Kronologi Tragedi Ibu Tewas Ditikam Anaknya di Medan

Kasus pembunuhan seorang ibu berinisial IF (42) di Kota Medan akhirnya menemui titik terang....

Kronologi Tragedi Ibu Tewas Ditikam Anaknya di Medan

Hukum
30 Des 2025
490 x Dilihat
Share :
Sofyan Saladin
Tim Redaksi

Kronologi Tragedi Ibu Tewas Ditikam Anaknya di Medan

Kasus pembunuhan seorang ibu berinisial IF (42) di Kota Medan akhirnya menemui titik terang. Setelah melalui proses pemeriksaan panjang yang melibatkan penyidik, psikolog forensik, dan berbagai ahli, mengingat pelaku masih di bawah umur, akhirnya kepolisian secara resmi merilis hasil penyelidikan dan kesimpulan kasus tersebut.

Pelaku diketahui adalah AI (12), putri bungsu korban yang masih duduk di bangku kelas VI sekolah dasar. Fakta ini sempat sulit diterima publik, bahkan oleh banyak orang yang berharap pelaku bukanlah anak kandung korban sendiri. Namun, hasil penyidikan menyatakan sebaliknya.

Latar Keluarga yang Retak

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menjelaskan bahwa tragedi ini tidak berdiri sendiri. Hubungan rumah tangga korban dan suaminya telah lama tidak harmonis. Berdasarkan keterangan rekan kerja sang ayah, meski masih tinggal satu rumah, keduanya telah pisah kamar.

Ayah korban tidur di lantai dua, sementara IF tidur di lantai satu bersama dua anak perempuannya. Mereka menggunakan kasur bertingkat: korban dan AI tidur di bagian atas, sementara kakak AI tidur di bawah.

Situasi rumah tangga yang tegang ini, menurut penyidik, turut memengaruhi kondisi psikologis anak-anak di dalamnya.

Kekerasan yang Berulang

Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa korban kerap memarahi dan melakukan kekerasan fisik terhadap kedua anaknya. Bentuk kekerasan itu antara lain memukul menggunakan sapu dan ikat pinggang, serta ancaman menggunakan pisau, baik kepada anak-anak maupun kepada suaminya.

Puncak kemarahan AI disebut terjadi pada 22 November 2025, ketika ia menyaksikan ibunya memukul sang kakak secara brutal. Sejak saat itu, AI mulai menyimpan dendam dan bahkan sempat memikirkan untuk melukai ibunya.

Pengaruh Tontonan dan Gim Digital

Motif lain yang memperkuat amarah AI adalah penghapusan gim dan tontonan favoritnya oleh sang ibu. Polisi menemukan bahwa AI kerap menonton serial anime Detective Conan, khususnya episode yang menampilkan pembunuhan menggunakan pisau, serta memainkan gim Murder Mystery yang juga menampilkan adegan serupa.

Menurut psikolog forensik yang terlibat, tontonan dan gim tersebut tidak menjadi penyebab tunggal, tetapi berperan sebagai pemicu dan referensi tindakan, terutama ketika dikonsumsi tanpa pendampingan orang dewasa dalam kondisi emosi anak yang tertekan.

Detik-Detik Kejadian

Peristiwa tragis itu terjadi pada Rabu dini hari, 10 Desember 2025, sekitar pukul 04.00 WIB. AI terbangun dan melihat ibunya tertidur pulas di sampingnya. Amarah yang selama ini terpendam kembali muncul.

AI sempat mencuci muka, lalu pergi ke dapur mengambil pisau. Ia bahkan membuka bajunya terlebih dahulu agar tidak terkena cipratan darah. Setelah itu, AI kembali ke kamar dan menusuk ibunya secara berulang hingga korban meninggal dunia. Polisi mencatat terdapat 26 luka tusukan di tubuh korban.

Aksi tersebut terhenti ketika kakak AI terbangun dan berusaha merebut pisau dari tangan adiknya. AI sempat kembali ke dapur untuk mengambil pisau lain, namun sang kakak segera menutup pintu kamar hingga pisau itu terjatuh.

Teriakan sang kakak membangunkan ayah yang berada di lantai dua. Saat itu, AI ditemukan terduduk lemas dengan tangan berlumuran darah.

Berdasarkan pemeriksaan psikolog forensik, AI dinyatakan tidak mengalami gangguan mental dan melakukan perbuatannya dalam kondisi sadar. Namun, ia menunjukkan penyesalan mendalam setelah melihat kondisi ibunya dan kedatangan ambulans.

Pelajaran Sosial yang Pahit

Tragedi ini menjadi cermin keras bagi banyak keluarga. Rumah, yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak, justru berubah menjadi tempat penuh tekanan dan ketakutan.

Kekerasan verbal dan fisik yang dianggap “biasa” dalam pola asuh, ditambah paparan gim dan tontonan brutal tanpa pengawasan, dapat membentuk akumulasi emosi berbahaya pada anak. Media sosial yang menampilkan potret keluarga harmonis pun tidak selalu mencerminkan realitas di balik dinding rumah.

Kasus ini bukan semata tentang siapa yang salah, melainkan tentang rantai kekerasan, komunikasi yang terputus, dan kegagalan orang dewasa membaca bahasa luka anak-anaknya.

Harapannya, AI mendapatkan pendampingan dan pembinaan yang tepat agar tidak semakin rusak oleh sistem. Lebih jauh, tragedi ini semestinya menjadi peringatan kolektif: bahwa mendidik anak bukan hanya soal disiplin, tetapi juga tentang empati, pengawasan, dan kehadiran emosional yang utuh.

(Dihimpun dari berbagai sumber berita)

Share :

Perspektif

Scroll