"Demi cinta (Ishqan de Lekhe) yang membara, kurela menggenggam bara api."
Petikan lirik lagu Rela yang pernah dipopulerkan Inka Christie itu terasa seperti pengantar yang tepat untuk memasuki cerita Ishqan de Lekhe, film Punjabi yang dirilis pada Maret 2026 dan baru saya tonton semalam.
Disutradarai Manvir Brar dan ditulis Jassi Lohka, film berdurasi sekitar dua jam lebih itu dibintangi Gurnam Bhullar dan Isha Malviya. Secara permukaannya, tampak seperti kisah percintaan biasa. Namun semakin lama diikuti, semakin terlihat bahwa yang sedang dibicarakan sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan dua manusia.
Sinema regional India utara, khususnya industri film Punjabi, belakangan ini memang mengalami pergeseran tematik yang signifikan. Mereka tidak lagi sekadar mengeksploitasi lanskap agraris yang romantis atau konflik feodal yang klise, melainkan mulai berani membedah kedalaman psikologis dan eksistensial manusia di tengah gempuran modernitas yang dingin. Namun, di saat layar lebar mulai mencoba meraba lapisan emosi yang lebih pekat tersebut, kita sebagai penonton seperti dibawa pulang dengan perasaan sunyi.
Terkadang saya ingin berkata: dari seribu film cinta yang telah saya tonton, mengapa saya masih juga tak tahu bagaimana menemukan cinta lagi? Pertanyaan yang getir ini kerap muncul ketika saya menyadari betapa film-film—bahkan yang ceritanya paling realistis sekalipun—seringkali menyederhanakan kompleksitas emosi menjadi sekadar jalinan formula visual yang usai sudah dalam hitungan menit.
Mungkin karena cinta memang tak pernah selesai dipelajari. Tak bisa diajarkan seperti matematika, tak bisa dihafal seperti rumus kimia. Sebab setiap kisah cinta selalu datang dengan cara dan bahasanya sendiri. Penolakan cinta terhadap reduksionisme biner inilah yang membuatnya tetap menjadi misteri terbesar dalam sejarah kesadaran manusia, menjadi sebuah teka-teki yang terus bertahan melintasi zaman, kebudayaan, dan revolusi teknologi.
Film ini mengingatkan lagi pada cerita-cerita lama, cinta yang tumbuh saat masa kampus. Masa ketika pertemuan terasa seperti takdir, ketika percakapan sederhana di kantin atau perpustakaan bisa menjadi awal dari sesuatu yang besar. Seperti kisah Samar dan Jasneet dalam Ishqan de Lekhe, cinta bertemu dengan ambisi, ego, kesalahpahaman, dan berbagai ketidaksiapan manusia untuk memahami orang yang dicintainya.
Seperti cinta yang mulai tumbuh di ruang-ruang kelas dan koridor kampus, sebuah perasaan terbangun di atas fondasi kepolosan. Lalu perlahan-lahan kemudian runtuh ketika benturan realitas eksternal seperti tuntutan karier, ekspektasi sosial, dan rapuhnya komunikasi internal mulai menguji daya tahan sebuah komitmen.
Tetapi film ini bukan sekadar cerita picisan tentang sepasang kekasih yang kemudian menjadi gila karena cinta, atau tentang komunikasi yang gagal dan berbagai kejutan yang mengguncang kehidupan mereka. Lebih dari itu, narasi yang dirajut oleh Brar mengarahkan penonton pada pemikiran yang lebih mengusik kenyamanan berpikir kita tentang eksistensi kedirian.
Manvir Brar dan Jassi Lohka sepertinya tak hanya ingin berbicara mengenai kedangkalan hubungan antar dua manusia. Ada sesuatu yang lebih jauh yang coba disentuh. Tentang tubuh dan jiwa. Tentang batas ilmu pengetahuan. Tentang apa yang dapat dijelaskan oleh sains, dan apa yang kadang hanya dapat diterima oleh perasaan. Mereka berdua dengan cerdik memanfaatkan medium film untuk merekam dualisme esensial yang kerap memecah kedamaian hidup manusia modern, yang jatuh pada tarikan antara rasionalitas empiris dan kedalaman intuisi emosional.
Seolah-olah film ini hendak mempertentangkan dua cara pandang mengenai manusia.
Yang pertama adalah cara pandang medis modern yang mekanik. Cara pandang yang melihat manusia sebagai kumpulan organ, jaringan, syaraf, dan fungsi-fungsi biologis yang dapat dipetakan, diukur, lalu diperbaiki. Dalam pengamatan atau cara berpikir ini, emosi-emosi manusia dianggap tak lebih dari sekadar letupan neurokimiawi. Tentang rasa rindu dianggap sebagai lonjakan dopamin, dan kesedihan diidentifikasi sebagai penurunan kadar serotonin di celah-celah sinapsis otak.
Cara pandang ini memang telah membawa peradaban kita pada berbagai keajaiban. Organ dapat ditransplantasi, kanker dapat dideteksi lebih dini, dan berbagai penyakit yang dahulu mematikan kini dapat diobati. Berkat pendekatan positivistik ini, rentang hidup manusia memanjang, dan intervensi bedah maupun farmakologis mampu membalikkan kondisi klinis yang dulunya dianggap sebagai vonis mati yang tak terelakkan.
Tetapi manusia rupanya tidak hanya terdiri atas jantung, paru-paru, ginjal, atau jaringan syaraf. Ada ruang yang tak selalu dapat dibaca oleh alat diagnostik. Ada luka yang tak terlihat oleh hasil laboratorium. Rupanya lembar-lembar hasil pemindaian radiologis yang canggih sekalipun, setidaknya dalam narasi film ini, tidak bisa menangkap tentang bayang-bayang trauma masa lalu, kepedihan akibat penolakan, atau kekosongan eksistensial yang ditinggalkan oleh hilangnya makna hidup.
Di sinilah muncul cara pandang lain yang lebih dekat dengan tradisi Timur, yang sejak lama memandang manusia sebagai kesatuan tubuh dan jiwa. Dalam filsafat India, Cina, maupun berbagai tradisi pengobatan kuno, kesehatan bukan hanya urusan organ, tetapi juga urusan keseimbangan batin. Tubuh (Soma) dan Jiwa (Psyche) tidak diposisikan sebagai dua entitas yang terpisah secara dikotomis, melainkan sebagai sebuah ekosistem yang saling berkelindan, di mana gangguan pada satu bagian akan langsung meresonansi bagian yang lain.
Pandangan ini pun tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh sains modern. Dalam beberapa dekade terakhir, berbagai penelitian dalam bidang psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa kondisi psikologis seseorang memiliki hubungan erat dengan sistem saraf dan kekebalan tubuh. Stres berkepanjangan dapat memperburuk penyakit, sementara dukungan emosional dan hubungan sosial yang sehat dapat mempercepat proses pemulihan.
Penelitian yang dipublikasikan oleh Harvard Medical School dan berbagai jurnal kedokteran modern bahkan menunjukkan bahwa kesepian dan kehilangan hubungan emosional dapat berdampak nyata terhadap kesehatan fisik seseorang. Data dari Harvard Study of Adult Development sebagai salah satu studi terlama di dunia tentang kehidupan orang dewasa, pernah menegaskan secara empiris bahwa faktor penentu utama kesehatan fisik, ketajaman memori, dan umur panjang manusia bukanlah kadar kolesterol atau faktor genetik semata, melainkan kualitas hubungan interpersonal yang hangat dan penuh kasih. Kehilangan koneksi emosional yang mendalam secara kronis setara bahayanya dengan merokok lima belas batang sehari bagi tubuh fisik manusia.
Barangkali karena itu, Ishqan de Lekhe seolah hendak menyuguhkan gagasan bahwa ada pengobatan yang lebih mujarab dari sekadar prosedur medis. Hanya bisa mengobati cinta hanya dengan cinta. Sebuah adagium kuno yang kini menemukan justifikasi klinisnya kembali, bahwa jiwa yang patah hanya dapat disatukan kembali oleh kehadiran yang tulus, bukan sekadar oleh deretan resep obat penenang.
Ketika medis yang mekanik merasa telah berhasil, lalu diam-diam menjadi jumawa, seolah telah menjadi “Tuhan”, film ini seperti mengingatkan bahwa manusia selalu memiliki keterbatasannya sendiri. Di sinilah letak ironi dari modernitas kita yang serba terukur. Kita mampu menghitung jarak bintang-bintang di langit luar, tetapi kerap kali tersesat saat harus memetakan kedalaman batin kita sendiri.
Ada saat ketika dokter berhasil memperbaiki tubuh, tetapi tak mampu menyembuhkan kesepian. Ada saat ketika obat berhasil menurunkan demam, tetapi tak dapat menghapus kerinduan. Ada saat ketika teknologi dapat memperpanjang usia, tetapi tak selalu mampu mengembalikan alasan seseorang untuk tetap hidup. Demikian detak jantung yang dipaksakan terus bernyawa oleh mesin ventilator di ruang perawatan intensif tidak serta-merta berarti manusia tersebut benar-benar sedang "hidup" dalam arti yang seutuhnya, jika jiwanya telah lama layu dan kehilangan keterikatan emosional dengan dunianya.
Mungkin karena itu, dalam sejarah peradaban manusia, cinta selalu menempati tempat yang aneh. Tak terlihat tetapi pengaruhnya nyata. Tak dapat ditimbang tetapi sanggup mengubah hidup seseorang. Tak memiliki rumus yang pasti tetapi terus dicari sejak manusia pertama kali mengenal kehilangan. Cinta melintasi batas-batas epistemologis, menolak ditundukkan oleh metodologi ilmiah yang kaku, dan kehadirannya secara empiris diakui sebagai penggerak terbesar peradaban, seni, dan bahkan revolusi sosial.
Dan mungkin itulah sebabnya para penyair, para filsuf, para sufi, dan para ilmuwan tak pernah benar-benar selesai membicarakannya. Dialog antargenerasi dan lintas disiplin ilmu ini terus bergulir tanpa henti, mencoba meraba esensi dari getaran yang mahadahsyat ini.
Rumi pernah berkata bahwa luka adalah tempat di mana cahaya masuk ke dalam diri kita. Sedangkan Erich Fromm, dalam The Art of Loving, mengatakan bahwa cinta bukanlah sekadar perasaan, melainkan sebuah seni yang menuntut perhatian, tanggung jawab, kesabaran, dan keberanian. Melalui perspektif ini, penderitaan dan keretakan hubungan yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam Ishqan de Lekhe bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah proses inisiasi yang menyakitkan tetapi esensial untuk mengupas lapisan-lapisan ego demi mencapai pemahaman yang lebih murni tentang arti mencintai.
Barangkali cinta memang bukan mukjizat yang dapat menjawab semuanya. Tidak serta-merta menghapus tantangan logistik kehidupan, tidak melenyapkan perbedaan kelas sosial, dan tidak menghapus tagihan-tagihan realitas yang harus dibayar. Tetapi seringkali, ketika ilmu pengetahuan telah bekerja semaksimal mungkin, ketika berbagai teori telah selesai menjelaskan, dan ketika manusia tak lagi memiliki jawaban yang memuaskan, yang tersisa hanyalah seseorang yang memilih bertahan.
Di titik nadir kemanusiaan tersebut, ketika rasionalitas berkata untuk menyerah dan logika menyarankan untuk mundur, muncul sebuah keputusan eksistensial yang melampaui segala perhitungan mekanis itu. Ia yang memilih tetap tinggal. Memilih menggenggam tangan yang lain. Memilih menggelorakan hati untuk tetap mencintai.
Dan mungkin, di sanalah sebenarnya keajaiban itu bermula. Keajaiban yang tidak lahir dari ruang hampa atau mantra sihir, melainkan dari keteguhan kehendak manusia untuk melampaui keterbatasan biologis dan mekanis dirinya demi keselamatan jiwa yang lain.
Sebab manusia memang tidak hidup hanya dengan tubuh yang sehat. Kesehatan organ hanyalah prasyarat biologis, sebuah cangkang fisik yang membutuhkan isi, arah, dan tujuan agar keberadaannya di atas bumi ini tidak menjadi sia-sia dan hampa.
Manusia hidup karena masih ada yang membuatnya ingin pulang. Lalu dalam banyak keadaan, alasan itu bernama cinta, sebagai sebuah pelabuhan emosional terakhir di mana sains meletakkan stetoskopnya dengan takzim, mengakui bahwa di dalam dada manusia terdapat misteri sakral yang hanya bisa dijelaskan, dirasakan, dan disembuhkan oleh ketulusan yang tak bersyarat oleh seseorang untuk seseorang. (Sal)