Sebuah catatan lama bertanggal Kamis, 1 September 2005, kembali saya baca ulang. Lembaran itu membawa ingatan saya terbang jauh ke belakang, ke sebuah ruang sempit di Asrama Kurnia saat kuliah di Bandung. Menulis catatan tentang film yang usai diputar lalu meninggalkan gema yang memenuhi ruang kepala setelah selama dua jam menontonnya. Film itu diputar melalui komputer Pentium 1 dan kasetnya hasil meminjam dari tetangga kamar.
Awalnya, niat saya sederhana: hanya ingin menontonnya dengan lebih fokus. Sebab sebelumnya pernah saya tonton di TVRI bertahun-tahun sebelumnya. Namun, sore itu di asrama, pengalaman yang hadir justru terasa sangat berbeda. Layar kaca itu seolah membuka cakrawala baru, menawarkan kedalaman yang selama ini tersembunyi di balik teks-teks yang saya pelajari.
Barangkali, film yang saya tonton saat itu adalah film Jesus yang diproduksi pada tahun 1979 oleh sutradara Peter Sykes dan John Krish, dengan produsernya John Heyman. Film ini fenomenal karena konon dibuat berdasarkan Injil Lukas dengan upaya keras menghadirkan akurasi historis dan budaya Yahudi kuno. Tidak tanggung-tanggung, proyek ini katanya melibatkan ratusan ahli agama dalam proses penulisan naskahnya dan telah diterjemahkan ke dalam ribuan bahasa, dan menjadikannya salah satu film yang paling banyak ditonton dalam sejarah sinema dunia. Proyek ini melibatkan lebih dari 450 ahli agama dan sejarawan untuk memastikan akurasi budaya Yahudi kuno, mulai dari detail pakaian hingga peralatan makan yang digunakan 2.000 tahun silam.
Sebenarnya ada banyak film produksi Barat yang menghadirkan kisah Yesus, yang bagi sebagian orang adalah keyakinan absolut, namun bagi yang lain adalah sebuah tafsir seni. Bagi seorang penonton Muslim, pengalaman menyaksikan film tentang Yesus bukan sekadar menonton drama religi biasa. Ia adalah sebuah perjumpaan dengan narasi lain yang kadang berbeda secara fundamental, namun seringkali bersinggungan secara emosional, karena secara tidak langsung memaksa penonton untuk berdialog secara jujur dengan keyakinannya sendiri.
Film-film tentang Yesus memang memiliki sejarah panjang dalam industri sinema Barat, yang berevolusi dari sekadar ilustrasi kitab suci menjadi medium eksplorasi karakter yang kompleks. Salah satu yang paling monumental adalah serial epik Jesus of Nazareth (1977) karya Franco Zeffirelli. Film ini mencoba menggambarkan kehidupan Yesus secara dramatik, dari kelahiran di Betlehem hingga kebangkitannya, dengan pendekatan yang memadukan akurasi historis sekaligus keagungan religius.
Namun menariknya, bahkan sejak awal penayangannya, film tersebut sudah memicu perdebatan teologis yang tajam. Sebab Zeffirelli menggambarkan sosok Yesus dalam karyanya sebagai “manusia biasa.. manusia yang lembut, ragu, rapuh, dan sederhana.” Interpretasi ini memicu reaksi keras dari kelompok religius tertentu yang menginginkan sosok yang lebih "ilahiah". Karenanya kontroversi itu menunjukkan satu hal yang universal bahwa setiap representasi tokoh suci di layar perak selalu berhadapan dengan benturan interpretasi antara sutradara, institusi agama, dan massa penonton.
Menonton sebagai Dialog, bukan Pembenaran
Saat menyaksikan film-film seperti itu, seorang penonton Muslim sering kali berada dalam posisi yang unik dan meditatif. Ada bagian yang terasa asing seperti konsep ketuhanan Yesus atau dogma penebusan dosa melalui penyaliban yang berbeda dengan konsep tanzih (kemahasucian Tuhan) dalam Islam. Namun, di saat yang sama, ada fragmen-fragmen yang terasa begitu akrab misalnya tentang nilai kasih sayang (rahmah), semangat pengampunan, dan keberpihakan pada kaum duafa, serta perjalanan spiritual yang penuh cobaan.
Beberapa film Yesus memang dibuat dengan pendekatan yang berbeda-beda oleh setiap sutradaranya. Mulai dari yang sangat harfiah hingga yang eksperimental. Upaya-upaya tersebut menunjukkan bahwa film religi bukan hanya sekadar hiburan visual, melainkan juga sebuah "interpretasi teologis" yang berusaha meyakinkan penonton melalui kekuatan narasi dan estetika. Bagi seorang Muslim, menyaksikan film seperti ini bukan berarti menerima seluruh perspektifnya secara buta. Justru sebaliknya dengan layar film dapat menjadi ruang kontemplasi—sebuah laboratorium pikiran tentang bagaimana kisah sosok yang sama bisa dituturkan dengan cara yang begitu kontras namun tetap memiliki resonansi moral yang serupa.
Meski tetap bagi seorang penonton Muslim, menonton film tentang Yesus (a.s) bukan sekadar menyaksikan rekonstruksi sejarah, tapi menjadi sebuah perjumpaan spiritual. Dalam tradisi Islam, Yesus atau Isa bin Maryam adalah salah satu nabi Ulul Azmi, sosok yang memiliki keteguhan yang luar biasa dalam dakwahnya. Menonton visualisasinya melalui perspektif Barat dapat menciptakan dialog batin yang unik: ada bagian yang terasa akrab dengan narasi Al-Qur'an (seperti mukjizat kesembuhan dan kasih sayang pada kaum papa), namun ada pula bagian yang menjadi ruang diskusi teologis yang mendalam.
Dialog Filosofis dan Bayangan Sang Penghibur
Yang paling menarik dari film-film tersebut seringkali bukanlah adegan kolosal atau efek visualnya, melainkan dialog-dialog yang mengalir di dalamnya. Dalam kalimat-kalimat sederhana yang diucapkan tokoh Yesus di layar terkadang menyimpan lapisan filosofis yang memicu renungan panjang setelah lampu bioskop atau layar televisi padam.
Salah satu titik temu yang paling mendalam adalah ketika film menggambarkan nubuat Yesus tentang kedatangan seseorang setelah dirinya. Dalam narasi sinematik yang mengangkat kisah Yesus, sering kali muncul dialog tentang kedatangan "Sang Penghibur" (Paraclete) atau pembawa kabar setelah masa tugasnya berakhir. Di sinilah letak persimpangan tafsir yang sangat kaya.
Dalam teologi Kristen, konsep Paracletos (dari bahasa Yunani) merujuk pada Roh Kudus yang akan membimbing umat. Namun, dalam perspektif sebagian pemikir Muslim, istilah ini sering kali ditelaah melalui kacamata linguistik dan teologis sebagai isyarat atau nubuat tentang kedatangan Nabi Muhammad SAW, sebagaimana tersurat dalam Al-Qur'an Surah Ash-Shaff ayat 6 mengenai sosok bernama "Ahmad".
Perbedaan tafsir ini tidak selalu harus berujung pada konflik, melainkan menunjukkan bagaimana teks yang sama, atau fragmen sejarah yang sama dapat melahirkan makna yang berbeda. Karena tergantung pada horizon iman dan latar belakang budaya masing-masing. Film, dalam konteks ini, bertransformasi menjadi ruang pertemuan hermeneutik, atau sebuah tempat di mana tafsir-tafsir saling bersinggungan tanpa harus saling meniadakan identitas satu sama lain.
Ketika Layar Menjadi Jembatan Antar-Iman
Dalam beberapa dekade terakhir, sinema dunia mulai melahirkan karya yang mencoba menjembatani sudut pandang lintas agama dengan lebih berani. Misalnya film Iran berjudul The Messiah (2007) atau Al-Masih, yang disutradarai oleh Nader Talebzadeh, merupakan salah satu contoh signifikan. Film ini menggambarkan Yesus sepenuhnya dari perspektif Islam berdasarkan sumber-sumber Al-Qur'an dan Injil Barnabas, bahkan secara eksplisit menampilkan perbedaan pandangan antara tradisi Kristen dan Islam mengenai peristiwa penyaliban.
Respons terhadap film semacam ini tentu beragam. Sebagian melihatnya sebagai upaya dialog antariman yang edukatif untuk memahami posisi "liyan" (yang lain), sementara sebagian lain menilai sebagai reinterpretasi yang kontroversial terhadap dogma yang mapan. Namun, fakta ini menegaskan satu kebenaran penting tentang representasi tokoh suci di layar tidak pernah bersifat netral. Ia selalu menjadi ruang negosiasi makna yang dinamis antara tradisi, sejarah, dan keyakinan pribadi sang pembuat film.
Pengalaman menonton film religi, apapun judulnya, selalu bersifat sangat personal. Seorang Muslim yang menonton kisah Yesus mungkin tidak akan pernah sepenuhnya setuju dengan seluruh struktur narasi yang disajikan oleh produser Barat atau Timur. Namun, di tengah perbedaan dogmatis itu, tetap dapat menemukan titik-titik kesamaan yang fundamental akan pesan-pesan moral tentang kejujuran, perjuangan tak kenal lelah melawan ketidakadilan struktural, dan ajakan tulus untuk kembali menghambakan diri kepada Tuhan.
Film semacam ini bukan hanya tentang memperuncing perbedaan dogma. Ia adalah tentang bagaimana manusia dari berbagai tradisi iman mencoba memahami sosok agung yang sama melalui bahasa-bahasa yang berbeda—bahasa visual, bahasa budaya, dan bahasa kalbu.
Dialog Layar Menumbuhkan Iman yang Dewasa
Barangkali, hal yang paling esensial dari pengalaman menonton bukanlah tentang mencari siapa yang paling benar atau salah dalam tafsir yang disajikan. Tapi kemampuan kita untuk menyadari bahwa iman bukanlah sebuah ruang tertutup yang kedap terhadap dialog.
Film-film tentang Yesus memperlihatkan kepada kita bahwa cerita suci memiliki kekuatan untuk melintasi batas geografis, sekat budaya, bahkan tembok keyakinan yang paling tebal sekalipun. Dalam perjumpaan di depan layar itu, seorang penonton tidak perlu kehilangan identitasnya atau merasa terancam akidahnya. Tapi justru membuat dirinya diperkaya oleh proses dialektika dan pemahaman yang lebih luas tentang manusia dan pencariannya terhadap Yang Ilahi.
Sebab, iman yang dewasa bukan hanya tentang menjaga jarak dari perbedaan agar tetap murni. Iman adalah tentang keberanian untuk melihat perbedaan itu, meresapinya dengan bijak, tanpa pernah kehilangan pusat keyakinan di dalam dirinya. Dan di sana, di antara layar yang berkedip di kamar asrama pada pengalaman itu, ada hati yang terus merenung tentang kisah lama yang selalu menemukan makna baru yang lebih dalam, lebih luas, dan lebih manusiawi.
Dua dekade setelah catatan itu ditulis, saya menyadari bahwa sinema memiliki peran penting sebagai jembatan antar-iman. Setelah muncul karya seperti "The Messiah" (2007) dari Iran yang mencoba memotret secara berbeda tentang Yesus atau Isa bin Maryam dari sudut pandang Islam, fenomena ini membuktikan bahwa sosok beliau adalah milik kemanusiaan yang akan terus digali maknanya dari berbagai sudut pandang.
Menonton film religi dengan "mata yang berbeda" mengajarkan kita satu hal tentang keberanian untuk melihat perspektif lain yang tidak melunturkan jati diri kita. Sebaliknya, justru memperkaya pemahaman kita tentang betapa luasnya kebenaran itu dicari oleh manusia melalui berbagai mediumnya.
Di antara layar yang berkedip dan hati yang merenung, sebuah kisah lama selalu mampu menemukan makna baru. Catatan dari Asrama Kurnia masa itu bukan sekadar tentang film, melainkan tentang perjalanan seorang manusia yang belajar bahwa iman yang kokoh adalah iman yang berani berdialog dengan dunia di luarnya. (Sal)