Love: Cinta yang Dekat dan Pilihan Hati

Menonton film Love yang tayang di RCTI memberi pelajaran sederhana, meski klise, tapi ada sisi...

Love: Cinta yang Dekat dan Pilihan Hati

22 Jan 2026
257 x Dilihat
Share :

Love: Cinta yang Dekat dan Pilihan Hati

Menonton film Love yang tayang di RCTI memberi pelajaran sederhana, meski klise, tapi ada sisi mendalamnya. Tentang hidup yang pada akhirnya, atau jalan cinta yang sering pada akhirnya jatuh pada orang-orang yang paling dekat dengan kita. Makanya ada yang berkata, “Jodoh mah jorok,”.

Jika saat ini kamu masih jomblo, dekati lawan jenis yang setiap hari kamu temui, ajak bicara, atau sekadar berbagi tawa. Sebab dari teman yang biasa, ada kemungkinan menjadi istimewa, nanti bermetamorfosa sebagai seseorang yang kita sukai secara dalam, karena barangkali dialah sebenarnya twin flames kita, hingga akhirnya menjadilah dari hati yang lebih intim.

Aku pun sering bertanya-tanya pada diri sendiri: dari semua perempuan yang pernah kutemui, apakah jodohku nanti termasuk salah satunya? Bukankah aku sudah menentukan kriteria pasangan idealku? Rasanya cukup logis: dengan memulai menentukan kriteria, lalu carilah di hamparannya, guna memetik satu bintang di milyaran semesta jiwa perempuan.

Namun, kenyataannya hati tidak selalu sejalan dengan logika. Meski bertemu banyak perempuan, tidak semuanya bisa menembus ruang hati. Ketika kriteria yang diharapkan belum terpenuhi, pertanyaan kemudian muncul: apakah aku harus menurunkan standar, atau menunggu sampai benar-benar menemukan yang cocok?

Dari kerumitan cinta akhirnya menonton cinta, Love (2008), yang disutradarai Kabir Bhatia, yang coba menjawab pertanyaan tentang cinta dengan cara yang berbeda. Film ini berbentuk antologi (omnibus) yang menghubungkan lima kisah cinta berbeda melalui benang merah: kekuatan cinta dalam berbagai rupa dan situasi. 

Dibintangi aktor ternama seperti Laudya Cynthia Bella, Irwansyah, dan Luna Maya, film ini boleh dikata tidak sebatas menampilkan romansa semata. Tetapi juga refleksi tentang harapan, menerima, berbuat, mengikhlaskan, dan kesabaran.

Dari segi konsep dan struktur, format omnibus ini, memungkinkan penonton melihat cinta dari pelbagai perspektif. Lima kisah dalam film ini: Harapan, Menerima, Perbuatan, Mengikhlaskan, dan Kesabaran, terangkai menjadi bentuk satu kesatuan tentang bagaimana cinta hadir dalam kehidupan sehari-hari, yang terkadang membahagiakan, terkadang menguji. 

Penyutradaraan Kabir Bhatia cukup dipuji karena berhasil menyatukan semua kisah ini secara visual. Motif warna yang kuat dan gerakan kamera dinamis menguatkan narasi. Meskipun beberapa adegan terasa klise, dan ada yang menilai musiknya oleh Erwin Gutawa terlalu dominan.

Kekurangannya dapat ditambal oleh akting artis kawakan, pemain senior menjadi salah satu kekuatan film ini. Pertemuan Sophan Sophiaan dan Widyawati misalnya, dianggap sangat kuat dan menyentuh. 

Sementara akting pemain lain, meski lebih sederhana, membantu membangun keaslian cerita berkat pengarahan sutradara yang cermat. Meski ada kekurangan, film ini tetap memberikan gambaran bahwa cinta bukan hanya soal romansa, tapi juga pilihan, kesabaran, dan keberanian untuk menerima.

Membaca film ini secara reflektif, membuatku menyadari bahwa cinta yang sejati sering tidak jauh dari lingkaran kehidupan sehari-hari. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana: dari pertemuan rutin, obrolan ringan, hingga kehangatan yang tumbuh tanpa disadari. 

Film ini mengingatkan bahwa kriteria yang kita tetapkan hanyalah panduan. Yang menentukan adalah hati yang berani membuka ruang untuk menerima, mengikhlaskan, dan bersabar. (Sal)

Perspektif

Scroll