Simpang Rahasia Biru

Langit di atas Sampura perlahan meredup, melarutkan warna-warna senja ketika Sanjaya, yang kini...

Simpang Rahasia Biru

26 Jul 2026
258 x Dilihat
Share :

Simpang Rahasia Biru

Langit di atas Sampura perlahan meredup, melarutkan warna-warna senja ketika Sanjaya, yang kini telah duduk terpaku di dalam bus yang merayap di atas aspal baru, baru saja melewati simpang jalan kampung itu. Sisa cahaya matahari menggantung tipis di ufuk barat, seolah enggan benar-benar tenggelam, serupa seseorang yang berdiri di ambang pintu rumah sambil terus menoleh ke belakang karena masih ada sesuatu yang belum sanggup ia lepaskan.

Dari simpang jalan yang mengarah ke Kampung Sampura, ia alihkan pandangannya menatap bentangan jalan yang menanjak, menembus kabut, menuju sebuah kota yang jauh sebagai tujuan yang sebentar lagi harus ia tempuh.

Meskipun deru mesin bus mulai menderu, di dalam batinnya ia seolah masih mendengar suara dedaunan pepohonan yang saling bergesekan ditiup angin petang. Suara yang berpadu dengan langkah-langkah kaki khayali, memecah kesunyian dengan irama yang nyaris menyerupai sebuah doa. Getar kendaraan itu perlahan menjauhkannya secara fisik dari Sampura, tetapi justru setiap meter jarak yang tercipta membawa nama Riana semakin lekat menghuni ruang terdalam hatinya.

Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah pikirannya berjalan lebih lambat daripada gerak tubuhnya yang terbenam di jok kursi kendaraan. Menengok dari balik kaca pada kejauhan, pada gugusan perbukitan yang mulai diselimuti kabut tipis turun perlahan bagaikan selembar kain putih yang menutupi luka bumi agar tidak terlalu tampak dari pandangan.

Sanjaya memandang ke arah kampung halaman yang mulai menghilang ditelan kelokan jalan. Ada perasaan ganjil yang mengembang di dadanya, sebuah resonansi rasa yang tidak sepenuhnya sedih, namun juga jauh dari kata tenang. Rasanya persis seperti seseorang yang baru saja merampungkan sebuah buku tanpa penutup cerita, pada halaman terakhir telah habis dibaca, tetapi benaknya masih sibuk merajut kelanjutan yang tak pernah sempat dituliskan.

Ketika bus itu melaju semakin jauh, meninggalkan kampung-kampung kecil di sepanjang rute perjalanan, bayangan-bayangan yang sejak tadi berusaha ia tepis justru datang duduk tenang di sampingnya. Mereka hadir bukan sebagai wujud manusia, melainkan sebagai serpihan kenangan yang diam-diam memiliki denyut kehidupannya sendiri.

Seolah-olah tatapan mata Riana, gema suara langkahnya, serta senyum yang barangkali tak pernah benar-benar ditujukan kepadanya, datang silih berganti mengisi ruang kosong di kepalanya. Kenangan ternyata tidak pernah membutuhkan raga untuk tetap bernyawa. Dengan cukup menumpang pada ingatan, lalu tumbuh merayap perlahan seperti lumut di dinding tua yang selalu menemukan cara untuk bertahan meski musim terus berganti.

Sanjaya menarik napas dalam-dalam. Di balik kaca jendela bus yang mulai berembun, hamparan sawah bergerak mundur perlahan, seolah waktu sedang memperagakan bagaimana segala sesuatu di dunia ini pada akhirnya memang diciptakan untuk ditinggalkan. Namun anehnya, hati kecilnya justru berayun ke arah yang berlawanan. Semakin jauh roda kendaraan membawanya menuju belantara kota, semakin dekat pula ia merasa pulang kepada hari-hari yang selama ini ia simpan rapat-rapat. Barangkali, pikirnya, begitulah cara kerja kenangan saat raga manusia boleh berpindah ke ujung dunia, tetapi hati kerap kali memilih untuk tetap tinggal di koordinat terakhir yang mengajarinya arti mencintai.

Di dalam dekap dadanya yang bergeming, di antara detak jantung yang berdetak sabar mengiringi laju bus membelah malam, sebuah percakapan bisu yang tak pernah benar-benar terjadi di dunia nyata kembali berkelebat dan bergema tajam. Pertanyaan itu mengambang di udara kabin yang dingin, diulang-ulang oleh memori yang enggan mati.

"Kalau suatu hari aku pergi, apa kau akan mengingatku?" bisik suara itu, lahir dari relung sunyi yang hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri. Sebuah gaung masa lalu yang disuarakan oleh bayangan seorang gadis bersepatu ungu di bawah langit Sampura.

Tidak ada jawaban yang memecah keheningan malam itu. Hanya deru mesin kendaraan yang mendengung konstan, serupa seseorang yang terus merapalkan kalimat dalam bahasa asing yang tak pernah seutuhnya mampu ia pahami, namun tetap ia dengarkan dengan seksama hingga penghujung usia.

Dan malam pun akhirnya merayap turun ketika Sanjaya benar-benar melintasi batas terluar kota kecamatan. Lampu-lampu rumah penduduk menyala satu demi satu, tampak berpendar kecil dari kejauhan, menyerupai kunang-kunang lelah yang tengah mencari arah pulang. Ia menyandarkan pelipisnya pada kaca jendela yang kian mendingin. Pantulan wajahnya tampak samar, bertumpuk dengan bayangan pepohonan luar yang berlari mundur. Pada detik itulah ia menyadari sepenuhnya bahwa perjalanan pulang ternyata bukanlah sekadar urusan berpindah dari satu titik geografis ke titik yang lain. Perjalanan pulang adalah sebuah ziarah batin yang memaksa seseorang berjalan menembus labirin dirinya sendiri.

Di sepanjang sisa jalanan itu, Sanjaya diam-diam mengucapkan selamat tinggal. Bukan kepada kampung halamannya, bukan pula kepada aspal panjang yang baru saja ia tinggalkan di belakang. Ia sedang berpamitan kepada seseorang yang bahkan belum pernah seutuhnya ia sapai. Ada kegetiran yang lembut di sana, tetapi kegetiran itu tidak lagi merobek-robek seperti dahulu. Ia telah bermetamorfosis menjadi sesuatu yang lebih tenang dan matang serupa aliran sungai yang setelah sekian lama menghantam bebatuan cadas, akhirnya menemukan dataran luas untuk mengalir tanpa perlu lagi tergesa-gesa di muara. Luka yang tadinya mengamuk bagaikan badai, kemudian perlahan menjelma gerimis yang tetap membasahi bumi, tetapi tak sanggup merobohkan apa pun.

Ketika kendaraan itu merapat dan berhenti di terminal kecil sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju kota, Sanjaya turun sejenak sekadar untuk meregangkan tubuh yang kaku. Udara malam menyergap, terasa jauh lebih dingin daripada biasanya, menusuk hingga ke balik jaket tipisnya. Di bawah temaram lampu neon terminal yang berdengung lesu, seorang penjual kopi tua memandangnya lekat sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat pengalaman.

Di bawah temaram lampu neon terminal yang berdengung lesu, seorang penjual kopi tua dengan garis-garis lelah di wajahnya memandang Sanjaya lekat-lekat, lalu menyunggingkan senyum tipis yang sarat pengalaman.

"Jauh dari mana, Nak?" sapa lelaki paruh baya itu ramah, memecah kesunyian malam yang membeku di antara bangku-bangku usang.

Sanjaya menoleh perlahan, menarik napas berat sebelum menjawab, "Dari Sampura, Pak," suaranya meluncur lirih, hampir tenggelam diembus angin terminal yang bergesekan dengan badan bus.

Lelaki tua itu memperhatikan sorot mata Sanjaya yang menatap kosong ke kejauhan, seolah tengah menerawang menembus batas malam. "Wajahmu menyerupai orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang amat berharga," ujarnya pelan, penuh ketukan makna.

Sanjaya tersenyum kecil. Senyum hambar yang lebih mirip usaha mati-matian untuk menyembunyikan retak di dada daripada sebuah tanda kebahagiaan. "Mungkin memang begitu kenyataannya, Pak," gumamnya getir.

Si penjual kopi tidak langsung menyahut. Membiarkan keheningan merayap sejenak sebelum kembali bersuara, “Lalu, apakah yang hilang itu masih bisa dicari dan dibawa kembali?”

Sanjaya terdiam cukup lama. Ia membiarkan angin malam menyapu wajahnya yang penat, membiarkan memori tentang jalanan berdebu di kampung halamannya berkelebat di kepala, sebelum akhirnya ia menggeleng perlahan.

“Yang hilang bukan wujud orangnya.”

Lelaki tua itu mengernyitkan dahi, menangkap kedalaman di balik nada bicara anak muda di hadapannya. “Lalu, apa?”

"Kesempatan," jawab Sanjaya tandas, cukup singkat dan membawa beban berat masa lalu yang akhirnya tuntas ia lepaskan di udara malam.

Penjual kopi itu mengangguk takzim tanpa mendesak untuk bertanya lebih jauh. Hanya menuangkan air panas ke dalam ceret, lalu meracik secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis ke gelas kaca mulai berembun.

"Jika begitu keadaannya, minumlah dahulu. Kadang kala, hidup tidak serta-merta memberi kita jawaban yang kita pinta. Ia hanya menghadirkan waktu, agar luka perlahan bermetamorfosis menjadi pelajaran hidup," tutur sang penjual bijak.

Kalimat sederhana itu menempel begitu lama di kepala Sanjaya, bagaikan embun pagi yang enggan jatuh dari ujung daun meski angin petang terus menggoyangnya. Ia menyesap kopi itu perlahan-lahan. Rasanya pekat dan pahit, namun ada kehangatan yang mengalir merambat hingga ke relung dadanya. Barangkali memang demikianlah cara semesta bekerja; tidak semua kepahitan hadir semata-mata untuk menyiksa, sebab sebagian justru sengaja diturunkan agar manusia mengerti betapa manisnya rasa yang kelak akan ia temui di ujung penantian.

Selepas bus kembali menderu melanjutkan perjalanan, Sanjaya mendongak, memandang ke arah langit yang kini bertabur ribuan bintang. Di antara hamparan cahaya yang berkelap-kelip itu, ia merasa setiap bintang menyerupai arsip rahasia tentang seseorang yang pernah menunggu, pernah patah, lalu diam-diam belajar cara menerima. Langit malam baginya menjelma lembaran kitab kuno yang ditulis dengan bahasa semesta dan manusia hanya mampu mengeja sebagian kecil isinya, sementara sisanya dibiarkan menjadi misteri abadi yang hanya dipahami oleh waktu.

Di tengah keheningan kabin bus itu, Sanjaya akhirnya membiarkan bibirnya membisikkan sesuatu yang sejak tadi tertahan di dalam tenggorokan.

"Selamat malam, rahasia biruku." Kalimat itu meluncur nyaris tanpa suara, lebur bersama embun malam dan angin yang berembus dari petak-petak sawah menuju perkampungan sunyi, sebelum akhirnya lenyap ke dalam pekat tanpa pernah menuntut jawaban.

Nama Riana tetap tersimpan rapi di sudut paling hangat di dalam dirinya. Namun, ada yang berbeda kemudian ia tidak lagi menggenggam nama itu terlalu erat hingga melukai jemarinya sendiri. Sanjaya memilih memperlakukannya seperti seseorang yang menyimpan sebutir benih di dalam tanah subur. Tidak dipaksa untuk lekas tumbuh, tidak pula dicabut karena rasa kecewa yang terlanjur. Ia membiarkannya beristirahat, sebab ia mulai percaya bahwa ada perasaan-perasaan tertentu yang justru jauh lebih indah hidup sebagai kenangan abadi alih-alih dipaksa menjadi kenyataan yang melelahkan.

Perjalanan menuju kota masih terbentang panjang. Jalan raya meliuk seperti seutas garis takdir yang merahasiakan ke mana ujung sesungguhnya bermuara. Sanjaya memandang lurus ke depan melalui kaca jendela. Di belakangnya, Sampura perlahan lenyap ditelan selimut malam, dan di hadapannya, kota besar telah bersiap menyambut dengan segala riuh rendah dan kesendiriannya yang khas. Di antara dua dunia itu, ia duduk sebagai seorang musafir muda yang baru saja mendewasa, memahami bahwa terkadang perjalanan paling berat bukanlah meninggalkan sebuah tempat, melainkan meninggalkan seseorang yang diam-diam telah menjadikan hatinya sebagai rumah, meski sang pemilik rumah sendiri tak pernah tahu bahwa ia pernah singgah dan tinggal di sana.

Bus terus melaju membelah malam, bagaikan sungai sunyi yang tak pernah repot-repot bertanya kepada batu-batu di tepinya mengapa ia harus terus mengalir. Sementara lampu-lampu jalan berkelebat silih berganti di balik kaca, menyerupai potongan kenangan yang menyala sesaat lalu tenggelam kembali ke dalam gulita.

Di sela-sela perjalanan yang panjang itu, raga Sanjaya memang bergerak semakin jauh meninggalkan tanah kelahiran, tetapi jiwanya masih melangkah pelan di pematang jalan kecil tempat ia meninggalkan sebagian serpihan dirinya.

Ia memejamkan mata rapat-rapat. Bukan untuk menyerah pada lelah, melainkan agar ia dapat mendengar getaran suara hatinya sendiri dengan lebih jernih. Mendengar yang ada kalanya dunia luar terlalu gaduh, lalu memaksa manusia untuk menutup indra penglihatannya agar mampu melihat isi batin yang paling jujur.

Dan di dalam gelap kelopak matanya yang terpejam, wajah Riana kembali hadir bukan lagi sebagai sosok menghantui yang menggolakkan debar di dada Sanjaya, melainkan sebagai cermin bening yang memantulkan siapa dirinya selama ini.

Barangkali, pikir Sanjaya dalam keheningan batinnya, cinta pertama memang tidak pernah ditakdirkan untuk dimiliki sepenuhnya. Ia hadir menyerupai embun jernih yang singgah di ujung daun menjelang fajar menyingsing, yang indah dipandang mata, sejuk menyentuh kulit saat disapa cahaya matahari pertama, tetapi cepat atau lambat pasti akan menguap tanpa sempat tergenggam erat. 

Manusia kerap keliru mengira embun itu pergi karena mengkhianati daun yang ditinggalkannya. Padahal sejak detik pertama ia diciptakan, embun memang hadir untuk mengajarkan tidak semua keindahan di dunia ini diciptakan untuk menetap selamanya. Sebagian hanya mampir sejenak agar manusia belajar mensyukuri arti sebuah kehadiran.

Pemahaman itu merambat turun secara perlahan, setenang kabut pagi yang menyelimuti lembah tanpa pernah meributkan suara. Sanjaya tidak merasa sedang menemukan jawaban agung atas segala teka-teki hidup. Ia hanya merasa tengah dipeluk hangat oleh sebuah kesadaran baru, kesadaran yang selama ini sabar menanti waktu yang tepat untuk mengetuk pintu hatinya yang paling dalam.

Sanjaya teringat kembali bagaimana dahulu ia mengira cinta adalah sebuah perlombaan untuk sampai lebih dulu, untuk berdiri sedekat mungkin dengan seseorang yang dikagumi, serta memperjuangkan segala kemungkinannya hingga batas tertinggi. Namun setelah roda kehidupan membawanya melewati sekian banyak tikungan sunyi, ia mulai menyadari bahwa hakikat cinta jauh lebih menyerupai sebuah pendakian gunung yang panjang. Cinta bukan semata-mata tentang bagaimana mencapai puncak tertinggi, melainkan tentang bagaimana setiap tanjakan terjal, setiap embusan napas yang memburu, dan setiap luka lecet di telapak kaki, secara perlahan menempa dan mengubah seseorang menjadi pribadi yang jauh lebih tangguh ketika ia melangkah turun kembali ke lembah.

Bus malam itu berguncang hebat seketika, menghentak jok-jok penumpang tatkala roda-rodanya yang kelelahan menghantam ruas aspal yang mengelupas dan berlubang dalam di tengah gulita yang pekat.

"Maaf ya, jalannya memang agak rusak begini, maklum jalur tua," ucap sang sopir dengan nada ramah yang berusaha mencairkan ketegangan, seraya melempar senyum kecil penuh pengertian melalui pantulan kaca spion tengah yang bergetar.

Sanjaya yang tengah melamun menatap keluar jendela lekas mengangguk maklum, membiarkan tubuhnya kembali mengikuti ritme goyangan kendaraan. "Tidak apa-apa, Pak. Perjalanan ini memang butuh jalan yang tidak selalu mulus," jawabnya tenang, menyembunyikan sisa-sisa penat di balik tarikan napasnya yang panjang.

Bagi Sanjaya, jalanan yang bergelombang itu tiba-tiba terasa begitu mirip dengan perjalanan hidupnya sendiri. Tidak semua guncangan dan rintangan di dunia ini harus dimusuhi atau disesali. Sebagian di antaranya memang harus dilewati agar manusia kelak menyadari betapa mahalnya arti sebuah jalan yang tenang dan rata.

Di balik kaca jendela yang mulai dingin, malam kian pekat merangkul bumi. Sang rembulan menggantung seorang diri di langit luas, dikelilingi oleh gugusan bintang yang tampak begitu berjauhan satu sama lain. Namun justru karena jarak yang memisahkan itulah, langit malam terlihat begitu memesona. 

Sanjaya tersenyum tipis dalam diam. Barangkali kedekatan fisik bukanlah satu-satunya cara untuk merajut makna. Ada ikatan-ikatan tertentu di dunia ini yang justru menjadi jauh lebih indah karena dijaga oleh batas dan jarak serupa langit dan bumi yang tak pernah benar-benar bersentuhan, tetapi terus saling melengkapi dalam harmoni semesta sehingga kehidupan tetap berdenyut.

Perlahan namun pasti, ia mulai berdamai dengan gejolak di dalam pikirannya sendiri. Dahulu ia sempat percaya bahwa keberanian sejati berarti berdiri tepat di hadapan Riana, menumpahkan seluruh isi hati tanpa menyisakan satu kata pun. Ia membayangkan pengakuan itu sebagai sebuah pintu magis yang akan membukakan segala kemungkinan. Namun kemudian ia memahami sesuatu yang jauh lebih sunyi dan mendalam bahwa keberanian ternyata tidak selalu harus berwujud suara atau ucapan yang tersampaikan. Ada saat-saat dalam hidup ketika keberanian justru hadir dalam bentuk kebesaran jiwa untuk memelihara diam, tanpa membiarkan diam itu berubah menjadi racun penyesalan.

Bagi Sanjaya, diam bukan lagi sebuah ruang tahanan yang menyiksa. Diam telah bermetamorfosis menjadi ruang kontemplasi, tempat ia belajar mengenali peta batinnya sendiri. Serupa sebutir benih yang rela melewatkan berbulan-bulan lamanya di dalam dekap tanah yang gelap gulita, sebelum akhirnya cukup kuat menembus permukaan bumi sebagai tunas muda yang perkasa. Tidak ada satu pun mata yang menyaksikan perjuangan senyap benih itu di dalam tanah, tetapi justru di tempat tersembunyi itulah keajaiban kehidupan sedang bekerja dengan cara yang paling sungguh-sungguh.

Di dalam dekap kabin bus yang pengap dan senyap, di antara deru mesin yang tak pernah lelah merapal ritmenya sendiri, Sanjaya merenung dalam-dalam hingga pertanyaannya terlepas begitu saja dari batas kesadarannya.

"Apa semua perasaan harus selalu diucapkan?" bisiknya lirih di dalam hati, membiarkan keraguan itu berputar di antara dinding-dinding pikirannya yang lelah.

Tidak ada suara manusia yang menjawab pertanyaan itu; tidak pula ada kawan seperjalanan yang sudi menoleh atau peduli pada gemuruh batin seorang anak muda yang tengah berdamai dengan masa lalunya.

Namun angin malam yang sesekali menyusup masuk dengan lancang dari celah kaca jendela yang tak rapat tertutup seolah datang membawa sebuah jawaban tak berwujud kata, sebagai isyarat sunyi yang merayap lembut menyentuh kulit pipinya.

Tidak. 

Tidak semua perasaan di dunia ini diciptakan untuk dirangkum menjadi kalimat. Ada rasa yang sudah lebih dari cukup bila hanya hidup sebagai bait-bait doa. Ada pula yang cukup tinggal bersemayam sebagai kenangan manis. Dan sebagian lainnya terkadang ditakdirkan untuk menjadi cahaya pelita kecil yang diam-diam menerangi jalan orang lain, meski sang pemilik cahaya sendiri tak pernah tahu bahwa ia telah menyelamatkan langkah seseorang dari ketersesatan.

Kesadaran itu membuat rongga dada Sanjaya terasa jauh lebih longgar dan lapang. Beban emosi yang selama ini ia pikul bertahun-tahun meluruh sedikit demi sedikit, bagaikan dedaunan tua yang akhirnya rela melepaskan diri dari ranting setelah sekian lama bertahan. Pohon tidak pernah menangisi daun-daunnya yang gugur ke tanah, sebab ia tahu musim yang baru akan selalu menumbuhkan tunas dan daun-daun yang lebih segar. Begitu pula dengan hati manusia tidak ada satu pun bentuk kehilangannya yang benar-benar sia-sia, selama kehilangan itu berhasil mengajarkan cara untuk bertumbuh dewasa.

Ingatannya kembali melompat jauh ke masa lalu. Saat melihat kembali sosok dirinya yang kerap mencuri-curi pandang dari balik jendela, yang langkah kakinya selalu melambat manakala melintasi koridor di depan kelas Riana. Ia teringat bagaimana debar jantungnya mendadak kacau hanya karena mendengar samar bunyi langkah sepatu kets putih yang dikenakannya. Bahkan gelang lilitan benang wol sederhana yang bertuliskan nama Riana, yang pernah tersimpan di sudut paling gelap laci kamarnya, kembali berkelebat di benaknya.

Dulu, benda sepele itu terasa seperti harta karun paling berharga di muka bumi. Ia merawat dan menjaganya dengan hati-hati, seolah seutas benang tipis sanggup menjembatani jarak yang terbentang panjang di antara dua jiwa. Namun kini ia menyadari, gelang itu sejatinya tidak pernah benar-benar menghubungkannya dengan Riana. Yang diikat oleh benang tersebut sesungguhnya adalah perjalanan batinnya sendiri, sebagai catatan kaki tentang seorang pemuda yang tengah belajar mengeja arti ketulusan berharap.

Sanjaya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Aneh sekali, batinnya berbisik. Kenangan-kenangan itu kini tak lagi meninggalkan rasa sesak yang menyiksa. Dengan segala ingatan itu memang masih datang berkunjung dan mengetuk pintu, tetapi kedatangannya tidak lagi membawa badai. Rasanya bagaikan melangkah masuk ke dalam sebuah rumah masa kecil yang telah lama ditinggalkan. Ruangan itu kemudian kosong, kursi-kursinya berdebu, dan jendelanya mulai dimakan usia, namun kehangatan dari cerita yang pernah tercipta di dalamnya tidak pernah benar-benar mati. Kesunyian rumah itu tidak lagi menakutkan, melainkan menjelma sebuah altar syukur yang mengingatkan betapa berharganya setiap perjumpaan yang pernah singgah dalam hidupnya.

"Terima kasih..." gumam Sanjaya sangat pelan, meresapkan setiap patah kata itu ke dalam keheningan, membiarkannya menyatu bersama deru mesin malam dan embusan angin dingin yang merangsek masuk, membawa pergi seluruh sisa penyesalan yang selama ini mengerak di dada.

Lamunannya yang melayang jauh seketika buyar tatkala seorang penumpang tua yang duduk di kursi sebelah menoleh pelan, pandangannya menyipit di balik temaram lampu kabin bus yang berpendar kuning redup.

"Kamu tadi bicara sama saya, Nak?" tanyanya dengan suara serak khas orang tua yang telah makan asam garam kehidupan.

Sanjaya tersenyum malu, pipinya merona tipis di dalam gelapnya sudut kursi. “Bukan, Pak.”

"Lalu, dengan siapa dari tadi kamu ngerocos sendiri?" cecar lelaki paruh baya itu dengan nada penasaran yang dibungkus senyum maklum.

Sanjaya tidak lantas menjawab. Hanya mengalihkan tatapannya kembali ke luar jendela, menembus kaca berembun yang memantulkan bayangan samar wajahnya sendiri. "Dengan masa lalu," jawabnya lirih.

Lelaki tua itu terkekeh pelan, tawanya renyah namun sarat akan pengalaman hidup yang panjang. “Wah, kalau begitu, semoga masa lalumu mau mendengarkan dan mengampuni segala anganmu.”

Sanjaya mengangguk tenang, membiarkan dadanya lapang. “Mungkin tidak perlu mendengar, Pak. Cukup pernah ada, itu saja sudah lebih dari cukup.”

Jawaban itu seketika membuat lelaki tua tersebut terdiam beberapa saat, merenungi kedalaman makna dari kalimat yang terlontar dari bibir seorang pemuda. Ada keheningan yang merasuk dan menghangat di udara di antara mereka sebelum akhirnya sang kakek tertegun, lalu menepuk bahu Sanjaya dengan penuh kehangatan, sebuah gestur solidaritas antarmusafir sebelum kembali mematut pandangan ke arah gulita jalanan di depan.

Di dalam relung hatinya yang paling sunyi, di antara gemeretak malam yang semakin larut, Sanjaya melanjutkan deretan kalimat tak bertepi yang tak pernah sempat ia ucapkan secara nyata kepada dunia:

Terima kasih karena dahulu pernah tidak mengetahui segala isi perasaanku yang begitu membuncah.

Terima kasih sebab ketidaktahuanmu telah bertindak sebagai benteng pelindung, menjaga harapanku dari rasa malu yang barangkali belum sanggup kutanggung pada usia yang masih begitu belia dan rapuh.

Terima kasih pula karena tanpa pernah kau sadari, kau telah mengajariku sebuah pelajaran hidup yang paling berharga bahwa ada orang-orang yang hadir di muka bumi ini bukan untuk menetap sebagai rumah, melainkan untuk mengubah garis edar hidup seseorang dengan cara yang paling ajaib, bahkan tanpa mereka sendiri ketahui.

Riana mungkin hanyalah seorang gadis remaja yang menjalani hari-harinya seperti yang lain. Melangkah anggun di atas jalanan Sampura dengan sepatu ungu yang bersahaja, membagikan tawa renyah bersama para sahabatnya, lalu pulang ke rumah tanpa pernah menduga bahwa di sudut jalan pesawahan yang berdebu, ada seorang anak lelaki yang diam-diam sedang belajar merangkai anatomi rasa, memahami geografi jarak, serta mengukur luasnya kesabaran yang dapat tumbuh di dalam rongga dada manusia.

Malam terus berarak menapaki waktunya. Begitu pula roda kehidupan yang tak pernah mau berhenti berputar. Dan di tengah perjalanan yang panjang menuju kota besar itu, Sanjaya akhirnya mengerti sepenuhnya akan beberapa manusia memang tidak pernah dikirim oleh takdir untuk tinggal selamanya di dalam lembaran hidupnya.

Ada yang datang bagaikan nyala sebatang korek api yang digoreskan di tengah pekatnya gulita. Nyalanya kecil, usianya amat singkat, tetapi pijarnya sudah lebih dari cukup untuk memperlihatkan arah jalan kepada seseorang yang tadinya tersesat dalam gelap. Setelah tugas itu selesai, nyala itu pun padam dengan sendirinya, sementara orang yang telah menemukan jalannya harus melanjutkan sisa perjalanan dengan cahaya yang justru tumbuh berpijar dari dalam hatinya sendiri.

Dan bus terus melaju, membawa Sanjaya semakin jauh dari masa lalu dan semakin dekat pada takdir yang menantinya di ujung malam. Kota di depan telah menyala, menawarkan ribuan tanya yang belum terjawab. Namun ia tidak lagi gentar. Di dalam dadanya, rindu telah menemukan bentuknya yang paling ikhlas. Bukan lagi sebagai beban yang menyeret ke belakang, melainkan sebagai kompas yang menuntunnya melangkah ke depan.

Ia menutup mata, membiarkan deru mesin mengantar keheningan terakhir. Babak masa remaja telah resmi ditutup, dan di atas lembaran kertas putih yang baru, lembaran hidupnya yang sebenarnya baru saja dimulai. (Sal)

Perspektif

Scroll