Telanjang Kaki

Kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Hanya memilih berdiam di ruang-ruang paling sunyi di dalam...

Telanjang Kaki

21 Jul 2026
853 x Dilihat
Share :

Telanjang Kaki

Kenangan tidak pernah benar-benar pergi. Hanya memilih berdiam di ruang-ruang paling sunyi di dalam diri, meringkuk di balik lipatan waktu sambil menunggu saat yang tepat untuk mengetuk pintu ingatan. Tahun-tahun boleh berganti dan menghapus wajah, jalan-jalan tanah boleh menyerah pada dinginnya aspal, tetapi sebuah peristiwa selalu memiliki cara untuk menghidupkan napasnya sendiri. Muncul mendesis bersama angin yang menyisir pucuk-pucuk padi, atau menyusup ke dalam langkah kaki yang tanpa sengaja menyeret seseorang kembali ke masa lalunya.

Begitulah cara Sanjaya merawat masa kecilnya. Ia tidak menyimpan masa lalu sebagai album indah yang manis untuk dikenang, melainkan sebagai tapak jalan panjang yang menempa cara pandangnya terhadap dunia. Waktu memang telah menutup luka, tetapi bekasnya yang tetap tinggal bukan lagi sebagai nyeri yang mencucuk, melainkan sebagai jeda untuk meresapi kembali huruf-huruf usang yang mulai memudar ditelan usia. Dari sanalah ia belajar bahwa hidup bukan sekadar tumpukan peristiwa, melainkan akumulasi jejak yang diam-diam memahat seseorang menjadi manusia hari ini.

Lalu dari sekian banyak ingatan yang tersimpan di kepala, selalu ada satu memori yang mendesak untuk pulang dan dibicarakan lebih dahulu. Setelah ketidakhadirannya bersama bayangan teman sebaya, suara lonceng sekolah yang nyaring, deretan angka merah di rapor, atau tawa yang riuh di halaman. Kenangan itu merayap naik melalui telapak kaki. Melalui pori-pori kulit yang pernah bergesekan langsung dengan bumi. Melalui kerikil-kerikil lancip yang menanamkan perih. Melalui debu jalanan yang melekat tanpa izin, dan jarak bermil-mil yang harus ditaklukkan sebelum matahari sempat meninggi di langit.

Barangkali manusia memang diciptakan lebih mudah melupakan kata-kata daripada sensasi fisik. Kata-kata bisa menguap bersama angin, tetapi rasa menetap di dalam daging, meresap menjadi memori seluler yang tak membutuhkan bahasa. Telapak kaki Sanjaya kini telah menebal dan dewasa, namun setiap kali bayangan masa itu berkelebat, ia merasa kerikil-kerikil tua itu masih menantangnya di tikungan yang sama, menunggu dengan kesabaran purba untuk menyapa kembali langkah kecil seorang anak yang belum paham mengapa takdir membagikan nasib dengan bagian yang begitu timpang.

Dan di balik setiap kelebatan memori itu, figur yang selalu hadir lebih dulu bukanlah dirinya sendiri, melainkan seorang gadis dengan sepasang sepatu ungu yang melangkah begitu anggun, seakan gravitasi bumi enggan menyentuhnya.

Dari sanalah akar cerita ini bermula. Setiap pagi, Sanjaya menempuh perjalanan menuju sekolah dengan telapak kaki telanjang. Tanah yang masih basah oleh embun menyambut kulitnya seperti sentuhan tangan tua yang dingin, sementara gerombolan kerikil dan lumpur bersiap menguji ketahanannya. Rasa sakitnya datang berulang setiap hari, hingga perlahan-lahan kehilangan wujud aslinya sebagai siksaan. Itu merayap menjadi kebiasaan, lalu melebur menjadi bagian dari tubuhnya sendiri. Kemiskinan bekerja dengan cara yang mula-mula menyayat hingga berdarah, lalu kemudian membuat kita kebas hingga lupa bahwa dirinya sedang terluka.

Di atas jalur tanah yang sama, beberapa puluh langkah di depan Sanjaya, Riana selalu berjalan dengan sepasang sepatu ungu yang senantiasa berkilau bersih. Alas kaki itu tak pernah tahu bagaimana teriknya aspal dan beton membakar telapak, tak pernah mengerti tajamnya tusukan kerikil, dan seolah memiliki perjanjian rahasia dengan debu agar kotoran itu lari tersibak. Setiap kali Riana melangkah, bunyinya begitu tipis, bagaikan sehelai daun mahoni yang jatuh di atas permukaan air tanpa riak. Sebaliknya, setiap pijakan Sanjaya selalu meninggalkan jejak dan bunyi tumpul yang lekat, seakan bumi sengaja mengeraskan suaranya, agar anak lelaki itu tidak pernah lupa dari rahim tanah mana ia berasal.

Sanjaya tidak pernah iri kepada sepatu itu. Yang membuat dadanya sesak justru kesadaran bahwa benda sesederhana itu dapat menjadi bahasa yang lebih fasih daripada ribuan kata. Sepatu itu berbicara tentang rumah yang cukup mampu membeli perlindungan, tentang keluarga yang tidak perlu menghitung harga sandal sebelum membelinya, tentang hidup yang tidak terlalu akrab dengan kekurangan. Sedangkan kaki telanjangnya berbicara tentang jalan yang panjang, tentang penghematan yang dipelajari bahkan sebelum ia mengenal arti cita-cita, tentang seorang anak yang sejak kecil harus berdamai dengan keadaan sebelum sempat memilih keinginannya sendiri.

"Sepatu itu..." bisiknya dalam hati, “...adalah pintu yang tak memiliki gagang untuk dapat kupegang.”

Kalimat itu tidak pernah diucapkannya kepada siapa pun. Ia membiarkannya tinggal di kepalanya, sebab ada pengakuan yang akan kehilangan martabatnya jika terlalu cepat diucapkan. Sanjaya menundukkan kepala, memandangi telapak kakinya yang menghitam oleh tanah. Garis-garis retak di kulitnya menyerupai sawah yang lama menunggu hujan, kering, tetapi tetap setia menyimpan harapan. Ia tahu, yang membuatnya takut bukanlah kenyataan bahwa ia miskin. Yang lebih menakutkan adalah kemungkinan bahwa kemiskinan itulah yang kelak menentukan sampai sejauh mana ia boleh mencintai seseorang.

Sesekali ia mencoba menyamakan langkah dengan langkah-langkah mereka yang bersepatu. Bukan agar bisa berjalan berdampingan, melainkan sekadar ingin merasakan bahwa mereka sedang menuju tempat yang sama. Namun setiap kali ia mempercepat langkah, selalu ada sesuatu yang membuatnya kembali melambat. Entah kerikil yang menusuk telapak kaki, entah suara kecil dari dalam dirinya sendiri yang berbisik agar ia tahu diri. 

Barangkali setiap manusia memang memikul penjaga di dalam batinnya masing-masing, penjaga yang berdiri lebih tegas daripada pagar kawat berduri mana pun.

"Kenapa kau tidak memakai sandal saja?" tanya Ipul pada suatu pagi, suaranya memecah embun yang masih menggantung di udara.

Sanjaya hanya menyunggingkan senyum tipis, hambar. “Belum sempat beli.”

Ipul tidak mendesak lagi. Sanjaya sendiri memilih merapatkan bibirnya rapat-rapat. Mungkin keduanya tidak pernah tahu dan sadar bahwa jawaban-jawaban paling pendek sering menjadi keranda bagi cerita yang paling panjang dan melelahkan. Sebab kemiskinan, jika terlalu sering diurai dan diobral menjadi kata-kata, perlahan-lahan akan berubah menjadi tontonan iba yang mengikis sisa-sisa harga diri seseorang.

Ia tetap melangkah menuju sekolah dengan telapak kaki telanjang. Ia membiarkan bumi dingin menjadi alas, debu jalanan menjadi karib seperjalanan, dan luka-luka lecet yang mengering menjadi bagian dari takdir kesehariannya.

Namun sesungguhnya ada satu ruang di dalam dirinya yang tidak pernah ia biarkan telanjang, yaitu perasaannya kepada Riana. Perasaan itu disimpannya berlapis-lapis di tempat paling sunyi, serupa petani desa yang menyimpan benih padi terbaik di sudut lumbung paling gelap. Bukan karena takut benih itu membusuk, melainkan karena ia sadar musim tanam belum tiba. Ada masa ketika kerinduan dipaksa mendekam dan menunggu, sekalipun ia tidak pernah benar-benar tahu apakah langit kelak sudi menurunkan hujan penolong.

Perasaan itu merayap tumbuh dalam sunyi, hampir tanpa desah. Tidak meledak garang layaknya petir yang membelah angkasa, melainkan meresap perlahan bagai air yang menghidupkan tanah tandus setetes demi setetes. Dari luar tidak ada gelagat yang mencurigakan. Tidak ada badai yang kasat mata. Namun di dalam jiwanya seluruh lanskap hatinya diam-diam sedang berubah bentuk.

Sekali waktu, ia sempat berharap rasa itu lelah dan menguap begitu saja. Anehnya, semakin kuat ia berusaha memadamkannya, semakin terang bayangan Riana berpendar di ruang ingatannya, menetap dengan kepala tegak, menyerupai aroma yang menguar pekat di udara, jauh setelah badai dan hujannya berlalu.

Sebab yang membentangkan jarak di antara mereka bukan sekadar nyali yang menciut untuk sekadar menyapa. Jurang yang berdiri kokoh di antara keduanya jauh lebih tua daripada usia mereka yang masih belia. Ia menjelma dalam satu keadaan yang dihilangkan dan dipatahkan dari keceriaan usia mereka.

Keadaan itu mungkin sebab  lahir dari bilik-bilik rumah yang berbeda, dari kepulan asap dapur yang tak setara, dari meja makan yang menyuguhkan takdir berbeda, hingga cara pandang merajut hari esok yang terpaut bumi dan langit. Perbedaan itu tidak pernah tertulis di papan tulis kelas, tidak pula diumumkan oleh guru piket. Namun diam-diam mengekor ke mana pun mereka melangkah, serupa bayangan hitam yang tidak pernah sudi tertinggal di belakang, ke mana pun arah matahari bergeser.

Sanjaya berasal dari Citamiang, kampung di pinggiran desa perbatasan dengan hutan perbukitan, yang sore harinya dipenuhi suara jangkrik dan debu yang beterbangan ketika angin melintas. Jalan-jalannya hanya berbatu putih bercampur berlumpur. Rumah-rumahnya berdiri sederhana, saling memandang dengan kesabaran yang diwariskan dari orang-orang yang terbiasa hidup pas-pasan. Di tempat seperti itu harapan tumbuh perlahan, seperti pohon yang akarnya harus lebih dulu menembus tanah keras sebelum berani mengangkat batangnya ke langit.

Riana berasal dari Sampura. Di wilayah kampung itu selalu terdengar hidup karena sebuah terminal perlintasan. Kendaraan datang dan pergi seperti aliran sungai yang tidak mengenal kata berhenti. Lampu-lampu toko tetap menyala ketika langit mulai gelap, sementara jalan-jalannya mengilap setiap kali hujan selesai turun. Di sana kehidupan bergerak lebih cepat, seolah waktu sendiri memilih tinggal lebih lama daripada di kampung Sanjaya.

Riana sebenarnya tidak pernah memperlihatkan bahwa ia merasa lebih tinggi. Senyumnya selalu sama kepada siapa pun. Sapanya tidak pernah memilih kepada siapa untuk diberikan. Karena itulah yang membuat Sanjaya semakin sadar akan batas dirinya. Sebab batas yang paling sulit diseberangi bukanlah batas yang dibuat oleh orang lain. Batas itu tumbuh dari dalam diri sendiri, tumbuh dari rasa tahu diri yang dipupuk bertahun-tahun oleh keadaan. Tidak berbentuk tembok, tetapi lebih kukuh daripada batu. Tidak terlihat, tetapi setiap kali Sanjaya hendak melangkah mendekat, batas itu selalu berdiri lebih dahulu, membisikkan satu kalimat yang terus berulang di dalam kepalanya.

“Jangan terlalu jauh. Tidak semua jalan memang ditakdirkan untuk bertemu.”

Waktu ternyata kemudian tidak benar-benar pandai menghapus jejak. Ia hanya mengajarkan manusia cara menyimpan kenangan di tempat yang lebih sunyi, agar tidak terlalu sering disentuh, namun juga tidak pernah benar-benar hilang. Tahun-tahun berganti dengan tenang. Jalan-jalan yang dahulu mereka lalui telah berubah. Beberapa pohon telah ditebang, beberapa rumah telah berdiri menggantikan kebun yang dulu lapang, dan anak-anak yang pernah berlarian di pematang sawah kini tumbuh menjadi orang-orang dewasa yang memikul hidupnya masing-masing.

Begitu pula Sanjaya dan Riana. Mereka dipertemukan kembali oleh waktu yang datang tanpa aba-aba. Bukan di halaman sekolah yang berdebu, bukan pula di jalan yang setiap pagi mempertemukan langkah kaki telanjang dengan sepasang sepatu ungu, melainkan melalui percakapan yang mula-mula terasa canggung, lalu perlahan mengalir seperti air yang akhirnya menemukan kembali bekas aliran lamanya.

Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang pekerjaan. Tentang keluarga. Tentang kampung yang kini terasa lebih ramai daripada ketika mereka masih kanak-kanak. Sesekali mereka tertawa, sesekali terdiam. Di sela-sela jeda itu, Sanjaya merasa ada sesuatu yang masih tinggal di dalam dirinya, sesuatu yang bertahun-tahun tidak pernah benar-benar pergi.

"Riana," bisiknya pelan, serupa derit engsel pintu yang perlahan dibuka dari masa lalu. “Kamu masih ingat jalan setapak menuju sekolah kita dulu?”

Riana menyunggingkan senyum tipis yang merayap di sudut bibirnya. “Masih. Mana mungkin aku bisa lupa.”

“Jalan itu dulu terasa sangat panjang, ya?”

"Iya," jawab Riana, suaranya bergesek lembut di udara. “Sekarang kalau dipikir-pikir kembali, ternyata jaraknya tak sejauh yang kita bayangkan waktu kecil.”

Sanjaya ikut mengulas senyum, tetapi guratannya tidak sepenuhnya tulus dari hari ini. Sebagian jiwanya masih tertinggal dan tersangkut di masa silam.

“Aku pun kalau pergi mandi ke tempat dam, naik turun tangga antara mata air dam dan rumah dulu terasa jauh sekali,” kenangnya, menerawang jauh menembus sekat ruang dan waktu. “Sekarang, ketika melakukannya lagi, betapa pendek ternyata tangga-tangga jalan yang dulu kita jejaki itu. Maka di situlah kemudian aku mengenangnya sebagai sekolah kehidupan yang paling keras,” ujar Sanjaya lirih.

“Sekolah apa maksudmu?”

"Kaki telanjang,” yang membuat Riana terkesiap kecil, menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan mengisi jeda sebelum Sanjaya melanjutkan kalimatnya.

“Dulu, setiap fajar aku menempuh jarak antara rumah dan sekolah tanpa sehelai alas kaki pun. Kupikir waktu itu semua orang di kampung tahu. Ternyata aku keliru.”

Riana menatapnya lekat-lekat melalui sekat layar kaca yang memisahkan bentang jarak dan tahun. Ada binar penyesalan di matanya. “Aku... benar-benar tidak pernah tahu, Jaya.”

Sanjaya mengangguk samar, sebuah gestur yang terlalu rapuh untuk menyeberangi jarak digital. “Dan aku pun tak pernah berharap kau mengetahuinya. Hanya saja, setelah sekian tahun berlalu, aku baru menyadari bahwa tanah dan lumpur yang kukecup setiap pagi telah mengajarkanku pelajaran yang tak pernah tertulis di papan tulis manapun.”

“Pelajaran apa itu?”

“Bahwa semesta sejak awal memang tidak pernah adil. Ternyata hidup tidak selalu menyediakan garis start yang sama bagi setiap anak manusia.”

Percakapan itu surut dalam senyap. Keheningan merayap di antara mereka, namun tidak lagi menorehkan kecanggungan. Sunyi itu menjelma ruang jeda yang lapang, tempat bagi kenangan untuk duduk sejenak, menghela napas panjang, dan ikut menyimak sisa cerita.

Beberapa detik berlalu sebelum Sanjaya sengaja membelokkan arah percakapan. Ia sebenarnya tidak ingin nostalgia yang berubah menjadi genangan duka yang terlampau dalam.

“Riana...”

“Iya, Jaya?”

“Boleh aku bertanya satu hal padamu?”

“Tentu, tanyakan saja.”

Sanjaya menimbang-nimbang tiap suku kata di dalam lidahnya. Ia menjaga agar nada suaranya tidak terdengar seperti sebuah interogasi, apalagi tuntutan menghakimi. Yang ia cari hanyalah sebuah kepingan puzzle tentang bagaimana roda nasib telah membentuk perempuan di hadapannya sebagai sosok yang dahulu hanya bisa ia amati dari balik jarak yang teramat jauh.

“Dulu... semua orang di kampung memandangmu sebagai gadis berkasta tinggi yang paling dipuja. Rasanya hampir mustahil ada yang tidak mengenal Riana.”

Riana terkekeh renyah, tawanya menyapu udara. “Ah, kamu ini terlalu memuji.”

Sanjaya ikut terkekeh, meski matanya tetap serius. “Aku tidak sedang merayu, aku serius.”

Hening kembali meraja, kali ini lebih padat dan renyah.

“Lalu... aku sungguh penasaran.”

“Tentang apa, Jaya?”

“Sejak masa kanak-kanak hingga kita dewasa seperti sekarang... pernahkah kakimu menginjak lumpur sawah?”

Riana tidak langsung menyambut tanya itu. Matanya menerawang jauh, seolah sedang menyaring memori di kepala agar jawabannya kelak terucap tanpa polesan berlebih.

Sanjaya melanjutkan dengan kehati-hatian yang semakin ekstra. “Maksudku... pernahkah jemari tanganmu menggenggam parang?”

Riana menggeleng pelan, gerakannya kaku.

“Atau... memegang gerigi ketam untuk memotong bulir padi?”

Masih gelengan kepala yang sama.

“Kalau sekadar membungkuk dan menyiangi rumput liar di pematang?”

Raut wajah Riana tetap menyuguhkan gelengan yang tak berubah.

Ia menarik napas pendek sebelum akhirnya meluncurkan sebuah kejujuran yang telanjang, tanpa secercah pun usaha untuk mempermanis keadaan. Senyumnya tersungging tipis, nyaris tak kasat mata di layar. “Kalau harus jujur... Riana tidak pernah menyentuh itu semua.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan suaranya mencerna ketulusan. “Inilah aku apa adanya, Jaya. Sawah keluarga kami yang sepetak pun... dari dulu selalu diurus dan dikerjakan oleh orang lain.”

Sanjaya terpaku, tidak segera menimpali. Mendengarnya entah mengapa membuat Sanjaya berpikir atas pengakuan itu justru membuatnya merasa sedang berhadapan dengan Riana yang sesungguhnya, bukan dengan bayangan gadis yang selama bertahun-tahun ia simpan di dalam ingatannya. 

Selama ini ia mengira kehidupan Riana begitu dekat dengan sawah, lumpur, dan musim panen, hanya karena ia lahir dan tumbuh di desa yang sama. Rupanya desa tidak selalu membentuk setiap orang dengan cara yang serupa. Ada yang mengenal lumpur melalui telapak kaki, ada pula yang hanya mengenalnya dari hamparan hijau yang dipandang dari beranda rumah.

Sanjaya tersenyum kecil, senyum yang kali ini jatuh begitu tulus di ujung bibirnya.

“Terima kasih, Riana.”

“Untuk apa, Jaya?”

“Untuk keberanianmu. Untuk tidak berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirimu di hadapanku.”

Riana membalas senyum itu dengan binar mata yang melembut, memantulkan ketulusan yang sama. “Aku juga sedang belajar untuk berdamai dan menerima diriku apa adanya, Jaya.”

Di penghujung percakapan itu, ketika layar perlahan meredupkan jarak, Sanjaya menyadari bahwa waktu memang telah mengubah banyak hal. Waktu mengikis masa lalu, merapikan tapak jalan, dan mendewasakan tubuh mereka. Namun waktu tidak pernah mampu menghapus satu pelajaran abadi yang dulu diajarkan oleh jalan berdebu di masa kecilnya.

Manusia sering terjebak dalam ilusi bahwa mereka mengenal seseorang secara utuh hanya karena berasal dari kampung yang sama, mendongak menatap langit sore yang sama, atau menghirup aroma jerami padi yang serupa di setiap musim panen. Padahal, pengetahuan permukaan itu menipu. Setiap jiwa sesungguhnya bertumbuh di dalam musim dan cuacanya masing-masing, menyimpan rahasia luka dan kebahagiaan yang tidak selalu kasat mata. 

Hamparan sawah yang membentang luas di kaki bukit itu bisa saja melahirkan telapak kaki yang kebal oleh kerikil dan tangan-tangan yang pecah-pecah serta kasar akibat hantaman cangkul, sekaligus mencetak jemari-jemari yang begitu lembut dan bersih karena tak pernah sekalipun mengotori diri dengan pekatnya lumpur sawah. Keduanya hidup di atas petak tanah yang berbatasan langsung, namun mengalami realitas yang terbentang sejauh siang dan malam.

Namun di balik segala kontras nasib dan garis hidup yang memisahkan, tidak satupun dari takdir-takdir tersebut yang lebih mulia atau lebih hina dibandingkan yang lain. Mereka semua hanyalah bagian dari lukisan besar semesta, berjalan di atas garis waktu dan takdirnya masing-masing dengan membawa beban pundak serta keindahannya sendiri yang tersembunyi. Dan ketika layar gawai itu akhirnya menggelap, meninggalkan sunyi yang merayap di kamarnya, Sanjaya mengerti bahwa memaafkan masa lalu bukan berarti menghapus perihnya, melainkan memeluk segala perbedaan itu dengan dada yang lapang, tanpa perlu lagi menuntut dunia untuk adil, dan tanpa di dalam jiwanya ada sisa-sisa kepura-puraan. (Sal)

Perspektif

Scroll