Lebih dari Sekadar Hantu, Belajar Tentang Keluarga dan Kebersamaan dari Pengabdi Setan

Menonton karya sinematik Joko Anwar selalu menghadirkan sensasi yang distingtif, sebuah pengalaman...

Lebih dari Sekadar Hantu, Belajar Tentang Keluarga dan Kebersamaan dari Pengabdi Setan

12 Jul 2026
383 x Dilihat
Share :

Lebih dari Sekadar Hantu, Belajar Tentang Keluarga dan Kebersamaan dari Pengabdi Setan

Menonton karya sinematik Joko Anwar selalu menghadirkan sensasi yang distingtif, sebuah pengalaman yang melampaui sekadar hiburan visual. Begitu pula saat saya memutuskan untuk menonton ulang Pengabdi Setan di televisi, film yang kembali memicu keinginan saya untuk membedah maknanya melalui sebuah ulasan. Kendati alur ceritanya sudah sangat familier, film ini tetap memiliki "magnet" yang kuat, terus menarik perhatian saya untuk merenungi substansi terdalamnya, terutama mengenai batasan apa yang sebenarnya mendefinisikan sebuah horor.

Sejak lama, pertanyaan tersebut kerap berkelindan di kepala saya. Apakah Pengabdi Setan murni merupakan film horor yang bertujuan memacu adrenalin, ataukah merupakan manifestasi psychological thriller yang kompleks, sebuah drama menegangkan yang sedang menyentil realitas sosial kita secara terselubung? Tentu, jawaban atas pertanyaan ini bersifat subjektif bagi setiap penonton. Tidak ada yang salah dengan perbedaan ragam interpretasi, sebab esensi ketakutan memang selalu memiliki spektrum yang berbeda bagi setiap individu.

Barangkali film ini lebih tepat dikategorikan sebagai sebuah shocker yang memanfaatkan esensi rasa takut sebagai medium untuk mendeskripsikan kritik sosial yang tajam. Setiap spektrum penonton pasti memiliki interpretasi yang valid, mengingat pengalaman sinematik adalah sebuah proses subjektif yang berakar pada persepsi individu terhadap narasi yang disuguhkan.

Lebih jauh lagi, kegelisahan horor dalam film ini bukanlah bersumber dari kemunculan entitas gaib semata, melainkan dari kerapuhan ikatan manusia di tengah tekanan. Salah satu dialog kunci dalam film ini pun terus terngiang, seolah menjadi jangkar moral di balik narasi yang mencekam:

"Mereka tidak akan bisa mengambil salah satu dari kalian, kalau kalian terus bersama-sama." 

Kalimat tersebut diucapkan oleh sosok tetangga yang dianggap sebagai "orang pintar". Diucapkan oleh karakter sahabat dari nenek, ibu, dan ayah keluarga di latar cerita, seorang penulis majalah misteri yang sering dilabeli sebagai paranormal. Karakter ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan realitas empiris dengan wilayah supranatural, spiritualitas, hingga tradisi mistik seperti kejawen yang berakar kuat dalam budaya Jawa.

Kalimat tersebut bukan sekadar peringatan untuk bertahan hidup, melainkan sebuah metafora tentang betapa pentingnya solidaritas ketika kita harus menghadapi "teror", baik itu teror yang bersifat supranatural maupun teror yang bersumber dari ketidakpastian hidup.

Di titik inilah Joko Anwar mengeksplorasi batas tipis antara kepercayaan, mitos, dan rasa takut yang menjadi elemen inheren dalam masyarakat Indonesia. Ia tidak sekadar menampilkan hantu sebagai instrumen horor, melainkan membedah bagaimana masyarakat mengonstruksi ketakutan itu sendiri sebagai mekanisme pertahanan atau bahkan refleksi sosial.

Kalimat sesederhana itu sebenarnya adalah inti dari seluruh cerita. Menariknya, kalimat ini mengingatkan saya pada masa pandemi COVID-19, ketika kita sering diingatkan tentang pentingnya bersatu. Meskipun konteksnya sangat berbeda antara menghadapi entitas gaib di layar film dan menghadapi ancaman virus di dunia nyata, tetapi pesannya tetap senada bahwa kita jauh lebih kuat saat tidak sendirian. Solidaritas adalah benteng pertahanan terbaik kita saat merasa takut.

Meskipun lahir dari konteks yang kontras, antara ketakutan akan entitas gaib dan ancaman biologis, keduanya mengonfirmasi satu premis universal bahwa manusia memiliki resiliensi yang jauh lebih tinggi ketika menghadapi ancaman secara kolektif daripada dalam isolasi individual. Solidaritas, dalam hal ini, bertransformasi menjadi benteng pertahanan paling fundamental.

Melalui karakter ini, film mengajak kita melihat bagaimana budaya lokal yang kental dengan kepercayaan mistis menjadi cara kita membungkus ketakutan kolektif. Joko Anwar tidak sekadar ingin membuat kita takut karena kehadiran sosok hantu. Sepertinya ia ingin menunjukkan bagaimana manusia membangun "cerita" di balik rasa takut tersebut untuk bertahan hidup.

Meskipun film ini berlatar tahun 1981, atmosfernya terasa seperti sebuah dongeng kelam. Dan seperti dongeng klasik pada umumnya, terselip pelajaran hidup yang sangat nyata di dalamnya. Dongeng-dongeng klasik yang bertahan melintasi zaman, di dalamnya sering menyimpan serpihan realitas yang tajam. Demikian yang disebut horor bekerja dengan mekanisme yang unik. Ia mungkin menghadirkan entitas yang irasional, namun rasa takut yang diinduksi berasal dari pengalaman manusia sangat nyata dan fundamental.

Maka yang paling menakutkan dalam Pengabdi Setan bukanlah sosok Ibu, melainkan sesuatu yang jauh lebih fundamental, yaitu rasa kehilangan, kesepian, pengkhianatan, dan kejahatan manusia itu sendiri. Jika hantu mungkin hanya terbatas pada apa yang kita tonton di layar atau bangunan imajinasi pikiran kita, tetapi kejahatan yang dilakukan manusia demi ambisi pribadinya terasa jauh lebih nyata dan menyeramkan.

Pada esensinya, yang menakutkan dalam Pengabdi Setan bukanlah sosok hantu sang ibu, melainkan eksistensi dari kerentanan manusia akan rasa kehilangan, kesepian yang menggerogoti, ketidakberdayaan, pengkhianatan, serta kejahatan yang dipicu oleh ambisi. Film ini menjadi cermin bagi kondisi psikologis manusia saat semua pegangan hidupnya runtuh. Ia memacu adrenalin dengan menyentuh ketakutan purba yang tersembunyi di alam bawah sadar—ketakutan akan kehilangan orang-orang yang dicintai.

Di sinilah Pengabdi Setan bertransformasi dari sekadar film horor menjadi sebuah kritik sosial yang tajam. Secara rasional, film ini membawa pesan tentang moralitas manusia bahwa kejahatan bukanlah semata-mata manifestasi dari pemujaan setan, melainkan simbol dari keserakahan, fanatisme, dan kekuasaan tanpa moral yang sering kali menindas sesama. Film ini mengajak kita mempertanyakan: bukankah manusia sering kali jauh lebih berbahaya daripada hantu? 

Demikian apa yang disebut "Setan" dalam film ini dapat kita baca sebagai simbol atau metafora bagi aktor-aktor sosial yang menghalalkan segala cara demi kepentingan pribadi, mencerminkan kecenderungan manusia untuk mengorbankan orang lain dan integritas sosial demi keselamatan diri.

Keberhasilan artistik Pengabdi Setan juga terletak pada pembangunan atmosfer yang sinematik. Penggunaan rumah tua yang sunyi, denting lonceng yang memecah sunyi, atau deru hujan yang tak henti-hentinya sebagai elemen suara dan komposisi musik yang minimalis, membuat penonton ikut larut dalam kegelisahan, menciptakan ketegangan yang tidak bergantung pada efek jump scare murahan. Pendekatan ini mengembalikan horor ke akar klasiknya, memberikan ruang bagi penonton untuk merenung. 

Keunggulan Joko Anwar terletak pada kemampuannya membangun suasana mencekam tanpa perlu trik yang berlebihan. Tidak mengherankan jika Pengabdi Setan meraih kesuksesan komersial yang signifikan. Dengan capaian lebih dari 4,2 juta penonton di bioskop dan mendapatkan apresiasi di berbagai festival internasional. Keberhasilan ini kemudian diikuti oleh sekuelnya, Pengabdi Setan 2: Communion (2022), yang memperluas semesta horor Indonesia ke kancah global.

Kekuatan narasi film juga sebenarnya berkat penampilan apik Tara Basro sebagai Rini. Ia digambarkan sebagai sosok kakak yang harus memikul beban tanggung jawab di tengah situasi yang melampaui nalar manusia. Lewat perannya, kita sebagai penonton tidak hanya diajak untuk merasakan teror, tetapi juga turut bersimpati dan terikat secara emosional untuk mendukung setiap langkah perjuangannya. Penampilannya membuktikan bahwa horor dapat menjadi medium yang efektif bagi pendalaman karakter yang matang.

Dengan demikian, kekuatan terbesar film ini terletak pada pesannya tentang keluarga. Film ini bercerita tentang bagaimana kita diuji saat dunia di sekitar kita seolah runtuh. Ternyata, monster terbesar dalam hidup manusia bukanlah makhluk gaib, melainkan rasa takut itu sendiri. Rasa takutlah yang membuat kita terpecah belah, saling curiga, dan pada akhirnya, menjadi lemah.

Oleh karena itu, dialog kunci yang terus terngiang, "mereka tidak akan bisa mengambil salah satu dari kalian, kalau kalian terus bersama-sama" bukanlah sekadar baris kalimat puitis dalam skenario. Itu adalah sebuah nasihat penting untuk kehidupan kita sehari-hari. Di dunia yang terkadang terasa sangat menakutkan ini, kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai mungkin merupakan pelindung yang paling ampuh. Itulah, pada hakikatnya, pesan paling manusiawi dari sebuah film yang selama ini mungkin hanya kita kenal karena sosok hantunya.

Pengabdi Setan melampaui batas genre horor tradisional. Ia adalah sebuah refleksi tentang keluarga, kehilangan, dan pilihan moral. Monster terbesar bukanlah makhluk dari kegelapan, melainkan fragmentasi solidaritas manusia yang membuat kita mudah dimanipulasi oleh kejahatan. Pesan dari dialog, "Mereka tidak akan bisa mengambil salah satu dari kalian, kalau kalian terus bersama-sama" bukanlah sekadar kutipan film, melainkan sebuah aksioma kehidupan. Di dunia yang semakin individualistis, pesan tentang pentingnya kebersamaan mungkin adalah hal yang paling manusiawi yang bisa kita ambil dari sebuah karya horor. (Sal)

Perspektif

Scroll