Harimau Paderi dari Rokan: Jejak Tuanku Tambusai di Antara Indonesia dan Malaysia

Suatu malam, sebuah film sejarah ditayangkan di televisi nasional yang menghadirkan kisah...

Harimau Paderi dari Rokan: Jejak Tuanku Tambusai di Antara Indonesia dan Malaysia

01 Jun 2026
521 x Dilihat
Share :

Harimau Paderi dari Rokan: Jejak Tuanku Tambusai di Antara Indonesia dan Malaysia

Suatu malam, sebuah film sejarah ditayangkan di televisi nasional yang menghadirkan kisah perjuangan Tuanku Tambusai, salah satu tokoh penting dalam perlawanan terhadap kolonialisme Belanda di Sumatra pada abad ke-19. Dalam arus utama literasi kita, masyarakat mungkin lebih familiar dengan nama Tuanku Imam Bonjol dalam narasi Perang Padri, sehingga figur penting lainnya belum banyak diketahui. Padahal, Tuanku Tambusai memiliki peran yang tidak kalah besar dalam mempertahankan kedaulatan masyarakat pribumi dari ekspansi kekuasaan kolonial di wilayah utara Sumatera kala itu. Oleh karena itu, kehadiran visualisasi karya arahan sutradara Irwinsyah, produksi hasil kerjasama antara TVRI dan Pemerintah Daerah Riau tahun 1991, seolah membuka kembali lembaran lama yang memantik ingatan kolektif kita tentang heroisme lokal yang kerap tersisih di pinggiran narasi besar sejarah perjuangan bangsa.

Pada hakikatnya, kisah tentang Tuanku Tambusai bukan sekadar catatan usang mengenai letupan peperangan di masa lalu. Lebih dari itu, ia merupakan fragmen tak terpisahkan dari perjalanan panjang bangsa dalam menghadapi penetrasi asing, mempertahankan marwah identitas, dan merajut kesadaran kebangsaan yang kemudian menjadi fondasi kokoh lahirnya negara modern Republik Indonesia. Melalui heroisme yang melintasi batas-batas geopolitik sezamannya, perjuangan ini menegaskan bahwa fondasi keindonesiaan kita sesungguhnya ditopang oleh jejaring perlawanan komunal yang saling bertautan di berbagai daerah.

Oleh karena itu, melalui rekam jejak sang pahlawan ini, kita ditantang untuk melihat bagaimana sebuah gerakan yang bermula dari lokalitas ternyata mampu beresonansi kuat dalam konstelasi politik regional yang jauh lebih luas. Lokalitas tidak lagi sekadar menjadi latar tempat yang pasif, melainkan episentrum gagasan dan strategi yang dampaknya merembat hingga ke luar batas wilayah geografis asalnya.

Tuanku Tambusai, yang bernama asli Syekh Haji Muhammad Saleh bin Imam Maulana Kadi, lahir di wilayah Dalu-Dalu, yang kini termasuk Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau. Ia dikenal sebagai salah satu pemimpin utama dalam Perang Padri, atau sebuah konflik yang pada awalnya berakar pada perbedaan pandangan keagamaan dan sosial di Minangkabau, namun kemudian berkembang menjadi perlawanan terhadap intervensi kolonial Belanda. Gerakan Padri di bawah kepemimpinannya memadukan kedalaman spiritualitas Islam dengan strategi pertahanan wilayah yang tangguh, mentransformasikan wilayah Rokan menjadi benteng pertahanan yang sulit ditembus.

Dalam berbagai catatan sejarah, Tuanku Tambusai dikenal sebagai pemimpin yang memiliki kemampuan strategi militer yang kuat. Ketangguhannya dalam menghadapi pasukan kolonial, membuat Belanda menjulukinya De Padrische Tijger van Rokan atau "Harimau Paderi dari Rokan". Setelah benteng pertahanannya di Dalu-Dalu berhasil direbut Belanda pada tahun 1838, ia terus melanjutkan perjuangan dan akhirnya harus menetap di Negeri Sembilan, Malaysia, hingga wafat pada tahun 1882. 

Makamnya yang berada di Seremban hingga kini menjadi salah satu simbol keterhubungan sejarah antara Indonesia dan Malaysia. Keberadaan pusara di tanah semenanjung ini meruntuhkan dinding pembatas imajiner yang dibuat oleh Perjanjian London 1824, yang menegaskan bahwa ruang hidup kepahlawanan Nusantara tidak pernah dibatasi oleh hukum laut kolonial.

Keberadaan makam Tuanku Tambusai di Malaysia menunjukkan bahwa hubungan masyarakat di kawasan Nusantara telah terjalin jauh sebelum lahirnya batas-batas negara modern. Pada masa itu, mobilitas penduduk di Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, dan berbagai wilayah lainnya berlangsung secara alami melalui jalur perdagangan, pendidikan, penyebaran agama, maupun hubungan kekerabatan. Selat Malaka bukanlah pemisah, melainkan jembatan cair yang mempertemukan arus ide, komoditas, dan pergerakan manusia dalam sebuah ekosistem kebudayaan yang dinamis.

Fakta sejarah tersebut memperlihatkan bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki akar peradaban yang saling terkait. Bahasa, budaya, tradisi, hingga sejarah politik kedua bangsa berkembang dari ruang kebudayaan yang sama. Karena itu, berbagai dinamika hubungan bilateral yang muncul dari waktu ke waktu seharusnya dipahami dalam konteks sejarah yang lebih luas, yaitu sebagai hubungan antara dua bangsa serumpun yang memiliki banyak kesamaan sekaligus tantangan bersama. 

Di era kontemporer ini, pemahaman tersebut krusial untuk diangkat kembali, agar gesekan-gesekan kecil di permukaan tidak sampai merusak fondasi persaudaraan transnasional yang telah dipahat dengan darah dan air mata oleh para leluhur bangsa Nusantara. Menjaga harmoni serumpun ini tentu tidak berarti kita menutup mata terhadap kompetisi yang sehat di kawasan. Sebaliknya, ikatan historis yang kuat seharusnya menjadi pijakan yang stabil untuk saling mengukur capaian dan memacu kemajuan bersama.

Dalam lanskap kompetisi kawasan itulah, perkembangan Malaysia dalam beberapa dekade terakhir sering menjadi bahan kajian yang menarik dalam berbagai bidang pembangunan. Bank Dunia dan sejumlah lembaga internasional mencatat bahwa Malaysia telah berhasil melakukan transformasi ekonomi yang impresif, bergeser dari negara yang semula berbasis komoditas mentah menjadi negara dengan sektor manufaktur dan jasa yang relatif maju. Keberhasilan tersebut tercermin nyata dari peningkatan kualitas infrastruktur, sistem pendidikan, serta daya saing ekonomi yang terus berkembang dinamis. Melalui cetak biru strategis seperti New Industrial Master Plan (NIMP) serta fokus yang konsisten pada industri bernilai tinggi seperti semikonduktor, Malaysia membuktikan bahwa transisi menuju ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy) dapat dicapai melalui konsistensi kebijakan tata kelola yang adaptif.

Bagi Indonesia sendiri, melihat kemajuan pesat negara tetangga seharusnya tidak lagi dipandang dengan kacamata kecemburuan geopolitik yang menganggapnya sebagai ancaman, melainkan sebagai ruang refleksi dan laboratorium pembelajaran. Alih-alih terjebak dalam sentimen persaingan sempit, akselerasi pembangunan di seberang selat ini mesti dibaca sebagai pengingat (wake-up call) bagi kita. Sebab, persaingan global pada abad ke-21 tidak lagi ditentukan oleh kekuatan militer semata, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, dan kemampuan menciptakan tata kelola pemerintahan yang efektif. Dinamika ini memaksa kita untuk segera keluar dari zona nyaman retorika kebesaran masa lalu, lalu mulai menghitung secara tepat kapasitas riil serta daya tawar kita di panggung dunia.

Dalam konteks inilah, perjuangan yang diwariskan oleh para pahlawan seperti Tuanku Tambusai memperoleh resonansi dan makna barunya yang paling relevan. Jika pada abad ke-19 perjuangan disublimasikan melalui perlawanan fisik bersenjata terhadap kolonialisme, maka tantangan pada era modern kini telah bergeser ke ranah pembangunan kualitas manusia, penguatan institusi, dan peningkatan daya saing bangsa secara global. Modernitas menuntut kita untuk mendefinisikan ulang makna pertahanan. "Benteng Dalu-Dalu" masa kini bukanlah lagi tumpukan tanah dan kayu yang kokoh menahan gempuran peluru meriam Belanda, melainkan ketangguhan pangan, kedaulatan energi, serta benteng digital yang andal dalam melindungi kedaulatan data dan ruang siber nasional.

Demikian juga, salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun kesadaran sejarah di tengah arus globalisasi yang bergerak semakin cepat dan mengikis batas-batas kultural. Di balik kemegahan infrastruktur digital yang kita bangun, ada kerapuhan fundamental dalam ingatan kolektif generasi penerus. Berbagai survei menunjukkan bahwa minat generasi muda terhadap sejarah nasional cenderung mengalami penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi informasi digital yang berkembang sangat pesat. Riset mengenai indeks literasi dan penetrasi media digital memperlihatkan adanya kesenjangan yang lebar antara penguasaan teknologi dan pemahaman nilai-nilai historis. Arus informasi yang membanjir setiap hari tidak serta-merta mencerdaskan, sebab algoritma media sosial hari ini dirancang untuk lebih sering mengekspos konten hiburan yang dangkal demi mengejar traksi, ketimbang menyajikan narasi kebangsaan yang membutuhkan perenungan mendalam. Akibat dari disrupsi perhatian ini, banyak tokoh penting dalam sejarah bangsa yang memiliki kontribusi besar justru kurang dikenal atau bahkan terlupakan oleh masyarakat luas, termasuk sosok keteladanan seperti Tuanku Tambusai.

Padahal, pemahaman terhadap sejarah memiliki fungsi strategis yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi mana pun. Sejarah bukan sekadar kumpulan angka tahun yang mati dan wajib dihafal menjelang ujian, melainkan sebuah kompas hidup yang menyediakan pelajaran berharga tentang bagaimana suatu bangsa menghadapi krisis, merajut persatuan di tengah perbedaan, dan mempertahankan kedaulatannya. Bangsa yang kehilangan ingatan sejarah akan mengalami amnesia kultural dan berisiko besar kehilangan arah dalam menentukan kompas masa depannya. Tanpa adanya jangkar sejarah yang tertanam kuat di dalam sanubari tiap warga negara, masyarakat akan sangat mudah terombang-ambing oleh badai disinformasi, terjebak dalam polarisasi sosial yang merusak, serta rentan terhadap penetrasi budaya asing yang secara perlahan tapi pasti mengikis nilai-nilai luhur domestik kita.

Selain persoalan internal terkait ingatan sejarah, ruang hidup kita hari ini juga menghadapi berbagai tantangan global yang kian kompleks dan saling berkelindan. Konflik geopolitik, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, krisis pangan, hingga perlombaan teknologi tinggi menjadi isu-isu krusial yang secara langsung memengaruhi detak kehidupan masyarakat di berbagai belahan negara. Fenomena kesalingtergantungan ini menegaskan bahwa dalam ekosistem modern, tidak ada satu pun negara yang bisa benar-benar imun atau mengisolasi diri dari guncangan eksternal yang terjadi di belahan bumi lain.

Dalam bidang geopolitik, sebagai contoh, perdebatan panjang mengenai program nuklir Iran selama bertahun-tahun menjadi cermin jernih yang menunjukkan bagaimana standar keamanan internasional seringkali menjadi objek perdebatan dan benturan kepentingan yang bias. Di satu sisi, sebagian pihak menilai bahwa setiap negara memiliki hak berdaulat untuk mengembangkan teknologi nuklir demi kepentingan damai, diversifikasi energi, dan kemandirian sains. Namun di sisi lain, komunitas internasional, terutama kekuatan mapan memiliki kecemasan besar dan kepentingan untuk memastikan bahwa teknologi sensitif tersebut tidak berkembang menjadi ancaman proliferasi senjata yang membahayakan keamanan global. Ketegangan kronis yang terus membayangi kawasan Timur Tengah ini merefleksikan betapa rapuhnya arsitektur perdamaian dunia, terutama ketika ego sektoral dan ketidakpercayaan (distrust) antar-negara berkekuatan besar lebih mendominasi meja perundingan ketimbang semangat keadilan universal.

Perdebatan asimetris serupa nyatanya juga konsisten muncul dalam berbagai konflik internasional lainnya, di mana negara semenjana sering kali menjadi pelanduk di tengah pertarungan para gajah. Karena realitas yang timpang itulah, tuntutan global terhadap lahirnya sistem internasional yang lebih adil, setara, dan inklusif kini terus mengemuka. Banyak akademisi dan pengamat hubungan internasional berpendapat bahwa reformasi tata kelola global sudah bersifat mendesak, agar lembaga-lembaga multilateral mampu merepresentasikan kepentingan negara-negara berkembang secara lebih proporsional dan bermartabat. Struktur multilateral peninggalan Perang Dunia II dinilai sudah usang serta gagap dalam merespons realitas multipolaritas baru, di mana suara dan hak hidup negara-negara “Dunia Selatan” (Global South) seharusnya tidak lagi diletakkan di pinggiran meja pengambil keputusan atau sebagai penonton pasif.

Di tengah kerasnya benturan kepentingan tersebut, dunia internasional memerlukan ruang dialog yang jernih dan kerja sama antarnegara yang tulus. Dalam sistem global yang terhubung secara digital dan ekonomi, penyelesaian berbagai persoalan kemanusiaan tidak akan pernah dapat dicapai secara unilateral atau sepihak. Perdamaian yang berkelanjutan, stabilitas ekonomi makro, dan agenda pembangunan hijau hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi taktis yang melibatkan berbagai pihak secara setara. Dalam skala regional yang lebih dekat, institusi seperti ASEAN harus terus diperkuat taji dan diplomasinya, agar mampu menjadi penengah yang efektif serta menjaga kawasan Asia Tenggara tetap menjadi zona netral yang damai, berdaulat, dan sejahtera di tengah pusaran rivalitas kekuatan besar.

Di tengah lanskap perubahan global yang penuh ketidakpastian tersebut, nilai-nilai prinsipil yang diwariskan oleh tokoh-tokoh sejarah seperti Tuanku Tambusai justru menemukan momentumnya yang paling benderang. Keteguhan prinsip dalam menjaga kedaulatan, keberanian menghadapi tantangan zaman yang asimetris, kemampuan beradaptasi terhadap pergeseran peta politik, serta komitmen total terhadap kemaslahatan masyarakat merupakan kualitas-kualitas utama yang mendesak dibutuhkan oleh setiap generasi pemimpin hari ini. Karakter ikonik sang "Harimau Rokan" yang tidak pernah menyerah pada kedzaliman kolonial, bahkan ketika strategi memaksanya harus berpindah tanah pengabdian menyeberangi selat adalah purwarupa nyata dari sebuah integritas dan heroisme yang melampaui sekat-sekat batas ruang geografis formal.

Sebab kita harus menyadari bahwa warisan terbesar dari para pahlawan bukanlah sekadar heroisme memenangkan sebuah fragmen peperangan, melainkan keteladanan abadi tentang bagaimana sebuah masyarakat merawat martabatnya di tengah tekanan impitan zaman. Oleh karena itu, mengenang kembali sosok Tuanku Tambusai tidak boleh lagi terjebak dalam ritual seremonial yang kering atau sekadar penghafalan baris nama dalam buku pelajaran sekolah. 

Hal yang jauh lebih penting adalah menangkap api dan substansi nilai perjuangan yang diwariskannya, lalu menerjemahkannya secara kontekstual ke dalam bentuk jawaban atas tantangan masa kini. Kita dituntut untuk mengejawantahkan heroisme lama tersebut ke dalam etos kerja yang tangguh, inovasi sains yang mandiri, serta perumusan kebijakan publik yang berpihak pada kemanusiaan.

Sejarah memang bukan sekadar romantisasi masa lalu yang beku. Ia adalah cermin hidup yang membantu masyarakat dalam memahami dialektika masa kini sekaligus menuntun arah kompas masa depan. Dari keteguhan sosok Tuanku Tambusai, Indonesia dapat memetik pelajaran berharga bahwa perjuangan untuk menjaga dan membangun kedaulatan bangsa tidak pernah benar-benar selesai. Pola dan medannya mungkin berubah dari generasi ke generasi. Dari desing peluru menuju perang dagang dan siber, tetapi semangat dasar untuk menjaga marwah, keadilan sosial, dan kemajuan peradaban akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang harus dilanjutkan. 

Mengabaikan jejak sejarah ini sama saja dengan membiarkan diri kita berjalan meraba-raba dalam kegelapan globalisasi tanpa arah. Sementara merawatnya dengan saksama adalah ikhtiar terbaik untuk memastikan bahwa api kedaulatan yang pernah dinyalakan dari Benteng Dalu-Dalu akan terus menyala terang, menerangi jalan panjang Republik Indonesia menuju masa depan yang dicita-citakan. (Red)

Perspektif

Scroll