Serial Shalahuddin di Layar Sahur MNCTV: Menemukan Cermin Kemanusiaan di Balik Narasi Kepahlawanan

Nama besar Saladin, atau Shalah al-Din, atau Shalahuddin, atau Yusuf Shalahuddin bin Najmuddin...

Serial Shalahuddin di Layar Sahur MNCTV: Menemukan Cermin Kemanusiaan di Balik Narasi Kepahlawanan

12 Feb 2026
230 x Dilihat
Share :

Serial Shalahuddin di Layar Sahur MNCTV: Menemukan Cermin Kemanusiaan di Balik Narasi Kepahlawanan

Nama besar Saladin, atau Shalah al-Din, atau Shalahuddin, atau Yusuf Shalahuddin bin Najmuddin Ayyub ditampilkan atau diproyeksikan ke dalam layar kaca, dengan segala lebih dan kurangnya. Di bawah pendar lampu ruang tengah yang remang menjelang subuh, sosoknya hadir bukan sekadar sebagai memori usang, melainkan sebagai dialog terbuka antara masa lalu dan masa kini.

Sebuah tayangan Ramadan di MNC-TV saat jam sahur, setelah tayangan Omar ibn Khathab, membawakan visualisasi kisah Saladin dari sejak masa mudanya seorang pembebas Yerusalem, peletak batu pertama bersama pamannya, Shirkuh, dalam membangun Dinasti Ayyubiyah di Mesir. Visualisasi ini seakan menarik kita kembali ke abad ke-12, masa di mana gejolak politik Timur Tengah mencapai puncaknya. Rasa-rasanya aku pernah melihatnya di YouTube sebelumnya, tapi sudah lama sekali. Bersyukur sekali sekarang ketika sudah ada subtitel-nya dan tayang di televisi Indonesia.

Baru kali ini aku menontonnya dan bagaimana penceritaannya, Saladin yang berbicara di depan juru tulisnya, jadilah ingat Kitab Shalahuddin sebagaimana judul buku pertama pentalogi novel Thariq Ali. Penulis yang mengaku dirinya ateis, kelahiran Pakistan dan sekarang bermukim di Inggris, dalam pentalogi novelnya begitu fasih bicara soal peradaban Islam dan kehidupan muslim dunia. Karenanya sejarah terasa menjadi wilayah lintas iman, bahkan bagi mereka yang tidak berada dalam tradisi religius pun tetap akan terpikat pada narasi besar tokoh-tokoh Islam klasik. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai universal yang dibawa Shalahuddin mampu melampaui sekat dogmatis.

Serial Ramadan seperti ini sebenarnya bukan hanya hiburan, tetapi juga bentuk popularisasi sejarah. Tayangan Shalahuddin Al-Ayubi pernah menjadi program unggulan sahur di MNCTV dan mendapat pujian dari lembaga agama, karena dinilai mengandung nilai moral dan edukasi sejarah Islam yang kuat, terutama tentang kepemimpinan, keberanian, dan kemuliaan akhlak seorang tokoh yang disegani lawan maupun kawan. 

Di sinilah menariknya televisi, menjadi ruang persambungan antara fakta sejarah dan imajinasi visual, antara rekonstruksi masa lalu dan kebutuhan emosional penonton masa kini. Meski demikian kita juga ditantang untuk tetap kritis membedakan mana realitas historis dan mana dramatisasi layar lebar.

Shalahuddin sebagai uswah di tengah kepelikan sejarah, tentang bagaimana menyikapi hubungan Islam-Kristen sejak mula peperangan Salib (atau Sabil dalam sudut pandang Islam), yang sering dimaknai secara sempit sebagai konflik agama, padahal lebih kompleks dari sekadar kristenisasi atau islamisasi. Namun sebuah pertautan kepentingan geopolitik, ekonomi, dan perebutan pengaruh kekuasaan di tanah suci Yerusalem. Kita pun dapat belajar bahwa “darah yang terciprat,” meminjam bahasa Goenawan Mohamad, adalah nasihat Saladin kepada anaknya dalam berbagai kisah populer, dan itu pada ujungnya akan kembali ke wajah kita sendiri. Kekerasan selalu memiliki gema dan gemuruh yang panjang.

Sejarah mencatat bahwa Saladin bukan sekadar panglima perang, melainkan seorang pemersatu politik dunia Muslim yang sebelumnya terfragmentasi. Ia berhasil mengonsolidasikan Mesir dan Suriah sebelum menghadapi kerajaan Latin dalam Perang Salib. Secara historis, keberhasilannya menyatukan faksi-faksi yang bertikai di bawah panji Sunni merupakan prestasi diplomatik yang luar biasa. Kemenangan besar di Hattin tahun 1187 membuka jalan bagi penaklukan kembali Yerusalem, yang telah dikuasai pasukan Salib selama hampir 88 tahun.

Namun yang paling sering dikenang bukan hanya kemenangan militernya, melainkan bagaimana ia memperlakukan pihak yang kalah. Ketika Yerusalem jatuh, tidak terjadi pembantaian massal seperti saat kota itu direbut oleh pasukan Salib pada 1099. Saladin memperlakukan banyak penduduk Kristen diizinkan menebus kebebasan mereka dan pergi dengan aman. Saladin bahkan menggunakan harta pribadinya untuk menebus tawanan yang miskin agar mereka tidak menjadi budak. Sikap inilah yang membuat reputasinya sebagai sosok ksatria bahkan di mata Eropa Barat.

Berbicara Saladin, mengangkat kehidupan Shalahuddin ke layar visual bukan karena senang pada permusuhan, bukan untuk membakar emosi Islam vs Kristen, tapi bagaimana teladan seorang pribadi agung yang bukan hanya disegani lawan, tapi sangat dicintai “musuh”. Dalam literatur Barat abad pertengahan, ia bahkan digambarkan sebagai figur kesatria yang menjunjung etika perang, sebuah reputasi yang jarang diberikan kepada pemimpin Muslim masa itu bahkan sampai sekarang. Dante Alighieri bahkan menempatkan Saladin di "Limbo" dalam Divine Comedy, sebuah penghormatan bagi mereka yang berbudi luhur meskipun bukan penganut Kristiani.

Saladin bernasib baik di mata Eropa, selamat dari keliaran imajinasi untuk jadi musuh sebenarnya. Berbeda—yang bukan maksud memperlawankan—dengan Muhammad Al-Fatih, sang “pembebas” ataukah “penakluk” Konstantinopel yang sering dijadikan simbol antagonistik dalam narasi populer Barat modern karena dianggap meruntuhkan sisa kejayaan Romawi. Saladin justru masuk ke dalam tradisi romantisme kesatria Eropa, menjadi tokoh yang dihormati sekaligus ditakuti.

Fenomena ini menarik secara sosiologis tentang bagaimana seorang tokoh Islam bisa diterima secara relatif positif dalam historiografi Barat? Sebagian sejarawan menilai hal ini karena citra chivalry atau kesatriaan berupa kemurahan hati, kemampuan berdiplomasi, serta kemauan untuk bernegosiasi, seperti terlihat dalam Perjanjian Jaffa tahun 1192 antara dirinya dan Richard the Lionheart yang mengakhiri Perang Salib Ketiga dengan gencatan senjata. Hubungan antara Saladin dan Richard "Si Hati Singa" seringkali dipandang sebagai puncak etika ksatria, di mana rasa hormat melampaui garis tajam pedang di medan laga.

Mari saja kita menonton tayangannya dengan mata yang luas di kanal yang menayangkannya. Untuk dapat melihat ketika saat mudanya ia digambarkan gelisah setelah melihat klub-klub wanita, atau betapa liarnya Thariq Ali menuliskan Saladin pernah bersanggama—apakah memang begitu saat mudanya?? Pertanyaan ini sebenarnya membuka diskusi yang lebih luas di mana batas antara sejarah dan dramatisasi. Sinema atau serial televisi selalu bekerja di wilayah interpretasi. Ia bukan kitab sejarah akademik. Sebab sinema perlu narasi dramatik yang memerlukan konflik, emosi, dan manusiawi, termasuk sisi lemahnya sang tokoh.

Karena itu nilai pentingnya pembacaan kemudian adalah bertujuan untuk tidak sekadar sedang menonton seorang manusia suci tanpa celah, melainkan agar kita membaca seseorang yang tumbuh, belajar, dan berubah. Saladin yang muda bukan langsung menjadi legenda. Ia ditempa dalam proses yang panjang, lingkungan politik yang keras, serta pendidikan spiritual dan militer yang membentuknya. Ia adalah manusia yang ditempa oleh zamannya, yang merasakan kegelisahan, keraguan, dan cinta sebelum akhirnya memikul beban sejarah di pundaknya.

Di zaman sekarang, ketika sejarah sering dipakai sebagai bahan propaganda identitas dan alat untuk memecah belah, menonton kisah Saladin di layar sahur Ramadan bisa menjadi latihan refleksi. Apakah kita melihat sejarah sebagai bahan kebencian, atau sebagai cermin kemanusiaan? Karena jika ada satu hal yang membuat Saladin dikenang lintas peradaban, bukan semata kemenangan di medan perang, melainkan kemampuan untuk menahan diri ketika ia bisa saja membalas dendam. 

Dalam dunia yang terus memproduksi konflik identitas dan kebencian yang terlembagakan, mungkin justru itulah pelajaran terbesar dari seorang panglima abad ke-12, yaitu kemenangan sejati bukan hanya merebut kota, tetapi menjaga martabat manusia. Dan mungkin itulah alasan mengapa menonton kisahnya di waktu sahur terasa berbeda—sunyi, reflektif, seolah sejarah datang bukan untuk memicu amarah, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang lebih luas dari sekadar kemenangan. 

Di bawah bayang-bayang gerbang Yerusalem, Saladin mengajarkan kita sebuah kemenangan yang melampaui pedang: ia menelan amarahnya bulat-bulat demi menghidupkan kemanusiaan. Sebuah undangan bagi kita untuk meluruhkan keangkuhan diri demi merajut damai yang lebih kekal. (Sal)

Perspektif

Scroll