Pesona Amazon van Java di Tasikmalaya, Surga Hijau di Pegunungan Selatan

Sungai Cimedang bukan sekadar aliran air yang membelah pedalaman Jawa Barat sepanjang kurang lebih...

Pesona Amazon van Java di Tasikmalaya, Surga Hijau di Pegunungan Selatan

Travel
14 Mar 2026
203 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Pesona Amazon van Java di Tasikmalaya, Surga Hijau di Pegunungan Selatan

Sungai Cimedang bukan sekadar aliran air yang membelah pedalaman Jawa Barat sepanjang kurang lebih 70 kilometer. Ia adalah urat nadi geografis yang membentang dari hulu di kawasan perbukitan Gunung Bongkok, melintasi wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, hingga menjadi batas alami menuju muaranya di Samudera Hindia, tepatnya di kawasan Cidadap, Kecamatan Karangnunggal. Dari ketinggian rata-rata 600 meter di atas permukaan laut, sungai ini berfungsi lebih dari sekadar saluran hidrologis, juga menjadi saksi bisu perjalanan sejarah geologi Pulau Jawa yang masih menyimpan misteri di balik tebing-tebingnya yang curam.

Di wilayah Tasikmalaya, sungai ini mendadak menjadi sorotan setelah media sosial menjulukinya sebagai "Amazon van Java". Julukan ini merujuk pada lanskap eksotisnya terdapat tebing-tebing tinggi yang diselimuti vegetasi rapat, air yang sesekali berwarna biru kehijauan, serta koridor alami dari deretan pohon kelapa. Namun, bagi masyarakat setempat yang telah menjaga sungai ini jauh sebelum kamera ponsel mengabadikan keindahannya, julukan tersebut hanyalah pintu masuk yang jauh lebih dalam tentang bagaimana sebuah ekosistem bertemu dengan sejarah peradaban.

Secara geologis, Cimedang adalah laboratorium alam yang megah. Merujuk pada mahakarya Reinout Willem van Bemmelen dalam The Geology of Indonesia (1970), Jawa Barat terbagi menjadi empat zona fisiografi, dan Cimedang mengalir tepat di Zona Pegunungan Selatan. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Karangnunggal, aliran hulunya didominasi batuan sedimen breksi aneka bahan dan tuf dari Formasi Jampang yang berumur Tersier awal.

Setiap kali Cimedang mengiris batuan di jalurnya, ia sedang membuka "arsip bumi" yang terbentuk melalui proses tektonik kompleks melalui pelipatan, pengangkatan, dan intrusi magma jutaan tahun silam. Keberadaan air terjun seperti Curug Dengdeng, Curug Cimanintin, hingga fenomena formasi batuan unik seperti Paraga Stone di Kecamatan Salopa, adalah catatan fisik betapa energi kinetik air telah berpadu dengan struktur batuan yang tangguh. 

Secara hidrologis, sungai dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 656 km² ini merupakan penopang kehidupan krusial bagi ribuan jiwa di Tasikmalaya dan Pangandaran. Di balik pesona kawasan aliran sungai Cimedang, viralitas membawa pedang bermata dua, antara aktivitas wisata yang meningkat pesat pascapandemi dan menciptakan tekanan ekologis yang nyata. Risiko sampah dan degradasi vegetasi kini menghantui tepian sungai. 

Rina Kurnia, seorang aktivis lingkungan lokal, memperingatkan bahwa kita harus belajar dari banyak destinasi lain yang rusak karena overkapasitas. Senada dengan itu, pengamat pariwisata Ahmad Fauzi menekankan bahwa model wisata berbasis reservasi dan pembatasan jumlah perahu, seperti yang diterapkan komunitas di Rantobatang adalah kunci agar pariwisata tidak berubah menjadi bencana ekologi.

Pengelolaan DAS ini pun menuntut sinergi lintas instansi, mulai dari BPDAS Cimanuk-Citanduy di bawah KLHK hingga Kementerian PUPR melalui Wilayah Sungai Ciwulan–Cilaki. Tantangan seperti erosi, sedimentasi, dan alih fungsi lahan di lereng pegunungan membuktikan bahwa sungai tidak bisa dikelola hanya sebagai "selokan raksasa", melainkan sebagai sistem kehidupan yang utuh.

Di bagian hilir, tepatnya di kawasan Rantobatang, Desa Mekarsari, Pangandaran, aliran sungai bersinggungan dengan sejarah manusia. Masyarakat lokal mengenalnya sebagai tempat “ngarungan jelema”, sebuah ungkapan keberanian menghadapi alam yang liar. Di sana, terdapat Situs Makam Syeh Arya Wangi dan Syeh Arya Padoman yang menjadi ruang ingatan kolektif.

Tradisi ziarah ke Rantobatang, terutama saat menyambut Tahun Baru Islam, adalah manifestasi identitas masyarakat yang menjaga akar sejarah dakwah di pesisir selatan. Ziarah di sini adalah perjalanan hening, sebuah antitesis dari riuhnya wisata arus utama. Meski terkadang memicu diskusi mengenai tata cara praktik keagamaan, ziarah tetap menjadi ruang dialog sosial yang mempertemukan tradisi lokal dengan nilai-nilai Islam Nusantara.

Sungai Cimedang mengajarkan kita tentang batas dan kesabaran waktu. Batuan yang kini ia iris telah ada jauh sebelum manusia menapakkan kaki di tanah Priangan. Kita perlu bertanya apakah kita datang sebagai penikmat yang menghormati batas, atau sebagai penjarah yang hanya menjadikan alam sebagai latar swafoto?

Sungai ini terus mengalir, membawa pesan-pesan dari masa lalu menuju samudera, meninggalkan kita dengan sebuah pilihan apakah kita akan terus belajar merawat keseimbangan, atau sekadar menjadi saksi atas kehancurannya demi keuntungan sesaat? Menyusuri Cimedang bukan sekadar aktivitas wisata, melainkan sebuah perjalanan kesadaran untuk memahami bahwa alam adalah ruang hidup bersama yang harus dijaga keberlangsungannya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll