The Legend of Tomiris: Sebuah Refleksi tentang Akar dan Kebanggaan Bangsa

Negara Kazakhstan sedang giat menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang telah lama berdiri di...

The Legend of Tomiris: Sebuah Refleksi tentang Akar dan Kebanggaan Bangsa

10 Feb 2026
252 x Dilihat
Share :

The Legend of Tomiris: Sebuah Refleksi tentang Akar dan Kebanggaan Bangsa

Negara Kazakhstan sedang giat menunjukkan eksistensinya sebagai bangsa yang telah lama berdiri di panggung peradaban dunia. Melalui Kementerian Kebudayaan dan Olahraganya, mereka menegaskan bahwa bangsa Kazakh bukanlah entitas baru, melainkan bangsa yang sejarahnya telah ada dan bahkan mampu berdiri sejajar dengan imperium adidaya Persia di bawah pimpinan Cyrus Agung. Penegasan identitas ini dikonstruksi secara megah melalui film epik The Legend of Tomiris.

Ketertarikan saya mengangkat tulisan ini bukanlah sekadar karena bersamaan antara peluncuran film tersebut dengan momentum diplomatik saat Fadjroel Rachman, mantan Juru Bicara Presiden, diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Kazakhstan merangkap Tajikistan. Tulisan ini lahir sebagai bentuk afirmasi dan refleksi mendalam setelah saya menelusuri berbagai berita dan informasi di dunia digital. Belakangan ini, santer terdengar kabar dari kancah olahraga, khususnya sepak bola, mengenai beberapa talenta muda berbakat yang kabarnya enggan atau menolak panggilan Tim Nasional.

Tentu, dalam ruang demokrasi dan profesionalisme, kita harus menghargai pilihan serta keputusan pribadi mereka yang kini tengah merumput di Qatar, Inggris, atau liga-liga elit dunia lainnya. Barangkali, keputusan itu bukan semata-mata demi mengejar karier, pundi-pundi uang, atau popularitas sesaat. Barangkali ada kemungkinan mereka ingin menunda pengabdian tersebut demi menjaga nama baik keluarga dan menempa kualitas diri lebih jauh. Kita bisa berharap bahwa setelah lama menimba ilmu dan pengalaman di negeri orang, akan tetap tersisa rasa bangga yang tertanam kuat di sanubari mereka. Dengan masa tinggal yang lama di luar negeri justru akan menumbuhkan kerinduan dan kebanggaan yang lebih sublim pada tanah kelahiran serta tanah leluhurnya, kalau tidak sekarang barangkali kemudian.

Menyadari diri sebagai bagian dari sebuah bangsa adalah sebuah proses emosional, spiritual, dan tak sekadar rasional. Ia adalah kesadaran bahwa kita berdiri di atas tanah yang telah diperjuangkan dengan jerih payah dan dipertahankan dengan darah leluhur para pribadi. Kesadaran bahwa tanah kelahirannya atau tanah kelahiran orang tuanya, atau kakek buyutnya adalah sebuah bangsa yang telah eksis sejak masa purba.

Mari kita tengok pada sosok Tomiris dari suku Massagetae (bagian dari bangsa Saka/Sakai). Dalam catatan Herodotus, "Bapak Sejarah" dunia, Tomiris digambarkan sebagai ratu pejuang yang luar biasa di padang rumput Asia Tengah. Dalam film yang saya tonton tersebut, dikisahkan bagaimana ia dengan tegas menolak tawaran Cyrus Agung, kaisar Persia yang paling berkuasa kala itu, untuk menjadi istrinya. Tomiris sadar, pernikahan itu bukanlah ikatan cinta, melainkan strategi politik untuk menaklukkan bangsa Kazakh di bawah kaki Persia. Penolakan Tomiris adalah simbol harga diri sebuah bangsa yang tidak bisa dibeli.

Dari titik ini, muncul sebuah pertanyaan ketika seorang atlet menolak panggilan Timnas, apakah benar itu berarti mereka tidak memiliki rasa bangga sebagai bangsa Indonesia? Kita ingin memahami lebih dalam atas beberapa kejadian belakangan ini, di mana talenta-talenta muda seolah enggan bergabung dengan skuad Garuda. Apakah karena mereka benar-benar tidak punya rasa bangga sebagai bangsa? Apakah tak ada cinta, atau bahkan mereka malu mengakui tanah kelahirannya? Bila itu benar, lantas faktor apa yang telah melunturkan nasionalisme tersebut di tengah gempuran globalisasi?

Saya teringat pada sebuah esai yang menceritakan seorang anak berbakat Indonesia yang akhirnya menolak beasiswa di sebuah sekolah internasional. Alasannya sederhana namun menohok. Sebab di sekolah tersebut tidak ada pelajaran Sejarah Indonesia. Hal ini memicu keresahan dalam diri saya. Saya sering merasa sanksi ketika melihat seorang anak yang lahir dan besar di luar negeri, meskipun secara biologis, DNA, mitokondria, dan seluruh gen penyusun tubuhnya berasal dari apa yang disebut "Indonesia", namun mereka tidak mendapatkan literatur sejarah tanah airnya. Apakah tanpa pengajaran sejarah, mentalitas pendakuan diri sebagai orang Indonesia itu bisa tumbuh? Apakah identitas "Indonesia" itu harus dianggit (disusun) lewat pengetahuan, ataukah ia otomatis mengalir dalam darah personalitas?

Semoga saja prasangka saya salah. Mungkin saja penolakan-penolakan tersebut murni disebabkan oleh kendala teknis, birokrasi, atau distorsi informasi yang dibuat simpang siur oleh media. Saya ingin percaya bahwa talenta-talenta muda ini tetap mencintai tanah kelahirannya, meski jarak membentang ribuan kilometer. Sebab di tengah "Abad Biologi" saat ini, di mana asal-usul genetik bisa dilacak dengan mudah, kita berharap orang-orang semakin sadar akan jati dirinya. 

Memang, kita tak perlu jauh-jauh menunjuk hidung orang lain atau menuduh anak-anak yang seolah kehilangan induknya sebagai "kurang Indonesia". Ironisnya, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Banyak orang yang hidup, makan, dan membuang hajat di tanah ini, berdarah asli dan merasa paling pribumi, namun demi kepentingan pribadi dan golongannya, mereka rela "menjual" martabat negaranya ke tangan korporasi globalis yang eksploitatif. Mereka sangat pandai menelikung porsi keuntungan dari kerja sama antarbangsa, di mana margin keuntungan yang seharusnya untuk kemakmuran rakyat, justru masuk ke kantong pribadi dan menjadi "bancakan" kroni-kroninya.

Dalam konteks inilah, peran negara menjadi krusial. Kazakhstan menyadari bahwa pembentukan karakter bangsa berada di pundak negara. Melalui Kementerian Kebudayaan, mereka menggunakan film sebagai saluran aktif yang ekspresif untuk melengkapi jalur formal pendidikan di sekolah. Film adalah instrumen diplomasi budaya sekaligus alat "penanam ideologi" yang sangat efektif bagi generasi muda.

Indonesia pun sebenarnya telah melakukan langkah serupa. Kita telah melahirkan banyak karya sinematik untuk menumbuhkan karakter, kecintaan, dan kebanggaan nasional. Sebut saja film Sultan Agung, Soekarno, Kartini, Tjoet Nja' Dhien, Sang Pencerah, Sang Kiai, Jenderal Soedirman, hingga Gie. Namun, tantangan besar dalam film-film sejarah kita adalah narasi yang seringkali terjebak pada fragmen-fragmen pendek atau penggambaran tokoh yang hampir jatuh pada "pemitosan".

Memang tidak mudah bagi seorang sutradara film untuk mengemban tugas berat seperti seorang sejarawan. Sebagaimana pesan bijak dari almarhum Gus Dur, seorang sejarawan harus mampu membersihkan fakta sejarah dari "lumut-lumut mitos". Apa yang benar dan apa yang salah harus disampaikan secara jujur agar kita bisa belajar dari kegagalan masa lalu. Begitu pula sutradara dalam membuat film biopic, mereka harus mampu membangun narasi yang jujur, menampilkan kelebihan sekaligus kekurangan sang tokoh apa adanya. Sejarah tidak boleh hanya menjadi pesanan kekuasaan atau alat doktrinasi satu arah, seperti yang pernah kita rasakan dalam narasi besar film G30S/PKI.

Mencintai Indonesia bukan hanya tentang memenuhi panggilan lapangan hijau atau menonton film sejarah. Ia adalah tentang kesadaran untuk menjaga integritas, baik saat berada di luar negeri maupun saat memegang jabatan di dalam negeri. Seperti Tomiris yang menjaga tanahnya dari ambisi imperium luar, tugas kita adalah menjaga bangsa ini dari ambisi-ambisi rakus yang seringkali datang dari dalam diri kita sendiri. Karakter bangsa yang kuat hanya bisa tumbuh dari kejujuran sejarah dan rasa memiliki yang tulus, bukan dari paksaan apalagi pencitraan. (Sal)

Perspektif

Scroll