Simpul Senja Perjalanan

Musim terus berganti tanpa pernah meminta persetujuan manusia. Pohon-pohon di tepi jalan sekolah...

Simpul Senja Perjalanan

29 Jul 2026
318 x Dilihat
Share :

Simpul Senja Perjalanan

Musim terus berganti tanpa pernah meminta persetujuan manusia. Pohon-pohon di tepi jalan sekolah beberapa kali menggugurkan daunnya, lalu diam-diam menumbuhkan pucuk-pucuk baru yang lebih hijau. Hujan datang dan pergi, menyisakan tanah yang basah dan aroma yang selalu berhasil membangunkan kenangan-kenangan lama. Sementara itu, Sanjaya perlahan belajar melakukan sesuatu yang selama ini terasa paling sulit untuk membiarkan waktu bekerja tanpa terus-menerus mencampuri caranya.

Ia tidak lagi memaksa dirinya untuk melupakan Riana. Semakin ia berusaha menghapus satu nama dari ingatannya, semakin jelas nama itu terukir di dalam batinnya. Ia akhirnya mengerti bahwa ingatan tidak dapat diperlakukan seperti tulisan di papan tulis yang bisa dihapus begitu saja dengan sepotong kain. Ingatan lebih menyerupai akar pohon yang telah lama menyusup ke dalam tanah. Tidak terlihat dari permukaan, tetapi diam-diam mengikat begitu banyak lapisan kehidupan di bawahnya. Mencabutnya dengan paksa hanya akan merusak tanah tempat akar itu pernah tumbuh.

Maka Sanjaya memilih jalan yang lain. Sebuah jalan sunyi yang menuntut kebesaran jiwa. Ia membiarkan nama itu tetap tinggal, merajut abadi di dalam ruang-ruang kesadarannya. Sebuah nama yang mulanya harus dipaksa agar tak lagi bersemayam di altar ramai di pikirannya. Seiring waktu namanya akan bersemayam di sudut paling tenang di kedalaman batinnya, tempat di mana ia dapat mengenangnya tanpa harus tersiksa oleh cengkeraman hasrat untuk memiliki yang sia-sia.

Setiap kali bayang-bayang Riana melintas lembut dalam benaknya, gelombang di dadanya tak lagi harus bergemuruh seperti karamnya kapal. Ia merasa sudah selayaknya ketika seseorang tengah membuka kembali lembaran sebuah buku tua, yang sampul kertasnya telah menguning dan memudar dimakan usia, dan aksara-aksara yang tertulis menorehkan kisah yang tak berubah, masih ada bait-bait kalimat yang pernah meremukkan dada dan menyesakkan pernapasan, lalu kemudian ia mampu membaca kembali setiap barisnya sembari menyunggingkan senyum yang amat kecil. Bukan karena ujung cerita itu berubah menjadi dongeng yang bahagia, melainkan karena ia menyadari bahwa dirinya telah tumbuh menjadi pembaca yang jauh lebih dewasa, yang mengerti bagaimana cara memaafkan akhir cerita yang tak sesuai harapannya.

Dalam langkah panjang perjalanannya menuju sebuah kota asing di ujung cakrawala, ingatan itu membawanya kembali pada suatu senja di masa lalunya. Saat sepulang dari sekolah, ketika sang surya mulai condong ke peraduan barat dan menumpahkan cahaya keemasannya yang lembut di sepanjang jalan setapak Cibantar, Sanjaya berjalan seorang diri dalam keheningan yang panjang.

Angin lembap bertiup pelan dari arah ketinggian bukit, membelai pucuk-pucuk ilalang yang tumbuh liar di tepi pematang sawah, membuatnya meliuk-liuk bagaikan riak lautan kecil yang tak bertepi, seolah sedang berbisik dan memanjatkan rahasia kepada langit senja yang mulai temaram.

Ia melangkah pelan hingga akhirnya terhenti pada sebuah jembatan kecil, tempat di mana riak air sungai mengalir dalam ketenangan yang abadi, membawa serta bayang-bayang senja menuju muara Sungai Medang. Cukup lama ia terpaku di sana, membiarkan pandangannya terhanyut bersama arus yang tak pernah meminta jeda, hingga sebuah kalimat terbit begitu saja dari kedalaman batinnya yang paling sunyi, “Air tidak pernah kembali ke hulu.”

Kalimat itu meluncur berat, seolah digemakan oleh usia bumi yang jauh melampaui napasnya sendiri. Karena kemudian menyadari sepenuhnya bahwa takdir manusia berjalan di atas jalur yang sama. Tidak ada lagi jalan setapak untuk kembali menjadi sosok yang ia kenal sebelum mengenal Riana, sebagai pribadi sebelum hatinya bersentuhan dengan badai dan keindahan yang meruntuhkan. Tidak ada pula mantra atau cara apa pun untuk memutar waktu dan mengembalikan hari-hari naif ketika ia masih meyakini bahwa mencintai adalah tentang memiliki seutuhnya.

Dan barangkali, memang sedemikian rupa ketetapan semesta. Sebab sungai yang dipaksa berbalik arah menuju hulu bukanlah lagi sungai yang merdeka. Ia hanya akan menjadi genangan mati yang kehilangan arah, kehilangan tujuan suci, bahkan kehilangan esensi dirinya sendiri.

Di tengah keheningan atas jembatan itu, sebuah suara memecah lamunan Sanjaya, "Ngapain bengong sendirian?" Sanjaya menoleh dengan tenang, mendapati Ipang berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan tas sekolah yang tersampir longgar di salah satu bahu.

"Cuma lihat air," jawab Sanjaya singkat.

"Airnya menarik?" tanya Ipang, nada penasarannya terselip di balik senyum kecil.

Sanjaya menyunggingkan senyum tipis, samar namun penuh makna. “Bukan airnya.”

“Lalu?”

“Perjalanannya.”

Ipang melangkah mendekat, menyusul dan ikut menaruh kedua sikunya di atas bilah pagar jembatan yang mulai dimakan usia. “Apa yang istimewa dari perjalanan air?”

Sanjaya mengangkat tangan, telunjuknya menunjuk lurus ke arah riak yang terus berarak menuju hilir. "Lihat." Ipang mengikuti arah pandang itu dengan seksama. 

"Air itu menubruk batu, menggilas lumpur, menyeret ranting kering, bahkan merangkul sampah yang kotor," lanjut Sanjaya dengan suara berbisik pelan. “Tapi ia tidak pernah kehilangan jati dirinya sebagai air, hanya karena ia harus melewati semuanya.”

Ipang tertegun sejenak, lalu mengangguk perlahan, meresapi setiap suku kata yang meluncur dari sahabatnya. “Lalu?”

“Aku ingin menjadi seperti itu.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, utuh dan bernyawa, meskipun hidup terus mempertemukanku dengan segala kesedihan dan kepedihan.”

Ipang tidak langsung menyambut kata-kata itu dengan jawaban. Ia membiarkan angin sore membawa keheningan di antara mereka berdua. Beberapa saat kemudian, dengan penuh kehangatan, ia menepuk pelan bahu sahabatnya.

"Kurasa... kau telah menjelma menjadi orang semacam itu," yang membuat Sanjaya tersenyum. Bukan senyum yang merekah karena seluruh lukanya telah sembuh tanpa bekas, melainkan senyum tulus yang lahir ketika seseorang akhirnya berdamai dan berhenti bertengkar dengan kenyataan.

Langit sore perlahan-lahan merentangkan jubah jingganya, membakar mega di ufuk barat. Gerombolan burung kembali bergegas menuju sarang di peraduan. Di kejauhan, sayup-sayup suara azan magrib mulai mengalun lirih, merayap lembut melewati pematang sawah yang menghijau, jajaran pepohonan yang merunduk, hingga atap-atap rumah penduduk yang mulai menyalakan lampu pelita. Alunan itu meresap ke dalam pori-pori senja, menciptakan keheningan yang agung, seolah seluruh alam semesta sedang menunduk sejenak untuk mengingat bahwa segala sesuatu di kolong langit ini pada akhirnya akan kembali kepada asalnya.

Di tengah keheningan yang meraja, Sanjaya memejamkan kelopak matanya. Di dalam bilik hatinya yang paling dalam, ia kembali menyebut satu nama. Bukan dengan suara yang gemetar penuh harap, bukan pula dengan cengkeraman rasa ingin memiliki, melainkan seperti seseorang yang dengan ikhlas menyelipkan selembar doa suci ke dalam lipatan waktu.

“Semoga kau selalu baik-baik saja, Riana.”

Tiada lagi air mata yang tumpah. Yang tertinggal hanyalah kehangatan asing yang perlahan merayap, memenuhi rongga dadanya dengan kedamaian yang tak bernama.

Sanjaya teringat betapa dahulu nama itu adalah teriakan yang terus bergema di dalam kepalanya. Nama yang sama kemudian berubah menjadi doa yang tidak membutuhkan jawaban. Doa yang tidak pernah memaksa langit untuk segera mengabulkannya. Hanya percaya saja bahwa setiap ketulusan akan menemukan jalannya sendiri, meski harus menempuh waktu yang panjang.

Di dalam ruang bus yang melaju membelah keheningan malam, Sanjaya terpaku tak bergerak, membiarkan seluruh tubuhnya tenggelam sepenuhnya dalam empuk jok kursi yang menyangga letihnya. Sepasang matanya menatap lurus menembus kaca jendela yang berdebu tipis, menangkap detik-detik terakhir ketika sang surya perlahan-lahan tergelincir turun ke peraduannya di ujung cakrawala barat, menelan sisa-sisa cahaya hari yang keemasan ke dalam dekap malam yang merayap dingin.

Bagi Sanjaya, senja tidak pernah sekadar pergantian waktu yang berlalu begitu saja. Baginya itu sebuah madah sunyi yang selalu sabar mengajarkan rahasia kehidupan kepadanya. Ia tidak pernah sekali pun menitikkan air mata atau meratapi kepergian matahari yang tenggelam di balik garis horizon, sebab tahu betul bahwa remuknya siang bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah keniscayaan.

Alih-alih membiarkan jiwanya terkurung dalam dekap kesedihan atas sisa-sisa cahaya yang kian meredup di ufuk barat, Sanjaya senantiasa meneguhkan keyakinan di dalam batinnya agar setiap jejak langkahnya tetap tegap dan sigap dalam merawat kesadaran untuk terus mempersiapkan diri, dengan telaten membentangkan jalan yang lapang, dan ikhlas di dalam lubuk hatinya demi menyambut datangnya malam yang hening.

Sebab, begitulah sesungguhnya roda kehidupan berputar tanpa henti, membawa umat manusia mengarungi siklus abadi yang penuh dengan gemercik keikhlasan untuk melepaskan segala hal yang telah pergi meninggalkan. Ia mengajari tentang seni merelakan, membuka pintu hati seluas-luasnya guna menyambut babak baru yang sudi merengkuh jiwa dalam dekap gelap yang menenangkan.

Di kolong langit ini, selalu ada orang-orang yang ditakdirkan hadir hanya sepanjang garis senja. Kehadirannya singkat bagai desir angin yang berhembus lewat, namun teramat cukup untuk membakar cakrawala dan mewarnai kanvas langit jiwa yang sebelumnya biasa-biasa saja. Setelahnya mereka berlalu pergi, membiarkan warna-warna jingga itu perlahan memudar dimakan pekatnya malam. Namun agungnya langit tidak pernah kehilangan kesetiaan maupun kemampuannya untuk kembali membentang luas, siap menyambut terbitnya fajar dan kemilau pagi di hari yang berikutnya.

Kesadaran yang meresap hingga ke relung jiwa itulah yang membuat langkah-langkah kaki Sanjaya terasa jauh lebih ringan, seolah beban tak kasat mata telah luruh ketika ia membalikkan badan dan kembali berjalan meninggalkan bilah-bilah jembatan kecil penyeberangan sungai.

Jalan panjang di hadapannya masih terbentang luas tanpa tepi, menantang waktu untuk ditaklukkan. Masih ada banyak tikungan tajam dan jalanan berbatu yang belum sempat ia lalui dalam sisa lembaran usianya. Masih ada banyak perjumpaan-perjumpaan tak terduga yang menyimpan rahasia takdir yang belum ia alami. Masih ada banyak pula bilur-bilur kehilangan yang mungkin saja masih sabar menunggunya di kelokan hari esok.

Ia merasa sudah saatnya melangkah bukan lagi sebagai seorang anak lelaki naif yang hidupnya tersandera dan hanya menghabiskan hari untuk mengejar bayangan semu seseorang. Tekadnya saat berjalan harus dengan dada membusung tegap sebagai seorang musafir muda yang telah berhasil membawa pulang mutiara hikmah paling berharga dari labirin cinta pertamanya.

Bahwa mencintai pada hakikatnya tidak selamanya harus bermakna memiliki seutuhnya. Demikian kehilangan bukanlah sebuah titik akhir yang mematikan segala harapan. Sebab diam dan memilih bungkam bukanlah selalu pertanda dari sebuah kekalahan batin.

Dan bahwa hati yang pernah remuk redam lalu patah berkeping-keping bukanlah bentuk dari sebuah kegagalan hidup, melainkan sebuah hati yang tengah ditempa oleh kebijaksanaan alam agar memiliki ruang yang jauh lebih luas dalam memeluk sesama manusia, merawat kenangan, serta menerima kenyataan pahit sekalipun.

Sore telah menjelma menjadi sebuah penanda agung yang tak pernah tertulis di dalam lembaran sejarah manapun. Tiada upacara kemegahan yang mengiringi langkah sunyinya. Tiada seorang pun saksi mata yang berdiri memperhatikan di tepi jalan. Tiada pula riuh suara tepuk tangan yang memberi penghormatan. Yang ada hanya ada seorang remaja yang berjalan tenang menyusuri jalan setapak pulang, dengan degup jantung dan ayunan kaki yang jauh lebih damai daripada sebelumnya. Di balik punggungnya, kenangan masa lalu tetap terpatri rapi di tempatnya, tetapi bayang-bayang itu tidak lagi berlari mengejarnya. Di hadapan tatapannya, masa depan masih diselimuti kabut malam yang samar, tetapi ia tidak lagi merasa gentar ataupun dirundung ketakutan.

Ia akhirnya mengerti sepenuhnya bahwa setiap manusia di bumi memang ditakdirkan memiliki satu tempat singgah abadi yang tidak pernah benar-benar bisa ditinggalkan oleh ruang dan waktu. Tempat itu bukanlah sebuah kota megah tempat ia mencari penghidupan dan menebar ambisi. Bukan pula sebuah kampung halaman tempat ia pertama kali mengenal dunia. Bukan pula sekadar bangunan fisik berdinding kayu yang dinamakan rumah surganya, melainkan sebuah masa di mana kepolosan ketika untuk pertama kalinya belajar mencintai dengan seluruh kejujuran dan kesucian jiwa yang dimilikinya.

Masa itu akan senantiasa hidup dan bernyawa di dalam batinnya, bagaikan mata air jernih yang tersembunyi sunyi di balik rimbunnya belukar kaki gunung. Alirannya mungkin tidak lagi menderu deras, tetapi ia tidak pernah benar-benar kering meski dihantam kemarau panjang. Sesekali, tatkala perjalanan hidup di dunia fana terasa begitu melelahkan dan menyesakkan dada, manusia akan kembali mencari dan meneguk airnya. 

Bagi Sanjaya dalam memandang perjalanan hidupnya bukan untuk tinggal dan menetap selamanya di masa lalu yang telah ia tinggalkan, melainkan sekadar untuk meresapi kembali sebuah rasa di masa itu, untuk mengingat bahwa dirinya pernah menjadi seseorang yang begitu tulus mencintai, bahkan ketika cintanya yang suci itu tak pernah menemukan dermaga untuk berlabuh.

Bayangannya kembali mengemuka saat ia terus melangkah mantap pulang di bawah naungan langit yang perlahan-lahan berubah menjadi pekatnya malam. Sanjaya tidak lagi memikul nama Riana sebagai beban berat yang menghujam pundaknya. Ia hanya  mendekapnya dengan ringan sebagai bagian tak terpisahkan dari peta perjalanan jiwanya.

Sebagai sebuah bab dalam buku kehidupan yang telah selesai tertulis dengan tinta kedewasaan. Sebagai kenangan hangat yang tidak lagi menuntut ataupun merengek untuk diulang kembali. Dan sebagai sebuah doa panjang yang akan tetap hidup dan berdenyut selamanya kendati garis takdir yang kejam telah memilih mereka untuk berjalan di atas jalur setapak yang berbeda.

Demikian kenangan tentang gelang benang yang telah diserahkan kepada Riana lewat tangan kedua, rupanya itu tidak pernah benar-benar sudah berpindah tangan dan kepemilikan. Hanya tahu sudah meninggalkan Sanjaya, tapi tak pernah tahu henar-benar sampai ke tangan Riana. Lalu semakin ia mencoba mengingatnya sebagai benda yang sederhana, semakin ia menyadari bahwa yang selama ini yang diserahkan bukanlah seutas lilitan benang, melainkan sepotong usia yang pernah begitu polos dalam mempercayai harapan. 

Benda itu pernah lama terbaring di sudut laci yang mulai kusam dimakan waktu, lalu setiap kali ingatan tentang itu menyentuhnya, ia seolah kembali menjadi anak lelaki yang berdiri di antara batas keberanian dan ketakutan dalam memandangi dunia yang terasa begitu luas hanya karena di dalamnya ada seorang gadis bernama Riana.

Di dalam lamunan panjang yang berayun seirama dengan laju bus menuju kota masa depan, ingatan Sanjaya terhanyut surut, melangkah jauh menembus musim-musim masa lalu yang hanya hidup dan bernyawa di dalam kepalanya. Ingatan pada suatu masa ketika sudut-sudut kampung sedang diramaikan oleh demam gelang yang terbuat dari lilitan benang warna-warni. Nyaris di setiap pergelangan tangan anak-anak sebaya melingkar benda sederhana itu. Warna-warnanya berpendar terang di bawah dekapan cahaya matahari, seolah setiap simpul benang yang terjalin rapat menyimpan berjuta cerita kecil tentang persahabatan yang tulus, kekaguman yang disembunyikan, atau rahasia-rahasia hati yang belum berani diucapkan lewat kata-kata.

Di Pasar Tawang yang riuh rendah oleh suara pedagang dan pembeli, gelang-gelang itu berjajar rapi di atas lapak-lapak kayu sederhana, menggoda mata setiap orang yang melintas dengan warna-warnanya yang memikat. Harganya memang tidak seberapa bagi sebagian orang yang berpunya, tetapi bagi Sanjaya yang bahkan harus menghitung keping-keping receh di saku celananya berulang kali sebelum memutuskan membeli jajanan paling murah. Membeli benda kecil itu akan terasa sebagai kemewahan yang berdiri sangat angkuh di luar jangkauannya.

Lalu, pada suatu petang ketika ia berjalan pulang bersama beberapa orang kawan melewati pasar yang mulai lengang, salah seorang dari mereka mengangkat pergelangan tangannya tinggi-tinggi dengan wajah yang memancarkan kebanggaan luar biasa.

"Lihat ini," kata anak itu sambil memperlihatkan gelang rajut yang melingkar rapi di tangannya. “Aku bisa bikin sendiri yang jauh lebih bagus dari yang dijual di lapak-lapak itu. Kuncinya cuma sabar saat melilit benang-benangnya.”

Anak-anak lain yang berjalan di sekitar mereka segera mengerumuni bocah tersebut dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman.

"Masa iya? Bikin buat aku juga nanti, ya!" desak salah seorang temannya.

"Iya, buat aku juga satu!" sahut yang lain tak mau kalah.

Sanjaya yang hanya berdiri di tepi kerumunan, menyunggingkan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Ia tidak ikut berebut suara atau menimpali pembicaraan mereka. Namun kalimat sederhana tentang membuat sendiri gelang tersebut diam-diam jatuh ke dalam relung batinnya, meluncur lembut bagaikan sebutir benih kecil yang menemukan sebidang tanah yang amat subur. 

Semakin lama ia merenungkannya di sepanjang sisa perjalanan, benih kecil itu perlahan merayap tumbuh menjadi sebuah niat yang keras kepala. Niat itu sama sekali tidak lahir dari hasrat kekanak-kanakan untuk sekadar memiliki sebuah gelang di pergelangan tangannya, melainkan berakar dari sebuah kerinduan yang jauh lebih sunyi untuk menghadirkan sesuatu yang belum tentu bernilai di mata orang lain, tetapi terasa begitu agung dan berarti bagi seorang anak lelaki yang tengah belajar mencintai seseorang dalam diam yang panjang.

Sampai pada suatu malam demi malam ketika rumah keluarganya mulai tenggelam dalam kesunyian malam dan lampu minyak di sudut ruangan memantulkan nyala cahaya kekuningan yang menari-nari redup di dinding bilik kayu, Sanjaya mulai bergerak, mulai mengambil suatu tindakan dengan gulungan benang yang telah diperolehnya. Di mata Sanjaya yang tangannya gemetar saat menganyam, menjelma semuanya menjadi sekumpulan kemungkinan tanpa batas. Ia mulai melilitkan benang-benang itu secara perlahan-lahan.

Sanjaya mengakui jari-jari tangannya belum terampil bergerak dengan sangat hati-hati. Apa yang dilakukannya seolah tengah memegang sesuatu yang jauh lebih rapuh dan berharga daripada sehelai benang jahit. Berkali-kali lilitannya meleset, membentuk simpul yang berantakan. Berkali-kali pula ia dengan sabar mengurainya kembali dari awal tanpa sedikit pun rasa mengeluh. 

Setiap kegagalan kecil dalam merangkai simpul itu tidak membuatnya surut ke belakang. Sebaliknya, dari sanalah ketabahannya tumbuh sedikit demi sedikit, menghujam kuat bagaikan akar muda yang diam-diam menguat di dalam perut bumi sebelum berani menampakkan pucuknya ke permukaan.

Sesekali, ia mendekatkan hasil rajutannya yang setengah jadi itu langsung ke dekat nyala lampu minyak. "Kurang rapi..." gumamnya lirih seorang diri, menyadari ketidaksempurnaan di setiap jalinannya.

Ia lantas membuka kembali simpul yang baru saja ia buat. Kemudian mengulanginya dari titik mula. Lagi dan lagi melakukan dengan tanpa kenal lelah. Malam demi malam yang merangkak naik, hari demi hari berjalan dengan debar yang terasa begitu lambat di dada. Di luar dinding rumah, suara gerik jangkrik bersahut-sahutan memecah keheningan desa, menemani kesendiriannya yang panjang. 

Sementara itu di dalam kamar yang sempit, yang terdengar hanyalah gesekan halus serat benang yang bergesekan dengan jemarinya, diselingi helaan napas yang sesekali tertahan ketika ia mendapati lilitannya kembali melenceng dari jalur yang ia inginkan. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang tahu bahwa pada malam yang sunyi itu, seorang anak lelaki tengah merajut sesuatu yang jauh lebih besar dan berat daripada sekadar gelang pergelangan tangan. Ia sedang menenun harapan dengan bahan-bahan yang paling sederhana di bumi. Ia sedang menjahit keberanian hatinya yang selama ini tercerai-berai agar menyatu kembali dalam satu bentuk nyata yang dapat disentuh oleh indra.

Ketika akhirnya lilitan itu rampung dan simpul terakhir berhasil dikunci dengan erat, Sanjaya tertegun cukup lama memandangi benda kecil di telapak tangannya. Di sana, terjalin rapi sebuah nama yang sejak berbulan-bulan lamanya hidup merajai ruang-ruang tersembunyi di dalam dadanya.

Nama itu tampak begitu sederhana, dibentuk hanya dari beberapa huruf yang dirangkai dari tumpukan benang warna-warni. Namun bagi Sanjaya, setiap simpul yang mengikat huruf-huruf itu terasa bagaikan ribuan doa kecil yang ia panjatkan satu per satu, diikat dengan ketabahan luar biasa yang bahkan tidak pernah ia sadari ada di dalam dirinya. 

Gelang itu terasa begitu ringan ketika ditimbang di atas telapak tangan, tetapi harapan besar yang dipikulnya di setiap serat benang itu terasa seberat puncak gunung yang harus didaki seorang diri tanpa kawan. Ia mulai memejamkan mata, membayangkan betapa indahnya jika suatu hari nanti gelang sederhana itu melingkar sempurna di pergelangan tangan Riana.

Bayangan itu begitu manis, begitu membuai, hingga tanpa sadar ia menyunggingkan senyum lebar seorang diri di dalam kamar yang temaram. Namun kebahagiaan itu hanya singgah sesaat. Keberanian yang sejak mula dengan susah payah ia tenun bersama benang-benang tersebut mendadak runtuh berkeping-keping, diserang oleh gelombang keraguan dan pertanyaan-pertanyaan menakutkan yang datang silih berganti menghujam kepalanya.

Rupa-rupa pertanyaan lahir tentang khawatir bagaimana jika si gadis pujaan menolak mentah-mentah? Bagaimana jika Riana justru merasa terganggu dan risih atas kelancangannya? Bagaimana jika teman-teman sekolah mereka melihatnya, lalu menjadikan nama Riana sebagai bahan ejekan yang kejam di halaman kelas? Bagaimana jika gelang rajut itu justru berbalik menjadi awal dari rasa malu luar biasa yang akan terus ia kenang sepanjang sisa hidupnya?

Pertanyaan-pertanyaan kejam itu berputar-putar memenuhi kamar kecilnya, terasa jauh lebih sesak daripada pekatnya malam di luar sana. Ia merasa seolah seluruh oksigen di sekelilingnya mendadak menguap, menyisakan rongga dada yang begitu nyeri dan sulit bernapas menanggung gelombang ketakutan yang tak berwujud. Dengan tangan yang kian gemetar, ia menggenggam gelang rajut itu erat-erat hingga tenggelam di dalam kepalan tangannya. "Apa aku benar-benar sudah terlalu berlebihan?" bisiknya putus asa pada diri sendiri.

Tidak ada suara yang menyahut dari sudut kamar. Hanya nyala lampu minyak yang berkedip gelisah diterpa angin kecil, seolah ikut merasa bimbang atas nyala keberanian yang baru saja lahir namun kini kembali menciut ketakutan. 

"Siapa aku sampai begitu lancang berani menenun namanya?" Pertanyaan itu melayang lama di udara kamar yang pengap, sebelum akhirnya jatuh menimpa dasar hatinya yang kembali luruh dalam kebisuan. Beberapa malam, gelang benang itu tidak pernah benar-benar meninggalkan kamar Sanjaya. Ia tetap tersimpan rapi di dalam laci meja belajarnya, dibungkus selembar kertas agar tidak mudah kusut. Sampai hari demi hari berlalu sampai kemudian benda itu butuh perantara agar  sampai ke tangan orang yang namanya terjalin di sana. 

Gelang itu menjelma menjadi saksi bisu bahwa tidak semua persembahan ditakdirkan untuk diterima. Sebagian memang diciptakan hanya agar seseorang belajar tentang keberanian yang belum sempat menemukan jalannya. Setelah bertahun-tahun kemudian, ketika kenangan itu kembali mengetuk kesadarannya, Sanjaya tidak lagi melihat gelang tersebut sebagai lambang kegagalan. Ia justru melihatnya sebagai monumen kecil bagi ketulusan seorang anak lelaki yang pernah mencintai tanpa mengerti cara memiliki. Dan barangkali, di situlah letak keindahannya. Sebab ada cinta yang tidak pernah sampai kepada orang yang dituju, tetapi berhasil sampai kepada pemiliknya sendiri, mengubahnya perlahan menjadi manusia yang lebih sabar, lebih peka, dan lebih memahami bahwa ketulusan tidak selalu membutuhkan balasan untuk menjadi utuh. (Sal)

Perspektif

Scroll