Pemerintah Kota Batam berencana menghadirkan penyanyi dangdut King Nassar dalam perayaan Hari Jadi Batam pada 23 Desember 2026 di Alun-alun Engku Putri, Batam Centre, untuk menarik wisatawan, khususnya dari Singapura dan Malaysia, sekaligus menggerakkan ekonomi lokal melalui konser gratis, bazar, dan pameran. Selain itu, Pemko Batam menyiapkan penampilan Cakra Khan untuk menyambut pergantian tahun 2026 menuju 2027. Kedua agenda tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memanfaatkan hiburan sebagai daya tarik pariwisata di kota yang memiliki akses strategis ke pasar wisatawan regional.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mengatakan pemerintah telah mempertimbangkan sejumlah alternatif artis sebelum mengarahkan pilihan kepada King Nassar. Menurut dia, keputusan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada popularitas penyanyi, tetapi juga pada potensi menarik keramaian yang dapat memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi kota.
“Kelihatannya King Nassar lebih ramai orangnya hari ini. Substansi dari agenda yang kita buat yaitu bagaimana agar bisa mengungkit arus kunjungan wisatawan ke daerah,” kata Amsakar, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan itu sebagai arah kebijakan Pemko Batam yang berupaya menghubungkan penyelenggaraan acara hiburan dengan promosi pariwisata. Pemerintah berharap konser tersebut tidak berhenti sebagai tontonan bagi masyarakat setempat, tetapi juga menjadi alasan bagi wisatawan dari luar daerah dan negara tetangga untuk berkunjung ke Batam.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan rencana menghadirkan King Nassar mendapat permintaan dari calon pengunjung, termasuk masyarakat Singapura dan Malaysia. Kedekatan geografis serta konektivitas transportasi dengan kedua negara itu dinilai memberikan peluang bagi Batam untuk mengembangkan acara hiburan sebagai bagian dari promosi destinasi.
“Nassar itu banyak yang request, tidak hanya warga Indonesia, tapi juga Singapura dan Malaysia,” kata Ardiwinata saat dihubungi Batam Pos, Rabu (21/10/2026).
“Dan itu yang paling penting,” ujarnya, merujuk pada harapan agar agenda tersebut dapat mendatangkan wisatawan mancanegara.
Namun pemerintah belum merinci target jumlah pengunjung asing yang diharapkan datang khusus untuk menyaksikan konser King Nassar. Durasi penampilan, susunan lengkap acara, serta rincian teknis penyelenggaraan juga belum dijelaskan secara terperinci. Karena itu, potensi peningkatan kunjungan wisatawan masih perlu dibedakan dari jumlah pengunjung yang benar-benar datang akibat acara tersebut.
Target Pemko Batam memiliki landasan geografis dan statistik yang cukup kuat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam menunjukkan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara pada Agustus 2026 mencapai 183.281 kunjungan, meningkat 27,70 persen dibandingkan Juli yang mencatatkan 143.523 kunjungan. Angka Agustus tersebut menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Secara kumulatif, kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam pada Januari–Agustus 2026 mencapai 1.147.738 kunjungan, tumbuh 13,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut menunjukkan bahwa Batam masih memiliki daya tarik yang kuat bagi pasar wisatawan internasional, terutama dari negara-negara tetangga.
Singapura dan Malaysia menjadi dua pasar penting dalam struktur pariwisata Batam. Pada Agustus 2026, wisatawan berkebangsaan Singapura menyumbang 39,72 persen dari keseluruhan kunjungan wisatawan mancanegara ke kota ini. Besarnya kontribusi pasar regional memperlihatkan bahwa kegiatan promosi yang dirancang untuk menarik pengunjung dari kedua negara tersebut memiliki sasaran yang relevan.
Namun, tingginya angka kunjungan bulanan tidak serta-merta membuktikan bahwa sebuah konser akan menghasilkan tambahan wisatawan dalam jumlah besar. Kenaikan kunjungan juga dapat dipengaruhi kalender liburan, hari nasional negara tetangga, konektivitas transportasi, dan faktor musiman lainnya. Pada Agustus 2026, misalnya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam menyebut peringatan hari nasional Malaysia dan Singapura sebagai salah satu faktor yang ikut meramaikan kunjungan wisatawan.
Karena itu, keberhasilan konser King Nassar semestinya dinilai bukan hanya dari padatnya penonton di Alun-alun Engku Putri, melainkan juga dari kemampuannya mendatangkan pengunjung baru, meningkatkan transaksi usaha lokal, serta memperluas lama tinggal wisatawan di Batam.
Pemko Batam juga menyiapkan bazar dan pameran atau expo untuk melengkapi rangkaian perayaan Hari Jadi Batam. Menurut Ardiwinata, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan ruang pemasaran bagi pelaku usaha, termasuk sektor ekonomi kreatif yang mencakup 21 subsektor. “Menambah wisatawan dan memberikan perputaran ekonomi serta memberikan ruang bagi pelaku ekonomi kreatif di 21 subsektor,” kata Ardiwinata.
Konsep tersebut membuka peluang agar manfaat perayaan tidak hanya dinikmati industri hiburan. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang makanan dan minuman, penyedia transportasi, hotel, serta pelaku ekonomi kreatif berpotensi memperoleh tambahan pendapatan apabila acara mampu mendatangkan pengunjung dalam jumlah besar.
Namun potensi itu tidak otomatis menjadi kenyataan. Ramainya penonton belum tentu menghasilkan transaksi yang sebanding apabila sebagian besar pengunjung hanya datang untuk menyaksikan konser, kemudian langsung pulang. Demikian pula, peningkatan jumlah wisatawan belum tentu memberikan manfaat merata apabila kesempatan berjualan hanya tersedia bagi sejumlah pelaku usaha tertentu.
Di sinilah pentingnya rancangan acara yang tidak sekadar mengutamakan panggung utama. Penempatan bazar yang mudah diakses, keterlibatan UMKM lokal, promosi paket wisata, serta kolaborasi dengan hotel, restoran, dan operator transportasi dapat membantu memperluas dampak ekonomi. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa biaya untuk berpartisipasi dalam bazar tidak menjadi penghalang bagi usaha kecil.
Dari sisi evaluasi, Pemko Batam dapat mengukur jumlah pengunjung dari luar kota dan luar negeri, tingkat transaksi pedagang, okupansi hotel, penggunaan transportasi, serta perubahan lama tinggal wisatawan selama periode acara. Data tersebut dapat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya untuk memperoleh gambaran yang lebih objektif tentang dampak kegiatan.
Tanpa indikator semacam itu, keberhasilan acara berisiko hanya diukur melalui jumlah penonton, popularitas artis, atau kemeriahan dokumentasi. Padahal, tujuan ekonomi yang disampaikan pemerintah menuntut hasil yang lebih konkret daripada sekadar kerumunan.
Selain konser King Nassar pada perayaan Hari Jadi Batam, Pemko Batam juga merencanakan penampilan Cakra Khan dalam agenda menyambut pergantian tahun 2026 menuju 2027.
Ardiwinata mengatakan pemerintah ingin masyarakat Singapura dan Malaysia memiliki alternatif hiburan di Batam tanpa harus bepergian ke Jakarta atau kota lain. Rencana tersebut sekaligus memperpanjang momentum promosi pariwisata dari perayaan hari jadi kota hingga malam pergantian tahun.
“Di tahun baru nanti ada juga Cakra Khan. Jadi warga Singapura dan Malaysia tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta atau daerah lain,” ujar Ardiwinata.
Jika kedua agenda itu dirancang sebagai rangkaian promosi yang saling terhubung, Batam berpeluang menawarkan pengalaman wisata yang lebih luas daripada sekadar menonton konser. Wisatawan dapat diarahkan untuk menikmati kuliner, pusat perbelanjaan, destinasi bahari, ruang publik, serta kegiatan ekonomi kreatif yang tersedia di kota tersebut.
Namun, rencana tersebut juga menghadirkan tantangan dalam pengelolaan anggaran dan penyelenggaraan acara. Pemerintah perlu menjelaskan sumber pembiayaan, besaran biaya penyelenggaraan, pola kerja sama dengan sponsor, dan sejumlah langkah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung.
Transparansi menjadi penting agar masyarakat dapat menilai keseimbangan antara biaya kegiatan dan manfaat yang dihasilkan. Pihak penyelenggara juga harus mengantisipasi kepadatan lalu lintas, pengelolaan sampah, ketersediaan fasilitas umum, keselamatan penonton, serta dampak kebisingan terhadap lingkungan sekitar. Semakin besar kerumunan yang diharapkan hadir, semakin besar pula kebutuhan untuk menyiapkan pengelolaan acara yang terukur.
Rencana menghadirkan King Nassar dan Cakra Khan memperlihatkan bahwa hiburan dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempromosikan destinasi dan menggerakkan aktivitas ekonomi. Bagi Batam, yang memiliki pasar wisatawan regional relatif dekat, strategi ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing pariwisata.
Meski demikian, promosi melalui konser sebaiknya tidak diposisikan sebagai satu-satunya jawaban bagi pengembangan sektor wisata. Kualitas destinasi, kemudahan akses, kebersihan kota, pelayanan publik, kenyamanan transportasi, dan keragaman pengalaman wisata tetap menentukan apakah pengunjung akan kembali setelah acara berakhir.
Pemko Batam juga perlu memastikan bahwa masyarakat setempat memperoleh manfaat nyata dari kegiatan yang diselenggarakan. Pelibatan UMKM secara terbuka, publikasi hasil evaluasi, dan penyampaian data transaksi dapat menjadi langkah awal untuk menunjukkan bahwa perayaan kota benar-benar menghasilkan nilai ekonomi bagi warga.
Keberhasilan HUT Batam 2026 nanti tidak cukup diukur dari seberapa meriah konser King Nassar atau seberapa besar perhatian yang diberikan kepada penampilan Cakra Khan pada malam tahun baru. Ukuran yang lebih penting apakah kedua agenda itu mampu membawa pengunjung baru, meningkatkan pendapatan pelaku usaha, memperkuat citra Batam sebagai destinasi wisata, dan meninggalkan manfaat yang dapat dirasakan warga bahkan setelah berakhirnya acara.