Lost on a Mountain in Maine: Naluri Bertahan Bocah 12 Tahun di Hutan 100.000 Hektare

"Kau harus punya keyakinan pada sesuatu yang lebih kuat dari dirimu sendiri."Kalimat ini muncul...

Lost on a Mountain in Maine: Naluri Bertahan Bocah 12 Tahun di Hutan 100.000 Hektare

29 Des 2025
275 x Dilihat
Share :

Lost on a Mountain in Maine: Naluri Bertahan Bocah 12 Tahun di Hutan 100.000 Hektare

"Kau harus punya keyakinan pada sesuatu yang lebih kuat dari dirimu sendiri."

Kalimat ini muncul sebagai salah satu petikan kunci dalam Lost on a Mountain in Maine, film keluarga yang diproduseri Sylvester Stallone dan Braden Aftergood. Ia bukan sekadar narasi dramatis, melainkan fondasi cerita tentang cinta keluarga, pendidikan karakter, dan bagaimana manusia diuji ketika berhadapan dengan situasi paling ekstrem dalam hidupnya.

Kita kerap mendengar berita tentang pendaki atau penjelajah alam yang terpisah dari rombongan di gunung dan hutan. Ada yang selamat, ada yang tak pernah kembali, dan ada pula yang hingga kini tak jelas nasibnya—apakah masih hidup atau telah menjadi jenazah yang tak ditemukan. Film ini berdiri di antara kisah-kisah itu, namun menawarkan sesuatu yang lebih dari sekadar tragedi atau keajaiban.

Selama sembilan hari, seorang bocah berusia 12 tahun bernama Donn Fendler mampu bertahan hidup sendirian di hutan belantara Maine yang luasnya mencapai lebih dari 100.000 hektare. Bagi sebagian orang, ini terdengar seperti mukjizat. Namun film ini mengajak kita melihatnya dari sudut yang lebih rasional: bahwa ketangguhan itu bukan kebetulan, melainkan hasil dari pendidikan, nilai, dan pembiasaan yang ditanamkan sejak dini oleh keluarga, lingkungan, dan sistem sosial yang membesarkannya.

Pengetahuan dasar tentang apa yang bisa dimakan, bagaimana mencari air, membaca arah, hingga menjaga kewarasan ketika tersesat di hutan, seharusnya tidak hanya menjadi milik komunitas pencinta alam. Di negara dengan bentang hutan tropis yang luas seperti Indonesia, pengetahuan semacam ini idealnya masuk ke dalam kurikulum pendidikan. Jika tidak, mungkin, negara sudah berencana membabat hutannya, semisal untuk memperluas kebun kelapa sawit. Tapi setidaknya kesadaran tentang pentingnya naluri bertahan hidup bisa dipelajari dari medium lain—termasuk film seperti ini.

Lost on a Mountain in Maine, yang diangkat dari kisah nyata, menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua tentang bagaimana mendidik anak. Mengapa Donn Fendler mampu bertahan hidup selama sembilan hari di alam liar pada usia yang begitu belia? Salah satu jawabannya terletak pada wataknya yang keras kepala, atau dalam istilah sehari-hari, bengal. Namun, dalam konteks bertahan hidup, watak pantang menyerah inilah yang menjadi mesin penggeraknya. Ia terobsesi pada kata-kata ayahnya yang mirip bait lagu Iwan Fals: “Nak, engkau lelaki. Kelak sendiri.”

Watak ini diperankan dengan meyakinkan oleh Luke David Blumm: wajah yang tak mudah menyerah, sorot mata yang menantang keadaan. Kebengalan itu tumbuh dari didikan sang ayah, Donald Fendler, yang keras namun konsisten. Dalam satu adegan penting, ketika Donn berkelahi dengan saudara kembarnya, Ryan, sang ibu melapor, “Si kembar sedang berkelahi di halaman.” Sang ayah datang, menatap tajam, lalu berkata singkat, “Teruskan. Selesaikan pertarungannya.”

Bagi saya, adegan ini menggambarkan wibawa seorang ayah yang percaya bahwa anak harus belajar menghadapi konflik, bukan menghindarinya.

Donald Fendler berkata, “Kadang kau harus bertarung. Kadang kau tak punya pilihan. Jika kau bertarung, bertarunglah.” Kalimat ini terpatri kuat dalam diri Donn. Bahkan ketika tersesat di hutan, ia mengaku terus berjalan karena didikan ayahnya: terus bergerak demi keinginan untuk hidup. Meski pada hari-hari terakhir ia hampir menyerah, berjalan tanpa arah hingga 80 mil, adalah jarak yang nyaris mustahil bagi bocah 12 tahun. Namun ia tetap bertahan, meski mulai mengalami halusinasi akibat kelelahan.

Di sisi lain, film ini juga menampilkan sosok ibu yang lembut dan bijak. Ruth Fendler mengenal betul karakter anak-anaknya. Ketika mendengar Donn hilang, ia berkata lirih kepada suaminya, “Kuharap yang hilang itu adalah dia.” Bukan karena tak sayang, melainkan karena ia percaya pada ketangguhan anaknya.

Sebagai ibunya sangat memercayai akan kekuatan dan ketangguhan anaknya. Begitulah seorang ibu yang mampu bersikap lembut dan bijak terhadap anaknya. Bukan ikut sibuk menjelek-jelekkan sosok suami atau sosok ayah di hadapan anak-anaknya.

Saat Donn membenci ayahnya dan mempertanyakan kasih sayang sang ayah, Ruth hanya menjawab, “Dia menyayangimu. Dia mungkin tidak menunjukkannya, tapi dia melakukannya.” Itulah sosok istri sekaligus ibu yang lembut dan bijak. Kalau ibu pemberang, malah suka berkata, “Ayahmu itu loh sudah pemalas, tak bertanggung jawab, dan pelitnya minta ampun.”

Di sinilah film ini memberi pelajaran penting tentang peran ibu: menjaga martabat ayah di mata anak-anak, menciptakan ruang aman emosional di dalam keluarga. Sebab ketika anak tak merasa aman berbicara jujur di rumah, itulah bencana terbesar cinta keluarga. Seperti pengakuan sang ayah dalam sebuah video, “Aku sangat takut—takut anakku sendiri tidak mau berbicara denganku.”

Secara biologis, manusia memang dibekali naluri bertahan hidup. Sejak ratusan ribu tahun lalu, Homo sapiens mengembangkan refleks cepat untuk menghadapi ancaman. Dalam istilah ilmiah, ini dikenal sebagai Hyperactive Agency Detection Device (HADD) adalah mekanisme otak yang cenderung menganggap setiap gerakan di alam sebagai potensi bahaya. Meski kerap berlebihan, mekanisme ini pada dasarnya menyelamatkan. Namun, tanpa dilatih dan diasah, naluri ini bisa tumpul seiring perubahan alam dan sosial.

Film ini mengingatkan kita bahwa naluri bertahan hidup perlu dipupuk, yang dimulai dari keyakinan. “Kau harus punya keyakinan pada sesuatu yang lebih kuat dari dirimu sendiri.”

Petikan lain yang tak kalah kuat berbunyi, “Kau tak akan tahu seberapa mampu dirimu sampai kau benar-benar menghadapinya dalam situasi yang mengancam nyawa.” Maka, teruslah bergerak. Karena sering kali, saat kita hendak menyerah, puncak pencapaian tinggal satu langkah lagi.

Terakhir, jarang saya menonton film Hollywood yang membuat mata basah. Mungkin karena saya lebih akrab dengan melodrama Bollywood yang sering membuat orang jatuh pada tangis Bombay. Namun Lost on a Mountain in Maine—yang didedikasikan untuk Donn Fendler (1926–2016) berhasil melakukannya. 

Boleh dikatakan film ini berdiri sejajar dengan film-film bertema ketahanan manusia seperti The Revenant, 127 Hours, dan Into the Wild. Sebuah kisah tentang manusia, keluarga, dan naluri purba yang diam-diam masih hidup dalam diri kita.

Deretan film tentang survival di alam liar yang sudah saya tonton: The Revenant, 127 Hours, Into The Wild, dan baru Lost on a Mountain in Maine, dan yang belum saya tonton: Wild, Cast Away, Backcountry, Rabbit-Proof Fence, Touching The Void, The Martian, Hunt for The Wilderpeople, dlsb. (Sal)

Perspektif

Scroll