Dapunta di Kedatuan Bukit Jerai, tepat setelah Kekaisaran Sriwijaya tercerai-berai, memikul beban sejarah yang berat. Di pundaknya, ia membawa kerinduan kolektif akan masa lalu yang gemilang. Dalam sebuah momen yang menentukan, ia berdiri di hadapan dua putranya.
“Musyawarah diselenggarakan. Tetapi restuku telah aku berikan,” ucapnya tegas. Keputusan telah bulat: Dapunta akan menyerahkan tahta Kedatuan kepada anak termudanya, Purnama Kelana (diperankan cukup lembut oleh Syahrul Gunawan).
Namun, sebuah transisi kekuasaan jarang sekali berlangsung tanpa gesekan. Awang Kencana (cukup berhasilan diperankan secara garang oleh Agus Kuncoro), sang kakak, tidak bisa menerima keputusan tersebut. Bukan semata karena kelicikan, melainkan karena ia menyimpan visi yang sama luhurnya dengan mendiang ayahandanya, guna memulihkan kejayaan imperium maritim Sriwijaya.
Visi ini pula yang diusung oleh tokoh seperti Ki Goblek (Mathias Muchus) atau Kendra Kana, sang panglima setia yang merindukan kebesaran imperium masa lalu. Perbedaan cara pandang ini memicu lahirnya kekuatan oposisi yang bergerak secara ad-hoc di luar struktur Kedatuan Bukit Jerai.
Bagi Awang Kencana, Purnama Kelana adalah antitesis dari apa yang dibutuhkan untuk dapat memimpin sebuah imperium. Ia tidak percaya kepada adiknya yang dinobatkan sebagai pengganti sang ayah. Baginya, tutur kata dan sikap Purnama yang terlalu lembut, tidak sesangar dirinya, tidak berdada bidang sebagai kekuatan otot-otot kekuasaan adalah sinyal sebuah kelemahan. Awang khawatir bahwa cita-cita luhur untuk mengembalikan kejayaan Sriwijaya hanya akan menjadi angan-angan, jauh api dari panggangnya.
Ketegangan ini membawa kita pada epilog film yang sangat kontemplatif: “Setiap penguasa selalu punya cita-cita luhur. Tetapi setiap penegakan keluhuran itu selalu disertai penaklukan. Kita harus selalu bermusuhan, dengan cara bermusuhan untuk merebut keluhuran itu.” Kutipan ini terasa sangat relevan, mengingat sejarah kekuasaan di Nusantara kerap kali diwarnai dengan paradoks. Sering kedamaian yang dicita-citakan justru harus dibayar dengan tumpah darah.
Tragedi pun memuncak dengan pembunuhan Dapunta sebelum tahta resmi diserahkan. Purnama Kelana, yang justru menjadi pewaris amanat, dituduh sebagai pembunuh. Ia sempat dipenjara, namun berhasil selamat dan membangun kekuatan bersama Ki Goblek untuk merebut kembali haknya dari sang kakak.
Film ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo, sineas kelahiran Palembang yang kerap mengeksplorasi narasi sejarah dalam karyanya. Secara etimologis, "Gending" merujuk pada alunan irama atau tarian tradisional. Dalam film ini, Gending Sriwijaya dihadirkan sebagai simbol identitas. Sebuah tarian yang bukan sekadar estetika, melainkan gerak bela diri seorang srikandi Sriwijaya, Srudija (diperankan oleh mendiang Julia Perez), putri Ki Goblek, menjadi prototipe srikandi yang memadukan keanggunan tarian dengan ketajaman teknik silat.
Mencermati rekam jejak Hanung Bramantyo, termasuk dalam film Sultan Agung, kita melihat pola konsisten di mana tokoh perempuan diposisikan sebagai penggerak narasi yang krusial. Ini memunculkan pertanyaan kritis: Apakah ini upaya untuk menggambarkan peran substansial perempuan di Nusantara yang selama ini mungkin terabaikan, atau sekadar strategi dramaturgi untuk memperluas pangsa pasar?
Secara historis, sesungguhnya peran perempuan di ranah publik kekuasaan Nusantara memang memiliki akar yang dalam. Jauh sebelum masa Kartini, kita mengenal Rohana Kudus, atau Laksamana Malahayati, dan Hanung mungkin hendak memberi tahu ada juga tokoh perempuan bernama Srudija yang telah dilupakan.
Dalam catatan sejarah maritim, peran perempuan dalam diplomasi dan pertahanan sesungguhnya bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari struktur sosial. Namun ketika dihadirkan dalam ruang sinema, sering terjadi "rekayasa sejarah" demi memenuhi kebutuhan narasi modern.
Menggambarkan srikandi yang tangguh, meskipun mungkin memiliki artistik yang melampaui data literatur klasik, tetap memiliki misi edukatif yang baik. Ini seolah menjadi jembatan bagi Kementerian Pemberdayaan Perempuan untuk merayakan narasi sebuah kekuatan perempuan dalam kemasan yang lebih ringan dan populer.
Menonton Gending Sriwijaya mengajak kita berefleksi. Ini bukan sekadar drama soal perebutan takhta, melainkan cermin bagi kita hari ini. Bahwa di balik setiap tarian yang anggun, selalu ada napas perjuangan, dan di balik setiap ambisi kekuasaan, selalu ada harga yang harus dibayar.
Sejarah, dalam kacamata sinematik, memang bukan sekadar pengulangan data, melainkan interpretasi yang terus hidup, tempat di mana mitos dan realitas bersinggungan, dan menuntut kita untuk tetap kritis namun tetap menghargai upaya merawat memori kolektif bangsa.
Mungkin sebagai catatan penutup, Gending Sriwijaya dalam film ini merupakan adaptasi bebas yang menggunakan latar sejarah sebagai setting dramatik, bukan dokumentasi sejarah yang faktual. Penekanan pada peran perempuan dalam karya ini mencerminkan tren kontemporer dalam sinema Indonesia yang mencoba memberikan ruang bagi narasi gender dalam bingkai epik tradisional. (Red)