Menarik mendiskusikan buku Power Sleep karya James B. Maas, terlepas dari apakah kita sepenuhnya sepakat dengan kesimpulan-kesimpulan yang ia tawarkan. Dalam buku itu, Maas menyebut sejumlah tokoh besar, seperti Albert Einstein dan Bill Gates, yang kerap bekerja hingga larut malam, namun juga memberi ruang besar bagi tubuh mereka untuk tidur panjang di waktu lain. Fakta ini seolah menantang anggapan umum bahwa kesuksesan selalu identik dengan pengorbanan jam tidur.
Di masyarakat pada umumnya, mitos tentang orang sukses sering dilekatkan pada kebiasaan begadang dan pengurangan waktu istirahat. Seolah-olah, jika ingin berhasil, seseorang harus rela mengabaikan kebutuhan biologisnya. Namun buku yang diterbitkan Kaifa ini justru menghadirkan sudut pandang sebaliknya: kurang tidur bukan hanya persoalan personal, melainkan persoalan serius yang berdampak luas pada keselamatan, kesehatan, dan produktivitas manusia.
James B. Maas memaparkan bahwa banyak kecelakaan besar, mulai dari kecelakaan mobil, pesawat, kereta api, hingga kapal laut, berakar pada satu persoalan yang sering diremehkan: pengemudi yang mengantuk akibat kurang tidur. Kerugian yang ditimbulkan tidak kecil, bahkan ditaksir mencapai miliaran dolar, belum lagi korban jiwa yang jumlahnya tak terhitung. Semua itu, menurut penelitian yang ia rujuk, berawal dari tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas alaminya.
Di Amerika Serikat, tingginya angka kecelakaan lalu lintas disebut berkorelasi kuat dengan kebiasaan kurang tidur di kalangan pengemudi. Kurang tidur menurunkan konsentrasi, memperlambat refleks, dan meningkatkan risiko kelalaian. Dalam konteks ini, kelalaian bukan semata soal sikap ceroboh, melainkan konsekuensi biologis dari tidur yang tidak optimal.
Kita mungkin sepakat bahwa tidur yang cukup berkaitan erat dengan produktivitas kerja. Namun pertanyaan pentingnya bukan semata soal durasi: apakah tidur optimal selalu berarti tidur lebih lama? Ataukah ada cara mencapai kualitas tidur yang baik meski dengan jam tidur yang lebih singkat? Inilah ruang refleksi yang ditawarkan buku ini.
Maas menekankan bahwa persoalan utama bukan panjang atau pendeknya waktu tidur, melainkan kualitas dan optimalitasnya. Tidur yang secara durasi tampak cukup, tetapi tidak berkualitas, tetap berujung pada kelelahan, hilangnya fokus, dan penurunan kinerja. Sebaliknya, tidur yang optimal memberi tubuh kesempatan untuk benar-benar pulih.
Dari sisi kesehatan, ekstrem dalam pola tidur sama-sama berisiko. Kebiasaan tidur berlebihan dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, sementara kurang tidur dapat memicu tekanan darah tinggi, memperlambat proses pemulihan tubuh, mengurangi energi dan keceriaan, bahkan menurunkan kemampuan intelektual.
Sebab pada dasarnya tubuh memiliki batas yang tidak bisa dinegosiasikan.
Buku ini juga mengingatkan pentingnya istirahat, termasuk tidur siang singkat. Tidur siang selama 20–30 menit disebut bermanfaat untuk memulihkan energi dan kejernihan berpikir. Thomas Edison, sang penemu lampu pijar, konon dikenal gemar tidur siang. Barangkali malam hari ia gunakan untuk mengamati ide-ide yang “mengeram” di kepalanya.
Relasi antara kurang tidur dan kelelahan tidak hanya dialami para sopir atau pekerja lapangan. Mereka yang bekerja di balik meja dan layar komputer pun merasakannya. Kelelahan mental, emosi yang mudah tersulut, hingga rasa jenuh berkepanjangan sering kali merupakan sinyal tubuh yang meminta istirahat. Dalam konteks ini, lelah bukan kelemahan, melainkan bahasa tubuh yang kerap kita abaikan.
Namun di titik inilah diskusi tentang tidur dan kesehatan menjadi lebih menarik ketika dikaitkan dengan figur-figur yang tampak “melampaui” batas fisik kebanyakan orang. Salah satunya adalah Emha Ainun Nadjib atau biasa disapa Cak Nun.
Dalam tulisan berjudul Cinta, Kesehatan, dan Munajat Emha Ainun Nadjib, dr. Ade Hashman, Sp.An., mengulas sisi kesehatan Cak Nun yang kerap diselimuti mitos. Selama bertahun-tahun, publik mengenal Cak Nun sebagai sosok yang seolah tak pernah lelah dan tak pernah sakit. Ia hadir dari kota ke kota, mengikuti forum Maiyah yang kerap dimulai pukul 20.00 malam hingga 02.00 dini hari. Anehnya, ia tetap tampak segar, jernih, dan penuh energi.
Dr. Ade Hashman membantah anggapan bahwa Cak Nun adalah manusia “kebal sakit”. Menurutnya, Cak Nun adalah manusia biasa yang juga mengalami sakit, kelelahan, dan keterbatasan fisik. Namun perbedaannya cara Cak Nun memahami dan menjalani kesehatan sebagai bagian dari jalan hidup, bukan sekadar urusan medis.
Melalui riset, wawancara, serta analisis literatur dan dokumentasi audiovisual, dr. Ade menggali keseharian Cak Nun. Bagaimana ia mengelola aktivitas, istirahat, makan, emosi, hingga relasinya dengan Tuhan. Kesehatan, dalam perspektif ini, tidak berdiri sendiri sebagai urusan fisik, melainkan terhubung erat dengan spiritualitas, keikhlasan, cinta, dan makna hidup.
Maiyah, sebagai ruang kebudayaan dan spiritual, bukan hanya forum diskusi, tetapi juga ruang “pengisian batin”. Energi Cak Nun, sebagaimana diuraikan dr. Ade, bukan semata hasil manajemen tidur yang disiplin, melainkan buah dari keseimbangan antara kerja lahir dan ketenangan batin. Munajat, cinta kepada sesama, dan penerimaan terhadap hidup menjadi bagian dari “nutrisi” yang tak tercatat dalam buku medis konvensional.
Perspektif ini memperluas pemahaman kita tentang kesehatan. Bahwa tidur, istirahat, dan produktivitas memang penting secara biologis, tetapi tidak berdiri sendiri. Ada dimensi spiritual, filosofis, dan eksistensial yang turut menentukan apakah seseorang benar-benar pulih atau justru terus-menerus lelah meski jam tidurnya cukup.
Masalahnya, memberi waktu untuk istirahat, termasuk tidur siang, sering terasa “mahal”. Niat tidur sebentar 30 menit kerap berubah menjadi tidur panjang berjam-jam, apalagi tanpa alarm. Meski demikian, ada satu kejujuran yang sulit dibantah: tidur tanpa beban waktu memang terasa nikmat. Namun di situlah disiplin istirahat diuji.
Pada akhirnya, tidur adalah kebutuhan sekaligus keharusan. Dalam tradisi Islam, misalnya, dianjurkan untuk tidur lebih awal sebelum tengah malam dan bangun lebih awal sebelum subuh. Pola ini menekankan keseimbangan antara ikhtiar dan pemulihan diri, antara kerja dan istirahat, dan antara urusan dunia dan kebutuhan batin.
Hal menariknya bahwa banyak orang sukses justru memiliki pola istirahat yang tidak selalu seragam. Mereka bekerja intens dalam satu fase, lalu tidur panjang ketika tubuh benar-benar meminta. Seperti disampaikan seorang kawan, mahasiswa kedokteran, pernah mengatakan, tubuh manusia memiliki mekanisme alami: kita akan terbangun sendiri ketika kebutuhan tidurnya telah tercukupi.
Sebaliknya, banyak dari kita justru memaksa diri untuk tidur meski belum mengantuk, demi memenuhi anjuran “delapan jam tidur”. Padahal, kebutuhan setiap orang berbeda. Delapan jam mungkin hanyalah titik tengah, bukan ukuran mutlak. Sebab yang lebih penting adalah menjawab pertanyaan apakah tidurnya benar-benar memulihkan secara fisik, mental, dan batin.
Pada titik ini, Power Sleep dan refleksi tentang kesehatan Cak Nun bertemu pada satu simpul: tidur dan kesehatan bukan sekadar soal jam dan angka, melainkan soal kesadaran menjalani hidup. Bukan hanya bagaimana kita bekerja, tetapi bagaimana kita mencintai tubuh, memberi ruang bagi jiwa, dan memahami batas sebagai bagian dari kemanusiaan.
Demikianlah urusan tidur, pada akhirnya, bukan sisa waktu setelah kerja, melainkan fondasi agar hidup dapat dijalani dengan lebih utuh, aman, dan bermakna bagi diri seutuhnya. (Sal)