Ada kalanya seseorang baru menyadari betapa berharganya kehidupan ketika ia berhenti sejenak dan membandingkan dirinya dengan kisah lain yang jauh lebih berat. Seringkali, kita terlalu sibuk mendongak hingga lupa bahwa pijakan kita saat ini adalah impian bagi orang lain. Dalam kontemplasi itu, aku pun menyadari bahwa masih jauh lebih baik keadaan yang Tuhan takdirkan padaku dibandingkan kisah nyata, misalnya nasib tokoh utama dalam film The Pursuit of Happyness yang dibintangi Will Smith itu. Film yang bukan sekadar fiksi, tapi sebagai cermin pahit tentang seorang ayah yang berjuang menembus tebalnya tembok kemiskinan, kehilangan rumah, dan hidup dalam ketidakpastian yang mencekam demi masa depan anaknya.
Kontras dengan perjuangan Chris Gardner di layar lebar, adalah hari-hariku dengan segala keterbatasannya, ternyata masih menyimpan kenyamanan yang sering luput dari kesadaran. Saat aku membuka pintu dan jendela, aku tersadar bahwa tempat tinggalku lebih baik dan aman dibandingkan saudara-saudaraku yang beberapa minggu terakhir harus menghadapi banjir yang datang berulang, menyapu harta benda dan menyisakan trauma. Ketika sebagian orang kehilangan ruang untuk sekadar bernaung, aku masih memiliki tempat pulang yang nyaman dan tenang. Bahkan untuk urusan yang paling mendasar sekalipun, semesta masih sangat baik padaku. Ketika banyak orang berjuang untuk sekadar makan, aku masih dapat menikmati makanan yang layak dan bergizi dari warung padang yang hanya berjarak lima langkah dari kosanku. Sebuah kemewahan sederhana yang sering dianggap remeh, namun sebenarnya adalah nikmat yang luar biasa.
Kesadaran semacam ini mengajarkanku untuk tunduk dalam syukur yang paling dalam. Sepantasnya aku bersyukur atas keadaan hari ini. Bukan karena hidupku sudah sempurna tanpa cela, tetapi karena di dalam setiap napas, masih ada ruang harapan yang terbuka lebar. Di balik kesederhanaan rutinitas yang kadang terasa membosankan, aku percaya akan ada cahaya kegemilangan di masa depan, selama langkah-langkah kecil tetap diusahakan dengan konsistensi.
Namun, di tengah kesadaran itu, terselip rasa malu yang menyelinap. "Tuhan, maafkanlah aku yang sering merasa kurang," bisikku dalam hati. Padahal, nikmat-Mu yang kau berikan begitu berlimpah tanpa henti, mengalir seperti detak jantung yang tak pernah alpa. Aku masih diberi kesehatan yang paripurna sehingga bisa bekerja, berjalan, bahkan berlari ketika pagi datang atau ketika waktu terasa mendesak oleh tenggat kehidupan. Aku masih mampu berlari mengejar harapan dan mimpi, meski kadang aku sendiri tak sepenuhnya memahami ke mana arah pasti dari tujuan atas segala mimpi.
Di tengah pelarian mengejar ambisi, seringkali muncul pertanyaan eksistensial yang mengusik ketenangan: bagaimana cara sampai ke bumi harapan atau langit impian yang selama ini kubayangkan? Dan jika suatu hari aku benar-benar sampai di sana, apakah pencarian ini akan berakhir? Apakah masih ada sesuatu yang harus dikejar? Ataukah justru kebahagiaan terletak bukan pada garis finis atau tujuan akhir, melainkan pada proses mengejar itu sendiri dengan segala keringat, air mata, dan tawa yang tercecer di sepanjang jalan?
Aku mulai menyadari bahwa perjuangan tak pernah benar-benar selesai. Pengejaran, pelarian, dan usaha untuk menjadi lebih baik mungkin akan terus berlangsung hingga tubuh ini mencapai batas akhirnya di liang lahat. Bahkan ketika seseorang merasa telah sampai di puncak tertinggi, selalu ada horizon baru yang menunggu untuk dijelajahi. Hanya rahmat Tuhan yang mampu memberi rasa cukup yang sejati, sebuah perasaan tenang yang tak lagi bergantung pada pencapaian duniawi. Biarlah itu pun menjadi urusan Tuhan bagaimana Ia memperlakukan diriku. Sementara tugasku hanyalah berjalan dengan kesadaran penuh dan tanggung jawab yang teguh.
Namun, esensi kebahagiaan tidak boleh berhenti di ambang pintu kosanku saja. Di luar kisah pribadiku, ada kenyataan sosiologis yang tak boleh diabaikan. Kita hidup dalam sebuah ekosistem yang saling berkelindan. Banyak orang saat ini sedang menghadapi kepapaan, kemiskinan, dan kebodohan yang bukan semata-mata akibat pilihan pribadi atau kemalasan mereka. Ada sistem sosial, ekonomi, dan politik yang turut membentuk ketimpangan tersebut. Menghadapi sebuah sistem yang kita bangun bersama, baik secara sadar maupun tidak. Dalam hal ini, kebahagiaan tidak lagi menjadi sekadar urusan individual atau pemuasan ego pribadi, melainkan juga sebuah tanggung jawab kolektif.
Karena itu, sebagai bagian dari masyarakat, kita harus berbuat sesuatu untuk perbaikan. Kita tidak boleh hanya duduk manis menikmati keberuntungan pribadi sambil menutup mata serta telinga terhadap penderitaan orang lain. Masyarakat yang adil dan beradab bukan dibangun oleh satu individu yang sukses sendirian, melainkan oleh kesadaran bersama bahwa setiap orang berhak mengejar kehidupan yang layak.
Kita semua adalah musafir yang sama-sama bergerak dalam arus kehidupan yang kompleks dan penuh teka-teki. Kepada sesama manusia, janganlah kita menjadi penghalang bagi hak-hak mereka untuk mengejar hak hidup, hak kebebasan, dan hak kebahagiaannya. Jangan sampai kita merampas ruang hidup orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri yang sempit dan lapang. Menghargai nasib orang lain berarti memiliki empati untuk memahami bahwa setiap orang membawa beban berat yang tak selalu terlihat oleh mata telanjang.
Jangan mencemooh atau menginjak-injak harga diri orang lain, sebab di balik wajah yang tampak biasa dan pakaian yang lusuh, mungkin tersembunyi perjuangan heroik nan panjang yang tak pernah diceritakan kepada dunia. Jangan pula merasa lebih baik dari siapa pun hanya karena posisi start kita yang mungkin lebih beruntung. Dan ingatlah, jangan pernah merasa pengorbananmu lebih besar daripada orang lain. Keadaan dan latar belakanglah yang membuat kita berbeda dalam mengejar takdir masing-masing, namun di hadapan kemanusiaan, kita semua setara.
Berharap ini membawaku pada satu muara bahwa kebahagiaan mungkin bukan sesuatu yang sedang menunggu di masa depan yang jauh, melainkan sesuatu yang sedang berlangsung: pada hari ini, detik ini, dalam tarikan napas ini. Semburat napas kebahagiaan hadir dalam kesadaran bahwa hidup masih memberi kesempatan untuk berjalan, bersyukur, dan memiliki energi untuk memperbaiki dunia sedikit demi sedikit, mulai dari lingkungan terkecil.
Barangkali inilah makna sejati dari The Pursuit of Happyness yang bukanlah sebuah ekspedisi mencari harta karun kebahagiaan sebagai tujuan akhir yang statis, melainkan adalah proses belajar menemukan makna di setiap jengkal perjalanan itu sendiri. Dengan menjaga kerendahan hati, memperluas empati kepada sesama, dan memelihara keyakinan bahwa harapan selalu punya cara untuk tumbuh dan merekah, bahkan sekalipun di tengah keterbatasan yang paling menyesakkan hari-hari sekarang dan yang akan datang.
Terakhir, sebenarnya ejaan yang benar dalam bahasa Inggris, adalah happiness (menggunakan huruf 'i'), yang berarti kebahagiaan. Karena berasal dari kata sifat happy yang mendapat akhiran -ness untuk membentuk kata benda. Sementara happyness (dengan 'y') bukanlah ejaan standar dan umumnya dianggap salah, kecuali merujuk pada judul film “The Pursuit of Happyness” yang menjadi pokok catatan ini. (Sal)