Budaya K-Pop kerap disebut-sebut sedang melanda dunia, tak terkecuali Indonesia. Meski saya sendiri tak bisa benar-benar mendefinisikan secara persis apa yang dimaksud dengan budaya K-Pop, pengertiannya secara umum barangkali cukup sederhana: apa yang sedang populer di Korea, dengan cepat pula menjadi populer di banyak negara lain. Ia menjalar lintas batas, lintas bahasa, lintas generasi. Terutama melalui musik Boys Band dan Girl Band-nya yang melanjutkan dan memperpanjang denyut kesuksesan serial-serial dramanya.
Salah satu contoh serial drama Korea yang begitu digemari remaja muda Indonesia, sebagai tonggak pertama saya melihatnya ada pada Boys Before Flowers. Drama ini meledak bukan semata karena kemasan visualnya, tetapi juga karena pola ceritanya yang terasa akrab. Ia mengingatkan banyak orang pada Meteor Garden, serial drama Taiwan yang lebih dulu hadir dan sama-sama digawangi oleh empat pria dengan paras menawan, sebagai figur yang dirancang untuk memikat imajinasi dan emosi penontonnya.
Meski berasal dari dua negara berbeda, kedua drama tersebut di Indonesia mendaur kesuksesan pada era yang berlainan. Meteor Garden populer sekitar tahun 2002–2003, saat saya masih duduk di bangku SMA. Pada masa itulah generasi saya dibesarkan oleh kisah-kisah melodrama Taiwan. Televisi menjadi ruang perjumpaan bersama, dan drama-drama Taiwan menjadi bahasa emosional yang kami pahami tanpa perlu banyak penjelasan. Sementara itu, remaja pada periode 2011–2012 dibesarkan oleh cerita-cerita drama Korea, yang hadir dengan tempo lebih cepat, produksi lebih rapi, dan strategi global yang lebih matang.
Sesungguhnya, pada masa remaja saya pun drama Korea sudah mulai dikenal. Winter Sonata, misalnya, sempat menjadi pembicaraan. Namun gaungnya kala itu belum sejajar, apalagi melampaui, popularitas drama Taiwan. Karena itu, meskipun hari ini drama Korea sedang berada di puncak arus utama, barangkali generasi saya masih menyimpan kerinduan tertentu: kerinduan pada serial-serial drama Taiwan terbaru, pada wajah-wajah yang pernah menjadi bagian dari masa muda kami: Vic Zhou, Alan Liu, Jerry Yan, Ken Zhu, dan sederet bintang Taiwan lainnya. Kerinduan itu bukan semata nostalgia, melainkan kerinduan pada sebuah suasana zaman.
Belakangan, saya pun mencoba menonton serial drama Korea. Menjadi semacam upaya memahami dari dalam apa yang membuatnya begitu digemari. Banyak yang mengatakan bahwa ceritanya terasa out of the box. Namun saya lupa judul serial yang saya tonton itu. Hanya memang terasa alurnya cenderung berani, ritmenya cepat, dan rangkaiannya mampu mengasimilasikan budaya Korea dengan unsur-unsur budaya Barat.
Mungkin, karena semula dibangun untuk konsumsi global, maka sangat terasa nuansa asimilasi, semisal rangkaian cerita dengan latar dua negara atau syuting di beberapa negara. Dari proses asimilasi inilah makanya lahir apa yang kemudian dikenal sebagai K-Pop: sebuah perkawinan dua dunia, tradisi lokal dan selera global, yang disajikan dalam bentuk hiburan populer.
Namun, jika ditelusuri lebih dalam, ada satu benang merah yang menghubungkan drama Taiwan, Korea, bahkan Jepang, setidaknya dari serial-serial yang pernah saya tonton. Mereka sama-sama mengangkat persoalan disparitas. Masalah kesenjangan sosial yang sering menjadi latar yang nyaris tak pernah absen: hubungan cinta antara pria dari keluarga kaya dengan perempuan miskin, atau sebaliknya. Sebuah pola yang terus diulang, tetapi selalu menemukan penontonnya.
Barangkali karena di situlah letak daya tariknya. Film dan drama, sebagai salah satu bentuk karya seni, tak pernah benar-benar netral. Ia adalah citra budaya manusianya, potret sebuah zaman, sekaligus cermin pergumulan manusia yang menjalaninya. Melalui kisah cinta yang timpang, masyarakat Asia seperti sedang berbicara tentang kenyataan sosialnya sendiri. Baik itu jarak kelas, tentang impian untuk melampaui batas, atau tentang harapan akan keadilan emosional, jika bukan keadilan struktural.
Pengalaman itu kembali saya rasakan ketika terakhir kali menonton Mars dan Silence, sebuah serial drama Taiwan yang dibintangi Vic Zhou. Di dalamnya, ada satu petikan dialog sederhana namun membekas: “Kurasa aku sudah jatuh cinta padamu,” begitu pesan singkat dari Shen Shen kepada Xue Lei. Kalimat itu tampak biasa saja, tetapi justru karena kesederhanaannya, ia membawa makna yang dalam. Kata-kata tersebut menjadi sumber semangat baru bagi kehidupan Xue Lei, di saat ia mengetahui bahwa sisa hidupnya tinggal tiga bulan lagi.
Di titik inilah melodrama menemukan kekuatannya yang paling sunyi. Ia bukan sekadar kisah cinta yang berlebihan, bukan pula tangisan yang direkayasa. Ia adalah cara manusia bertahan, cara manusia memberi makna pada waktu yang terbatas, dan cara manusia menyusun harapan meski hidup terus menggerusnya.
Drama Taiwan, Korea, atau Jepang mungkin berbeda dalam gaya dan kemasan, tetapi pada akhirnya, semuanya berbicara tentang hal yang sama: manusia, dengan segala rapuh dan rindunya, yang terus mencoba mencintai dunia meski tahu dunia tak selalu ramah padanya. (Sal)