Dalam khazanah sinema Indonesia, sulit untuk melupakan getaran emosi yang ditinggalkan oleh Biola Tak Berdawai. Film drama karya sutradara Sekar Ayu Asmara yang dirilis pada tahun 2003 ini bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah fabel modern tentang luka, penyembuhan, dan cinta yang hadir dalam bentuk yang tidak biasa. Di tengah lanskap kota Yogyakarta yang puitis, kita diperkenalkan pada tokoh Bhisma yang diperankan dengan dingin dan pandangannya yang tajam namun hangat oleh Nicholas Saputra.
Bhisma, seorang mahasiswa musik dan pemain biola berbakat, dipertemukan takdir dengan Renjani (diperankan oleh mendiang Ria Irawan), seorang perempuan yang membawa beban masa lalu traumatis. Renjani mencoba memulihkan kepingan hidupnya melalui pengabdian tulus kepada anak-anak berkebutuhan khusus di sebuah rumah asuh. Pertemuan mereka adalah benturan dua dunia antara ambisi muda yang murni dan keletihan jiwa yang mencari suaka.
Ada sebuah momen kunci yang menggantung indah sekaligus misterius dalam ingatan saya. Yaitu ketika tokoh Empo Wid—peran pembantu yang dimainkan dengan sangat bernyawa oleh Jajang C. Noer, saat berkata pelan namun tajam kepada Renjani perihal Bhisma:
“Hidup memang penuh teka-teki.. Bhisma boleh saja lebih muda darimu. Tapi sebenarnya usianya sudah lebih tua darimu.”
Kalimat itu seolah berhenti di udara seolah-olah menolak untuk jatuh. Sebab ia barangkali bukan sekadar dialog skenario, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang paradoks kehidupan. Dalam kisah yang ditulis ulang sebagai novel oleh Seno Gumira Ajidarma, bahwa perbedaan usia biologis dalam pandangan budaya kita menjadi semacam batas sosial yang diam-diam menghakimi hubungan manusia. Namun, dalam film ini telah memancing pertanyaan eksistensial bahwa apakah angka-angka di atas kertas sejak ditulis di akte kelahiran benar-benar mampu menentukan kedewasaan sebuah jiwa?
Seringkali, kita terjebak dalam stigma yang kaku. Muncul gugatan dalam benak kenapa nasib hidup bisa sedemikian rumit? Kenapa perempuan sering merasa enggan atau tak sedia menerima cinta laki-laki hanya karena usianya lebih muda? Mengapa pula hubungan antara seorang perjaka yang mencintai janda kerap menjadi buah bibir yang sarat penghakiman di ruang publik? Bukankah cinta seharusnya menjadi entitas yang tak memandang status dan sekat pembatas? Sebab, pada hakikatnya, cinta seringkali datang dengan sendirinya, datang menyelinap di antara celah-celah logika yang kita bangun.
Biola Tak Berdawai menghadirkan relasi Bhisma dan Renjani sebagai gambaran bahwa cinta sering lahir dari ruang yang tak disangka. Bukan dari rencana matang atau kesepakatan sosial, melainkan dari pertemuan batin yang perlahan tumbuh. Bhisma, meski secara kronologis lebih muda, digambarkan memiliki kedalaman empati dan kematangan emosi yang membuatnya terasa “lebih tua” secara spiritual. Tema ini menjadi metafora penting, menurut catatan produksi dan berbagai ulasan di laman Wikipedia, film ini memang berbicara tentang pengorbanan dan kesiapan untuk mencintai secara utuh, melampaui ego fisik.
Cinta semacam ini tidak bisa diupayakan dengan latihan demi latihan teknis. Ia bukan seperti menghafal notasi musik yang bisa dipaksakan dengan berkata, “Tolong beri aku waktu agar dapat belajar mencintaimu. Sekarang aku belum bisa, tapi esok pasti segalanya bisa berubah.” Padahal, dalam realitas emosional, bila seseorang meniadakan cinta sejak awal secara sadar dan pasti, maka ruang bagi cinta untuk menyapa akan tertutup rapat.
Meski memang ada katanya, ya katanya, ada fenomena unik dalam relasi manusia. Sering kita mendengar cerita tentang pasangan yang telah sekata dalam pernikahan yang berkata, “Sebelum menikah, di antara kami tak ada cinta. Tapi kami belajar untuk saling menerima kekurangan, maka kemudian tibalah cinta yang membuat kami tak ingin terpisahkan.”
Apakah benar begitu? Apakah benar pada akhirnya ada cinta yang muncul dari ketiadaan?
Pertanyaan ini terasa sangat relevan dengan pengalaman sosial kita hari ini. Dalam psikologi relasi modern, cinta sering dipahami bukan hanya sebagai emosi spontan yang meledak-ledak (passionate love), tetapi sebagai proses yang tumbuh melalui keterikatan, kepercayaan, dan pengalaman bersama (companionate love). Banyak hubungan dibangun dari kebersamaan yang pelan dan berulang. Namun, tetap saja tersisa pertanyaan filosofis: apakah cinta yang tumbuh belakangan itu adalah "cinta sejati", ataukah sekadar adaptasi emosional demi bertahan hidup?
Bagi sebagian orang, mungkin itu bukan cinta dalam pengertian getaran murni yang datang kemudian. Boleh jadi itu adalah rasa kasihan atau rasa hormat pada rekan satu "perjanjian hidup". Atau, kemungkinan lainnya adalah cinta itu sebenarnya sudah ada sejak awal, namun tertutupi oleh kabut ego pribadi yang tebal.
Sebagian beralasan, bukankah ketika seseorang atau calon mempelai menyatakan sedia dilamar dan siap melangsungkan akad pernikahan, itu adalah juga sebuah bentuk cinta? Kita mungkin hanya enggan mengakuinya sebagai cinta romantis. Setidaknya, sebab ada cinta kepada ibu, kepada ayah, atau keluarga yang membuat seseorang atau calon mempelai itu bersedia mengikuti keinginan mereka. Di sinilah urusan cinta menjadi sangat kompleks. Sebab benar juga bahwa cinta bukan sebatas hubungan antara dua individu, melainkan merambah pada simpul dari harapan keluarga, tradisi, norma sosial, hingga ketakutan akan kesepian.
Cinta tak dapat dipisahkan sepenuhnya oleh ruang dan waktu. Ia selalu menyatu dalam siklus yang dinamis. Ibarat gumpalan salju, cinta bisa membeku menjadi es yang kokoh, atau justru meleleh perlahan seiring perjalanan waktu. Mengutip prinsip termodinamika dalam metafora perasaan, cinta mungkin menyerupai energi: ia tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan oleh tangan manusia, ia hanya mengalami perubahan bentuk. Ia bisa menguap menjadi rindu, mengkristal menjadi prinsip, atau mencair menjadi air mata.
Seperti air laut yang menguap menjadi awan, lalu turun sebagai hujan yang membasahi bumi, ia mengalir di anak-anak sungai menuju muara delta, hingga akhirnya kembali menuju samudera "Mahadaya Cinta". Semua akan kembali ke titik mula yang lebih luas dari dua anak manusia yang saling menyatakan cinta.
Mari kita kembali pada Bhisma dan Renjani. Sebagaimana dikatakan Empo Wid, jiwa yang “lebih tua” adalah jiwa yang telah banyak belajar dari perjalanan batinnya. Hidup memang teka-teki yang seumpama reinkarnasi pelajaran hidup. Melansir ulasan dari Kompas, film ini menempatkan cinta sebagai medium penyembuhan (healing process). Renjani, yang membawa trauma mendalam, menemukan kemungkinan untuk sembuh bukan melalui kata-kata manis, melainkan melalui pengabdian dan keberanian untuk dicintai kembali.
Barangkali Jiwa Bhisma adalah jiwa yang belum selamat, yang urusannya belum selesai dengan masa lalu, seolah dipanggil (hidup) untuk kembali “mengambil tubuh” atau peran lain untuk menyelesaikan apa yang tertunda. Seperti halnya kita kembali bertemu orang-orang di dimensi lelembut (al-akhirat) lewat mimpi atau lainnya, yang pertemuannya dengan wadah kasar ad-dunya, agar kembali semua menebar kebajikan (makruf) dan menghadapi keburukan (munkar) dalam pengulangan yang terus-menerus hingga akhirnya kita sampai pada (pemahaman) Tuhan.
Dalam gagasan "pengulangan jiwa" ini tidak harus dimaknai secara literal. Katakanlah sebuah metafora perjalanan manusia yang terus belajar dari relasi ruang-waktu. Kita mungkin bertemu dengan orang yang berbeda, namun menghadapi "pelajaran" yang sama, sampai akhirnya kita mampu memahami esensi yang sebelumnya gagal kita mengerti.
Dan mungkin, cinta adalah pelajaran paling sulit sekaligus paling indah itu. Cinta datang tidak selalu dalam bentuk yang ideal menurut standar masyarakat. Kadang ia datang dari seseorang yang jauh lebih muda, atau jauh lebih tua, atau dari status sosial yang kontras, atau dari pertemuan yang sama sekali tidak direncanakan. Namun, di situlah manusia diuji: apakah ia memilih mengikuti suara jiwanya yang murni, atau tunduk pada konstruksi sosial yang seringkali membatasi kebahagiaan yang hendak kita raih.
Cinta sejati atau adaptasi cinta akan teruji hingga akhirnya waktu akan membawa kita pada sebuah titik tenang. Sampai Tuhan menyambut jiwa yang letih dari segala pencarian itu dengan firman-Nya, “Hai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah pada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya...”
Maka barangkali, cinta bukanlah tujuan akhir dari sebuah perjalanan. Cinta adalah jalan pulang itu sendiri. Sebuah lorong panjang yang memaksa manusia untuk menanggalkan egonya, untuk memeluk kehilangan, untuk belajar tentang penerimaan, dan akhirnya menemukan ketenangan sejati, ketenangan yang dicari-cari selama ini.
Seperti judulnya, Biola Tak Berdawai: ia tampak tidak lengkap, seolah cacat dan tak berguna. Namun, ia hadir untuk mengingatkan kita bahwa musik sejati tidak pernah berasal dari senar atau alatnya, melainkan dari kedalaman jiwa yang memainkannya. Begitu juga cinta yang terletak tidak pada label usia atau status, melainkan pada resonansi dua jiwa yang bertautan untuk saling menyembuhkan. (Sal)