip sana-sini sebagai pembenaran, yang jelas sang tokoh adalah seorang manusia. Dan di titik yang paling mendasar, aku juga seorang manusia.

Pertanyaan itu sebenarnya tidak benar-benar tentang Chairil. Pertanyaan itu tentang diriku sendiri. Tentang bagaimana kita sering menilai orang lain dengan label yang memudahkan, seolah kompleksitas manusia dapat disederhanakan menjadi satu kalimat pendek yang dangkal. Chairil Anwar telah lama dijadikan legenda sebagai penyair liar, pemberontak, romantikus yang hidup cepat, dan mati muda. Tetapi di balik semua mitos yang menyelimutinya, ia tetaplah seorang manusia, yang justru karena kemanusiaannya yang penuh retakan itu, ia terasa begitu dekat dengan kita yang hidup di masa kini.

Aku tidak pernah benar-benar ingin mengetahui apakah ia "gila perempuan" atau tidak. Yang ingin aku pahami adalah mengapa manusia selalu mencari pelarian melalui cinta, melalui orang lain, melalui sesuatu yang terasa mampu mengisi kekosongan yang tidak pernah sepenuhnya bisa diisi. H.B. Jassin, Paus Sastra Indonesia, pernah mencatat bahwa bagi Chairil, perempuan dan cinta adalah bensin bagi mesin kreativitasnya yang meledak-ledak. Cinta bukan sekadar syahwat, melainkan upaya untuk tidak merasa sendirian di tengah dunia yang sedang hancur oleh perang.

Kita tahu dalam diri manusia, sejatinya bersemayam percikan cahaya Tuhan untuk menyinari mikrokosmos dalam makrokosmos. Meski benar bernama manusia, kita dapat saja terperosok ke dalam lumpur-lumpur kenistaan. Manusia dengan segala macam (potensi) kegilaannya, bagi mereka yang membaca buku paling absurd sekali pun, niscaya akan menemukan satu persepsi kebenaran. Di sini, yang terpenting adalah pertukaran gagasan yang ibarat pertukaran uang. Serupa tapi tak sama, tetapi benar-benar harus saling mengasah dan meruncing agar tidak tumpul dalam menghadapi zaman.

Aku semakin sadar bahwa kegilaan manusia sering kali bukan sekadar kelemahan, melainkan bentuk lain dari pencarian makna. Dalam banyak catatan sastra, kreativitas kerap lahir dari kegelisahan yang akut. Chairil menulis dengan intensitas yang nyaris seperti orang yang sedang berlomba dengan waktu, seolah ia tahu usianya hanya akan sampai pada angka 27 tahun. Banyak ahli sastra menyebut generasi Angkatan ’45 sebagai generasi yang hidup di tengah ketidakpastian sejarah, sebuah transisi dari penjajahan menuju kemerdekaan yang penuh darah, dan mungkin itulah yang membuat mereka menulis dengan nada yang seolah mendesak hidup agar segera dimengerti sebelum maut menjemput.

Aku yang bertumbuh kembang di bawah pengasahan dan pengasuhan lingkungan yang menjadikan realitas adalah hitam-putih, baik-buruk, seringkali membawa perasaan terhimpit. Dengan segala rencana pendek dan panjangku, aku sendiri harus mendisiplinkan diri. Aku harus mengerjakan sesuatu yang bisa aku kerjakan sekarang. Karena selebihnya, mungkin aku sudah terkalahkan oleh keadaan yang di luar kendali.

Kalimat "aku sudah terkalahkan" sering terulang dalam pikiranku seperti doa yang diucapkan setengah sadar. Ada masa ketika aku merasa hidup terlalu besar untuk dipahami, dan aku terlalu kecil untuk menghadapinya. Maka, aku belajar menyederhanakan langkah. Melakukan apa yang bisa dilakukan hari ini. Tidak lebih. Sebagaimana Chairil yang tetap menulis meski tubuhnya digerogoti penyakit, aku pun harus tetap melangkah meski dengan kaki yang gemetar.

Ya, aku hanya menjalankan rencana yang bisa aku rencanakan. Untuk segala upaya yang dapat aku upayakan demi tidak terus-menerus mengulang kesalahan yang sama. Meski tetap saja, aku tak mampu menjanjikan kemenangan-kemenangan besar yang gemilang. Meski aku tahu hasil adalah cermin dari proses. Tapi benar semua hal harus terus diperjuangkan dengan semangat berkorban dan terkorban sebagai sebuah kemestian hidup.

Kadang aku berpikir, mungkin menjadi dewasa berarti menerima bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang dapat dipastikan. Kita diajarkan sejak kecil bahwa kerja keras akan selalu membawa hasil linear. Tetapi hidup seringkali tidak berjalan sesuai rumus matematika. Ada orang yang berjuang lama namun tidak terlihat menang, ada pula yang tampak berjalan santai tetapi tiba-tiba berada di garis depan. Ketidakadilan ini sering memicu luka batin yang dalam.

Bahkan, saking banyak dan lamanya aku terus berkorban dan berjuang, ada ketakutan bahwa kemenangan akan segera beralih menjadi milik orang lain. Perempuan itu akan dipeluk orang lain. Karena kerap yang kita pandang bahwa orang-orang hanya ingin "untung ladang enteng"—menginginkan hasil tanpa mau berkeringat. 

Mereka mungkin mencapai tujuannya dengan cukup pinjam sana-sini yang sungguh merepotkan orang lain. Tapi itulah realitas, itulah kegigihan mereka yang tanpa pernah menyerah pada keadaan untuk terus meminjam dan merepotkan orang lain demi motif, tujuan, dan ambisinya sendiri. 

Melihat itu mengapa aku tidak begitu, tidak mampu begitu. Apakah sebab barangkali ada kecemburuan yang tidak heroik, yang tidak indah, yang terasa kecil dan memalukan? Tetapi justru di titik nadir itulah aku menemukan kejujuran: bahwa manusia tidak selalu mulia dalam perasaannya. Kita memiliki sisi gelap yang purba. Bagian itu adalah luka yang tidak selalu ingin aku akui di depan cermin. Ada rasa pahit jika melihat sesuatu yang sangat kita inginkan justru jatuh ke tangan orang lain yang kita anggap tidak lebih layak. 

Aku pernah merasa bahwa dunia ini sangat tidak adil. Bahwa usaha panjangku seolah tidak dihitung oleh semesta. Tetapi kemudian aku menyadari, mungkin aku hanya sedang membandingkan perjalanan yang berbeda secara serampangan. Kita tidak pernah tahu harga yang harus dibayar orang lain di balik keberhasilan yang tampak ringan di mata kita. Kebanyakan orang pun suka "sok", hanya berdasar persangkaan sendiri merasa sukses atas hasil jerih payah sendiri, padahal mungkin ada ribuan tangan lain yang membantu mereka.

Namun, mengapa pula aku menjadi sinis begini? Tiada lain karena pikiranku sendiri yang harus dibersihkan dan ditaubatkan. Kesadaran ini memang datang perlahan, seperti cahaya tipis di ujung malam yang mengusir pekat. Sinisme bukan sekadar reaksi terhadap dunia, tetapi cermin dari kelelahan batin yang akut. Dan mungkin pertobatan paling sulit bukanlah mengubah orang lain atau sistem di luar sana, melainkan membersihkan cara kita memandang kehidupan itu sendiri.

Demikian saat mengingat Chairil yang kembali hadir sebagai bayangan di belakang pikiranku. Datangnya bukan sekadar penyair yang hidup liar dan "mampus dikoyak-koyak sepi", tetapi ia adalah simbol manusia yang berani menjadi dirinya sendiri—meski penuh kontradiksi dan cela. Mungkin itulah yang membuatnya tetap hidup dalam ingatan kolektif kita hingga puluhan tahun setelah ia tiada. Bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena keberaniannya mengekspresikan ketidaksempurnaan dengan begitu jujur.

Dan aku, seperti dirinya dalam skala kecilku sendiri, hanyalah seseorang yang sedang belajar memahami diri. Belajar menerima bahwa menjadi manusia berarti selalu berada di antara cahaya dan lumpur, antara harapan yang melambung dan kehilangan yang menyesakkan, atau antara cinta yang digenggam erat dan cinta yang perlahan pergi.

Mungkin pada akhirnya, pertanyaan tentang Chairil adalah pertanyaan tentang keberanian yang hakiki: apakah aku berani melihat diriku sendiri dengan jujur hari ini, seperti memandang Chairil yang tanpa legenda, tanpa pembelaan, dan tanpa topeng-topeng sosial yang melelahkan? Sebab di hadapan kejujuran, kita semua hanyalah peziarah yang sedang mencari jalan pulang. (Sal)

Perspektif

Scroll