Ada sesuatu yang menghentak ketika kita berbicara tentang menjadi manusia yang "tidak berguna". Mungkin ada seseorang yang sepanjang hidupnya merasa tak memberi manfaat bagi siapa pun. Namun setelah kematiannya, justru jasadnya menjadi sangat berharga bagi kemajuan sebuah penyelidikan, penyidikan, atau pengembangan ilmu pengetahuan.
Demikian kemajuan dunia kedokteran sebab lahir dari keberanian para ilmuwan yang terus mengembangkan pengetahuan tentang tubuh manusia. Salah satu tokoh besar yang memberi pengaruh penting dalam sejarah kedokteran adalah Ibnu Sina melalui karya-karya ilmiahnya yang menjadi rujukan selama berabad-abad.
Dalam dunia kedokteran, jasad yang digunakan untuk kepentingan pendidikan disebut cadaver. Jasad tersebut menjadi media belajar bagi mahasiswa kedokteran untuk memahami anatomi manusia secara langsung. Cadaver dapat berasal dari jenazah yang tidak memiliki keluarga atau dari mereka yang semasa hidup telah secara sukarela mendonasikan tubuhnya demi pendidikan dan penelitian medis.
Di situlah letak renungannya. Ada orang yang mungkin dianggap kurang berarti selama hidupnya, tetapi setelah meninggal justru memberi manfaat bagi banyak orang. Demikian banyak pula orang yang telah mengabdikan hidupnya bagi sesama, lalu masih ingin terus bermanfaat setelah kematiannya, dengan jalan mendonorkan organ tubuh atau jasadnya untuk kepentingan bagi orang hidup, misalnya pada dunia medis, menjadi bentuk pengabdian terakhir yang mulia. Renungan ini menjadi pintu masuk yang menarik untuk menyaksikan Cadaver (2022), sebuah film thriller kriminal berbahasa Tamil yang dibintangi oleh Amala Paul.
Disutradarai oleh Anoop S. Panicker dengan skenario karya Abhilash Pillai, film ini diproduksi oleh Amala Paul yang juga memerankan tokoh utama, Dr. Bhadra Thangavel, seorang ahli patologi forensik yang cerdas dan berpengalaman. Selain Amala Paul, film ini turut dibintangi Riythvika, Harish Uthaman, Athulya Ravi, Adith Arun, dan Ramdoss. Film berdurasi sekitar dua jam ini dirilis di Disney+ Hotstar pada 12 Agustus 2022 dan juga tersedia dalam bahasa Telugu serta Kannada.
Film dibuka dengan adegan yang menyayat hati. Seorang pria dalam keadaan diborgol dibawa ke sebuah pemakaman. Di hadapannya terbujur seorang wanita yang telah berada di liang kubur dan siap dimakamkan. Adegan pembuka ini langsung menimbulkan pertanyaan besar sekaligus memberi kesan bahwa akan ada dendam yang lahir dari kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
Tidak lama kemudian, seorang pria menerima telepon misterius saat berada di dalam mobil. Suara di seberang telepon hanya berkata singkat, "Saya datang untuk Anda." Tak lama setelah itu, pria tersebut, yang merupakan kepala ahli bedah jantung di sebuah rumah sakit ternama menghilang selama beberapa hari. Ketika akhirnya ditemukan, jasadnya berada di tengah hutan dalam kondisi hangus terbakar hingga nyaris tidak dapat dikenali.
Kasus tersebut membawa polisi bekerja sama dengan Dr. Bhadra untuk mengungkap pelakunya. Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang narapidana bernama Vetri, yang sebelumnya pernah bersumpah akan membunuh ahli bedah tersebut. Bahkan, Vetri menggambar wajah sang dokter di dinding selnya sebelum peristiwa itu terjadi.
Yang membuat kasus ini semakin membingungkan, Vetri mengaku sebagai pembunuh. Namun secara fakta, pada saat pembunuhan berlangsung ia tidak pernah meninggalkan sel penjara. Bagaimana mungkin seseorang dapat melakukan pembunuhan tanpa pernah keluar dari tempat tahanannya?
Polisi bersama Dr. Bhadra pun menggali masa lalu Vetri. Terungkap bahwa ia pernah kehilangan istri dan anaknya dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tragedi tersebut meninggalkan luka batin yang sangat dalam dan menjadi salah satu kunci untuk memahami motif di balik seluruh rangkaian peristiwa.
Penyelidikan pun dilakukan dengan mulai mengarah pada dugaan adanya kejahatan medis yang melibatkan sejumlah dokter di sebuah rumah sakit. Sedikit demi sedikit, benang merah mulai terlihat. Tiga orang menjadi tersangka utama, namun mereka mampu menyembunyikan berbagai bukti berkat kekayaan, pengaruh, dan kekuasaan yang mereka miliki.
Di sinilah peran Dr. Bhadra menjadi sangat penting. Keahliannya dalam forensik berhasil menghubungkan berbagai potongan misteri yang semula tampak tidak saling berkaitan. Kehadirannya membuat alur cerita terus berkembang dengan berbagai kejutan dan di beberapa bagian terasa cukup dramatis.
Menjelang akhir cerita, seluruh misteri akhirnya terungkap. Penonton disuguhi penyelesaian yang memuaskan sekaligus membuka tabir mengenai kejahatan medis yang selama ini tersembunyi. Cadaver mengangkat tema tentang pencarian keadilan terhadap praktik-praktik medis yang tidak manusiawi, sekaligus mengajak penonton mempertanyakan batas antara penegakan hukum dan tindakan main hakim sendiri.
Film ini juga menegaskan bahwa tidak ada pembenaran atas tindakan menghilangkan nyawa, sekalipun dilakukan atas nama keadilan ketika hukum dianggap belum mampu memberikan hukuman yang setimpal. Pesan moral inilah yang membuat Cadaver tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga ruang refleksi tentang etika, kemanusiaan, dan keadilan.
Secara keseluruhan, Cadaver merupakan film thriller kriminal yang memadukan misteri, forensik, dan kejahatan medis dalam sebuah alur yang penuh teka-teki. Bagi penggemar thriller psikologis atau cerita investigasi yang sarat kejutan, film ini layak masuk dalam daftar tontonan. (Sal)