Lawrence of Arabia, film produksi 1962, menampilkan kisah heroik dan kontroversial tentang T.E. Lawrence, dengan Anthony Quinn, yang juga memerankan Hamzah dalam Ar-Risalah (1976), menghidupkan karakter-karakter yang berperan penting dalam sejarah Arab.
Setelah menonton film ini, aku merasakan banyak tautan waktu yang ingin diurai: masa lalu, masa kini, dan pertanyaan tentang masa depan Arab yang sering kali terselubung dalam konflik, ambisi, dan warisan sejarah.
Di masa lalu, putra-putra Saud, terutama Pangeran Feisal, memiliki cita-cita besar: menghidupkan kembali taman-taman Cordova. Cara mereka, sebagaimana digambarkan dalam film, adalah dengan memulai pemberontakan terhadap Daulah Turki Utsmaniyah, yang telah menguasai Jazirah Arab berabad-abad.
Lawrence, sebagai tentara Inggris yang berperan strategis dalam pemberontakan itu, mencatat dalam nada sinis, “Hei Sherif Ali, selama bangsa Arab terus berperang, selama itu pula kalian akan jadi orang-orang kerdil.” Kritik ini, walaupun dilontarkan pada zamannya, tetap relevan ketika melihat pergolakan Suriah-Damaskus, atau konflik Saudi-Yaman yang tak kunjung reda, seakan menegaskan bahwa konflik internal selalu menjadi batu sandungan bagi kemajuan.
Film ini, meski bersifat hiburan, membuka sedikit tabir sejarah terbentuknya Arab Saudi. Sebuah negara kerajaan yang, dalam proses pendiriannya, menerima dukungan strategis Inggris. Lakon sentral film ini adalah Lawrence yang memimpin suku Hasami menyerang Aqaba dan menantang kedaulatan Khilafah Turki Utsmaniyah.
Di sini, kita melihat sejarah bukan sekadar garis waktu, melainkan pertarungan identitas, politik, dan kekuasaan yang membentuk wajah bangsa Arab modern.
Beberapa dekade kemudian, impian Saud dan Feisal terwujud: Arab Saudi lahir sebagai negara merdeka, terbebas dari bayang-bayang bangsa Turki non-Arab.
Karen Armstrong menilai bahwa bangsa Arab secara historis menolak kepemimpinan non-Arab, sebuah sikap yang mengakar dari pengalaman panjang sebelum penaklukan dan kolonialisasi Eropa.
Namun, cita-cita Feisal untuk mengembalikan kejayaan Cordova sebagai simbol peradaban Islam yang kosmopolitan tidak sepenuhnya tercapai. Kota-kota Islam kini berada di bawah pengawasan Saudi Arabia, dengan Makkah yang menjadi gemerlap dan megah.
Tapi, gemerlap itu, misalnya melalui pembangunan Abraj Al-Bait, apakah mampu menandingi semangat Cordova di Andalusia yang dulu menjadi pusat ilmu, toleransi, dan keindahan budaya Islam? Mereka yang hidup di masa kejayaan Cordova merasa bangga dengan kotanya sebagai Ornamen Dunia.
Namun generasi hari ini, yang menyaksikan kemegahan Abraj Al-Bait dan komersialisasi tempat-tempat suci, mungkin merasakan kebanggaan yang berbeda—atau bahkan pertanyaan tentang nilai spiritual dan intelektual yang hilang di tengah kapitalisasi ruang suci.
Lebih ironis lagi, Wahabi yang semula menolak modernisme dengan keras, kini tampak terserap dan bahkan terbakar oleh “api” modernitas. Transformasi ini menimbulkan pertanyaan apakah modernisme selalu berarti kemunduran spiritual, ataukah ini hanya siklus adaptasi yang tak terhindarkan? Bagaimana Arab sebagai tanah gurun, tempat lahirnya Rasulullah, bisa menyeimbangkan antara warisan spiritual yang agung dan tuntutan dunia modern yang gemerlap?
Melalui film, sejarah, dan kondisi kontemporer, kita belajar bahwa perjalanan Arab bukan sekadar kisah heroik atau politik, tetapi juga perjalanan batin dan intelektual. Pertanyaan tentang identitas, kemerdekaan, dan makna kemajuan tetap relevan. Bukan hanya bagi Arab, tapi bagi setiap bangsa yang ingin menjaga akar budaya sambil menatap masa depan Arab sebagai bangsa dan sebagai jantung peradaban Islam. (Sal)