Membaca berbagai buku sains, terutama karya David Christian tentang Big History, barangkali terasa seperti sedang menyimak sebuah “dongeng besar” yang dituturkan oleh seorang narator ulung. Ia mengajak pembaca menelusuri kisah semesta sejak awal mula, dengan alur yang runtut dan bahasa yang memikat.
Bagi orang kebanyakan, kisah ini mungkin tampak tak jauh berbeda dari cerita-cerita lain: kita menerimanya sebagai benar karena ia disampaikan oleh otoritas, seorang ilmuwan, sejarawan, atau institusi pengetahuan yang diakui. Namun, menerima bukan berarti menelan mentah-mentah.
Sejak bangku sekolah dasar, kita telah diperkenalkan pada ilmu bumi dan ilmu eksakta: tentang planet, batuan, gaya gravitasi, hingga hukum sebab-akibat. Bahkan sebelum sekolah pun, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan eksistensial sudah muncul secara naluriah: siapa aku, apa dunia ini, dari mana segalanya bermula, dan di mana posisi Tuhan dalam semua ini?
Dengan bekal nalar yang wajar itu, manusia sebenarnya memiliki kemampuan untuk menguji “dongeng besar” tersebut. Bukan untuk menolaknya, melainkan untuk memahaminya secara lebih sadar.
Sayangnya, tidak banyak orang yang mau menengok kembali pertanyaan-pertanyaan masa kecilnya. Banyak di antara kita, anak-anak dulu yang kini hidup dalam tubuh orang dewasa telah “dipetieskan” oleh narasi otoritatif, termasuk narasi keagamaan yang dibekukan. Agama kerap diposisikan sebagai simbol kepurbaan yang seolah sudah final.
Padahal, jika ditilik dari sejarah panjang manusia, agama memiliki fungsi yang tak jauh berbeda dengan apa yang kita sebut folklore: ia adalah narasi pengantar tidur peradaban, cerita penenang dan penuntun sejak manusia mengenal api, bahasa, dan simbol. Folklore, baik yang hidup dalam cerita rakyat maupun yang termaktub dalam kitab-kitab yang dianggap suci, memiliki kegunaan pada zamannya. Ia membantu manusia memahami dunia ketika sains belum berkembang.
Pertanyaannya kemudian bukan semata-mata apakah cerita itu “benar” secara faktual, melainkan bagaimana ia bekerja secara simbolik. Ambil contoh kisah Sangkuriang (Sang Hyang Kuriang): apakah benar ada seorang anak yang menendang perahu hingga menjelma menjadi Gunung Tangkuban Parahu?
Hampir mustahil mengujinya sebagai fakta sejarah. Namun secara simbolik, kisah itu menyimpan makna mendalam tentang relasi manusia dengan alam, tentang asal-usul, tentang larangan, dan tentang upaya memahami diri melalui mitos.
Kebenaran simbolik inilah yang sering luput. Kisah Sangkuriang mungkin tak dapat dibuktikan secara arkeologis, tetapi ia benar sebagai ekspresi kekayaan khazanah Homo sapiens Urang Sunda dalam usaha “utak-atik-ghatuk” guna merangkai makna untuk menjelaskan realitas hidupnya.
Di titik ini, folklore dan agama bertemu: keduanya adalah perangkat kognitif dan kultural manusia untuk menjinakkan ketakutan, ketidaktahuan, dan keterasingan di hadapan semesta yang luas.
Ketika kemudian kita belajar ilmu bumi dan ilmu eksakta secara sistematis, narasi itu berkembang menjadi apa yang oleh David Christian disebut sebagai “Dongeng Besar”.
Sebuah kisah yang dimulai dari Dentuman Besar (Big Bang), lahirnya partikel dan atom, terbentuknya bintang-bintang pertama, tata surya kita, munculnya kehidupan di Bumi, era dinosaurus, evolusi Homo sapiens, revolusi pertanian, zaman es, bangkit dan runtuhnya imperium-imperium ekspansif, penemuan bahan bakar fosil, pendaratan manusia di Bulan, hingga globalisasi massal dan revolusi digital yang membentuk kehidupan kita hari ini.
Ini adalah cerita yang sama-sama ingin menjawab pertanyaan purba: dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Hanya saja dengan metode dan bahasa yang berbeda.
Dalam konteks inilah, fenomena lahirnya generasi penghafal (para hafiz) dapat dibaca secara lebih jernih. Ada kegelisahan orang tua: kekhawatiran bahwa anak-anak mereka akan “kehilangan iman” ketika berhadapan dengan sains dan narasi besar semesta. Agama lalu dipetieskan, dijaga ketat seolah tak boleh disentuh oleh perbandingan, kritik, atau dialog lintas budaya.
Padahal, jika agama dipahami sebagai sesuatu yang hidup, ia justru akan tampak beragam, dinamis, dan kontekstual, hadir dalam berbagai bentuk di berbagai pelosok Bumi, seiring manusia berusaha menemukan esensi dirinya.
Sesungguhnya, baik dongeng, folklore, agama, maupun sains, semuanya adalah cara manusia bercerita tentang dirinya sendiri. Hal yang menjadi soal bukan memilih salah satunya dan menyingkirkan yang lain, melainkan keberanian untuk membaca semuanya dengan kesadaran kritis.
Sebab di sanalah kita belajar bahwa kebenaran tidak selalu tunggal, dan makna sering kali lahir dari dialog, antara masa lalu dan masa kini, antara simbol dan fakta, antara iman dan nalar yang terus bergerak, sebagaimana semesta itu sendiri. (Sal)