Status Gunung Tambora Naik ke Level Waspada, Aktivitas Magma dari Kedalaman Meningkat

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status aktivitas Gunung Tambora...

Status Gunung Tambora Naik ke Level Waspada, Aktivitas Magma dari Kedalaman Meningkat

Travel
10 Mar 2026
281 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Status Gunung Tambora Naik ke Level Waspada, Aktivitas Magma dari Kedalaman Meningkat

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status aktivitas Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) pada Selasa, 10 Maret 2026 pukul 10.00 WITA. Keputusan ini diambil setelah pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas kegempaan, terutama gempa vulkanik dalam yang mengindikasikan adanya tekanan fluida magmatik dari kedalaman menuju sistem magma yang lebih dangkal.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan peningkatan status tersebut merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap data visual dan instrumental yang dikumpulkan dari pos pemantauan gunung api. “Tingkat aktivitas Gunung Tambora dinaikkan dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) terhitung mulai tanggal 10 Maret 2026 pukul 10.00 WITA,” kata Lana dalam keterangan tertulisnya.

Sebagai langkah mitigasi, Badan Geologi merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung. Area dasar kaldera juga dinyatakan terlarang, termasuk mendekati kerucut parasit Doro Afi Toi dan Doro Afi Bou, serta lubang-lubang tembusan gas di kawasan kaldera. “Masyarakat juga diimbau untuk mewaspadai potensi bahaya guguran atau longsoran batuan pada tebing dan dinding kaldera yang sewaktu-waktu dapat terjadi akibat ketidakstabilan lereng,” ujar Lana.

Data pemantauan menunjukkan peningkatan signifikan aktivitas seismik dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang Januari 2026 tercatat 267 kejadian gempa vulkanik dalam. Angka ini melonjak menjadi 453 kejadian pada Februari 2026. Menurut Badan Geologi, lonjakan gempa vulkanik dalam biasanya berkaitan dengan pergerakan magma dari lapisan bumi yang lebih dalam menuju dapur magma yang lebih dangkal.

“Peningkatan jumlah gempa vulkanik dalam ini mengindikasikan adanya peningkatan tekanan fluida magmatik serta suplai magma dari kedalaman menuju sistem magma yang lebih dangkal di bawah Gunung Tambora,” jelas Lana. Pada periode 1–9 Maret 2026, aktivitas seismik masih relatif intensif. Tercatat sembilan kali gempa guguran, 88 gempa vulkanik dalam, 40 gempa tektonik lokal, dan 24 gempa tektonik jauh.

“Dominasi gempa vulkanik dalam menunjukkan bahwa proses dinamika magmatik di bawah tubuh gunung api masih berlangsung dan berpotensi memicu peningkatan aktivitas pada periode selanjutnya,” katanya. Meski demikian, secara visual belum terlihat peningkatan aktivitas di permukaan. Asap kawah tidak teramati selama periode pengamatan terakhir.

Bagi para ahli vulkanologi, perubahan kecil pada Tambora selalu dipantau dengan serius. Gunung setinggi sekitar 2.850 meter ini dikenal sebagai salah satu gunung api paling dahsyat dalam sejarah manusia. Letusan besar Letusan Gunung Tambora 1815 bahkan disebut sebagai salah satu letusan paling kuat yang pernah tercatat di bumi. Dampaknya meluas hingga ke berbagai belahan dunia dan memicu fenomena iklim yang dikenal sebagai “Year Without a Summer” pada 1816 di Eropa dan Amerika Utara.

Karena itu, setiap perubahan aktivitas sekecil apa pun biasanya menjadi perhatian serius para peneliti. Sejumlah ahli menilai kenaikan status ke Level Waspada merupakan langkah preventif yang tepat. Vulkanolog dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menilai peningkatan gempa vulkanik dalam memang sering menjadi indikator awal dinamika magma.

Namun beberapa peneliti mengingatkan bahwa peningkatan gempa tidak selalu berujung pada erupsi. Seorang peneliti kebencanaan dari Universitas Gadjah Mada, misalnya, dalam sejumlah kajian sebelumnya menyebut bahwa banyak gunung api mengalami peningkatan aktivitas seismik tanpa diikuti letusan besar. Aktivitas tersebut kadang hanya menandai penyesuaian tekanan di dalam tubuh gunung.

Karena itu, pengamatan jangka panjang tetap menjadi kunci. Bagi masyarakat di sekitar Tambora, perubahan status ini adalah peringatan dini. Pengingat bahwa gunung api hidup dengan ritmenya sendiri yang kadang tenang, kadang memberi tanda. Dalam ilmu kebencanaan modern, peringatan dini bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan memberi ruang bagi kesiapsiagaan. Menjaga jarak dari kawah, mematuhi rekomendasi ilmiah, serta memperkuat sistem pemantauan adalah bagian dari cara manusia berdamai dengan alam.

Tambora, dengan sejarah panjangnya, mengajarkan satu hal sederhana bahwa bumi selalu berbicara lewat tanda-tanda kecil. Tugas manusia adalah belajar mendengarkannya sebelum suara itu berubah menjadi gemuruh yang terlambat dimengerti. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll