Rupiah Melemah, Batam dan Jakarta Menjadi Magnet Belanja Wisatawan Singapura

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia pada momentum libur...

Rupiah Melemah, Batam dan Jakarta Menjadi Magnet Belanja Wisatawan Singapura

Ekonomi
02 Jun 2026
743 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Rupiah Melemah, Batam dan Jakarta Menjadi Magnet Belanja Wisatawan Singapura

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura dan ringgit Malaysia pada momentum libur panjang akhir pekan mendorong peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam dan sejumlah kota besar di Indonesia. Fenomena ini terlihat dari ramainya pusat perbelanjaan, meningkatnya transaksi ritel, serta bertambahnya pengeluaran wisatawan asing yang memanfaatkan daya beli mereka yang lebih kuat akibat selisih kurs mata uang.

Di Batam, pusat-pusat perbelanjaan dipadati wisatawan asal Singapura dan Malaysia yang berburu berbagai kebutuhan, mulai dari produk fesyen, kosmetik, makanan khas daerah, hingga perlengkapan rumah tangga. Bagi banyak wisatawan, perbedaan nilai tukar membuat harga barang dan jasa di Indonesia terasa jauh lebih murah dibandingkan di negara asal mereka.

Tren tersebut terjadi di tengah menguatnya dolar Singapura terhadap rupiah. Sejumlah data pasar menunjukkan kurs dolar Singapura berada di kisaran Rp13.800 hingga Rp14.000 per dolar Singapura dalam beberapa pekan terakhir, salah satu level tertinggi dalam setahun terakhir. Kondisi ini membuat daya beli wisatawan Singapura di Indonesia meningkat signifikan.

Pedagang oleh-oleh di Batam, Etha, mengaku merasakan langsung dampak positif dari kondisi tersebut. “Dalam beberapa hari terakhir pengunjung jauh lebih ramai. Banyak wisatawan dari Singapura dan Malaysia yang membeli oleh-oleh dalam jumlah besar. Kondisi kurs yang menguntungkan membuat mereka lebih leluasa berbelanja,” ujarnya.

Menurut Etha, berbagai program promosi turut memperkuat minat wisatawan untuk berbelanja lebih banyak. “Wisatawan biasanya membeli lebih banyak ketika ada potongan harga. Produk makanan khas Batam menjadi salah satu yang paling banyak dicari,” katanya.

Tak hanya toko oleh-oleh, gerai produk kecantikan, kesehatan, hingga fesyen juga melaporkan peningkatan jumlah pelanggan selama libur panjang. Beberapa wisatawan terlihat membawa koper tambahan dan kantong belanja berisi berbagai produk lokal yang dinilai berkualitas dengan harga lebih kompetitif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan sektor belanja masih menjadi salah satu alasan utama wisatawan asing berkunjung ke Batam. “Belanja menjadi salah satu aktivitas favorit wisatawan ketika datang ke Batam. Karena itu kami terus mendorong pelaku usaha menghadirkan produk yang menarik, pelayanan yang baik, serta berbagai program promosi agar wisatawan semakin nyaman dan betah berkunjung,” ujarnya.

Ia menyebut rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara selama berada di Batam berkisar antara Rp4 juta hingga Rp5 juta per orang. Angka tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap perputaran ekonomi daerah, terutama pada sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata.

Data Pemerintah Kota Batam menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam sepanjang Januari–Februari 2026 mencapai 257.928 orang. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, memperlihatkan bahwa Batam masih menjadi salah satu pintu masuk utama wisatawan asing ke Indonesia, terutama dari Singapura.

Fenomena serupa juga terlihat di Jakarta. Harian Singapura The Straits Times melaporkan banyak warga negara Singapura memanfaatkan kurs yang menguntungkan untuk berbelanja di Indonesia.

“Saya bisa membeli lebih banyak, makan lebih banyak, dan tetap merasa seperti menghabiskan uang lebih sedikit daripada di negara asal saya,” kata Marcus Tan, wisatawan asal Singapura yang berlibur ke Indonesia sebelum kembali ke negaranya.

Wisatawan lainnya, Noraini Rahmat, mengaku memaksimalkan jatah bagasi pesawat untuk membawa berbagai hasil belanja dari Indonesia, mulai dari produk fesyen lokal hingga kebutuhan rumah tangga.

Di satu sisi, kondisi ini menjadi kabar baik bagi pelaku usaha. Ketika konsumsi domestik menghadapi berbagai tantangan, masuknya uang dari wisatawan asing membantu menjaga aktivitas ekonomi lokal. Hotel, restoran, pusat perbelanjaan, transportasi, hingga usaha mikro mendapatkan manfaat langsung dari meningkatnya kunjungan wisatawan.

Namun para ekonom mengingatkan bahwa euforia tersebut tidak boleh menutupi persoalan yang lebih besar. Melemahnya rupiah memang dapat meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata dan belanja, tetapi dalam jangka panjang juga berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah tekanan inflasi, serta memperbesar beban sektor usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Pengamat ketenagakerjaan Timboel Siregar menilai peningkatan kunjungan wisatawan memang memberikan dampak ekonomi positif, tetapi belum tentu cukup untuk menjawab kebutuhan penciptaan lapangan kerja secara luas. “Kunjungan demi kunjungan ke luar negeri memberikan janji masuknya investasi ke Indonesia, namun investasi yang dijanjikan belum signifikan masuk untuk membuka lapangan pekerjaan lebih banyak,” ujarnya.

Pandangan berbeda datang dari pelaku usaha pariwisata yang menilai kondisi saat ini justru menjadi peluang untuk memperkuat posisi Batam sebagai destinasi wisata belanja regional. Kedekatan geografis dengan Singapura dan Malaysia membuat Batam memiliki keuntungan kompetitif yang sulit ditandingi daerah lain.

Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menarik wisatawan datang, melainkan bagaimana memastikan uang yang mereka belanjakan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat lokal. Produk UMKM, industri kreatif, serta sektor jasa perlu diperkuat agar manfaat ekonomi tidak hanya berhenti pada transaksi sesaat.

Ramainya wisatawan Singapura dan Malaysia yang berbelanja di Batam dan Jakarta menunjukkan satu kenyataan tentang nilai tukar mata uang dapat mengubah perilaku manusia. Ketika rupiah melemah, Indonesia menjadi lebih murah di mata wisatawan asing. Namun bagi bangsa ini, ukuran keberhasilan ekonomi tentu bukan terletak pada seberapa murah Indonesia bagi orang luar, melainkan pada seberapa kuat daya beli masyarakatnya sendiri. Wisatawan boleh datang membawa devisa dan menggerakkan ekonomi, tetapi tujuan akhirnya tetap sama guna menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi warga bangsa. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll