“Tugas ibunya untuk memastikan anak tidak pergi dengan laki-laki semacam itu!” teriak seorang ayah dengan nada parau kepada istrinya. Kalimat itu meledak dalam sebuah pertengkaran hebat setelah putri semata wayang mereka, Yoshino, ditemukan tak bernyawa. Kematian itu bukan sekadar angka dalam berita kriminal, melainkan sebuah tragedi yang berawal dari keteledoran di ruang siber bernama situs kencan.
Kalimat sang ayah terdengar sebagai luapan amarah yang tajam, sekaligus suara duka yang kehilangan arah. Dalam keputusasaan, kemarahan sering kali menjadi satu-satunya bahasa yang tersisa, yang dilemparkan suami kepada istri atau sebaliknya, demi mencari siapa yang harus memikul beban rasa bersalah. Namun, di balik itu, sesungguhnya ada jeritan manusia yang merasa gagal melindungi; jeritan keluarga yang terlambat memahami bahwa dunia modern menyimpan begitu banyak lorong gelap yang siap menelan siapa saja yang lengah. Sejak awal, film ini menegaskan bahwa tragedi sering kali tidak lahir dari satu sebab tunggal, melainkan hasil dari rangkaian keteledoran, kesepian akut, dan kerapuhan relasi manusia.
Di sinilah kita mulai menyelami makna Akunin, sebuah kata dalam bahasa Jepang yang secara harfiah berarti “orang jahat” atau Villain. Judul ini bukanlah sekadar label moral yang hitam-putih. Ia adalah pertanyaan besar yang dilemparkan film kepada penonton: siapa sebenarnya yang pantas disebut jahat ketika tragedi terasa begitu dekat dengan urat nadi kehidupan kita? Peristiwa yang dipotret dalam film ini terasa sangat nyata, menyerupai realitas yang baru-baru ini terjadi di Batam—di mana seorang perempuan penyedia jasa kencan (BO) harus kehilangan nyawa di tangan pelanggannya sendiri. Dunia kencan daring, relasi transaksional, dan kekerasan yang mengintai perempuan menjadi isu yang terus berulang tanpa henti. Film ini mengajak kita menatap kenyataan itu dengan mata terbuka, tanpa romantisasi sedikit pun.
Mengadaptasi novel karya Shuichi Yoshida yang dirilis pada 2010, Akunin mengupas tuntas kehidupan Yuichi Shimizu, seorang pemuda konstruksi yang terasing. Namun, film ini tidak berhenti pada permukaan kisah kriminal semata. Ia melangkah lebih jauh, membedah lapisan-lapisan psikologis, sosial, hingga moral yang membuat kejahatan tumbuh subur seperti jamur di ruang yang basah dan gelap. Film ini membawa sisi gelap kemanusiaan yang muncul dari rongga kehampaan relasi yang gagal.
Salah satu pesan kuat yang disampaikan adalah bahwa kriminalitas tidak selalu dimulai dari sebuah niat jahat yang terencana. Mengingat pesan "Bang Napi" yang ikonik, kejahatan sering kali terjadi karena adanya kesempatan. Dalam kasus Yuichi, ia sebenarnya tidak berangkat dengan niat membunuh. Pada mulanya, ia bahkan memiliki dorongan untuk menolong. Namun, sikap Yoshino yang mempermainkan perasaannya, menghinanya, hingga mengancamnya, memicu ledakan emosi yang fatal. Di puncak gunung Mitsuse Pass, nyawa korban melayang ke dasar jurang, membawa serta seluruh masa depan mereka.
Narasi ini menempatkan penonton pada wilayah abu-abu yang sangat tidak nyaman. Kita terbiasa memandang pembunuhan sebagai puncak kejahatan yang lahir dari batin yang hitam. Namun, Villain menunjukkan bahwa terkadang pembunuhan terjadi sebagai ledakan impulsif dari harga diri yang diinjak-injak setelah sekian lama membusuk dalam kesepian. Yuichi adalah korban dari pengabaian masa kecil; ia tinggal bersama kakek-neneknya di desa nelayan sunyi di Kyushu setelah ditinggalkan ibunya. Luka pengabaian itu tidak pernah sembuh; ia hanya disimpan dalam diam yang menyesakkan.
Di sisi lain, korban bernama Yoshino digambarkan sebagai perempuan yang mencari validasi dengan cara yang keliru. Ia menganggap lelaki seperti Yuichi sebagai sosok yang "garing" dan rendah secara strata sosial. Baginya, pertemuan itu hanyalah transaksi; ia bersedia bertemu asalkan Yuichi memberinya uang. Di sinilah relasi manusia tampak begitu rapuh. Yuichi memandang Yoshino sebagai satu-satunya kemungkinan untuk keluar dari kesepiannya—meski dalam bahasa yang kasar, ia hanya ingin memuaskan hasrat biologisnya—sementara Yoshino memandang Yuichi sebagai alat ekonomi semata.
Ketegangan mencapai puncaknya saat Yoshino justru meninggalkan Yuichi demi mengejar Keigo Masuo, seorang mahasiswa kaya yang sombong. Yoshino ingin menjangkau dunia yang lebih glamor, sebuah simbol kelas sosial yang ia idamkan. Namun, kenyataan berkata lain. Keigo justru membuang Yoshino di pinggir jalan pegunungan yang dingin layaknya membuang sampah. Di sinilah film menunjukkan betapa relasi yang dibangun di atas status dan oportunisme sering berakhir dengan kehinaan yang mematikan.
Yuichi, yang membuntuti karena rasa terhina, akhirnya berhadapan dengan Yoshino yang sedang kalap. Dalam konfrontasi emosional itu, Yuichi secara impulsif mencekik Yoshino hingga tewas. Ini bukan sekadar tindakan kriminal, melainkan klimaks dari rangkaian luka kecil Yuichi selama bertahun-tahun. Film ini pun bertanya dengan tajam: apakah pembunuhan itu murni kejahatan individu, atau puncak dari sebuah sistem sosial yang membiarkan manusia saling melukai tanpa empati?
Pascakejadian, Yuichi bertemu dengan Mitsuyo Magome, seorang pegawai toko pakaian yang juga terjebak dalam kemonotonan hidup. Mereka bertemu melalui situs yang sama, namun kali ini, dua kesepian itu saling bersentuhan dengan cara yang berbeda. Meskipun awalnya didasari nafsu, mereka menemukan koneksi mendalam karena berada pada "frekuensi" yang sama: sama-sama kehilangan sesuatu dalam hidup. Mitsuyo, yang haus akan cinta, memilih untuk melarikan diri bersama Yuichi ke sebuah mercusuar terbengkalai ketimbang melaporkannya ke polisi.
Tragedi ini kemudian meluas menjadi kritik sosial. Akunin memotret bagaimana masyarakat memperlakukan tragedi sebagai tontonan dan bagaimana media memburu sensasi tanpa peduli pada luka keluarga yang ditinggalkan. Pertanyaan moral pun memuncak: siapa yang sebenarnya paling jahat? Apakah Yuichi sang pembunuh? Ataukah Keigo yang memicu rantai kekerasan? Ataukah orang tua yang gagal memberikan bimbingan, atau masyarakat yang telah kehilangan empati?
Melalui kacamata psikoanalisis, terlihat jelas bahwa perilaku Yuichi adalah manifestasi dari inner child yang terluka. Masalah kriminalitas sering kali berakar dari parenting yang gagal dan disharmoni keluarga. Luka masa kecil membentuk Yuichi menjadi lelaki yang tidak tahu bagaimana mencintai dengan sehat; ia hanya tahu bagaimana cara berharap dan akhirnya tenggelam dalam sunyi.
Secara edukatif, film ini menawarkan kesadaran tentang pentingnya pengendalian diri. Ia mengajarkan bahwa dendam dan kemarahan yang tak terkendali hanya akan memperpanjang lingkaran setan kekerasan. Karakter ayah Yoshino di akhir cerita memberikan teladan reflektif tentang bagaimana memproses duka tanpa harus menjadi "penjahat" baru.
Sebagai penutup, Akunin bukan sekadar kisah tentang pembunuhan di pegunungan sunyi. Ini adalah refleksi mendalam tentang manusia yang kehilangan arah dan cinta yang tidak pernah benar-benar hadir sebagai rumah. Film ini meninggalkan pertanyaan yang akan terus berdenging di telinga kita: apakah "orang jahat" itu selalu mereka yang tangannya berlumuran darah, ataukah kita semua yang membiarkan dunia modern menjadi mercusuar terbengkalai—tempat manusia bersembunyi hingga kegelapan mengambil alih kesadaran mereka? Semoga, melalui pemahaman yang lebih dalam tentang keluarga dan empati, kegelapan itu tidak perlu mengambil kendali atas hidup kita. (Sal)