Target 1,75 Juta Wisman: Batam Membangun Daya Tarik dan Konektivitas

Kota Batam adalah pintu gerbang pariwisata Indonesia di kawasan Asia Tenggara, bersiap menyongsong...

Target 1,75 Juta Wisman: Batam Membangun Daya Tarik dan Konektivitas

Travel
31 Jan 2026
221 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Target 1,75 Juta Wisman: Batam Membangun Daya Tarik dan Konektivitas

Kota Batam adalah pintu gerbang pariwisata Indonesia di kawasan Asia Tenggara, bersiap menyongsong dinamika baru pada sektor pariwisata internasional. Pemerintah Kota Batam kini menargetkan 1,75 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada 2026, angka yang lebih ambisius dibanding capaian 2025 yang diperkirakan mendekati 1,7 juta kunjungan.

Angka itu bukan sekadar harapan optimis. Sebab tren kunjungan memang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Batam mencatat bahwa hingga Oktober 2025 jumlah kunjungan wisman mencapai sekitar 1,29 juta kunjungan dan menegaskan tren positif dari awal tahun.

Secara nasional, pariwisata Indonesia mengalami kebangkitan. Kementerian Pariwisata mencatat sebanyak 13,98 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia sepanjang Januari-November 2025, naik lebih dari 10% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Mayoritas kunjungan berasal dari Malaysia, Singapura, Australia, Tiongkok, dan Timor Leste.

Batam sebagai gerbang strategis di kawasan ASEAN, membuat Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menyatakan saat menyambut wisman pertama 2026 di Pelabuhan Internasional Gold Coast, bahwa pertumbuhan data kunjungan menunjukkan bahwa target kunjungan Batam bisa terpenuhi bahkan melampaui 1,7 juta orang.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, strategi utama untuk mendorong target 2026 meliputi penyelenggaraan event pariwisata sepanjang tahun serta peningkatan infrastruktur pendukung wisatawan. “Kami siapkan rangkaian kegiatan mulai dari perayaan Imlek dengan atraksi lampion, Bazaar Wonderful Ramadan, hingga Kenduri Seni Melayu,” ujar Ardiwinata kepada media, menekankan bahwa Imlek kali ini dirancang “lebih meriah dibanding tahun sebelumnya.”

Tak hanya itu, Pemkot Batam juga memperkuat sektor amenitas dan kenyamanan wisatawan, terutama melalui penataan kawasan pedestrian di area Nagoya. Penataan ini diharapkan menjadikan New Nagoya sebagai destinasi wisata berbasis walkable city yang terintegrasi dengan UMKM lokal dan industri kreatif, memperkaya pengalaman wisatawan di luar event tahunan.

Konektivitas juga menjadi pilar penting sebagai daya dukungnya. Maskapai AirAsia Malaysia baru-baru ini meluncurkan rute langsung Kuala Lumpur–Batam yang diproyeksikan memperkuat aksesibilitas dan membuka peluang lebih luas bagi wisatawan ASEAN untuk datang ke Batam. CEO AirAsia Malaysia, Kapten Fareh Mazputra, menyatakan peluncuran rute ini “memberi peluang bagi perjalanan, pariwisata, dan pertukaran budaya” antara negara-negara tetangga.

Meski pertumbuhan positif, tantangan tetap ada. Banyak destinasi di kawasan lain seperti Bali dan Yogyakarta juga agresif menarik wisatawan mancanegara. Di tingkat regional, data menunjukkan Batam menyumbang persentase besar kunjungan wisman ke Provinsi Kepulauan Riau, namun masih perlu upaya menjaga dan memperluas daya tariknya agar tetap kompetitif.

Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau

Ardiwinata menekankan, “Fasilitas lengkap, konektivitas transport yang mudah, dan promosi berkelanjutan adalah daya tarik utama.” Ia juga menyebut bahwa jika kebijakan Visa on Arrival dibuat lebih ramah, potensi kunjungan bisa meningkat drastis.

Selain event dan fasilitas, Batam juga mulai mengembangkan segmen pariwisata kesehatan (wellness tourism) yang berpotensi menarik pasar baru. Targetnya wisatawan yang mencari paket liburan sehat dan pengalaman relaksasi. Salah satu properti lokal bahkan telah meluncurkan paket wellness village lengkap dengan fasilitas santai dan aktivitas kesehatan, suatu nilai tambah di tengah persaingan pariwisata global.

Batam bukan hanya soal angka kunjungan semata. Lebih dari itu, pariwisata menjadi cermin hubungan budaya antarbangsa, terutama dengan negara-negara tetangga yang selama ini menjadi pasar utama. Wisatawan yang datang ialah duta kecil budaya. Setiap langkah mereka di Batam menyiratkan citra Indonesia di mata dunia.

Jika pariwisata dapat dirajut dengan kuat bersama ekonomi lokal dari UMKM hingga pelestarian budaya, maka bukan hanya target angka yang akan tercapai, tetapi juga kualitas perjalanan yang memberi makna bagi pengunjung sekaligus masyarakat setempat. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll