Buku ini hadir sebagai upaya penting untuk meluruskan satu prasangka yang kerap berulang: bahwa Islam wasathiyah bersikap abstain, apalagi alergi, terhadap sains. Sebaliknya, buku ini justru menegaskan bahwa Islam, dalam tradisi moderatnya, tidak hanya mendukung sains, tetapi juga mendorong pengembangannya.
Lebih jauh, buku ini mengajak pembacanya berani berhadapan dengan kecenderungan anti-sains yang masih hidup di sebagian kalangan Muslim.
Keberanian itu, menurut penulis buku ini, tidak cukup hanya dengan retorika. Ia harus dibekali argumentasi yang serius, bahkan dengan “pisau” yang sama yang kerap digunakan kelompok anti-sains: Alquran dan Sunnah.
Di sinilah perdebatan menjadi menarik sekaligus menantang. Misalnya, ketika sejumlah tokoh seperti Syaikh Al-Utsaimin, Syaikh Al-Khaibari, dan Ahmad Sabiq, yang menyatakan bahwa mataharilah yang mengelilingi bumi, bukan sebaliknya. Pertanyaannya: benarkah klaim tersebut merupakan kebenaran nash yang final, atau lebih merupakan tafsir yang lahir dari keterbatasan pengetahuan sains pada masanya?
Pandangan semacam itu dapat disebut sebagai bentuk ekstrem penolakan terhadap sains. Namun, penulis buku ini juga jujur mengakui bahwa penolakan terhadap sains tidak selalu hadir dalam bentuk ekstrem. Sebagian umat beragama, termasuk kita, sering kali bersikap ragu atau memilih abstain terhadap temuan tertentu, seperti teori evolusi manusia dan teori Dentuman Besar (Big Bang). Padahal, kedua teori ini telah melewati proses panjang objektivikasi dan memiliki tingkat universalitas yang tinggi dalam komunitas ilmiah global.
Keraguan itu biasanya muncul ketika temuan sains dianggap berseberangan dengan tafsir keagamaan yang telah mapan menurut pendapat jumhur ulama. Akibatnya, muncul rasa waswas untuk menerima sains sebagai kebenaran faktual. Dari sinilah kritik kaum ateis dan agnostik sering bermula. Mereka mempertanyakan, mengapa orang beragama begitu sulit menerima teori yang telah teruji secara ilmiah. Dalam pandangan mereka, agama tampak terlalu curiga dan cenderung mempersulit sesuatu yang bagi sains sudah relatif settled.
Namun, buku ini mengingatkan bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Ulama besar seperti Yusuf al-Qardhawi, misalnya, pernah menegaskan bahwa jika suatu teori ilmiah benar-benar tidak terbantahkan, maka tidak ada salahnya umat Islam melakukan reinterpretasi terhadap ayat-ayat Alquran yang selama ini dianggap bertentangan. Sikap ini menunjukkan bahwa tradisi keilmuan Islam sejatinya terbuka terhadap dialog dengan sains, bukan menutup diri secara dogmatis.
Masalah utamanya justru terletak pada ketiadaan budaya sains di kalangan Muslim kontemporer. Terjadi pemutusan tradisi keilmuan yang dahulu begitu kuat. Hari ini, terlalu sedikit “pengikut” Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Haitam, Ibnu Sina, Al-Zahrawi, atau Ibnu Baytar. Dampaknya bisa dilihat secara kasat mata: minimnya kontribusi dunia Muslim dalam lanskap sains global, termasuk sedikitnya perolehan penghargaan ilmiah bergengsi. Bukan karena karya ilmiah harus mengejar Nobel, melainkan karena penghargaan semacam itu sering menjadi indikator produktivitas dan kualitas kerja suatu peradaban.
Terlepas dari anggapan bahwa filsafat kini telah ditinggalkan karena dominasi sains, penulis buku ini justru menilai filsafat, khususnya filsafat Islam, masih sangat relevan. Melalui pembelajaran filsafat secara otodidak dan diskusi, ia menemukan bahwa filsafat membantu memahami sains sekaligus keterbatasannya.
Dalam epistemologi Islam, sumber pengetahuan tidak hanya berhenti pada yang indrawi atau empiris, tetapi juga mencakup burhani (demonstratif), irfani (intuisi-isyraqi), dan bayani (teks/nash). Pendekatan epistemologis ini penting untuk membersihkan sains dari jebakan saintisme, yakni kecenderungan mengideologikan sains seolah ia satu-satunya sumber kebenaran. Sikap kritis semacam ini bukan untuk merendahkan sains, melainkan untuk menempatkannya secara proporsional.
Sebab, menolak fakta sains yang telah mapan sama menggelikannya dengan mengkultuskan sains secara membabi buta. Kritik ini penting, dan diarahkan pada tradisi sains Barat yang terlalu menekankan empirisme hingga sering jatuh pada materialisme. Metode empiris memang penting, tetapi ketika ia menyingkirkan sepenuhnya pendekatan burhani dan irfani, maka ilmu kehilangan dimensi kedalaman.
Sejarah sains sendiri menunjukkan bahwa intuisi, bahkan mimpi, pernah berperan besar dalam penemuan ilmiah. Rene Descartes, Niels Bohr, Dmitri Mendeleev, hingga Friedrich Kekule, disebut-sebut memperoleh ilham penting melalui mimpi.
Dalam kerangka ini, kebenaran yang lahir dari intuisi atau ilham tidak serta-merta harus ditolak, selama dapat diuji dan ditimbang secara akal sehat serta tidak terjebak dalam pseudo-sains.
Penulis buku ini pun mengajukan refleksi personal: mengapa harus menolak temuan sains, dan mengapa pula harus menutup diri dari ilham atau wahyu orang-orang tercerahkan, selama semuanya diuji secara rasional? Sikap terbuka inilah yang membuatnya relatif mudah menerima teori evolusi, terlebih setelah menemukan argumentasi-argumentasi yang dianggap selaras dengan Alquran.
Buku ini bahkan secara eksplisit mendukung teori evolusi Darwin, dengan argumen bahwa sejumlah ayat Alquran, jika dibaca secara kontekstual, justru konsisten dengan gagasan evolusi. Meski demikian, penulis tetap mengingatkan agar pembaca tidak terjebak pada pseudo-sains.
Buku ini bukan ajakan untuk menggebuk siapa pun, meski kritik terhadap sikap anti-sains di kalangan Muslim terasa tegas. Secara jujur diakui, bagi siswa atau mahasiswa sains, buku ini mungkin terasa masih “cetek” karena bersifat pengantar. Namun justru di situlah kekuatannya: sebagai peta jalan awal, terutama di negeri-negeri Muslim dengan tingkat literasi sains yang masih rendah.
Buku ini juga mengingatkan bahwa dunia Islam sejak awal telah menggalakkan sains. Sejak masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, umat Islam tidak hanya menerjemahkan ilmu Yunani, tetapi juga mengembangkannya secara metodologis dan kuantitatif. Al-Khawarizmi, misalnya, merumuskan persamaan matematis untuk persoalan zakat dan waris, adalah sebuah praktik sains terapan yang sangat maju pada zamannya.
Dalam menghadapi tantangan global, buku ini juga mengutip pandangan Jeffrey Lang yang melihat Alquran seolah menegaskan bahwa kebenaran terakhir harus diuji dalam realitas, termasuk melalui sains. Karena itu, umat Islam diharapkan tidak sekadar menjadi penonton, tetapi turut bersuara dan berkontribusi dalam percakapan global.
Sayangnya, tantangan terbesar justru datang dari dalam: munculnya gerakan penolakan sains yang masif, bukan karena sikap kritis yang sehat, melainkan akibat pembacaan literal terhadap teks agama tanpa memahami cara berpikir ilmiah. Dalam iklim semacam ini, sulit membayangkan lahirnya pujangga, filsuf, atau agamawan mumpuni.
Padahal, kehadiran mereka sangat dibutuhkan, terutama ketika kemajuan sains kehilangan kompas etisnya. Sains memang harus bebas dalam mencari kebenaran, bahkan berani membongkar kerangka etika lama. Namun, di saat yang sama, peradaban membutuhkan seorang pemikir yang mampu menjembatani sains dengan nilai-nilai kemanusiaan. Tanpa itu, kemajuan hanya akan melaju cepat, tetapi tanpa arah. (Sal)