Kingdom: Ashin of the North, Dendam dan Alegori Sejarah

Mengawali cerita, tentu saja saya tidak begitu kecewa setelah rampung menonton film Kingdom: Ashin...

Kingdom: Ashin of the North, Dendam dan Alegori Sejarah

20 Jan 2026
372 x Dilihat
Share :

Kingdom: Ashin of the North, Dendam dan Alegori Sejarah

Mengawali cerita, tentu saja saya tidak begitu kecewa setelah rampung menonton film Kingdom: Ashin of the North sebagai episode spesial dari serial orisinal Netflix asal Korea Selatan, Kingdom. 

Film ini adalah episode prekuel serial Kingdom, untuk dapat mengungkap asal-usul wabah zombi dan tanaman pembangkit (saengsacho) yang melanda Joseon pada musim pertama dan kedua.

Episode ini atau film ini penting, karena sebagai “jembatan” agar dapat memahami cerita serial Kingdom, untuk lebih menjelaskan awal kemunculan Ashin yang misterius di akhir musim kedua, sekaligus memberi pondasi naratif bagi kemungkinan kelanjutan cerita selanjutnya.

Namun lebih dari itu, dari cukup saja menonton Ashin of the North, mengingatkan bahwa sebenarnya zombi paling mengerikan dalam sejarah bukanlah tentang mayat hidup, melainkan sistem kekuasaan yang mematikan kemanusiaan, dan manusia-manusia yang dipaksa bangkit, bukan untuk hidup, tetapi bahkan untuk membalas dendam.

Atas keseluruhannya, baik dari genre, tema, maupun pendekatan penceritaan, film ini mungkin akan membuat orang jatuh pada pilihannnya: antara suka atau tidak, dan semuanya kembali pada selera masing-masing. Toh tidak ada film yang benar-benar netral. Sebab setiap tontonan selalu menemukan penontonnya sendiri, lengkap dengan prasangka, harapan, dan pengalaman yang dibawa sejak awal.

Awalnya pun saya mengira, meluangkan waktu menonton film ini barangkali akan menemukan refleksi sejarah tentang masa lalu Korea, tentang bagaimana negeri yang kini begitu fenomenal, pop, dan digandrungi kaum muda-mudi itu membentuk dirinya melalui lapisan-lapisan sejarahnya. Namun rupanya, perkiraan itu meleset. Sebab yang saya dapati bukanlah drama sejarah dalam pengertian konvensional, melainkan kisah tentang zombi.

Meski begitu, justru di situlah kejutan itu bermula. Saya menemukan sisi lain cerita yang menarik untuk dicatatkan. Sebab pada akhirnya, setiap film, apa pun genrenya, dalam pandangan saya, selalu mengangkat drama manusia yang hendak dipertontonkan kepada khalayak. Mau dikemas secara dangkal atau diramu secara mendalam, sebuah film tetap berbicara tentang manusia: tentang ketakutan, harapan, kehilangan, dan cara bertahan hidup. 

Dalam batas itu, Kingdom: Ashin of the North tidak sekadar menyajikan teror mayat hidup, tetapi juga tragedi manusia yang hidupnya telah lama “dimatikan” oleh sejarah. Cerita yang berfokus pada Ashin, seorang perempuan dari suku Jurchen yang tinggal di wilayah utara Joseon, setelah desanya dibantai dan keluarganya dikhianati akibat konflik politik antara Joseon dan suku Pajeowi, Ashin tumbuh dengan dendam yang mendalam. Pengetahuannya tentang tanaman misterius yang dapat membangkitkan orang mati menjadi titik awal petaka yang kelak menyapu seluruh kerajaan.

Membincangkan film ini, bahkan katanya sedang menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Berawal dari cerita yang diangkat dari cerita komik, lalu diarahkan oleh sutradara Korea yang telah teruji, dan tentu saja dibintangi artis cantik Jun Ji-hyun, yang jujur saja, membuat saya sadar bahwa saya ternyata ketinggalan kereta, tak tahu sebelumnya siapa Jun Ji-hyun itu. 

Tentu saja popularitas selalu datang bersama keterlambatan bagi sebagian orang. Tapi itu sebatas pinggiran. Karena bagian paling menarik dari film ini terletak pada sisi kemanusiaannya yang diangkat. Tentang hidup segolongan manusia yang terbuang, tentang pengkhianatan yang dilakukan atas nama kekuasaan, dan tentang kegandrungan manusia untuk menolak kematian, bahkan ketika hidup itu sendiri telah kehilangan maknanya.

Benarlah bahwa sejarah seringkali bergerak seperti alur cerita film ini. Arah perubahannya tidak selalu dimulai dari pusat kekuasaan, melainkan justru dari pinggiran: dari satu orang atau segolongan manusia yang terbuang, yang mencoba bergerak dan mendobrak. Entah itu dimaknai sebagai balas dendam, perlawanan terhadap ketakutan, atau sejenis heroisme yang getir. Tapi semuanya bertujuan sama: memporak-porandakan sesuatu yang selama ini terasa digdaya dan tak tergoyahkan.

Pepatah lama mengatakan, jika semut terus-menerus diinjak, ia akan bangkit melawan. Demikian pula Ashin. Dari situlah kita mulai memahami mengapa tokoh ini harus melunaskan dendamnya kepada dua pihak sekaligus: Kerajaan Joseon dan klannya sendiri, suku Jurchen Pajeowi.

Pajeowi adalah kelompok suku Jurchen yang berdiam di Daerah Aliran Sungai Pajeo. Mereka membentuk identitas tersendiri dan ditakuti oleh Kerajaan Joseon sebagai saingan sekaligus duri di wilayah perbatasan. Keluarga besar Ashin berada dalam posisi yang serba salah: terbuang di Kerajaan Joseon, karena mereka adalah suku Jurchen. Tetapi juga tidak sepenuhnya diterima oleh sesama Jurchen, terutama Pajeowi, karena mereka memilih tinggal di wilayah Joseon.

Sebagai anak dari keluarga klan yang terbuang, Ashin kecil sejatinya hanya memiliki keinginan yang amat sederhana. Ia ingin keluarganya utuh, tenteram, dan, yang paling mustahil, ia ingin ibunya hidup kembali. Karena itulah ia merajuk kepada ayahnya, meminta agar mereka pulang saja ke tanah leluhur. Namun ayahnya menjawab dengan nada pasrah: Kerajaan Joseon sudah sangat berbaik hati, dan hidup mereka memang harus dijalani seperti ini.

Jawaban itu kelak menjadi ironi yang pahit.  Ashin kemudian menyadari bahwa mimpi indah masa kecilnya direnggut dan dilucuti oleh sikap sembrono para penguasa Joseon. Padahal ayahnya sendiri telah banyak mengabdi kepada kerajaan Joseon. Pada saat yang sama, dendamnya kepada Pajeowi tumbuh karena mereka, tanpa belas kasihan, membantai seluruh keluarganya. 

Di titik ini, Ashin kehilangan segalanya, termasuk tempat berpijak untuk memaknai hidup. Mengalirlah cerita dendam itu yang dibuka secara simbolik lewat adegan tentang tanaman ginseng, tanaman khas Korea yang dipercaya mampu menghidupkan kembali manusia atau hewan yang telah mati. Namun melalui relief di dinding gua altar pemujaan kuno yang dibaca Ashin, mereka diberi peringatan: setiap kebangkitan selalu memiliki harga yang harus dibayar. Kehidupan yang dipaksakan untuk kembali akan menagih korban lain.

Sementara itu, ayah Ashin, sebagai kaki tangan Kerajaan Joseon, diperintahkan oleh petinggi kerajaan untuk menyebarkan agitasi kepada masyarakat Pajeowi, bahwa kematian orang-orang mereka di hutan perbatasan bukanlah ulah Joseon, melainkan akibat serangan harimau. Kebohongan politik itu menjadi awal tragedi yang lebih besar.

Sang ayah Ashin yang dijadikan kambing hitam tersebut, membuat Pajeowi membalas dengan membantai seluruh keluarga Ashin. Saat penyerangan itu terjadi, Ashin sedang berada di hutan, memetik bunga ginseng. Seolah takdir sengaja menyisakannya sebagai saksi sekaligus pembawa kutukan sejarah.

Kingdom: Ashin of the North bukan sekadar kisah tentang zombi atau wabah yang tak terkendali. Ia adalah cerita tentang manusia-manusia yang sejak awal telah disingkirkan dari sejarah, lalu dipaksa hidup di tapal batas, lalu diminta setia kepada kekuasaan yang sewaktu-waktu bisa mengorbankan mereka. Dari pinggiran itulah, sejarah sering kali berubah arah. Bukan oleh mereka yang berkuasa, melainkan oleh mereka yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertahankan.

Ashin menjadi simbol dari ingatan yang tidak pernah benar-benar mati. Dendamnya bukan hanya milik pribadi, melainkan akumulasi dari pengkhianatan politik, kekerasan struktural, dan ketidakadilan yang diwariskan lintas generasi. Dalam tubuh Ashin, sejarah menemukan medium untuk membalas dirinya sendiri. Bukan sebagai pembenaran, tetapi sebagai peringatan bahwa setiap kekuasaan yang menutup mata pada kemanusiaan sedang menyiapkan kehancurannya sendiri.

Tanaman pembangkit dalam film ini pun terasa seperti metafora yang getir. Ia menawarkan kehidupan, tetapi dengan harga yang mengerikan. Seolah film ini ingin berkata: tidak semua yang dibangkitkan layak hidup kembali, terutama jika ia lahir dari kebohongan, kekerasan, dan hasrat untuk menaklukkan. Dalam konteks ini, wabah zombi bukanlah awal bencana, melainkan kelanjutannya.

Mungkin itulah mengapa kisah Ashin terasa relevan melampaui latar Joseon atau sejarah Korea. Ia berbicara tentang siapa pun yang pernah merasa terbuang, diabaikan, dan diperalat oleh sistem yang lebih besar dari dirinya. Dalam dunia modern yang gemar merayakan kemajuan, kisah seperti ini mengingatkan bahwa ada harga yang sering tak ingin kita hitung: manusia-manusia yang dilupakan sejarah.

Dan barangkali, di situlah letak kekuatan Ashin of the North. Ia tidak menawarkan harapan yang terang, apalagi penebusan yang manis. Ia hanya meninggalkan pertanyaan yang sunyi namun tajam: ketika sejarah kembali mengetuk pintu, apakah kita akan belajar mendengarkan mereka yang terbuang, atau sekali lagi memilih membangkitkan bencana demi mempertahankan status quo kekuasaan. (Sal)

Perspektif

Scroll