Batam kembali menjadi sorotan nasional. Bukan karena festival wisata atau proyek investasi baru, melainkan karena fenomena unik atas meningkatnya wisatawan Singapura dan Malaysia yang datang hanya untuk membeli kebutuhan pokok, lalu kembali ke negara asal dalam waktu singkat. Fenomena tersebut disoroti Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, saat melakukan kunjungan kerja spesifik di Batam, Kepulauan Riau. Ia menyebut tren wisata singkat ini sebagai fenomena yang perlu dibaca secara lebih kritis, tidak hanya sebagai indikator peningkatan kunjungan wisatawan, tetapi juga sebagai refleksi struktur ekonomi lintas batas.
“Kami datang ke Batam secara serius untuk mendiskusikan adanya fenomena banyaknya turis dari Singapura dan Malaysia masuk ke Batam, ternyata mereka datang khusus untuk belanja, datang pagi pulang sore, cuma menginap satu malam,” kata Saleh dalam pernyataannya di Batam.
Batam selama ini dikenal sebagai destinasi wisata lintas batas dengan kedekatan geografis yang sangat strategis. Letaknya yang hanya sekitar satu jam perjalanan laut dari Singapura menjadikan kota ini sebagai “halaman belakang” bagi warga negara tetangga.
Data pemerintah daerah menunjukkan bahwa dominasi wisatawan Singapura dan Malaysia memang sangat kuat. Sepanjang 2025, Batam menyumbang sekitar 79,58 persen dari total kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau, dengan total lebih dari 1,6 juta kunjungan. Wisatawan asal Singapura tercatat sebagai penyumbang terbesar, diikuti Malaysia.
Peningkatan angka kunjungan tersebut ternyata menyimpan realitas yang berbeda. Rata-rata lama tinggal wisatawan di Batam hanya sekitar 1,86 hari, sebuah indikator bahwa sebagian besar kunjungan bersifat singkat. Kondisi ini memunculkan pertanyaan apakah Batam masih menjadi destinasi wisata, atau justru berubah menjadi pusat belanja kebutuhan harian lintas negara?
Salah satu faktor utama yang diduga mendorong fenomena ini adalah selisih nilai tukar mata uang serta perbedaan harga kebutuhan pokok antara Indonesia dan negara tetangga. Dengan nilai dolar Singapura yang jauh lebih kuat dibanding rupiah, daya beli wisatawan asing meningkat signifikan saat berbelanja di Batam. Secara ekonomi mikro, kondisi ini sebenarnya menguntungkan pedagang lokal karena meningkatkan transaksi ritel. Namun secara makro, dampaknya belum tentu merata.
Saleh menilai, peningkatan kunjungan yang hanya berorientasi belanja berisiko membuat manfaat ekonomi hanya dinikmati kelompok tertentu. “Ini menjadi catatan Komisi VII bagaimana kota ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat secara lebih luas dan tidak hanya berputar pada elite para pengusaha saja,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan UMKM menjadi penting agar keuntungan dari arus wisata lintas batas dapat dirasakan oleh masyarakat kecil.
Kekhawatiran serupa disampaikan anggota Komisi VII DPR RI Bane Raja Manalu. Ia menilai fenomena kunjungan dua hari satu malam bisa menjadi sinyal bahwa wisatawan tidak datang untuk menikmati pengalaman wisata, melainkan sekadar memenuhi kebutuhan konsumsi.
Jika kondisi ini berlanjut, Batam berpotensi menghadapi paradoks pariwisata dengan angka kunjungan tinggi, tetapi dampak ekonomi sektor wisata, seperti hotel, destinasi rekreasi, dan ekonomi kreatif tidak tumbuh optimal. Padahal pemerintah daerah selama ini terus mendorong pengembangan event dan destinasi wisata sebagai strategi meningkatkan daya tarik kota. Infrastruktur dan akses transportasi yang mudah menjadi modal utama Batam dalam menarik wisatawan asing.
Fenomena wisata belanja lintas negara sebenarnya bukan hal baru di kawasan perbatasan. Dalam perspektif ekonomi regional, mobilitas konsumen antarnegara sering terjadi ketika terdapat disparitas harga, pajak, atau nilai tukar. Batam, dengan status kawasan perdagangan bebas (free trade zone), memiliki posisi unik sebagai titik pertemuan dua sistem ekonomi antara Indonesia yang berbiaya relatif lebih murah dan Singapura yang memiliki daya beli tinggi.
Tantangan terbesar adalah mengubah transaksi konsumsi jangka pendek menjadi pengalaman wisata yang lebih panjang dan bernilai tambah. Dengan kebijakan tidak cukup hanya menarik wisatawan datang, tetapi juga membuat mereka tinggal lebih lama. Dilakukan melalui event budaya, wisata alam, gastronomi lokal, atau pengalaman kreatif yang tidak bisa didapatkan di negara asal mereka.
Fenomena wisatawan yang datang hanya untuk membeli kebutuhan pokok sebenarnya menyimpan refleksi yang lebih dalam tentang dinamika ekonomi kawasan. Di satu sisi, Batam mendapat manfaat dari pergerakan uang lintas batas. Di sisi lain, fenomena ini juga mencerminkan ketimpangan harga regional yang menjadikan kota ini sebagai ruang konsumsi alternatif. Pertanyaannya bukan sekadar bagaimana meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi bagaimana mengubah kualitas kunjungan itu sendiri. Apakah Batam ingin dikenal sebagai destinasi wisata yang memberi pengalaman, atau hanya sebagai pusat belanja murah bagi negara tetangga?
Di sinilah kebijakan pariwisata dan ekonomi daerah diuji apakah mampu atau tidak menggeser pola “datang pagi pulang sore” menjadi perjalanan yang lebih lama, lebih bermakna, dan lebih adil bagi masyarakat lokal. (Red)