A Wednesday dan Kota Simulasi: Ketika Kepercayaan Menjadi Langka

Dari pagi sampai petang sampai malam, dari sekian banyak orang yang kita temui, saat berpapasan di...

A Wednesday dan Kota Simulasi: Ketika Kepercayaan Menjadi Langka

16 Feb 2026
286 x Dilihat
Share :

A Wednesday dan Kota Simulasi: Ketika Kepercayaan Menjadi Langka

Dari pagi sampai petang sampai malam, dari sekian banyak orang yang kita temui, saat berpapasan di jalan, bertemu di gedung kantor, berjejeran di ruang ibadah sampai tetangga sebelah, hanya berapa persen orang yang kita tahu, kita kenal, kita sapa dan siapa namanya, atau bertanya bagaimana kabarnya, dan dari mana asal hati dan pikirannya? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung kegelisahan di hidup yang modern: mengapa kita hidup dalam keramaian yang semakin padat, tetapi perasaan keterhubungan justru semakin jarang ditemukan?

Akhirnya, menjadi ada semacam kerinduan yang ganjil dalam setiap langkah kaki kita di trotoar yang tertata rapi. Tidak seperti di kampung dulu, yang kini mungkin kita hanya mengingatnya sebagai nostalgia, pada nama-nama orang sekampung terasa akrab dan dekat, padahal jarak rumahnya sangat berjauhan. 

Kehidupan di kampung semua orang tahu siapa anak siapa, siapa bekerja apa, bahkan siapa diam-diam mencintai siapa. Urusan pribadi tidak sepenuhnya privat, karena bahkan semua menjadi milik sosial. Di sana, eksistensi seseorang telah divalidasi oleh pengakuan tetangganya. Ada kontrol sosial yang kuat, bahkan terkadang terlalu kuat. Jika seseorang menikah tanpa restu sosial, ia bisa menghadapi “hukuman” sosial yang tidak tertulis. Begitulah sebuah konsekuensi dari hidup dalam ekosistem yang saling mengikat.

Namun kota bekerja dengan cara berbeda. Di kota, kita berjalan sendiri-sendiri, bergerak berdasarkan agenda, target, dan ritme personal. Kita keluar rumah dengan tujuan spesifik, masuk ruang publik hanya sebagai fungsi: pekerja, pelanggan, pengguna transportasi, atau sekadar pejalan kaki anonim. Hubungan sosial menjadi transaksional, bukan lagi relasional. Orang lain bukan lagi bagian dari cerita kita, melainkan hanya latar yang bergerak (background actors) dalam teater kehidupan pribadi kita masing-masing.

Jika kita baca dalam perspektif urban-sosiologi, perubahan ini dapat dibaca melalui gagasan “Modernitas Cair” (Liquid Modernity) dari sosiolog Zygmunt Bauman. Bauman menggambarkan masyarakat modern sebagai ruang yang cair, sebagai relasi yang fleksibel, identitas mudah berubah, dan keterikatan sosial menjadi rapuh. Dalam masyarakat cair semacam itu, manusia cenderung menghindari komitmen yang dalam karena ketidakpastian menjadi kondisi permanen. Kota bukan lagi ruang komunitas yang stabil, melainkan arus pertemuan sementara yang terus bergerak tanpa jangkar yang pasti.

Lantas ketika menghadapi sebuah situasi di jalan, di terminal, di bus angkutan ada yang tiba-tiba menyapa, meski dengan ramah, tapi segera kita waspada. Mata awas menerawang, atau mencoba membaca tanda-tanda yang tidak biasa. Sapaan yang dulu terasa hangat dalam suasana ekosistem pedesaan, sering terasa mencurigakan di hidup perkotaan. 

Jangankan buat yang lahir dan tumbuh di kota, bagi yang lahir di pedesaan lalu berpindah ke kota, karena telah belajar dari pengalaman sosial bahwa keramahan di kota bisa menjadi selubung tipis bagi niat jahat, sapaan bisa menjadi pintu awal modus penipuan, pencopetan, atau kejahatan lain yang mengintai di balik senyum artifisial di permukaan.

Modernitas, pada akhirnya, bukan hanya membawa kebebasan fisik, tetapi juga memperbesar jarak emosional. Kita menjadi asing bagi satu sama lain, meski bahu kita bersentuhan di dalam kereta komuter yang sesak.

Jean Baudrillard, filsuf postmodern, pernah menyinggung bahwa masyarakat modern hidup dalam dunia simulasi, sebuah kondisi di mana realitas sosial dipenuhi tanda dan citra yang tidak selalu merepresentasikan kenyataan sebenarnya. Dalam ruang urban, orang lain menjadi “permukaan visual” yang sulit dipercaya, karena identitas bisa disembunyikan di balik peran sosial, gaya berpakaian, atau persona digital yang dikurasi sedemikian rupa. Kita tidak lagi berinteraksi dengan manusia secara utuh, melainkan dengan representasi yang ambigu.

Dan karena situasi sosial demikian itulah, dinamika gender pun ikut terdistorsi, untuk meluaskan pergaulan, untuk mencari pertemanan, sampai sebagai cara menemukan jodoh. Dalam caranya membuat perempuan seringkali harus menonjolkan identitas visualnya agar dikenali atau mencari rasa aman, sementara laki-laki yang menyapa sering tidak dipercaya begitu saja, dicap sebagai potensi predator sebelum terbukti sebaliknya. Di ruang publik, relasi antarmanusia dipenuhi negosiasi rasa aman yang melelahkan. Setiap interaksi memerlukan perhitungan mental yang cepat, membuat cara berpikir seragam: apakah ini tulus atau ancaman?

Di sinilah muncul satu kata yang pelan-pelan membentuk lanskap psikologis masyarakat kota: Kecurigaan. Demikianlah yang ditumbuhkan dari dan karena kecurigaan. Terorisme kemudian hadir sebagai lapisan tambahan dari ketidakpercayaan itu. Terorisme dari apa pun agama atau ideologi pelakunya, telah menduplikasi rasa tidak aman di jalan dan pusat keramaian. Ia mengubah ruang publik menjadi medan potensi ancaman yang tak terduga turut serta menumbuhsuburkan api kecurigaan dan abu kebencian pada orang-orang yang bahkan tidak kita kenal. Hanya karena atribut luar, atau karena propaganda, atau sebab tafsir teologi kebencian, membuat seseorang bisa menjadi sasaran prasangka kolektif.

Penelitian sosial menunjukkan bahwa aksi terorisme bukan hanya menimbulkan korban fisik, tetapi juga menggerus rasa aman kolektif dan kepercayaan sosial (social trust). Ketika masyarakat terus-menerus dibayangi ancaman, hubungan sosial cenderung menjadi defensif dan tertutup. Baudrillard bahkan berargumen bahwa terorisme modern sering bekerja melalui efek simbolik seperti ini. Mmenciptakan “Realitas Hiper” (Hyperreality) di mana ketakutan yang direproduksi melalui layar kaca dan media sosial menjadi jauh lebih besar daripada kejadian misalnya “aksi bom” itu sendiri. Sebab media dan memori kolektif dapat memperpanjang dampak teror hingga melampaui peristiwa aktualnya. Rasa takut menjadi simulasi yang terus hidup dan menghantui setiap sudut gelap kota.

Meski demikian, data global menunjukkan paradoks menarik. Menurut laporan Global Terrorism Index, tingkat dampak terorisme di banyak negara, termasuk Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, justru menunjukkan tren penurunan yang signifikan berkat upaya deradikalisasi dan penegakan hukum yang ketat. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena pengaruh dinamika global dan perkembangan teknologi digital yang memungkinkan radikalisasi mandiri (self-radicalization). Artinya, ada jurang antara data dan rasa; rasa takut seringkali bertahan lebih lama dan berakar lebih dalam daripada ancaman itu sendiri.

Dan di titik inilah film A Wednesday! menjadi sangat relevan untuk memotret kemuakan kita, pada cara hidup modern yang melahirkan kecurigaan berlebihan.

Film thriller India yang dirilis tahun 2008 dan disutradarai Neeraj Pandey ini dikenal sebagai salah satu karya non-musikal Bollywood yang paling kuat secara naratif. Dibintangi Naseeruddin Shah sebagai “The Common Man” dan Anupam Kher sebagai Komisaris Polisi Mumbai, film ini mengambil latar waktu sempit antara pukul 14.00 hingga 18.00 pada suatu hari Rabu. 

Ceritanya sederhana namun intens. Cerita seorang pria anonim tanpa nama yang mengancam akan meledakkan bom di Mumbai jika empat teroris kelas kakap tidak segera dibebaskan. Durasinya singkat dan bahkan mungkin ceritanya sangat sederhana.

Tapi karena kesederhanaannya itu justru menjadi kekuatannya. Film ini bukan sekadar thriller tentang bom dan negosiasi polisi yang tegang. Ia adalah refleksi tentang kemarahan manusia biasa, tentang warga sipil yang merasa sistem hukum terlalu lamban, tentang frustrasi kolektif terhadap terorisme yang terus berulang dan hanya menjadi komoditas berita tanpa penyelesaian akar masalah.

Jika dilihat melalui perspektif Bauman, tokoh “The Common Man” dapat dibaca sebagai produk masyarakat cair yang telah mencapai titik didih. Seorang individu anonim yang merasa tidak lagi dilindungi oleh struktur sosial yang stabil, lalu mengambil alih peran moralnya sendiri secara radikal. Sementara dalam sudut pandang Baudrillard, aksinya menjadi semacam simulasi keadilan, atau performa dramatis yang menciptakan sensasi realitas moral baru. Ia melawan "teror" dengan "teror" yang ia ciptakan sendiri sebagai bentuk protes terhadap ketidakberdayaan.

Film ini yang kemudian diadaptasi dalam berbagai versi bahasa, termasuk A Common Man (2013) yang dibintangi Ben Kingsley, menunjukkan bahwa tema ketakutan urban dan frustrasi terhadap sistem bersifat universal. Kita semua adalah "The Common Man" yang menyimpan bara dalam diam.

Sebab sebenarnya, yang diserang oleh terorisme bukan hanya bangunan atau nyawa manusia, melainkan “rasa percaya” di antara satu sama lain. Lalu ketika rasa percaya itu hancur, kota berubah wajah sepenuhnya. Orang-orang berjalan cepat tanpa menoleh, seolah menoleh adalah sebuah kerentanan. Sapaan menjadi sinyal bahaya yang memicu adrenalin. Sampai akhirnya keramaian terasa sepi karena setiap individu mengunci diri dalam "benteng" psikologis masing-masing. Masing-masing hidup berdampingan secara fisik, tetapi tidak benar-benar bersama secara batin.

Mungkin itulah tragedi terbesar sebuah kota modern di negeri mana pun. Bukan pada kekerasan yang sesekali terjadi, melainkan pada kesendirian yang tumbuh subur dan permanen di tengah kerumunan lalu-lalang orang. Bauman menyebut kondisi ini sebagai paradoks modernitas: manusia semakin terhubung secara fisik melalui infrastruktur dan secara digital melalui algoritma, tetapi semakin kesepian dan terasing secara eksistensial.

Seperti akhir hari dalam cerita film, di akhir sebuah Rabu yang melelahkan, pertanyaan yang tersisa bukanlah siapa terorisnya atau siapa pahlawannya. Pertanyaan yang lebih mendesak adalah: siapa di antara kita yang masih mampu percaya pada orang asing di sekitarnya?

Karena mungkin yang paling hilang dari kehidupan modern bukan sekadar rasa aman semata, melainkan keberanian untuk menjadi rentan, keberanian untuk menyapa tanpa rasa curiga, untuk melihat orang lain sebagai manusia, bukan sebagai potensi ancaman. Dan ketika sapaan sederhana telah bermutasi menjadi sebuah ancaman, barangkali kita harus berhenti sejenak dan bertanya ulang: apakah kota telah terlalu jauh mengubah kita menjadi mesin yang waspada, ataukah kita yang perlahan-lahan melupakan cara paling mendasar untuk menjadi manusia: yaitu adanya saling mengenal dan saling percaya? (Sal)

Perspektif

Scroll