Sebuah dongeng modern tentang Malin Kundang dari Hindustan yang mewujud di layar kaca melalui film Baghban. Ketika ayah diibaratkan sebagai Tuhan dan ibu digambarkan sebagai malaikat bagi anak-anaknya—sebuah ungkapan tradisi yang sakral dan sempat diucapkan dalam salah satu dialog film ini—maka pertanyaan yang kemudian muncul apa yang sebenarnya terjadi ketika anak-anak itu tumbuh dewasa, lalu arus zaman menelikung mereka tanpa henti?
Kita yang berada di sebuah persimpangan peradaban, di mana pergeseran demografi global bergerak linear dengan keretakan tatanan sosial-kekeluargaan. Kita dipaksa hidup dalam sebuah masa yang semakin industrialistis. Akibatnya, manusia tidak lagi dilihat sebagai pribadi yang utuh, melainkan hanya sebagai fungsi-fungsi ekonomi demi kelangsungan sistem produksi. Kehidupan pun bergerak teramat cepat, yang sepenuhnya ditentukan oleh target, produktivitas, dan angka-angka capaian. Dalam pusaran inilah, waktu bertransformasi menjadi komoditas yang sangat mahal. Bahkan, perhatian dan kasih sayang pun seperti harus bersaing ketat dengan jadwal rapat, cicilan rumah, tagihan listrik, biaya pendidikan anak, hingga tekanan pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dampak dari runtuhnya sekat-sekat domestik ini pun mulai merambah ke ranah global. Fenomena ini bukan lagi sekadar keluhan di dalam ruang domestik yang bersifat personal, melainkan sebuah transformasi struktural yang masif dan sistemik. Data dari World Health Organization (WHO) dan World Economic Forum (WEF) secara konsisten mengingatkan bahwa modernitas membawa beban psikologis baru yang sangat berat. Salah satu manifestasi paling nyata adalah munculnya isolasi sosial pada lansia, yang kini telah diakui sebagai krisis kesehatan masyarakat global dengan tingkat bahaya yang setara dengan risiko merokok atau obesitas.
Ironisnya, perluasan ruang industri ini tidak lagi menyisakan tempat pelarian yang ramah bagi generasi tua, bahkan di wilayah pedesaan sekalipun. Dahulu, persoalan biaya hidup yang mencekik identik dengan kota-kota besar, tetapi kini tidak lagi terjadi. Di desa pun, sendi-sendi kehidupan menjadi semakin mahal seiring terkikisnya ruang-ruang kultural agrarian. Banyak lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman modern. Akibat jeratan ekonomi ini, generasi muda berbondong-bondong meninggalkan sawah dan kebun untuk bekerja di pabrik, kantor, atau menjadi pekerja migran di negeri orang. Data dari berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa urbanisasi yang agresif dan perubahan struktur ekonomi yang radikal ini telah mengubah, bahkan merusak, hubungan antaranggota keluarga di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia dan India.
Secara lebih spesifik, laporan dari United Nations Department of Economic and Social Affairs (UN DESA) mengenai World Social Report menegaskan keretakan ini. Laporan tersebut memaparkan bahwa penetrasi kapitalisme siber dan deagrarisasi telah memaksa struktur keluarga inti (nuclear family) untuk memisahkan diri sepenuhnya dari tatanan keluarga besar (extended family). Ikatan komunal yang dahulu kokoh sebagai benteng pertahanan sosial, kini melonggar akibat tuntutan mobilitas geografis demi memenuhi kualifikasi pasar kerja yang kian kompetitif dan tidak menentu.
Dalam situasi yang serba pragmatis seperti itu, perhatian anak kepada orang tua mengalami pergeseran makna yang cukup mendalam. Nilai pengabdian tidak lagi dipandang secara holistik, melainkan mengalami reduksi. Perhatian kini bukan semata soal materi, tetapi juga soal waktu, kedekatan, dan kehadiran fisik yang kian absen. Penghormatan kepada orang tua yang dahulu dianggap sebagai kewajiban moral yang mutlak, kini sering ditafsir ulang secara sepihak dalam bahasa hak individu, kebebasan memilih jalan hidup, dan kemandirian pribadi yang egosentris.
Pergeseran nilai ini akhirnya melahirkan benturan epistemologis antara peradaban Barat dan Timur di dalam rumah kita sendiri. Etika utilitarianisme Barat perlahan-lahan menggeser konsep filial piety (kesalehan dan bakti anak) yang selama ribuan tahun menjadi jangkar spiritual kebudayaan Timur. Memang benar bahwa ungkapan kuno seperti "surga berada di telapak kaki ibu" atau "ridha orang tua adalah ridha Tuhan" tetap hidup dalam memori kolektif budaya masyarakat Timur. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa generasi baru sering melihat hubungan orang tua dan anak secara lebih setara dan transaksional. Hubungan tersebut tidak lagi dipandang semata-mata sebagai bentuk kepatuhan mutlak yang suci, melainkan sebuah hubungan timbal balik yang sangat dipengaruhi oleh pola pengasuhan masa lalu, pengalaman masa kecil, serta kualitas komunikasi di dalam keluarga.
Di tengah pergeseran nilai itulah hadir film Baghban, sebuah karya sinematik legendaris dari sutradara Ravi Chopra yang dibintangi oleh Amitabh Bachchan, Hema Malini, dan Salman Khan. Film yang dirilis pada tahun 2003 ini sesungguhnya mengangkat tema yang sangat tua, bahkan mungkin oleh sebagian generasi modern dianggap usang, yaitu tentang bakti anak kepada orang tua. Tetapi justru karena tema itu kerap dituduh usang di tengah laju modernitas, kehadiran film ini terasa menjadi sangat penting. Sebab, ia mengingatkan kita kembali pada sesuatu yang perlahan-lahan mulai dilupakan dalam riuh rendah kehidupan kontemporer. Terlebih di era digital saat ini, ketika diskursus mengenai sandwich generation kerap dikaji hanya secara mekanis dari sudut pandang beban finansial anak, Baghban menawarkan perspektif sebaliknya yang sangat kontemplatif, sebuah tatapan pilu dari sudut pandang orang tua yang tenaganya telah habis diperas oleh waktu demi masa depan generasi penerusnya.
Secara naratif, Baghban bercerita tentang kepedihan mendalam orang tua yang diabaikan oleh anak-anaknya sendiri. Menggambarkan sebuah potret muram tentang anak-anak yang tidak lagi menyediakan tempat berlindung yang layak bagi ayah dan ibunya. Tentang anak-anak yang semasa kecilnya pernah menjadi pusat perhatian dan prioritas kehidupan orang tuanya, lalu ketika beranjak dewasa justru menganggap kehadiran orang tuanya di rumah mereka dianggapnya sebagai beban, sebab mengganggu efisiensi keuangan rumah tangganya.
Dalam epilog film, sang tokoh ayah sempat menyampaikan kalimat sederhana sebagai pesan yang mengandung daya tikam yang sungguh menyakitkan bagi yang merasakannya, bahwa "Anak-anak yang tidak mencintai orang tuanya, yang tidak memberi tempat bagi orang tuanya, yang tidak menghormati orang tuanya," menjadi haluan film ini (atau buku yang ditulis sang ayah) ditujukan.
Sesungguhnya jika kita menyelami lapis-lapis makna yang secara lebih saksama, inti film ini bukan sekadar luapan kemarahan atau dendam seorang ayah kepada anak-anaknya. Ada metafora yang jauh lebih dalam dan filosofis di balik konflik domestik tersebut, yaitu benturan cara pandang antara filosofi "menanam pohon" dan ambisi "menaiki tangga" dalam membangun rumah tangga sebuah keluarga.
Sebuah keluarga pada hakikatnya ibarat sebuah pohon yang dahulu ditanam dari benih kecil yang rapuh. Lalu, ia tumbuh perlahan karena konsisten disiram oleh kasih sayang, dipupuk melalui deretan pengorbanan, dan dijaga oleh kerja keras yang tidak pernah tercatat dan tidak akan pernah bisa dihitung dalam laporan keuangan keluarga.
Pohon itu kemudian membesar seiring berjalannya waktu. Batangnya menguat untuk bersandar, rantingnya bertambah untuk melindungi, dan daunnya merimbun memberikan keteduhan. Dan dalam naungan itulah, anak-anak pun bertumbuh menjadi orang yang dikatakan cukup sukses di mata masyarakat. Mungkin sebagian dari mereka berhasil menjadi pengusaha, sebagian menjadi profesional, dan sebagian lagi memiliki rumah besar serta kendaraan mewah. Lalu di tengah silau pencapaian itu, kita mungkin lupa bahwa pohon lama yang menopang semua kemegahan itu kini telah meranggas dan menua. Lantas anak-anaknya yang mapan itu hanya menjadi penikmat yang lahap memetik buahnya, tetapi tidak lagi sudi memperhatikan dan merawat akarnya.
Secara sosiologis, film ini menggambarkan sosok seorang ayah yang sepanjang hidupnya bekerja keras tanpa mengenal lelah demi menegakkan tiang-tiang rumah tangganya. Baginya, investasi terbesar di dunia ini bukanlah tumpukan deposito, portofolio saham, reksa dana, atau aset properti yang mentereng. Investasi terbesarnya yang paling berharga adalah anak-anaknya sendiri. Demi prinsip itulah, ia menghabiskan sisa umurnya demi membiayai pendidikan mereka, mengorbankan masa mudanya yang berharga demi masa depan mereka, bahkan ia sendiri tidak sempat memikirkan jaminan masa pensiunnya sendiri.
Dalam salah satu adegan yang sangat menggugah, seorang temannya sempat menyarankan agar ia membuka usaha mandiri setelah masa pensiunnya tiba. Namun, dengan senyum getir ia menjawab, “Aku sudah terbiasa memiliki atasan.”
Jawaban sederhana itu menunjukkan satu hal yang fundamental bahwa bekerja baginya bukan sekadar urusan transaksional mencari uang, melainkan sebuah bentuk pengabdian total kepada keluarga. Namun, di balik sosok pekerja keras di dunia profesional itu, juga tersimpan kepribadian sebagai seorang lelaki romantis yang mencintai istrinya dengan cara yang teramat bersahaja. Kedalaman rasa itu tercermin seperti dalam salah satu dialognya yang puitis ketika ia bertanya, "Kenapa aku pergi begitu lama?" Lalu ia menjawabnya sendiri, “Supaya saat pulang aku bisa melihat senyummu.”
Melalui jalinan rasa tersebut, Baghban tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal orang tua dan anak, tetapi juga tentang hubungan horizontal berupa cinta sejati yang bertahan kokoh melewati gempuran puluhan tahun. Empat puluh tahun mereka hidup bersama dalam ikatan perkawinan yang kudus. Empat puluh tahun mereka jatuh bangun membangun pondasi keluarga. Empat puluh tahun mereka konsisten menanam dan merawat pohon yang sama. Karena itu, ketika anak-anak mereka secara sepihak memutuskan untuk memisahkan sepasang kekasih tua ini demi alasan efisiensi anggaran hidup, keputusan itu terasa begitu kejam dan tidak manusiawi.
Dalam rekonstruksi ceritanya, sang ayah dipaksa tinggal di rumah anak kedua, sementara sang ibu tinggal di rumah anak pertama. Mereka dipisahkan bukan karena sebuah perceraian, bukan pula dipisahkan oleh maut dan kematian, melainkan dengan sengaja dikoyak oleh anak-anak yang dahulu mereka timang dan besarkan sendiri hanya karena alasan efisiensi keuangan rumah tangga masing-masing anaknya.
"Setelah empat puluh tahun bersama, sekarang kita dipisahkan?" tanya sang ayah dengan suara bergetar. Di tengah luka sang ayah itu, sang ibu memilih menekan egonya demi menenangkan situasi dengan berkata, “Kita harus menjaga perasaan anak-anak kita.”
Di sinilah letak ironi sekaligus tragedi terbesar dalam film ini. Orang tua tetap memprioritaskan dan memikirkan perasaan anak-anaknya, bahkan ketika perasaan dan harga diri mereka sendiri telah diabaikan dan diinjak-injak. Pemisahan paksa atas dasar alokasi anggaran rumah tangga anak-anaknya ini mencerminkan realitas pahit tentang bagaimana logika akuntansi pasar dan kalkulasi untung-rugi kapitalisme telah menyusup jauh, merusak ruang paling sakral dalam kemanusiaan kita, yaitu kasih sayang tanpa syarat (unconditional love) dalam hubungan keluarga.
Dengan demikian, Baghban sesungguhnya bukan hanya sebuah potret melodrama domestik dari India. Ia adalah sebuah kisah universal yang sedang terjadi di beranda rumah kita semua. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa fenomena kesepian pada usia lanjut (elderly isolation) telah bergeser menjadi salah satu persoalan sosial terbesar dan paling mematikan di abad ke-21. Di banyak negara modern, semakin banyak lansia yang hidup sebatang kara atau justru merasa terasing dan kesepian di tengah riuhnya keluarga mereka sendiri. Kemajuan ekonomi yang masif ternyata tidak selalu berjalan seiring dengan kedekatan emosional antar-generasi.
Riset sosiologis kontemporer pun menunjukkan gejala keterasingan yang kian merata di kota-kota megapolitan dunia. Menjamurnya industri panti jompo komersial dan merebaknya fenomena lonely deaths (seperti kodokushi di Jepang) menjadi bukti empiris yang tak terbantahkan bahwa kemajuan materi seringkali harus dibayar mahal dengan kebangkrutan empati. Di sisi lain, kemampuan teknologi memang berhasil mempercepat komunikasi, tetapi secara ironis tidak selalu mampu mempererat hubungan. Seorang anak hari ini dapat dengan mudah menelepon orang tuanya setiap hari melalui panggilan video, namun visual digital tersebut belum tentu membuat mereka benar-benar hadir secara utuh dalam kehidupan batin orang tuanya. Gadget canggih berhasil menjembatani jarak geografis yang jauh, namun secara paradoks justru memperlebar jarak psikologis antar-manusia.
Namun, di tengah pekatnya kesedihan alur cerita tersebut, gagasan utama film ini menawarkan sebuah oase moral dengan menghadirkan sosok pembanding yang kontras. Selain membesarkan anak-anak kandung mereka yang kelak berkhianat, pasangan tua ini juga membesarkan seorang anak pungut yang diperankan dengan sangat apik oleh Salman Khan. Ia adalah sosok yang tidak memiliki pertalian darah daging dan bukan pula pewaris sah harta keluarga. Namun, di atas semua ketiadaan hak biologis itu, justru dialah yang paling memahami arti hakiki dari sebuah kasih sayang dan balas budi.
Anak pungut ini membawa memori masa lalu yang traumatis tentang perasaannya ketika kecil, di mana ia merasa eksistensinya tidak lebih dari sebutir batu tak berharga di pinggir jalan yang tak diperhatikan, tak dicintai, dan tak dianggap oleh dunia. Lalu, datanglah sepasang tangan hangat yang mengulurkan pertolongan. Seseorang yang bersedia membersihkan debu dari bajunya, mengusap kepalanya penuh kelembutan, memberinya akses pendidikan yang layak, menyediakannya rumah tempat bernaung, hingga akhirnya mengembalikan harga dirinya sebagai seorang manusia. Atas dasar utang budi spiritual yang mendalam itulah, ia kemudian berkata dengan penuh takzim, “Dunia membutuhkan lebih banyak orang seperti ayahku.”
Melalui kontras karakter tokoh tersebut, sesungguhnya film ini mengajak kita agar membalik logika umum tentang definisi tradisional mengenai apa itu keluarga. Film ini membuktikan sebuah premis pahit bahwa hubungan darah tidak selalu otomatis melahirkan kasih sayang. Sebaliknya, kasih sayang yang tulus dan dirawat dengan kepekaan batin sering melahirkan hubungan yang jauh lebih kuat daripada ikatan darah sekalipun. Sineas Ravi Chopra secara brilian mengonstruksi kritik budaya yang tajam ini, menelanjangi realitas bahwa adopsi moral dan spiritual justru jauh lebih mengakar serta mengikat ketimbang genetika biologis yang kering dari rasa hormat.
Tragedi keretakan komunikasi ini mencapai puncaknya pada bagian akhir narasi film. Bahkan ketika sang ayah akhirnya menulis sebuah buku memoar yang berjudul Baghban, bukan anak-anak kandungnya yang mampu memahami kedalaman isi hatinya. Justru anak pungut itulah yang berdiri paling depan di ruang publik, menatapnya penuh takzim, dan memberikan penghormatan tertinggi.
Buku yang ditulis oleh sang ayah tersebut sesungguhnya tidak berisi teori besar yang muluk-muluk, tidak pula berisi diktum filsafat yang rumit. Ia hanya berisi curahan jujur dari pengalaman hidup seorang ayah yang merasa kehilangan tempat di hati anak-anaknya sendiri. Lewat lembaran kertas itu, ia menulis dengan getir tentang jarak psikologis yang kian menganga antara dua generasi. Tentang sepasang tangan yang dahulu dengan gagah menuntun anak mengambil langkah pertama, tetapi kini mulai gemetar dimakan waktu. Tentang suara yang dahulu bersenandung lembut untuk menidurkan anak-anaknya, tetapi kini diabaikan dan tidak lagi didengar. Tentang bahu yang dahulu menjadi tempat bersandar paling aman bagi anak-anaknya yang ketakutan, tetapi kini perlahan membungkuk dan rapuh dimakan usia.
Melihat semua benturan nilai ini, kita diajak untuk merenung lebih jauh. Mungkin memang zaman telah berubah secara radikal, dan kita tidak bisa memutar balik jarum jam. Generasi baru hari ini tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih pintar, lebih praktis, lebih efisien, dan lebih rasional dalam memandang dunia. Tetapi, di balik segala kecanggihan itu, Baghban mengajukan satu pertanyaan yang mungkin sulit dijawab. Apakah kemajuan materi ini benar-benar membuat kita menjadi manusia yang lebih baik, ataukah kemajuan ini hanya membuat kita menjadi manusia yang lebih sibuk dan terasing? Apakah tumpukan pencapaian karier serta status sosial berbanding lurus dengan kehalusan budi pekerti, ataukah tanpa sadar kita sedang bergerak menuju kepunahan rasa kemanusiaan demi menyembah berhala produktivitas?
Satu hal yang perlu digarisbawahi secara adil adalah bahwa film ini tidak sedang bersikap utopis. Film ini tidak meminta anak-anak menyerahkan seluruh ruang hidup dan masa depan mereka secara mutlak kepada orang tua, tidak pula bermaksud menolak modernitas secara membabi buta. Yang diingatkannya hanyalah satu hal sederhana yang fundamental: Jangan sampai kesuksesan hidup dibangun di atas fondasi kelalaian, dengan melupakan orang-orang yang membuat kesuksesan itu mungkin terjadi sejak awal. Karena pada hakikatnya, hidup bukan hanya soal menaiki tangga ambisi. Sebuah tangga mestinya mengajarkan kita bahwa ketika kita terus naik ke atas dengan cara egois, sesungguhnya itu sambil kita menginjak anak tangga di bawahnya. Karena itu, filosofi pohon mesti mengajarkan kita agar tetap berakar kuat dan konsisten memberi teduh kepada sekelilingnya.
Orang tua kita adalah manifestasi nyata dari pohon itu. Mereka bersedia menahan terik panas matahari kehidupan agar anak-anaknya bisa tumbuh di tempat yang sejuk. Mereka rela menahan gempuran hujan badai agar anak-anaknya tetap berdiri kuat. Mereka bahkan membiarkan cabang-cabang impian pribadi mereka dipotong dan dikorbankan demi memberi ruang bagi kehidupan baru sang anak. Dan ketika usia pada akhirnya membuat penglihatan mereka mulai rabun, langkah kaki mereka mulai goyah, serta jemari tangan mereka mulai gemetar, sesungguhnya yang mereka butuhkan dari anak-anaknya bukanlah gelontoran kekayaan materi. Mereka hanya membutuhkan kehadiran fisik. Mereka membutuhkan ruang percakapan yang hangat. Mereka membutuhkan perasaan berharga bahwa sisa hidup mereka masih berarti bagi orang-orang yang paling mereka cintai.
Sebuah gugatan moral kemudian mengetuk pintu kesadaran kita. Jika seorang ayah dahulu dengan penuh kesabaran membantu anaknya mengambil langkah pertama dalam hidup, mengapa kini begitu sulit bagi seorang anak untuk sekadar membantu ayahnya mengambil beberapa langkah terakhir di dunia?
Barangkali itulah pertanyaan terbesar dan warisan paling berharga yang ditinggalkan oleh Baghban. Sebuah pertanyaan retoris yang tidak hanya ditujukan kepada karakter anak-anak durhaka dalam film itu, melainkan bergaung keras kepada kita semua yang sedang menontonnya. Sebab hampir setiap orang di dunia ini pasti ingin menjadi anak yang berhasil secara materi dan karier. Tetapi, tidak semua orang ingat atau mengerti bagaimana cara menjadi anak yang berbakti dengan penuh totalitas.
Dan mungkin, ukuran sejati dari keberhasilan hidup seseorang bukan hanya dilihat sejauh mana ia mampu mengubah nasib dan mendaki puncak hidupnya sendiri, melainkan sejauh mana ia tetap memuliakan, merawat, dan menghormati orang-orang yang pernah mengorbankan seluruh hidup mereka demi dirinya.
Di tengah riuh rendah dunia modern yang terus-menerus mengejar capaian angka dan pertumbuhan ekonomi, berharap film menjadi sebuah cermin retak bagi kita semua untuk berkaca, bahwa mengurus dan menemani orang tua di hari tua mereka bukanlah sebuah transaksi akuntansi ekonomi yang melulu menghitung untung dan rugi, melainkan sebuah ujian tertinggi dari keluhuran jiwa dan derajat kemanusiaan kita.
Sebab sebuah peradaban yang agung tidak pernah diukur dari seberapa tinggi gedung pencakar langit yang mampu dibangun oleh generasi mudanya, melainkan dari seberapa terhormat, aman, dan damainya para lansia dirawat di masa senja mereka. Betapa penting menjaga pohon tua itu agar tetap teguh dan teduh adalah cara paling jujur bagi kita untuk merawat akar kemanusiaan kita sendiri, sebelum musim gugur tak terelakkan datang menjemput kita semua. (Sal)