Dari Tari Melayu hingga Piala Dunia, Kepri Merajut Pariwisata Lewat Kemilau Nusantara

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata akan menggelar Kemilau Nusantara Kepri...

Dari Tari Melayu hingga Piala Dunia, Kepri Merajut Pariwisata Lewat Kemilau Nusantara

11 Jun 2026
244 x Dilihat
Share :

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau melalui Dinas Pariwisata akan menggelar Kemilau Nusantara Kepri 2026 di kawasan Tugu Sirih, Tanjungpinang, pada 13–15 Juni 2026. Mengusung tema “Pulau Penyengat Jembatan Lintas Generasi”, festival ini memadukan pertunjukan budaya Melayu dan Nusantara dengan agenda nonton bareng Piala Dunia 2026. Pemerintah berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan ekonomi masyarakat, sekaligus memperkuat identitas budaya Melayu di tengah arus globalisasi.

Festival ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjaga denyut sektor pariwisata yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren pertumbuhan positif. Sekretaris Daerah Provinsi Kepri, Misni, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi menyukseskan kegiatan tersebut. “Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung dan menyukseskan event ini agar memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perekonomian daerah,” ujar Misni, Rabu (10/6/2026).

Tugu Sirih dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya yang menghadap langsung ke Pulau Penyengat menghadirkan simbol kuat tentang hubungan masa lalu dan masa depan. Pulau yang dikenal sebagai pusat peradaban Melayu itu menjadi inspirasi utama tema festival tahun ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Hasan, menjelaskan bahwa tema “Pulau Penyengat Jembatan Lintas Generasi” mencerminkan upaya menghadirkan warisan budaya Melayu kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan mereka saat ini.

“Lokasi kegiatan menghadap langsung ke Pulau Penyengat yang merupakan pusat sejarah dan kebudayaan Melayu. Karena itu tema yang kami angkat berkaitan dengan jembatan antar generasi,” kata Hasan. Selama tiga hari pelaksanaan, masyarakat akan disuguhi beragam atraksi budaya, mulai dari Parade Wisata Budaya Nusantara Kepri, Tari Kreasi Melayu Kepri, Tari Kreasi Nusantara, pertunjukan musik tradisional Melayu, hingga penampilan grup musik lokal.

Yang menarik, panitia juga memasukkan agenda nonton bareng Piala Dunia 2026 ke dalam rangkaian acara. “Panitia juga menyiapkan sesi nonton bareng Piala Dunia 2026,” ujar Hasan. Menyambut kemeriahan festival, terdapat target ekonomi yang ingin dicapai pemerintah daerah. Di antaranya Pariwisata saat ini menjadi salah satu sektor penting penopang pertumbuhan ekonomi Kepri.

Data Dinas Pariwisata Kepri menunjukkan jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Kepulauan Riau sepanjang 2025 mencapai 2.027.037 orang, tumbuh 21,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah bahkan menargetkan 2,7 juta kunjungan wisatawan mancanegara pada 2026. Hingga April 2026, tren pertumbuhan tersebut masih berlanjut. BPS mencatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepri mencapai 626.278 kunjungan, meningkat 12,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Hasan menilai event budaya seperti Kemilau Nusantara merupakan salah satu instrumen untuk menjaga momentum tersebut. “Event ini diharapkan dapat mendorong kunjungan wisatawan ke Kepulauan Riau sehingga memberi dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Tanjungpinang,” katanya. 

Optimisme itu cukup beralasan. Berbagai studi pariwisata menunjukkan bahwa festival budaya mampu memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan okupansi hotel, serta mendorong transaksi UMKM dan ekonomi kreatif di sekitar lokasi kegiatan. Meski demikian, sejumlah pengamat pariwisata mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah festival tidak cukup diukur dari jumlah pengunjung yang hadir selama acara berlangsung. Pandangan kritis muncul apakah festival mampu menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan atau hanya menghasilkan keramaian sesaat?

Data BPS menunjukkan tingkat hunian hotel dan lama tinggal wisatawan di Kepri masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperbaiki. Kenaikan jumlah kunjungan belum selalu berbanding lurus dengan peningkatan kualitas belanja wisatawan maupun lama mereka berada di destinasi. Sejumlah pelaku usaha pariwisata juga berharap kegiatan semacam ini tidak berhenti pada pertunjukan budaya semata, tetapi diintegrasikan dengan promosi destinasi unggulan, produk UMKM, wisata sejarah Pulau Penyengat, hingga paket wisata yang dapat memperpanjang masa kunjungan wisatawan.

Dengan kata lain, festival harus menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir. Di tengah derasnya arus digital, budaya sering berada dalam posisi yang tidak mudah. Ia dituntut tetap relevan tanpa kehilangan akar. Kemilau Nusantara Kepri mencoba menjawab tantangan itu dengan cara yang menarik dengan mempertemukan tari Melayu dengan gegap gempita Piala Dunia. Sepintas, keduanya tampak tidak berkaitan. Namun di situlah letak pesannya. Generasi muda yang datang untuk menyaksikan pertandingan sepak bola dunia mungkin akan sekaligus menyaksikan tarian Melayu, mengenal Pulau Penyengat, dan mendengar kembali kisah-kisah yang membentuk identitas Kepulauan Riau.

Dengan demikian, keberhasilan festival budaya ini bukan hanya soal mampu mendatangkan jumlah penonton atau nilai transaksi ekonomi yang tercipta. Semestinya dapat diukur dari kemampuannya membuat masyarakat kembali merasa memiliki budayanya sendiri. Sebab sebuah daerah tidak hanya hidup dari angka kunjungan wisatawan. Ia juga hidup dari ingatan kolektif yang terus diwariskan. Dan di hadapan Pulau Penyengat yang berdiri tenang di seberang Tugu Sirih, Kemilau Nusantara Kepri 2026 tampaknya ingin mengingatkan bahwa masa depan pariwisata yang kuat selalu berawal dari keberanian menjaga akar budaya. (Red)

Share :

Perspektif

Scroll