"Tiga puluh rupee dan secangkir kopi, itu sudah cukup untuk bahagia."
Kalimat sederhana itu menjadi salah satu dialog yang paling saya ingat dari film Bewakoofiyaan. Sebab di balik kesederhanaan atau penyederhanaannya, tentu saja menyimpan pertanyaan lanjutan. Tetapi itu terasa semakin relevan di zaman sekarang tentang kebahagiaan apakah benar membutuhkan biaya yang mahal?
Film ini kemudian menyodorkan satu dialog lain yang tidak kalah menggelitik. “Apakah orang miskin tidak diperbolehkan mencintai hidup? Kalau ada cinta, mau ada uang atau tidak ada uang, cinta akan menemukan jalannya.”
Begitulah sebagaimana kata-kata jangkar diri bahwa di mana ada cinta, di situ ada jalan. Barangkali itulah gagasan romantis yang ingin ditawarkan film ini. Meski secara sosiologis, kita harus bertanya: apakah kehidupan modern benar-benar memberi ruang bagi keyakinan seperti itu?
Namun pertanyaan itu tidak pernah kehilangan relevansinya. Di tengah naiknya biaya hidup (cost of living crisis), harga rumah yang terus melambung (housing affordability gap), hingga tuntutan gaya hidup di media sosial, cinta seringkali tidak lagi berdiri sendiri. Ia harus bernegosiasi dengan penghasilan, status pekerjaan, tabungan, bahkan kepemilikan aset.
Di titik itulah Bewakoofiyaan menjadi lebih dari sekadar film komedi romantis, melainkan menjadi cermin tajam bagi kegelisahan kelas menengah urban global. Film yang dalam bahasa Indonesia, artinya “Kebodohan”, merupakan film komedi romantis India berbahasa Hindi yang dirilis pada 14 Maret 2014. Film ini disutradarai oleh Nupur Asthana, ditulis oleh Habib Faisal, dan diproduksi oleh Aditya Chopra di bawah bendera Yash Raj Films.
Alih-alih sekadar menyajikan kisah percintaan dua anak muda, film ini mengangkat persoalan yang jauh lebih dalam dan luas tentang bagaimana konsumerisme, tekanan sosial, dan ketidakpastian ekonomi dapat menguji ketahanan sebuah hubungan. Tema tersebut terasa semakin dekat dengan realitas masyarakat urban. Bukan hanya di India, tetapi juga di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia yang sedang mengalami transisi ekonomi dan sosial yang cepat.
Ccerita berpusat pada tokoh utamanya, Mohit Chadhda (Ayushmann Khurrana) dan Mayera Sehgal (Sonam Kapoor), adalah pasangan pekerja kelas menengah di Delhi yang saling mencintai. Hubungan mereka tampak ideal karena keduanya bekerja, memiliki penghasilan, dan membayangkan masa depan yang stabil. Tetapi sebagaimana banyak kisah cinta di dunia nyata, persoalan tidak datang dari kurangnya kasih sayang, melainkan dari standar keberhasilan yang dikonstruksi secara kolektif oleh masyarakat.
Konflik memuncak ketika ayah Mayera, V.K. Sehgal (Rishi Kapoor), seorang pejabat pemerintah yang disiplin dan protektif, menganggap Mohit belum cukup mapan. Bagi V.K. Sehgal, cinta saja tidak cukup. Seorang laki-laki harus mampu menjamin stabilitas ekonomi dan gaya hidup yang "pantas".
Pandangan seperti ini adalah manifestasi dari apa yang dalam sosiologi disebut sebagai meritokrasi materialistik, di mana harga diri seseorang seringkali diparalelkan dengan akumulasi kapital yang dimilikinya.
Situasi menjadi semakin rumit ketika resesi ekonomi menghantam perusahaan tempat Mohit bekerja hingga ia kehilangan pekerjaannya. Bersamaan dengan hilangnya pendapatan, hilang pula rasa percaya diri Mohit. Ia terjebak dalam dilema harus menyembunyikan status penganggurannya sembari berusaha mempertahankan hubungan.
Film ini memperlihatkan dampak psikologis yang nyata dari kehilangan pekerjaan. Berbagai riset, termasuk data dari International Labour Organization (ILO), menegaskan bahwa ketidakpastian pekerjaan (prekaritas) menjadi salah satu tantangan terbesar generasi muda global.
Kehilangan pekerjaan bukan sekadar masalah arus kas, itu adalah trauma yang mengikis identitas diri dan memicu kecemasan yang mendalam dalam hubungan keluarga. Mohit adalah representasi dari jutaan anak muda yang harus menghadapi "dinding" realitas ekonomi di tengah ekspektasi tinggi orang tua dan tuntutan masyarakat.
Pada saat yang sama, Bewakoofiyaan mengkritik budaya konsumerisme yang semakin mengakar. Mengajak kita bertanya mengapa kebahagiaan harus diukur dari apartemen yang dimiliki, restoran yang dikunjungi, hingga merek pakaian yang dikenakan. Mengapa standar keberhasilan kini bergeser dari "kualitas hidup" (quality of life) menuju "kemampuan mengonsumsi" (ability to consume).
Fenomena ini bukanlah sekadar observasi sinematik. Riset kesejahteraan subjektif, seperti yang sering dibahas dalam World Happiness Report, menunjukkan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, peningkatan pendapatan yang agresif tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan. Hubungan yang sehat, rasa memiliki tujuan hidup, serta kualitas interaksi sosial jauh lebih determinan terhadap kesejahteraan mental seseorang.
Ironisnya, masyarakat modern tetap terjebak dalam "perlombaan tanpa garis akhir" (hedonic treadmill). Seperti membuat kita harus terus mengejar simbol kemapanan baru, tanpa pernah merasa cukup.
Di tengah situasi itulah, dialog "tiga puluh rupee dan secangkir kopi" terasa begitu radikal. Kalimat itu bukan ajakan untuk hidup miskin, melainkan pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari sesuatu yang mahal. Ia bisa hadir dalam percakapan yang hangat, waktu yang dibagikan tanpa beban untuk mengejar citra.
Tentu saja, film ini tidak menafikan pentingnya uang. Kehidupan nyata membutuhkan logistik yang memadai untuk pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal. Yang dikritik Bewakoofiyaan adalah ketika uang berubah dari alat untuk menjalani kehidupan menjadi tujuan tunggal dalam menilai harga diri manusia.
Bewakoofiyaan tidak menawarkan jawaban yang hitam-putih tentu saja. Film ini mengajak kita mempertanyakan kembali cara pandang kita terhadap cinta dan pekerjaan. Apakah kemapanan harus selalu mendahului cinta? Atau justru cinta adalah energi yang membantu dua orang bertahan untuk membangun kemapanan secara bersama-sama?
Makna terdalam dari judul "Kebodohan" ini mungkin merujuk pada kekeliruan kolektif masyarakat tentang keyakinan bahwa sebuah nilai manusia hanya dapat diukur secara tepat dan akurat hanya dari besarnya gaji, jabatan, atau kepemilikan aset. Setiap zaman tentu memiliki definisinya sendiri tentang sukses, namun setiap manusia memiliki otonomi untuk mendefinisikan apa itu bahagia bagi dirinya sendiri.
Sebagai penutup, hal ini menjadi pengingat bagi saya bahwa perlu sesekali, kita perlu berhenti sejenak dari perlombaan yang tidak pernah selesai itu. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri di tengah riuhnya dunia, benarkah kebahagiaan selalu semahal yang dikatakan pasar tuntutan masyarakat? Atau jangan-jangan, kita hanya perlu secangkir kopi dan keberanian untuk membebaskan diri dari ekspektasi dunia, agar bisa merasa memiliki seluruh dunia. (Sal)