Aku membaca untuk menunda penghakiman. Bukan karena aku tak punya pendirian, melainkan karena terlalu banyak kata telah dipakai untuk mengeras, bukan untuk memahami. Di antara kitab-kitab, pamflet, dan tudingan, aku mencoba berdiri di satu ruang antara: tidak sepenuhnya di dalam, tidak pula di luar. Aku coba menempati sebuah ruang yang sering dicurigai. Sebab di sana orang belum memilih, atau barangkali memilih terlalu pelan.
Upaya mencari titik tengah selalu dicurigai sebagai kelicikan. Padahal sering kali ia lahir dari kelelahan: kelelahan melihat kebenaran dipukulkan seperti palu. Maka aku membaca beragam tradisi pemikiran, bukan untuk menumpuk legitimasi, tetapi untuk menguji diriku sendiri akan sejauh mana cara berpikirku telah dibentuk oleh bahasa yang bukan bahasaku, oleh peta yang digambar dari arah yang tak pernah kutempuh.
Di negeri ini, toleransi kerap dipajang seperti poster lusuh: indah dari jauh, kosong dari dekat. Karena itu sebagian orang merasa perlu turun lebih dalam, ke wilayah yang lebih rawan—teologi. Mereka takut ada bara yang tertinggal di bawah lantai kebangsaan: kecil, hangat, nyaris tak terlihat, tetapi cukup untuk membakar rumah bila dibiarkan.
Maka lahirlah wacana inklusivisme. Nama-nama disebut, gagasan dirapikan. Tuhan dibayangkan lebih lapang, iman diberi jendela dengan terbuka lengang. Namun bagi sebagian lain, semua itu justru terasa seperti pengikisan pelan-pelan: iman yang menipis bukan karena diserang, tetapi karena dipeluk terlalu longgar.
Pluralisme, kata mereka, adalah undangan untuk lupa. Lupa bahwa agama tidak hanya berbeda pada bahasa, tetapi juga pada klaim. Dan klaim, seperti cinta, selalu menuntut eksklusivitas tertentu. Para penolak pluralisme mengingatkan: bahkan di tanah kelahirannya, gagasan ini masih diperdebatkan. Mengapa kita menerimanya seperti barang impor yang tak perlu diuji ulang?
Aku mendengar keberatan itu. Aku mencatatnya. Tetapi aku juga teringat pada suara lain, suara Nasr, Chittick, Schuon yang berbicara pelan tentang kedalaman, bukan penyamaan. Tentang perjumpaan, bukan peleburan. Mereka tidak mengatakan semua agama sama, hanya mengingatkan bahwa bahasa Tuhan selalu lebih luas daripada kamus manusia.
Tetapi tetap saja ada kegelisahan: bila semua bertemu di satu titik, lalu mengapa memilih satu jalan? Pertanyaan itu sah. Ia bukan sekadar polemik, melainkan kegamangan eksistensial. Sebab iman, pada akhirnya, bukan hanya soal argumen, tetapi soal keberpihakan.
Dalam ruang internal, slogan-slogan bisa menjadi penguat. Islam adalah jalan hidup, Islam adalah solusi. Kata-kata itu menemukan rumahnya. Namun ketika dibawa ke alun-alun bersama, ia berubah fungsi. Yang semula doa, bisa terdengar sebagai klaim. Di sanalah seni komunikasi diuji: kapan kata harus ditegakkan, kapan ia perlu diturunkan nadanya.
Agama-agama berbeda. Itu tak perlu dibantah. Bahkan para sufi yang paling sering dikutip untuk membela pluralisme tak pernah sibuk menyamakan doktrin. Ibn ‘Arabi berbicara tentang cinta, bukan tentang tabel perbandingan akidah. Rumi menari di wilayah pengalaman, bukan dalam risalah sistematik.
Namun keberatan tetap ada, dan ia pantas dihormati. Sebab identitas bukan pakaian yang bisa diganti sesuka hati. Maka mungkin pluralisme hanya layak diterima sebagai bahasa pergaulan, bukan sebagai teologi final. Seperti liberalisme yang memberi ruang berpikir, tetapi tak harus diwarisi seluruh etiknya.
Sejarah memberi pelajaran pahit: perbedaan yang dirawat tanpa dialog akan menua menjadi kebencian. Kata-kata yang tak dipertemukan akan mencari jalannya sendiri yang ering kali lewat kekerasan. Karena itu manusia memerlukan bahasa bersama, meski bahasa itu tak pernah sepenuhnya netral.
Nabi pernah mengajak pada kalimatun sawa’. Sebuah titik temu yang tak menghapus perbedaan, tetapi cukup untuk bekerja bersama. Syariat disebut jalan; dan setiap jalan melahirkan persimpangan. Di situlah fikih tumbuh, bersama perbedaan yang tak terelakkan.
Masalah menjadi lebih ruwet setelah nabi terakhir datang. Kebenaran mengeras dalam klaim saling meniadakan. Sejarah pun bergerak dalam ketegangan yang tak pernah benar-benar selesai disuarakan.
Di luar itu, ada soal yang lebih sunyi: bagaimana agama diterima oleh mereka yang bukan Arab. Terlalu sering Islam datang bersama tuntutan kultural. Padahal menjadi Muslim tak pernah berarti menjadi bangsa lain. Tradisi lokal bukan lawan tauhid. Di Nusantara, bahkan sebelum nama Tuhan diucapkan dalam bahasa Arab, keesaan telah dibayangkan dalam nama-nama lain.
Islam pernah bertemu Yunani dan menyelamatkan filsafatnya. Ia pernah bertemu Persia, India, Andalusia, dan tak kehilangan dirinya. Barangkali karena ia datang sebagai makna, bukan sebagai seragam.
Dakwah, jika demikian, bukan proyek penyeragaman, melainkan perjumpaan. Ia membantu manusia mengenali dirinya sendiri, bukan meniadakannya. Ketika pendekatan itu ditinggalkan, agama berubah menjadi arsip dalil, dan sejarah direduksi menjadi catatan hitam-putih.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri: apakah kegelisahan ini bisa disebut diabolisme? Diabolos, kata orang Yunani, adalah ia yang tahu Tuhan, tetapi terperosok oleh kesombongannya sendiri. Pertanyaan itu penting, bukan untuk dijawab cepat-cepat, melainkan untuk disimpan sebagai pengingat.
Sebab berpikir, seperti beriman, selalu berisiko. Ia bisa menumbuhkan kerendahan hati, atau justru melahirkan keangkuhan baru. Maka barangkali tugas manusia bukan menutup perdebatan, melainkan merawatnya sebagai ruang sunyi tempat kita belajar membedakan antara keyakinan dan kesombongan, antara iman dan ketakutan kehilangan iman. (Sal)