Malam minggu itu saya habiskan dengan membaca sebuah buku. Bukan untuk hiburan, bukan pula untuk pelarian, melainkan sebagai sebuah upaya kecil yang barangkali sia-sia, barangkali perlu, untuk memahami keberadaan diri di tengah arak-arakan kehidupan yang datang dan pergi.
Kemudian saya jatuh pada perenungan dan kesimpulan bahwa kita ini pada akhirnya hanyalah noktah kecil dalam prosesi kosmik yang panjang: hadir sebentar, lalu lenyap, seperti buih ombak di samudera luas. Dalam istilah filsafat Islam, keberadaan manusia hanyalah mumkin al-wujud, ada karena dimungkinkan, bukan karena niscaya ada.
Dan mungkin, saya tak akan meninggalkan jejak genetis, jika saya tak menikah. Maka membaca, menulis, dan berpikir begini bisa menjadi semacam “pajak energi” yang tetap harus dibayar sebelum entropi menuntaskan pekerjaannya. Sebab hidup, betapapun singkat dan rapuh, tetap berada dalam hukum besar alam semesta: segala sesuatu bergerak, berubah, dan akhirnya larut kembali.
Buku yang saya baca malam itu adalah Future Stories: Kisah Masa Depan karya David Christian, sejarawan asal Australia yang dikenal sebagai penggagas Big History. Dalam tradisi ini, sejarah tidak lagi dibatasi oleh kronik kerajaan atau perang manusia, melainkan dimulai sejak Ledakan Besar sekitar 13,8 miliar tahun lalu hingga masa depan yang belum kita ketahui.
Sampai pada bab tiga sudah cukup membuat saya kembali mengingat pelajaran fisika, kimia, dan biologi di bangku SMP dan SMA. Pelajaran yang dulu terasa asing di telinga, kini terasa mendesak di kepala dan kembali mencoba mengingatnya lagi. Christian yang pada buku pertama memulai kisahnya dari Big Bang sebagai peristiwa fisika, berlanjut ke pembentukan bintang dan galaksi yang tunduk pada hukum kimia, hingga lahirnya molekul kompleks yang membuka jalan bagi biologi dan kehidupan.
Di titik ini, kita diajak memahami konsep-konsep dasar yang kerap terdengar abstrak, namun justru menentukan nasib semesta: entropi, homeostasis, dan hukum termodinamika. Entropi, secara sederhana, adalah kecenderungan sistem menuju keacakan, menuju hilangnya pola dan struktur. Namun sebab itulah kehidupan justru muncul dengan cara “melawan arus” ini dengan menciptakan keteraturan lokal melalui aliran energi.
Di sinilah konsep free energy menjadi penting: energi terstruktur yang memungkinkan terbentuknya bintang, planet, sel hidup, hingga otak manusia. Sebaliknya, heat energy adalah energi yang mengalir tanpa struktur, menuju keacakan murni. Alam semesta, menurut hukum termodinamika pertama, tidak menciptakan atau memusnahkan energi, ia hanya mengubah bentuknya. Dan menurut hukum kedua, setiap perubahan itu selalu “membayar” entropi.
Menariknya, Christian menegaskan bahwa di antara keniscayaan hukum-hukum alam itu, kebetulan dan keacakan justru menjadi daya cipta. Dalam istilahnya antara Chance dan Necessity berjalan berdampingan, dan dari kombinasi keduanya, alam semesta bergerak melewati apa yang ia sebut sebagai sembilan thresholds atau ambang batas:
Sembilan thresholds tersebut mulai dari Big Bang, lahirnya bintang, unsur kimia, kehidupan, kesadaran, hingga masyarakat kompleks manusia. Manusia, yang dalam kerangka ini, hanyalah bagian dari complex adaptive system. Seperti kata astronom Harlow Shapley, kita ini “terbuat dari materi bintang”. Maka perilaku kita, pada satu sisi, tunduk pada hukum operasi dasar alam semesta. Namun pada sisi lainnya, manusia menunjukkan sesuatu yang unik: kehendak, pilihan, dan kemampuan membayangkan masa depan.
Dalam Future Stories, Christian menekankan bahwa kemampuan “mengelola masa depan” bukanlah monopoli manusia. Bahkan sel bakteri E. coli atau tanaman Venus flytrap memiliki mekanisme biologis untuk merespons probabilitas dan preferensi demi bertahan hidup. Bedanya, manusia melakukannya dalam skala yang jauh lebih besar—dan jauh lebih berbahaya menuju Antroposen.
Di era Antroposen, ketika aktivitas manusia menjadi kekuatan geologis, kesalahan membaca masa depan bisa berujung pada kehancuran kolektif. Seperti perubahan iklim, krisis energi, atau dampak kecerdasan buatan, hingga ketimpangan global adalah konsekuensi dari manusia sebagai informavora, makhluk pemakan informasi, yang sering kali keliru mengolah dan menggunakan pengetahuannya.
Christian menawarkan beberapa skenario masa depan: pertumbuhan berkelanjutan, penyusutan yang terkelola, kolaps lalu pulih, atau kolaps total. Rasanya ia tidak sedang meramal, melainkan mengajak pembaca berpikir probabilistik bahwa masa depan bukan takdir tunggal, melainkan ruang kemungkinan yang dipengaruhi oleh pilihan kita hari ini.
Pada titik inilah refleksi menjadi tak terelakkan. Jika alam semesta bergerak menuju entropi, sementara manusia ngotot mempertahankan kehidupan, maka pertanyaannya bukan lagi “apakah kita akan mati”, melainkan “bagaimana kita hidup sebelum mati”. Apakah kita sekadar menambah kekacauan, atau justru menciptakan keteraturan yang bermakna, meski sementara?
Membaca buku ini bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah getaran energi kecil: informasi yang, barangkali, mampu mengarahkan perubahan. Di tengah ketidakpastian masa depan, mungkin satu-satunya sikap yang masuk akal adalah kesadaran bahwa hidup ini rapuh, terbatas, dan mahal. Mahal karena setiap detiknya dibayar dengan energi, dan setiap pilihan menyisakan jejak, entah sebagai keteraturan kecil, atau sebagai tambahan entropi bagi dunia. (Sal)