Lisa Blackpink Syuting Film Extraction di Kota Tua Jakarta, Rekayasa Lalu Lintas Berlaku hingga 7 Februari 2026

Di balik kilau sorotan kamera internasional, kawasan Kota Tua Jakarta kembali menjadi titik temu...

Lisa Blackpink Syuting Film Extraction di Kota Tua Jakarta, Rekayasa Lalu Lintas Berlaku hingga 7 Februari 2026

Travel
01 Feb 2026
303 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Lisa Blackpink Syuting Film Extraction di Kota Tua Jakarta, Rekayasa Lalu Lintas Berlaku hingga 7 Februari 2026

Di balik kilau sorotan kamera internasional, kawasan Kota Tua Jakarta kembali menjadi titik temu antara sejarah kota dan dinamika industri kreatif global. Destinasi yang biasa disambangi wisatawan ini, saat ini menjadi lokasi pengambilan gambar film aksi internasional Extraction: Tygo, yang dibintangi bintang K-pop Lisa Blackpink bersama aktor Ma Dong-seok. 

Momentum ini tidak hanya soal glamour dan gelombang wisatawan. Ia memantik diskusi lebih dalam tentang bagaimana ruang publik dan warisan sejarah dijaga serta dimaknai dalam era globalisasi budaya. Karena beberapa ruas kecil di sekitar Kota Tua seperti Jalan Kunir, Jalan Teh, dan Jalan Cengkeh sementara ditutup untuk umum sejak akhir Januari demi kelancaran pengambilan gambar. Kanit Lalu Lintas Polsek Tamansari, AKP Teguh A., mengonfirmasi pengalihan arus tersebut sebagai bagian dari skema rekayasa lalu lintas yang akan berlangsung hingga 7 Februari 2026, khususnya antara pukul 05.00–19.00 WIB. 

“Betul, kemarin tanggal 28 Januari 2026 ada kegiatan syuting dari Korea, tepatnya di gedung Jasindo kawasan Kota Tua,” ujar Teguh. Namun museum tetap buka dan tidak terganggu. Denny Aputra, Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta, menegaskan bahwa meskipun sejumlah jalan dipakai untuk syuting, area inti kawasan, termasuk Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) tetap dibuka dan dapat dikunjungi oleh masyarakat. 

“Kawasan inti tidak ditutup. Kan kawasan Kota Tua ada dua, inti dan penunjang,” kata Denny kepada wartawan. Pemisahan fungsi ini penting. Kawasan inti dipertahankan sebagai ruang heritage, pelestarian budaya, dan edukasi publik, sementara area penunjang dapat dialihfungsikan untuk kebutuhan produksi film selama dilakukan dengan protokol yang menjaga keselamatan dan warisan arsitektur. Denny menambahkan bahwa beberapa bagian yang ditutup karena alasan keamanan melibatkan adegan yang dinilai berbahaya bagi publik dan izin telah melalui proses pengawasan dari aparat berwajib.

Rekayasa lalu lintas dan penutupan jalan selama syuting bukan tanpa konsekuensi bagi warga dan pelaku usaha di sekitar Kota Tua. Sejumlah pedagang dan pekerja pariwisata lokal mengaku lebih memilih kepastian jadwal dan informasi publik yang lebih awal sebelum penutupan dilakukan. Sementara dari perspektif industri film dan promosi budaya, keterlibatan lokasi-lokasi bersejarah seperti Kota Tua membuka peluang besar.

Menurut laporan tentang film ini, syuting Extraction: Tygo juga tersebar di beberapa kota lain di Indonesia seperti Bekasi, Depok, dan Cikini, serta telah berjalan sejak Desember 2025 hingga Maret 2026. Peristiwa dan fenomena ini pun membuka ruang diskusi bagaimana sebuah kawasan bersejarah dapat menjadi panglima narasi baru tanpa kehilangan jati dirinya. Kota Tua memiliki nilai historis tinggi sebagai bekas pusat administrasi Batavia pada masa kolonial. Keberadaannya bukan hanya menjadi latar estetika film, melainkan juga simbol perjalanan sosial-kultural Jakarta yang harus dipahami generasi sekarang dan masa depan.

Syuting film internasional seperti ini mengangkat dua wajah. Satu sisi dapat membawa daya tarik global sehingga mampu membawa sorotan dunia kepada kawasan bersejarah, dan sisi lain agar menjadi tanggung jawab kolektif untuk memastikan warisan itu tetap ada, bisa dinikmati oleh publik luas, tanpa arteri ruangnya tersumbat oleh ekses komersial.

Pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar siapa yang tampil di layar, tetapi bagaimana ruang bersejarah ini tetap relevan, terjaga, dan bermakna bagi semua. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll