Mimpi-Mimpi Einstein

Waktu, dalam kisah ini, digambarkan seperti sekawanan burung bulbul yang melesat di angkasa. Ia...

Mimpi-Mimpi Einstein

27 Des 2025
231 x Dilihat
Share :

Mimpi-Mimpi Einstein

Waktu, dalam kisah ini, digambarkan seperti sekawanan burung bulbul yang melesat di angkasa. Ia terbang bebas, sulit ditangkap, namun suatu ketika satu di antaranya hinggap di dahan pohon. Ada manusia yang mencoba menangkapnya, menjamahnya, membedahnya, mengurai apa yang dikandungnya. Dada waktu dibelah, jeroannya diurai, lalu dikuantifikasi. Dari proses itulah lahir sebuah teori masyhur yang mengubah cara manusia memahami semesta: mekanika kuantum dan teori relativitas, yang dilekatkan pada nama Albert Einstein.

Namun pertanyaannya tetap menggantung: apakah Einstein benar-benar menangkap waktu? Apakah waktu bisa ditangkap?

Bagi Einstein, justru keraguan terhadap waktu adalah kepastian itu sendiri. Bahkan dalam pandangan religius, waktu sering dipahami sebagai salah satu bukti keberadaan Tuhan. Segala yang mutlak berasal dari Yang Mahamutlak. Di mana ada kemutlakan, di situ waktu hadir. Karena itu para filsuf menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka. Einstein sendiri pernah berkata kepada sahabatnya, Michele Besso, “Aku ingin mengerti waktu, karena aku ingin mendekati Tuhan.”

Bagi kebanyakan orang, waktu adalah penguasa tanpa batas: ia mutlak, menjadi penentu benar dan salah, bahkan disederhanakan menjadi uang. Tetapi bagi Einstein, waktu justru seperti dadu yang bisa dilempar dan kembali lagi ke tangannya. Seperti bumi yang berputar mengelilingi porosnya sendiri. Seperti burung yang terbang jauh melintasi lembah dan samudra menuju pulau tak bernama, namun akhirnya kembali juga. Dadu itu bukan sesuatu yang ditaati, melainkan sesuatu yang diperintah.

Waktu, dalam pandangan ini, bukan garis lurus, melainkan lingkaran. Ia mengitari dirinya sendiri, mengulang peristiwa dengan ketepatan yang nyaris sempurna. Seperti jabat tangan yang terulang, ciuman yang tak pernah jadi dilakukan, atau percakapan yang berulang persis seperti tawar-menawar di pasar. Seperti politisi yang kembali mengingkari janji kampanye, namun tetap dipercaya. Seperti pelaku korupsi yang telah dipenjara, tetapi kembali dimaafkan.

Segala sesuatu seolah telah terjadi jutaan kali sebelumnya dan akan terus berulang di masa depan. Namun apakah semua itu kebetulan?

Bayangkan kisah Klausen. Jika suatu hari ia pulang terlambat, ia tak sempat membeli salep untuk kaki istrinya yang sakit. Karena itu sang istri memutuskan tak jadi berlibur ke Danau Jenewa. Jika ia tak berada di sana pada 23 Juni 1905, ia tak akan bertemu Catherine d’Epinay di dermaga. Catherine tak akan dikenalkan kepada anaknya, Richard Klausen. Richard dan Catherine tak akan menikah pada 17 Desember 1908. Friedrich Klausen tak akan lahir, dan tanpa Friedrich, Hans Klausen tak pernah ada. Tanpa Hans Klausen, Eropa bersatu pada 1979 mungkin tak pernah terwujud.

Rangkaian sebab-akibat itu tampak rapuh, namun justru membentuk sejarah. Lalu, benarkah burung waktu yang ditangkap Einstein telah diurai dengan benar?

Dalam perjalanan waktu, keteraturan tampak terus meningkat. Keteraturan adalah hukum alam, kecenderungan semesta, arah kosmis. Jika waktu adalah anak panah, maka sasarannya adalah keteraturan. Masa depan menjadi pola, penataan, dan kesatuan. Sebaliknya, masa silam dipahami sebagai kekacauan, kebingungan, perpecahan, dan penghilangan.

Namun apa sebenarnya masa silam itu? Mungkinkah masa silam yang terasa begitu kuat hanyalah ilusi? Sekadar kaleidoskop bayangan yang berganti-ganti, terganggu oleh satu tawa, satu ingatan, satu lintasan pikiran?

Jika masa silam dapat berubah, maka masa depan tak lagi dapat dibedakan dari masa kini. Peristiwa-peristiwa menjadi serpihan adegan dari ribuan novel. Sejarah mengabur seperti pucuk pohon yang diselimuti kabut malam.

Lalu bagaimana dengan masa depan? Dalam dunia tanpa masa depan, setiap perpisahan terasa sebagai kematian. Setiap kesedihan menjadi final. Setiap tawa adalah yang terakhir. Setelah kekinian, hanya kehampaan. Manusia pun bergantung pada masa kini seperti bergayut di tepi jurang, sementara sebagian lainnya takut meninggalkan momen-momen bahagia.

Ketika waktu benar-benar berlalu, sering kali kita merasa hampir tak ada yang berubah. Tahun ke tahun, bulan ke bulan, hari ke hari terasa seperti perjalanan yang sama. Waktu bergerak lamban, dan justru karena kelambanan itulah penderitaan terasa. Jika sesuatu berlangsung cepat, penderitaan hampir tak sempat dirasakan.

Padahal waktu sejatinya merenggang dan melebar, seperti jaringan saraf: dari jauh tampak menyambung, dari dekat terputus-putus dengan celah mikroskopik. Kehidupan hanyalah satu peristiwa dalam satu musim gugur, satu butiran salju, satu bayangan yang bergerak secepat pintu ditutup.

Sejak lahir, bersekolah, jatuh cinta, menikah, bekerja, hingga menua, semuanya seolah terjadi dalam satu perjalanan matahari, satu rambatan cahaya. Namun ketika usia lanjut tiba, barulah kita sadar bahwa kita nyaris tak benar-benar mengenal siapa pun. Rumah, kota, pekerjaan, dan kekasih datang dan pergi, semuanya dirancang untuk masuk ke dalam kerangka kehidupan yang terasa hanya satu hari.

Mengapa manusia menjadi tergesa-gesa? Karena waktu terasa lambat bagi mereka yang tak bergerak. Ketika kecepatan belum menjadi obsesi, manusia berjalan pelan. Namun sejak mesin uap dan mesin pembakaran internal mengubah dunia, tak ada lagi yang ingin berjalan lambat. Kecepatan merembes hingga malam hari, ke dalam mimpi-mimpi tentang kemudaan dan kesempatan. Ia menjadi obsesi yang dibicarakan hingga sebelum tidur.

Relativitas waktu pun tampak jelas: burung bulbul yang sama terlihat berbeda oleh orang yang berjalan, berlari, atau diam. Masing-masing mengklaim kebenarannya sendiri. Setiap orang hidup dalam waktunya sendiri. Masa silam tak pernah bisa sepenuhnya dibagi dengan masa kini, apalagi dengan orang lain. Waktu tak sepenuhnya objektif, tak sepenuhnya kontinu.

Bagi anak-anak, waktu berjalan terlalu lambat. Mereka terburu-buru dari satu kejadian ke kejadian lain. Sebaliknya, bagi orang tua, waktu terasa melesat. Mereka ingin menahan satu menit saja—untuk minum teh pagi, atau menatap senja. Kita mendokumentasikan hidup lewat foto dan video, berharap waktu berhenti, namun akhirnya kita sendiri terlalu lamban untuk mengejarnya.

Di sanalah ketidakpastian menjadi nasib manusia. Jika masa depan adalah kepastian mutlak, maka tak ada benar dan salah, tak ada tanggung jawab. Benar dan salah mensyaratkan kebebasan memilih. Jika semua telah ditentukan, kemerdekaan pun lenyap. Bayangkan seorang bocah yang tahu dirinya kelak hanya akan menjadi tukang kembang—mungkin ia tak akan pernah masuk universitas.

Sebagian manusia memilih jalan lain: mencoba mengubah masa depan dengan hidup tanpa terlalu dibebani ingatan masa silam. Mereka ingin menikmati peristiwa apa adanya, bertindak tanpa tunduk pada ramalan, tanpa terus-menerus menghitung konsekuensi masa lalu.

Barangkali, jika masa silam tak sepenuhnya menentukan masa kini, kita tak perlu terlalu meratapinya. Dan jika masa kini hanya sedikit memengaruhi masa depan, kita pun tak perlu terlalu membebani setiap tindakan. Mungkin pesan singkatnya sederhana: biarkan kesungguhan hati bekerja, dan biarkan waktu menjalankan misterinya sendiri. (Sal)

Perspektif

Scroll